Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Satu jam bersamamu


__ADS_3

Waktu yang bergulir kian cepat mengantarkan semua harapan setiap insan pada mimpi yang semakin nyata. Namun jika mimpi buruk telah sampai pada pelupuk mata, kengerian yang nampak, tentulah yang ada hanya penolakan diri.


Maurin yang dengan setia menemani Berlian yang tengah di rundung sedih, sepertinya harus kembali pulang, karena hari esok telah menantinya untuk melakukan aktivitas barunya.


“Berli… kau sudah sedikit tenang kan sekarang? Aku pamit pulang ya? Besok selepas kuliah aku datang lagi kemari.”


“Ya lumayanlah Rin, sekarang aku tak se-kacau tadi, terima kasih ya Maurin, kau sudah menghiburku, bagaimana coba seandainya aku tidak punya teman baik sepertimu hiks.”


“Yah nangis lagi deh… barusan aja sudah bisa senyum-senyum. Berli, dengar ya baik-baik, selama masalah itu belum jelas asal usulnya, kau jangan dulu terpancing, apalagi tersulut emosi, bereaksi lah setelah kau sudah jelas mengetahuinya dari sumber-sumber lain. Kamu kan baru mendengar dari satu pihak saja, kita belum mendengar bagaimana kesaksian ibunya, ibunya lah kunci dari masalah yang sedang kamu hadapi ini. Maka, ayo kita datangi ibunya, kita tanya langsung, bila perlu kita datang bersama papamu agar semuanya jelas dan Clear.”


“Tapi bagaimana seandainya memang benar kalau mereka punya hubungan dengan papaku Rin.”


“Kita tidak sedang berandai-andai Berlian, kita sedang menghadapi kenyataan dan hanya ada dua kemungkinan, yang pertama, mungkin saja benar dia adalah anak papamu dan kemungkinan yang lainnya, dia bukan anak papamu. Dan kau harus siap dengan kemungkinan dari keduanya itu.”


“Aku tidak siap menerima kenyataan kalau dia adalah benar putri papaku Rin.”


“Sekarang aku tanya kamu, kamu sayang tidak pada papamu itu?.”


Terlihat Berlian menganggukan pelan kepalanya,


“Kalau kamu sayang pada papamu, terima ia apa adanya, sekalipun dengan kenyataan yang pahit. Terima segala kisah di masa lalunya, terima orang-orang yang pernah hidup di masa lalunya. Karena kita semua, tanpa kecuali pernah hidup di masa lalu Berli. Aku, kamu, papamu, dia, mereka, dan kita semua punya masa lalu. Mungkin masa lalu mu tidak sesakit mereka di luar sana, tapi apakah masa depan tak terlepas dari sakit? Kita ini sedang menjalani hidup Berlian, dan di dalam hidup pasti ada suka dan dukanya, dan kita wajib menerimanya, biar apa? Biar kita dewasa, biar kita kuat. Biar kita tegar dan tetap bersyukur.”


Berlian terdiam mendengarkan penuturan Maurin,


“Sudah, sekarang kau Istirahatlah… kita lanjut besok. Sekarang sudah malam, papa dan mamaku pasti sudah menungguku. Jangan nangis lagi dan jangan lembek. Berpikirlah yang jernih, ok?.”


Kemudian Maurin memeluk Berlian dan berlalu meninggalkan Berlian yang mematuk diri diatas tempat tidurnya.


Pada saat Maurin menuruni anak tangga, dilihatnya pada ruang keluarga nampak Jodi dan Riksa tengah berbincang, melihat Maurin mendekat, mereka berdua menjuruskan pandangannya pada wanita itu seakan menunggu kabar darinya.


“Bagaiman dia?.” Tanya Jodi pada Maurin.


“Sudah lebih tenang om.”


“Baguslah kalau begitu. Makasih ya Rin?.”


“Sama-sama om, aku pamit pulang ya om… kak Riksa?.”


“Eh Maurin Ini sudah malam loh, kamu diantar sama Riksa aja ya?.”


“Gak usah om, saya kan bawa mobil.”


“Gak apa-apa biar Riksa yang bawa mobil kamu, pulangnya biar dia naik taksi online saja. Rik, antar Maurin pulang ya?.”


“Siap Boss.”


“Aduh gak usah deh om. Jadi ngerepotin.”


“Gak apa-apa.” Kemudian Jodi memberi isyarat dengan matanya pada Riksa dan Riksa pun mengerti.


“Maurin, mana kuncinya?.” Kata Riksa meminta kunci mobil Maurin, lalu Maurin menyerahkan kunci mobilnya itu.


“Ya udah gue permisi dulu ya Boss.”

__ADS_1


“Pamit om.” Kata Maurin.


Kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan Jodi.


Kini tinggalah Jodi sendiri diruangan itu. Perlahan ia langkahkan kakinya menaiki anak tangga, pada saat ia sampai di depan pintu kamar Berlian, ia berhenti kemudian membuka pintu itu, nampak dari pandangannya wanita yang ia cintai itu tengah tertidur membelakanginya.


Dengan langkah hati-hati ia mendekat, “Baby…maafkan aku, akan aku buktikan nanti, kalau aku tak tahu tentang mereka. Percayalah…”


Jodi tahu Berlian belum tidur, ia hanya berpura-pura saja, namun Jodi tak ingin mengganggunya, karena dalam pikirannya istrinya itu pasti masih merasakan kecewa akan peristiwa tadi.


Setelah ia mengecup pucuk kepala gadis itu, ia pergi meninggalkannya menuju ruang kerja.


Terlihat Berlian meneteskan air matanya dalam mata yang terpejam. Rasa sakit yang ia rasakan begitu menusuk ulu hatinya bagai di iris sembilu yang telah mematikan rasanya.


Ia tak menyangka kalau peristiwa yang menyakitkan itu akan terjadi dalam hidupnya. Namun ia tidak menyadari bahwa sedih dan bahagia ada dalam rentetan takdir hidup.


Pengalaman yang masih setitik membawanya kedalam kecewa yang menyakitkan. Ini akan menjadi pelajaran bagi hidupnya, bagi dirinya dan bagi kisah percintaannya.


..........


Di dalam perjalan pulang, Maurin dan Riksa berbincang.


“Apa saja tadi yang kamu lakukan bersama istri Boss ku di kamarnya?.” Tanya Riksa yang fokus menyetir.


“Tidak banyak yang aku lakukan, hanya menemani yang sedang menangis dan sedikit memberi pencerahan padanya hehe.” Jawab Maurin.


“Pasti nyonya kecil sangat kecewa dengan kejadian tadi, aku saja terkejut mendengarnya. Tapi Boss menegaskan ia tak mengenal mereka.”


“Ya sepertinya mereka harus duduk bersama, menyelesaikan masalah itu agar semuanya clear, kasihan juga temanku itu kalau harus berlarut-larut dalam kesedihannya. Dia cukup dewasa di usianya yang masih belia, namun dia tak cukup pengalaman hingga masalah itu begitu membuatnya terpukul. Kalau kita kan berbeda ya kan kak?… kita pasti akan meminta kejelasan dari berbagai pihak seandainya kita ada dalam posisi mereka.”


“Albert Einstein? Alexander Grahambel?.” Jawab Maurin.


“Ya, semua orang pasti akan menjawab nama-nama ilmuwan yang sudah termasyhur seantero jagat raya. Kedua manusia itulah yang pasti akan sering disebut. Tapi ternyata ada seseorang yang menurut keterangan sejarah manusia paling cerdas di bumi, bahkan IQ nya saja berkisar antara 250-300, dialah William James Sidis. IQ Einstein dan Grahambel jauh di bawahnya bahkan konon almarhum ** Habibie IQ nya 200 diatas kedua orang itu. Lalu kenapa William seolah tidak terdengar? padahal IQ nya mengalahkan ilmuwan-ilmuwan dunia, jawabannya hanya satu, dia kurang dalam bersosialisasi.” Jelas Riksa.


“Wah… ternyata kak Riksa hafal juga ya? Hebat!.” Kata Maurin yang mulai mengagumi sosok Riksa. Perlahan ia melirik kesebelah, “Ganten juga nih si kakak hehe…”


“Kenapa?.” Tanya Riksa mengejutkan Maurin yang sedari tadi curi-curi pandang.


“Hehe… .” Maurin hanya menjawab dengan senyuman.


Sesaat hening di antara mereka. Namun tiba-tiba,


“Loh…loh kak! Kenapa kakak tidak belok kiri? Rumahku kan lewat belokan jalan tadi.”


“Kamunya gak bilang, aku mana tahu rumah kamu.” Kata Riksa datar.


“Yah kakak gak nanya sih, mana muter nya jauh lagi.”


“Ya terus gimana? Mundur lagi kan gak mungkin Rin? Sudah, nikmati saja perjalanannya, kalau kamu ngantuk tiduran saja, nanti kalau sudah sampai rumahmu aku bangunin kamu.”


‘Dasar gadis bodoh… tentu saja aku tahu rumahmu, bukankah dulu aku pernah mengantarkanmu pulang? Waktu nyonya kabur dari acara pertunangannya?.’ Bathin Riksa menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya.


“Bukan gitu kakak, takutnya aku merepotkan kakak saja.”

__ADS_1


“Tenang saja, ini adalah salah satu tugasku, bukan kah Boss tadi yang memerintahkan agar aku mengantarmu pulang? Jadi aku harus memastikan kamu selamat sampai rumah, biar laporan aku sama Boss lengkap.”


‘Hehe… dikirain tugas hatimu mengantar calon pacar pulang… aih calon pacar mak…ahay.’ Bathin Maurin.


Kemudian tiba-tiba saja Riksa menghentikan laju kendaraannya dan menepi kan mobil Maurin di bahu jalan.


“Kenapa berenti kak?.”


“Sebentar!.” Jawab Riksa yang kemudian keluar dari kendaraannya.


Terlihat Riksa melangkahkan kakinya ke sebuah warung kecil dan sepertinya ia tengah membeli sesuatu, tak lama ia kembali dan masuk ke dalam mobil kembali.


“Nih… minumlah.. kamu pasti haus.” Kata Riksa seraya memberikan satu botol air mineral yang baru saja ia beli.


‘Ya ampun… so sweet banget sih nih cowok… tahu aja kalau aku lagi keausan.’ Bathin Maurin yang menerima botol minuman tersebut kemudian meminumnya.


“Kamu lapar gak? Mau makan dulu?.” Tanya Riksa.


“Sebenarnya aku lapar sih kak, tapi aku gak mau makan malam, takut gendut hehe.”


“Gak apa-apa kalau sekali-kali, asal jangan tiap hari aja. Ayo turun!.” Kata Riksa, yang kemudian keluar kembali dari dalam mobil tersebut.


“Kamu mau makan dimana?.”


“Hehe… terserah kakak deh.”


“Kamu suka sea food?.”


“Suka baget kak.”


“Ya udah kita makan sea food di seberang sana ya?.” Kata Riksa seraya meraih jemari tangan Maurin kemudian menuntunnya menyeberangi jalan.


‘Ya Tuhan… dia pengertian banget…. Adududu… dia memegang tanganku begitu eratnya… lembut banget tangannya, melebihi telapak tanganku yang kasarnya seperti tukang bangunan kikiki… aduh kakak jangan sampai kau lepaskan dong… eh.. eh.. yaaaak dilepas! Huh.” Bathin Maurin.


“Ayo duduk sini.” Riksa mengajak Maurin untuk duduk di sampingnya.


Mereka berada di sebuah tempat kuliner pinggir jalan.


“Kamu gak apa-apa kan makan di tempat seperti ini?.” Bisik Riksa


“Gak apa-apa kok kak, aku biasa makan makanan pinggir jalan hehe.”


“Bagus kalau gitu… Boss juga sering membawa istrinya makan di tempat seperti ini.”


“Ya kalau menurutku justru lebih nikmat makan di pingggiran seperti ini sih kak, apa lagi bersama…..” Maurin terdiam. ‘Bersama cogan sepertimu hihi’ Kata Maurin dalam hati.


“Bersama siapa?.”


“Bersama…. Bersama teman-teman… ramai-ramai hehe.” Jawab Maurin kikuk.


Mereka berdua begitu menikmati makan malamnya di sebuah tempat makan pinggir jalan. Keduanya merasakan hati yang berbunga-bunga namun mereka tak memperlihatkan apa yang tengah mereka rasakan satu sama lainnya.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kesayang othor😘😘😘


Terima kasih😍


__ADS_2