
Cahaya pagi menembus cakrawala menggugah setiap makhluk yang siap melakukan aktivitasnya.
Hari ini adalah hari pertama Berlian akan memulai aktivitas kampusnya. Di dalam kamar ia telah siap dengan stelan jeans hitam, tangtop putih yang di padukan kemeja hitam bunga kecil putih, membalut tubuh langsingnya dan membiarkan rambut panjang pirang nya tergerai bebas.
Tak lama Jodi masuk ke kamar gadis itu dengan stelan jas biru navy nya.
“Wow cantik sekali kesayangan om ini.” Jodi menghampiri kemudian mencium pucuk kepala gadis itu. Lalu Berlian membalas mencium pipi om nya tersebut.
“Om aku sedikit gugup karena ini adalah hari pertamaku mengenal lingkungan kampus.”
“Relaks sayang… semuanya akan baik-baik saja. Om percaya kamu mampu beradaptasi.”
“Baiklah.”
Kemudian mereka berdua menuruni anak tangga menuju ruang makan, terlihat Riksa sudah menunggu di sana.
“Wow cantik bener putri mahkota ini ya?.” Celoteh Riksa.
“Kak Riksa baru sadar ya kalau aku cantik?.”
“Siapa dulu dong om nya.” Jodi menimpali.
“Hehe.. siap-siap saja bakal banyak yang naksir tuh.” Sambung Riksa sembari melirik pada Jodi.
“Hati-hati bergaul ya sayang.. kamu harus pintar mencari teman, yang kita lihat baik belum tentu benar-benar baik.”
“Iya om, aku akan selalu ingat apa kata om.”
“Bagus!.”
“Oya nona, apakah nona gak mau berangkat sendiri kayak orang lain? Nyetir mobil sendiri gitu?.”
“Gak boleh!.” Jodi menyela.
“Kenapa om?.” Berlian heran.
“Om belum bisa Melepasmu pergi sendiri, om khawatir sesuatu terjadi padamu.”
“Aku kan bisa jaga diiri om, kalau ada yang macam-macam tinggal pasang jurus saja.”
“Iya tapi nanti, sekarang om belum mengijinkan, kalau kau mau kemana-mana, minta Riksa saja untuk mengantarmu.”
“Oya nona? Kampus tempat anda belajar nanti adalah kampus terbaik di negara ini, yang belajar di sana kebanyakan anak-anak orang hebat, dan cowoknya keren-keren semua, anda nanti akan di buat bingung memilih saat mereka semua mendekati anda hehe.” Kata Riksa.
“Heh, bocah! Elo jangan meracuni otak putri gue ya!.” Bentak Jodi.
“Boss, itu kenyataan yang akan putri Boss hadapi nanti. Jadi kita harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.”
“Ah… diam luh!.” Sentak Jodi kembali. Kemudian,
“Oya kau ingat sayang? Mulai hari kau Memanggilku apa?.” Sambung Jodi.
“Panggil papa… papa sayang.” Ucap Berlian dengan senyum manisnya.
“Pinter!.” Jodi mengusap pucuk kepala Berlian.
“Ya sudah ayo kita berangkat.” Ajak Jodi.
Dan mereka pun berlalu menuju kuda besi yang sudah terparkir di halaman depan. Setelah mereka semua masuk, Riksa pun memacu kuda besi nya meninggalkan kediaman mereka.
Singkat waktu, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka sampai di halaman parkir kampus ternama itu.
Berlian pamit pada Jodi dan Riksa.
“Om do’ain aku ya?.”
“Iya sayang… nanti pulang Riksa yang akan menjemputmu.”
“Baik om.”
“Eh panggil apa?.”
“Oh iya lupa… papa hehe.”
“Pinter, ya sudah sana masuk ke kampusmu.”
“Baiklah… dah papa dah kak Riksa.” Berlian berlalu ke luar dari mobil setelah mencium pipi Jodi.
Berlian melangkahkan kaki nya memasuki gerbang dan berjalan menyusuri koridor yang samping kanan dan kirinya berjejer ruang kelas. Terlebih dahulu ia memasuki kantor untuk menemui dosen kelasnya. Kemudian dosen kelas itu membawa Berlian masuk keruangan kelasnya.
Setelah dosen wanita yang berperawakan subur itu memperkenalkan Berlian, kemudian berlian di persilahkan duduk pada kursi yang kosong yang telah di sediakan untuk nya. Lalu salah seorang teman kelasnya menghampiri Berlian dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
“Hai….kenalkan, namaku Maurin.” Wanita itu menyodorkan tangannya.
“Berlian.” Ia menyambut tangan wanita itu.
“Aku juga anak baru di sini, kenapa coba aku pindah ke kampus ini? Karena cowoknya ganteng-ganteng hehe.” Celoteh Maurin.
“Oh.. hehe.”
Sepertinya Berlian mendapatkan teman baru di kampusnya. Dialah Maurin Angel yang berusia 19 tahun.
Sambil mengikuti materi yang di paparkan dosen, mereka berbicara dengan setengah berbisik.
“Kau tahu tidak Berlian? Disini ada tiga cowok yang gantengnya paripurna dan hampir semua cewek di kampus ini suka sama mereka.” Ucap bawel Maurin.
“Benar kah?.” Bisik Berlian.
“Iya, mereka itu ya. Udah ganteng-ganteng, tajir, pinter, populer juga. Nanti di kantin kita curi-curi pandang ya? Hehe.”
“Aku jadi penasaran seganteng apa mereka sampai kamu dan yang lain nya terpesona.”
“Pokonya lihat aja deh nanti, aku yakin setelah kamu melihat mereka, kamu juga akan klepek-klepek sama mereka hehe.”
Sepanjang jam mata kuliah mereka terus saja membahas masalah pria yang menjadi favorite di kampus tersebut.
Hingga jam makan siang pun tiba, semua mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruang kelas nya menuju kantin.
Maurin membawa Berlian ke kantin dan duduk di kursi paling ujung.
Nampak dari kejauhan tiga pemuda ganteng menuju kantin tersebut.
“Eh eh, Berlian lihat, yang kita tunggu-tunggu sudah ada di depan mata kita.” Bisik Maurin.
“Mana.” Berlian menjuruskan pandangannya ke segala arah.
“Itu, mereka sedang menuju kemari.” Maurin menunjuk dengan matanya.
Semua mata gadis terkesima melihat penampakan 3 pria tampan itu kala melintasi mereka, termasuk Maurin yang memperhatikan dari kejauhan. Tapi tidak bagi Berlian.
“Benar kan kata ku Berlian? Mereka ganteng-ganteng.”
Berlian hanya melihat ketiga lelaki itu sepintas saja.
“Heh! Berlian, kau sama sekali tidak tertarik pada mereka?.”
“Mana mungkin aku langsung tertarik pada orang yang baru pertama kali aku lihat Maurin.”
“Ya maksudnya lihat wajah mereka, ganteng-ganteng kan?.”
“Yah lumayan deh.” Kata Berlian tidak perduli.
“Apa lumayan???.”
“Iya biasa aja sih kalau menurut aku.”
“Ya Tuhan… matamu sudah rusak kali ya Berlian. Kamu tahu gak? Aku pindah ke kampus ini gegara pengen lihat mereka tiap hari. Dan kamu cuma bilang biasa aja. Hadeh heran aku sama kamu.” Maurin tepuk jidat.
Tanpa mereka sadari ketiga lelaki itu menghampiri mereka, dan langsung duduk diantara mereka. Betapa terkejutnya Maurin pada saat ketiga pria idamannya duduk bersamanya.
“Kamu anak baru ya?.” Tanya salah seorang dari mereka kepada Berlian. Salah seorang itu bernama Menara Sakti. Dan Berlian terlihat hanya mengangguk saja.
“Kamu gak bisa ngomong hah!?.” Tanya salah seorang lagi yang sedikit terlihat sombong diantara ke tiga lelaki itu dan ia bernama Yosan.
“Maaf kak, dia anak baru jadi masih malu-malu hehe.” Kata Maurin.
“Eh gue gak nanya sama elo ya?.” Bentak Yosan.
“Ish… sombong amat.” Gerutu Maurin.
Sementara lelaki yang satunya lagi hanya diam memperhatikan Berlian, ia bernama Arash. Arash duduk tepat di depan Berlian.
Tanpa di duga Arash merebut minuman dari tangan Berlian dan langsung menenggaknya.
“Hei…..” Berlian hendak merebutnya kembali namun tidak terjangkau.
“Abisnya kamu dari tadi gak kedengeran suaranya haha.” Kelakar Arash.
Kemudian Berlian berlalu pergi meninggalkan mereka. Tetapi dengan cepat di hadang Menara.
“Kakak mau apa!?.” Berlian menengadah menjuruskan pandangannya pada Menara yang memang tubuhnya tinggi atletis.
__ADS_1
“Kamu gak sopan! Orang lagi ngomong malah pergi.” Kata Menara.
“Yang gak sopan itu aku apa teman kakak itu hah!.” Ucap ketus Berlian.
“Hei.. hei.. hei… baru kali ini ada cewek yang berani ngelawan kita ya?.” Dengan menepukkan tangannya Yosan menghampiri Berlian dan Menara. Kemudian Yosan mendekatkan wajahnya pada Berlian,
“Siapa nama kamu?.” Tanya Yosan, tapi Berlian malah membuang muka.
“Heh! Kalau orang nanya itu dijawab!.” Menara menarik sejumput rambut Berlian, dengan cepat Berlian menepisnya.
“Weis! Berani benar kau!.” Kata Yosan.
“Karena kalian tidak sopan!.” Berlian pergi menghindari mereka namun lagi-lagi Menara menghadangnya, kali ini Menara menarik lengan kanan Berlian sedikit kasar. Dengan sigap Berlian menepis dengan memukulkan tangan kirinya tepat di pergelangan tangan Menara.
“Aw..” menara sedikit kesakitan mengibas-ngibaskan tangannya.
Melihat kejadian itu Arash beranjak dari tempat duduknya menghampiri Berlian, melihat Arash menghampirinya Berlian mundur beberapa langkah hingga punggungnya tertahan oleh dinding. Arash semakin mendekat dan kini tepat Berada di hadapan Berlian.
“Kamu tahu gak! Di kampus ini semua cewek sujud sama kita! Cuma kamu yang berani seperti ini! Kamu mau jadi jagoan disini!.” Kata sombong Arash tepat di muka Berlian.
“Hanya perempuan bodoh yang berani sujud sama kalian Cih!.” Ucap Berlian.
“Kamu berani….” Pada saat Arash mengangkat tangannya dan entah apa yang akan di lakukan olehnya dengan tangannya itu…
“Arash… hentikan!.” Teriak Menara.
“Kenapa Menara? Ni cewek harus diberi pelajaran… karena udah berani sama kita.” Ujar Arash.
“Udah… biarin saja.” Perintah Menara dan sepertinya Menara adalah orang yang paling berpengaruh di antara ketiganya.
“Iya Arash, biarin saja dulu, lain kali saja kita eksekusi dia, haha.” Yosan menarik pundak Arash.
Berlian memandangi wajah ketiga lelaki itu bergantian dan pergi meninggalkan mereka disusul oleh Maurin. Ketiganya memperhatikan kepergian Berlian.
“Cewek itu unik Arash.” Kata Menara sembari terus memandangi punggung Berlian yang berlalu.
“Maksud elo!.” Arash sedikit tidak mengerti maksud kata-kata Menara.
“Ya… elo tahu sendiri kan? Semua cewek di sini begitu memuja kita dan berlomba-lomba ingin dekat dengan kita, tetapi cewek itu berbeda, hanya dia yang menolak kita.” Menara memicingkan matanya.
“Dasar perempuan liar.” Kata Yosan.
“Kita harus ngerjain dia… kita buat dia bertekuk lutut sama kita, haha.” Kelakar Menara.
“Ya benar… kita buat dia tidak berkutik haha.” Disusul kelakar Arash.
“Tunggu saja… waktunya akan tiba haha.” Yosan pun ikut tertawa.
Sementara itu. Berlian berjalan sangat cepat dan di ikuti oleh Maurin di belakangnya.
“Berlian hey tunggu.. Berli, kenapa sih kamu kasar sama mereka?.”
“Mereka yang gak sopan duluan, orang yang gak sopan harus di kasih pelajaran.”
“Ah kamu hanya cari masalah saja tahu.”
“Mereka yang cari masalah duluan Rin.”
“Iya tapi seharusnya kamu jangan melawan mereka, biarkan saja mereka begitu.”
“Aku tidak suka sama mereka, hanya orang bodoh yang menggandrungi mereka.”
“Apa? jadi kamu mengatai aku bodoh Berli?.”
“Iya kamu termasuk salah satunya. Apa bagus nya coba mereka! Sehingga kalian menyukainya?.”
“Ya Tuhan Berli… biarpun mereka pada sombong tapi mereka itu aset di kampus ini tahu gak!.”
“Aset apaan kayak begitu!.”
“Coba kalau kamu tadi gak melawan mereka, mereka akan bersikap manis sama kita Berli.”
“Aku gak sudi menerima sikap manisnya sekali pun mereka memberikan senyumnya seumur hidup mereka padaku.”
“Kamu bener-bener buta ya Berlian.”
“Kalian yang buta! Cowok seperti mereka apa bagusnya hah?! Kalau cuma wajah tampan tapi gak ada akhlak buat apa?, apa lagi mereka suka bersikap kasar sama wanita Cih.”
“Ah sudah sudah… tapi bagus deh kalau kamu gak suka sama mereka, jadi kamu bukan saingan aku hehe.” Maurin menggandeng Berlian.
“Sono tuh makan tiga-tiga nya… Ih sampai kiamat aku gak akan pernah mau sama orang kaya mereka itu.”
__ADS_1
Dan mereka berdua pun masuk kedalam kelasnya untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞