Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Dokter psikopat


__ADS_3

Hari ini Berlian telah siap bersama Jodi untuk melakukan cek kesehatan di rumah sakit. Mereka hanya pergi berdua saja tidak ditemani Riksa. Riksa di perintahkan oleh Jodi untuk bertugas di markas menggantikan tugas Tommy dan Jack. Karena Tommy dan Jack pergi ke luar negeri untuk melakukan pertemuan dengan klien mereka.


“Papa, sebetulnya aku tidak mau lagi bertemu dengan dokter Alfredo itu.” Ujar Berlian dalam perjalanan menuju rumah sakit.


“Kenapa? Kan papa nemenin kamu sayang.”


“Gak tahu kenapa aku jadi malas bertemu sama dia papa.”


“Kamu jangan takut sayang. Papa akan menjagamu.”


“Papa jangan jauh-jauh dari aku ya?.”


“Iya sayang. Selama dokter itu memeriksamu papa akan selalu ada di sisimu.”


“Papa, aku kan sudah lumayan baik, aku rasa aku gak perlu lagi deh di rawat sama dokter. Kalau bisa ini yang terakhir kalinya. Aku kan bisa di latih di rumah.”


“Iya nanti kita tanyakan dulu pada dokter, perlu berapa kali lagi kamu di cek di rumah sakit. Kalau menurut dokter sudah cukup. Baru kita hentikan cek kesehatannya ya sayang?.”


Berlian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja.


Sampailah mereka di rumah sakit. Mereka langsung berjalan menuju ruangan dokter Alfredo.


Alfredo tersenyum ramah kala melihat kedatangan Berlian dan Jodi.


“Selamat pagi tuan dan nyonya Jodi?.”


“Pagi dok.” Jawab Jodi.


“Silahkan masuk.”


Kemudian Jodi dan Berlian duduk di depan meja kerja Alfredo.


“Bagaimana keadaan nyonya sampai dengan hari ini?.” Tanya Alfredo seraya memandangi Berlian.


“Dokter, aku sudah baik sampai kapan aku harus cek terus kerumah sakit?.” Sahut Berlian.


“Apa nyonya sudah bosan?.” Tanya Alfredo kembali.


“Ya dokter, kondisiku kan sedang hamil jadi aku merasa lelah, aku ingin diam di rumah saja, lagi pula aku sudah lancar dalam berbicara. Berjalan juga sudah lumayan baik.”


“Syukurlah kalau nyonya sudah semakin baik. Kalau nyonya sudah merasa lelah, baiklah saya akan bicarakan pada pimpinan. Mudah-mudahan pimpinan meluluskan apa yang nyonya inginkan.”


“Ya dokter istri saya sudah mengeluh terus malah tadi dia bilang dia tidak mau lagi ke rumah sakit tapi saya memaksanya.” Sambung Jodi.


“Hehe… baiklah. Nanti saya akan bicarakan dengan direktur ya tuan Jodi.”


Kemudian Alfredo memeriksa Berlian di ruangan itu, Jodi ada di dalam sana atas permintaan Berlian. Keadaan itu tak membuat Alfredo terganggu kali ini. Sikapnya begitu datar tak menunjukan sikap yang aneh. Malah ia begitu cepat melakukan pemeriksaan pada Berlian dan setelah selesai kemudian Alfredo mempersilahkan Berlian untuk kembali pulang.


Jodi dan Berlian pun akhirnya meninggalkan ruangan Alfredo.


Sepeninggalan Jodi dan Berlian, Alfredo tersenyum dengan memicingkan matanya.


‘Hehe… bersenang-senanglah dulu kalian. Karena tak lama lagi kalian akan di pisahkan oleh waktu. Aku akan membiarkan kalian menikmati masa-masa terakhir kalian dulu haha… aku akan bersabar menunggu waktu itu.’ Bathin Alfredo.


Sementara itu Jodi dan Berlian sudah menumpangi kuda besinya. Mereka akan kembali ke rumah mereka, dan di dalam perjalanan mereka berbincang,


“Papa, kali ini sebentar ya dia memeriksa aku, mungkin dia juga lelah hehe.”


“Iya sayang karena memang kondisimu sudah semakin membaik. Jadi dia juga tidak perlu lama-lama melakukan pemeriksaan terhadapmu.”


“Mudah-mudahan saja rumah sakit menghentikan pengobatannya padaku ya papa.”


“Iya sayang. Oya bagaimana jabang bayi di dalam perutmu? Apa dia bergerak?.”


“Tentu saja papa. Dia aktif sekali.”


“Syukurlah… Oya apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?.”


“Tentu saja sudah.”


“Siapa namanya sayang?.”


“Rahasia! Hehe.”


“Loh kenapa?.”

__ADS_1


“Kata mama sebelum lahir jangan dulu di sebutin namanya, pamali.”


“Benarkah?.”


“Iya. Nanti saja kalau dia sudah lahir.”


“Baiklah. Oya apa kau mau mampir dulu sayang? Membeli sesuatu gitu?.”


“Gak papa. Aku gak mau beli apa-apa. Aku ingin langsung pulang saja.”


“Baiklah… sayang, kenapa kamu gak pernah minta sesuatu padaku? Bukannya ibu hamil suka menginginkan sesuatu?.”


“Papa sudah memberikan segalanya, jadi aku harus minta apa lagi? Semuanya sudah papa kasih.”


“Kalau kau mendadak menginginkan sesuatu katakan langsung pada papa ya sayang?.”


“Iya papa.”


Mereka menikmati perjalanannya dengan berbincang. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah mereka.


Gank emak-emak sudah menyambutnya di rumah. Kemudian mereka bercengkrama pada ruang keluarga.


...............


Setelah Alfredo melakukan pemeriksaan pada Berlian, ia langsung beranjak pergi menuju bandara. Sepertinya ia akan langsung pergi ke Kota P untuk melakukan pertemuan dengan orang yang akan membangun bunker di rumah barunya itu.


Singkat waktu setelah menempuh penerbangan yang cukup melelahkan akhirnya ia sampai di kota P, ia tidak menghubungi Andre temannya. Karena kedatangannya kali ini memang kedatangan yang ia rahasiakan sebab ia akan membicarakan hal penting dengan seseorang yang ia percayai itu.


Akhirnya mereka melakukan pertemuan langsung di rumah baru Alfredo.


Seseorang yang berperawakan tinggi kini tengah berbincang dengan Alfredo. Dialah orang yang Alfredo percaya untuk menjadi mandor pada pembangunan bunkernya.


“Kira-kira waktu yang akan di butuhkan dalam membuat bunker ini berapa lama bang?.” Tanya Alfredo pada orang itu.


“Tergantung dari tingkat kerumitan dan besar kecilnya ruangan yang akan kita buat tuan. Juga dari personil tukang bangunan yang kita butuhkan. Sekarang terserah tuan, tuan ingin selesai kapan?.”


“Saya ingin secepatnya bang, apa dalam waktu satu bulan pembangunannya dapat selesai?.”


“Bisa saja tuan asal ada uang hehe.”


“Siap tuan. Saya akan selesaikan secepatnya. Tuan tenang saja semuanya akan saya tangani dengan baik.”


“Ok kalau begitu. Dan seperti perjanjian yang sudah kita sepakati di awal. Siapapun jangan sampai tahu kalau saya membuat bunker di rumah ini.”


“Siap tuan. Pokoknya rahasia aman bersama saya.”


“Bagus. Mulailah kerjakan pembangunannya. Saya tunggu hasilnya.” Kata Alfredo seraya mengetikkan sesuatu pada ponselnya. “Saya sudah transfer seluruh biayanya, abang bisa cek. Kalau ada kekurangan tinggal katakan saja.” Sambung Alfredo.


Kemudian orang itu mengecek uang yang masuk pada ponselnya. Dan benar saja uang itu sudah masuk ke dalam rekeningnya.


“Terima kasih tuan. Senang bekerja sama dengan tuan. Mulai besok akan di mulai pembangunannya.”


“Baiklah kalau begitu. Saya tinggal dulu bang. Nanti saya akan kontrol terus ke sini perkembangannya.”


“Siap tuan.”


Kemudian Alfredo meninggalkan orang itu di rumah barunya.


Alfredo tersenyum lebar. Dari waktu ke waktu ia merasa bahwa rencananya semakin mendekat. Ia sudah tidak sabar dengan datangnya hari yang akan membuat dirinya bahagia.


Rencana yang sangat rapi tengah ia rintis dan tanpa hambatan membuat ia begitu bersemangat.


Hari ini ia akan melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke Jakarta, terbersit dalam ingatannya pada temannya yang bernama Andre itu, namun kali ini ia tak akan menemuinya, ia merencanakan pertemuan dengan Andre akan di lakukan di waktu mendatang.


Karena hari itu kedatangannya ke kota P khusus untuk menemui seseorang yang menjadi kepercayaannya dalam pembangunan bunkernya.


Singkat waktu ia telah sampai kembali di Jakarta. Ia langsung pergi ke apartemennya untuk istirahat, namun pada saat ia akan mencapai pintu unit apartemennya, ia melihat seorang lelaki tengah berdiri di depan pintu unit apartemennya.


Perlahan ia mendekat ke arah sosok itu. Ia hafal lelaki bule yang ia lihat itu adalah suami dari mantan kekasihnya.


“Maaf, anda mencari saya?.” Tanya Alfredo pada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu unit apartemennya.


“Apakah ada Alfredo Frederick?.” Sepertinya sosok itu tidak begitu mengenal Alfredo. Ia hanya mengetahui namanya saja.


“Iya betul.”

__ADS_1


“Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda.”


“Baiklah. Silahkan masuk.”


Kemudian Alfredo mempersilahkan lelaki bule itu masuk dan duduk pada sofa.


Alfredo merasakan dadanya berdebar karena ia tidak tahu akan maksud kedatangan suami Krista itu. Dia menduga mungkin suaminya itu mencari Krista dan hendak menanyakan tentang Krista pada dirinya.


Setelah Alfredo meletakkan minuman diatas meja untuk tamunya, kemudian ia duduk bersama tamunya itu.


“Maaf jika kedatangan saya mengganggu anda” Kata suami Krista membuka pembicaraan diantara mereka.


“Perkenalkan nama saya Philipe Arnold. Saya adalah suami mantan kekasih anda. Maksud kedatangan saya kesini adalah untuk membicarakan hal penting dengan anda. Apa anda punya waktu sebentar untuk saya?.”


“Tentu saja Philipe, katakan lah apa maksud anda menemui saya?.”


“Beberapa hari yang lalu saya terkejut mendapat surat dari pengadilan bahwa istri saya mengajukan gugatan cerai pada saya. Sudah lama istri saya pergi dari rumah. Saya menduga mungkin istri saya pulang ke Indonesia dan menemui anda.”


“Philipe, sejak dia memilih anda dan menikah dengan anda, saya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Krista, saya sudah merelakannya karena saya sadar mungkin kita tidak berjodoh. Jika anda datang pada saya mencari istri anda, anda salah. dan jika anda menanyakan pada saya, tentu saya tidak tahu menahu mengenai masalah yang tengah kalian hadapi. Bagi saya Krista hanyalah masa lalu saya.” Jelas Alfredo.


“Maaf Alfredo jika kata-kata saya menyinggung anda. Saya hanya menduga-duga saja. Kalau pada kenyataannya anda memang tidak tahu lagi kabar istri saya tidak apa-apa. Hanya saja saya mau minta tolong pada anda. Seandainya istri saya menemui anda tolong kabari saya. Karena saya butuh kejelasan darinya mengenai gugatan cerai itu.”


“Baik. Saya akan menghubungi anda jika saya bertemu dengannya.”


“Ini semua karena salah saya. Dia memang sangat ingin memiliki anak dalam pernikahan kami. Namun saya belum siap memiliki anak, karena saya masih terikat kontrak, saya ingin pada saat saya memiliki anak nanti setelah saya rehat dari dunia perfilman, namun Krista memiliki pandangan lain yang menimbulkan perdebatan diantara kami hingga akhirnya dia pergi. Sebenarnya saya tidak ingin bercerai darinya, saya masih sangat mencintainya. Tapi jika memang perpisahan ini yang dia inginkan, saya lebih baik mengalah dari pada membuatnya tersiksa. Saya ingin bertemu dengannya untuk menyelesaikan masalah ini. Karena kita menikah baik-baik dan ingin mengakhirinya pun dengan cara yang baik pula.” Jelas Philipe.


“Seandainya saya tahu dimana dia kini berada, tentu saya akan memberitahu anda. Hanya saja saya tidak tahu kabarnya. Saya turut prihatin dengan masalah yang tengah kalian hadapi. Semoga anda dapat menemukan Krista secepatnya dan permasalahan yang di hadapi dapat di selesaikan dengan baik.”


“Ya Alfredo terima kasih atas perhatian anda pada kami. Jika saja pernikahan kami dapat di selamatkan tentunya itu adalah harapan saya pribadi. Baiklah Alfredo jika Krista tak ada menemui anda mungkin akan saya cari ketempat lain. Terima kasih atas waktunya.”


Kemudian Philipe pamit pergi setelah meninggalkan kartu namanya, berharap Alfredo akan menghubunginya pada saat bertemu dengan Krista nanti. Lalu Philipe meninggalkan Alfredo di apartemennya.


‘Semoga kau dapat menemukan panti keluargaku Philipe… disitulah dia kini berada haha.’ Kelakar Alfredo setelah kepergian Philipe dari apartemennya.


‘Seperti itulah rasa sakit yang aku rasakan saat dulu kau rebut Krista dari sisiku Philipe… kalianlah yang membentuk diriku menjadi seperti ini, maka jangan salahkan aku jika kini kalian merasa begitu menderita haha… jika kalian senang mempermainkan perasaanku, maka aku pun akan dengan senang hati bermain-main dengan kalian.’ Gumam Alfredo dengan amarah yang membuncah.


Seperti itulah yang tengah Alfredo rasakan. Amarah, benci dan dendam bersatu menjadi satu membangun duka bagi Krista dan suaminya.


Alfredo sangat menyadari, bahwa dirinya yang sekarang sangat jauh berbeda dari dirinya yang dulu. Meski dia memiliki kegemaran yang aneh namun ia masih memiliki cinta dalam hatinya, tetapi kini cinta dalam hatinya telah terkikis seiring rasa sakit dan kecewa yang berulang-ulang ia rasakan.


.............


Sementara itu pada rumah Berlian, nampak seluruh keluarga tengah berbincang di ruang keluarga.


“Bagaimana hasil cek kesehatanmu sayang?.” Tanya Irma pada cucunya.


“Semua baik oma.” Jawab Berlian.


“Syukurlah. Terus bagaimana dengan si Alfredo?.” Tanya Budi.


“Dia biasa saja. Datar gitu muka nya ya papa?.”


“Iya. Sepertinya tidak ada hal yang mencurigakan.” Jawab Jodi.


“Jangan salah… psikopat kan memang gitu tampangnya.” Ujar Riksa.


“Begitu bagaimana?.” Tanya Ferry.


“Sepintas ia akan terlihat seperti orang normal namun orang yang dapat membaca karakter wajahnya akan dapat melihat apa yang tersembunyi dalam dirinya. Dan aku dapat melihat kalau dia itu dokter psikopat.” Jelas Riksa.


“Awas luh dugaan elo salah, nanti malah jadi fitnah.” Jodi menanggapi.


“Gue ahlinya. Gue gak akan salah lihat muka setiap orang. Pokoknya kita harus tetap hati-hati sama dia meskipun sekarang kita sudah tidak ada hubungannya lagi sama dia. Tapi dia pernah mengenal kita, ingat itu Boss.”


“Takut juga ya kalau dipikir-pikir.” Kata Delima.


“Iya bu, psikopat itu punya seribu satu cara untuk melakukan hal yang ia sukai. Jadi kita wajib berhati-hati sama dia.” Jelas Riksa.


Mereka semua tak habis-habisnya membahas masalah dokter Alfredo. Dan benar saja prediksi Riksa. Ia dapat membaca karakter dokter ahli saraf itu. Dan memang pada kenyataannya seperti itu lah karakter dari seorang Alfredo yang terlihat tenang dan ramah namun dalam jiwanya bergejolak penuh misteri.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kesayangan😍


Terima kasih🥰

__ADS_1


__ADS_2