
Cahaya fajar menyinari cakrawala pagi membiaskan cahayanya pada celah-celah jendela kamar seorang gadis yang masih terlelap.
Sang gadis masih terbuai dalam alam mimpinya. Kemudian dari sisi pintu terlihat gagang pintu bergerak dan terlihat Jodi membuka pintu dan masuk ke dalam kamar gadis itu.
Jodi yang telah rapi memakai stelan jas nya duduk di bibir tempat tidur itu.
“Sayang….ayo bangun.” Jodi membelai pucuk kepala gadis itu. Terlihat ada sedikit pergerakan dari tubuhnya dan mendenguskan suara serak khas bangun tidur,
“Mh…om.. aku masih ngantuk.”
“Hei… anak gadis harus bangun lebih cepat. Ayo sayang bangun, lekas mandi dan kita sarapan.” Jodi meraih tubuh gadis itu.
“Om.. om sudah rapi?.” Gadis itu berusaha membuka matanya sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Jodi yang posisinya duduk di samping tubuh gadis itu yang masih terbaring.
“Udah dong.. ayo sayang bangun.” Kedua tangan Jodi meraih tubuh gadis itu. Bersamaan dengan itu Riksa sang asisten yang akan turun menuju ruang makan, tak sengaja saat melintas pintu kamar Berlian, ia melihat dari ujung pintu penampakan Jodi yang terlihat seperti tengah memeluk gadis itu, padahal Jodi sedang membangunkannya.
“Yaaaaaaak… penampakan siaran langsung lagi dah.” Bathin Riksa, kemudian ia duduk pada salah satu kursi di ruang makan.
Ia menunggu Boss nya dan gadis kecilnya untuk sarapan bersama namun terasa lama sekali padahal cacing-cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta.
‘Lama banget ya mereka…. Ngapain dulu sih?… apa putri kecil itu harus di mandiin juga sama om nya?.. bener-bener beruntung banget ya si Boss, pantas saja dia betah kerja disini, ternyata yang bikin betah itu sang putri, hoho.’ Bathin Riksa.
Karena lama menunggu, ia mengambil goreng tempe kemudian melahapnya untuk mengganjal perutnya menenangkan cacing-cacing yang meronta sedari tadi.
Tak lama Jodi turun dari tangga dan duduk tepat di depan Riksa.
“Kok belum di makan Rik sarapannya?.” Tanya Jodi.
“Kan nunggu Boss.”
“Kalau udah lapar gak usah nunggu gue, elo langsung makan aja.”
“Gak enak Boss, masa gue makan duluan.”
“Di rumah ini bebas Rik, kalau di luar kantor elo gak usah formil sama gue, santai aja.” Kata Jodi yang kemudian menyuapkan nasi goreng yang sudah ia simpan diatas piringnya.
Kemudian terlihat Berlian menuruni anak tangga menghampiri Jodi dan Riksa. Lalu Berlian duduk di samping Jodi seraya menjatuhkan kepalanya pada lengan kiri Jodi.
Melihat hal itu lagi-lagi Riksa merasa dibuat kikuk, ‘ini anak manja apa gimana ya? Pengennya nempel terus gitu….’ Bathin Riksa.
Kemudian terlihat Jodi menyuapi gadis itu, kembali Riksa menangkap penampakan yang menurutnya begitu mesra dan tak biasa.
‘Yah… di suapin juga, hadeh… apa selama gue disini akan melihat penampakan begini terus?… bisa sa*ge nih gue lama-lama lihat mereka.’ Bathin Riksa kembali.
“Sayang… kalau kamu bosan di rumah, kamu bisa main kemana kek.. biar supir mengantarmu.” Kata Jodi sembari menyuapi Berlian kembali.
“Gak mau jalan-jalan sendiri, gak asik.” Jawabnya malas.
“Ya sudah terserah kamu saja sayang.. tapi kurangi nonton drakornya ya?.”
“Iya. Om, kalau nanti siang aku antar makan siang buat om, om mau gak?.”
“Tentu saja om mau sayang, memangnya kamu mau masak apa buat om?.”
__ADS_1
“Om mau makan apa? Nanti aku masakin.”
“Mh… apa ya?” Jodi berfikir, kemudian, “Oh ini saja, siang nanti om mau makan sama ikan tongkol bumbu cabai dan sayuran.”
“Okay, nanti aku masak buat om. Siang aku anterin ya?.”
“Iya sayang… makasih ya?.”
“Hm um.” Jawab gadis itu.
Setelah selesai menikmati sarapannya, kemudian Jodi dan Riksa meninggalkan ruang makan menuju halaman rumah tempat mobil mereka terparkir.
“Om berangkat dulu ya sayang? Nanti siang om tunggu makan siangnya.” Kata Jodi seraya mengecup pipi gadis itu.
‘Udah kayak suami istri aja ya mereka.” Bathin Riksa yang berlalu menuju belakang kemudi mobil.
Disusul Jodi yang duduk di samping Riksa, dan kuda besi yang mereka tumpangi pun melesat pergi meninggalkan Berlian yang berdiri di depan pintu utama.
Singkat cerita mobil telah sampai di halaman gedung kantor.
“Rik, gue mau bicara hal penting sama elo.” Kata Jodi sambil berjalan menuju ruangannya di ikuti Riksa.
Setelah sampai ruangannya Jodi duduk di sofa kemudian di ikuti Riksa duduk di sampingnya.
“Rik. Apa yang akan gue sampaikan bukan perihal pekerjaan tapi hal lain.” Jodi membuka pembicaraan diantara mereka.
“Gue siap mendengarkan Boss.”
“Rik, ini masalah putri Kecil gue.”
“Rik, gue sayang banget sama putri kecil gue, seperti yang elo lihat. Seperti itu lah gue memperlakukan dia sejak dia kecil. Kenapa gue memanjakannya? Karena gue merasa iba pada hidupnya yang dari kecil sudah menjadi anak yatim piatu. Di samping itu juga, orang tua nya menitipkan putri kecil itu sama gue. Dan gue lah pengganti ayah dan ibunya agar ia tak kekurangan kasih sayang. Semaksimal mungkin gue berperan menjadi ayah sekaligus ibu buat dia. Karena di amanat kan oleh orang tua nya untuk menjaga dia, merupakan tugas yang paling berat buat gue. Menjaga anak perempuan berbeda dengan menjaga anak laki-laki kalau menurut gue sih. Penuh kekhawatiran dan rasa takut yang lebih tinggi. Hingga detik ini perlakuan gue yang memanjakannya tidak pernah kurang. Namun akhir-akhir ini gue merasa ada yang berubah dari sikap putri kecil itu Rik, elo ngerti kan maksud gue?.”
“Sangat mengerti Boss. Boleh gue berpendapat Boss?.” Kata Riksa. Kemudian Jodi menganggukan kepalanya.
“Boss ngambil gue jadi anggota pada agen shadow man, bukan karena tidak ada alasan kan? Karena ke ahlian gue menjadi pakar micro ekspresi lah, Boss menjadikan gue salah satu anggota agen dalam hal meng interogasi pelaku dari setiap kasus yang kita tangani. Dan kalau gue mampu mengatasi para penjahat dengan ilmu gue, apa lagi mengatasi masalah yang tengah Boss hadapi ini.” Jelas Riksa.
“Maksud elo?.” Tanya Jodi yang belum mengerti arah pembicaraan Riksa.
“Gue lihat, Boss lagi galau menghadapi sikap putri kecil itu pada Boss kan? Gue akan coba membantu dari sisi ilmu gue Boss. Bagaimana?” Kata Riksa kembali.
“Ya benar Rik, gue merasa aneh dengan gadis kecil gue itu sekarang, cuma gue gak mau menduga-duga, gue takut salah Rik, memang Delima akhir-akhir ini selalu mewanti-wanti gue dalam memperlakukan gadis kecil itu. Tapi tak gue denger karena itu adalah suatu hal yang mustahil Rik, bagaimana mungkin rasa itu ada di tengah-tengah gue sama dia Rik.” Jelas Jodi.
“Ok Boss, gue faham apa yang bos rasakan. Sekarang gue akan berbicara dengan ilmu yang gue punya ya Boss. Maaf kalau selama ini gue udah mengamati gerak gerik dia. Karena memang waktu gue lihat pertama kali juga gue ngerasa aneh Boss. Nah dari hasil pengamatan gue dengan melihat bagaimana dia menatap Boss, kemudian Body language dia terhadap Boss dalam melakukan sentuhan-sentuhannya, sepertinya dia menaruh perasaan lain pada Boss, artinya perlakuan Boss baginya sudah menjadi candu dan ia selalu ingin di perlakukan seperti itu, dan baginya Boss Adalah tempat teramannya. Sehingga pada masa ia sekarang tengah alami pubertas, dalam melakukan tindakan-tindakan yang membawanya dalam suasana bergairah, ia mengharapkan itu dari Boss.” Jelas Riksa dengan penuh hati-hati.
“Apa?! Jadi maksud elo, dia suka sama gue gitu?.” Jodi dengan wajah terkejutnya.
“Tepat sekali! Gue rasa dia sudah jatuh cinta sama Boss.”
“Gilaaa! Itu gak mungkin Rik!.” Kata Jodi penuh penekanan.
“Tapi kenyataannya memang begitu Boss. Kalau Boss tidak percaya, Boss perhatikan saja nanti bagaimana dia saat bersama Boss. Gue yakin dia jatuh cinta pada Boss.”
“Rik! Gue ini om nya loh, bagaimana mungkin dia jatuh cinta sama gue! Usia gue jauh puluhan tahun di atas usianya! Gue gak pantas buat dia Rik. Dan gue udah nganggap dia, anak gue sendiri! Bagaimana ini bisa terjadi!.. ah gila!.” Jodi mengusap kasar rambutnya.
__ADS_1
“Kalau sudah cinta Boss, bukan lagi bicara masalah pantas atau tidak pantas! Sekali pun kita sudah kakek-kakek tapi pada saat kita dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada seorang gadis kecil, cinta itu bisa tumbuh Boss.”
“Rik, tolong kaji kembali ilmu elo itu Rik. Ini hal yang mustahil!.”
“Boss! Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini jika Allah sudah katakan “KUN” jadilah ia! Maka jadilah ia!.”
Hening menyelimuti mereka saat Jodi mendengarkan apa yang telah di jelaskan Riksa. Betapa semakin bingungnya Jodi dalam menghadapi ini semua. Kemudian,
“Terus Rik, bagaimana solusinya?.”
“Gue rasa solusinya adalah harus ada figur lain sebagai pengganti Boss, artinya harus ada laki-laki yang menurutnya laki-laki itu segalanya harus lebih baik dari Boss dan gue rasa ia akan beralih pada laki-laki tersebut. Memang akan butuh proses tapi sebagai solusinya ya seperti itu.”
“Ah gila… artinya dia harus dekat dengan lelaki lain begitu? Atau dia harus punya pacar gitu?.”
“Ya seperti itu kira-kira.”
“Rik, gue belum rela kalau dia punya pacar, gue takut dia sakit hati Rik, gue takut dia kecewa dan menangis, itu yang gue jaga selama ini.”
“Boss kan bisa mencari lelaki yang baik buat dia.”
“Ya tapi dimana gue cari cowok yang cocok buat dia Rik?.”
“Boss, bukankah sebentar lagi putri kecil Boss akan kuliah? di tempat kuliahnya mungkin dia bisa menemukan teman lelaki nantinya.”
“Oh iya… gimana? Elo udah dapat Universitas terbaik buat dia?.” Jodi merasa mendapatkan solusinya dari masalah yang tengah ia hadapi.
“Sudah Boss, kalau putri kecil mau dan Boss setuju besok juga dia sudah bisa masuk kampus itu. Sebenarnya masa orientasinya sudah sejak sebulan yang lalu, tapi itu tidak jadi masalah dia bisa ikut ospek tahun depan.”
“Ya sudah nanti siang kan dia mau kesini, ngantar makan siang, gue akan coba ngomong sama dia. Bener-bener gue bingung Rik, kok bisa-bisanya ya tuh anak punya perasaan lebih sama gue. Ah.. bikin masalah saja.”
“Boss, meskipun usia anda sudah kepala empat, tapi Boss tidak kelihatan tua malah Boss terlihat seusia gue loh.”
“Heh! Elo lagi ngaledek gue apa ngerayu gue hah!.”
“Bener Boss, aslinya emang Boss terlihat awet muda, jadi wajar kalau putri kecil menaruh hati pada Boss karena memang Boss masih terlihat tampan dan menggoda para wanita apalagi wanita seusia putri kecil Boss itu.”
“Tutup mulut luh Riksa!.”
“Maaf Boss. Tapi Boss, apa Boss sedikit pun tidak merasa tertarik padanya? Dia secantik barbie loh Boss!.”
“Heh! Elo pikir gue pedofil apa?! Yang terangsang sama anak kecil! Macem-macem aja luh ngomong!.”
“Boss dia bukan anak kecil lagi! Coba Boss buka mata Boss lebar-lebar, dia gadis dewasa Boss, lelaki manapun akan jatuh cinta pada putri kecil Boss itu.”
“Heh! Elo udah gak mau kerja sama gue lagi ya! Apa elo udah bosan hidup! Elo tinggal pilih! Tangan kanan kuburan! Tangan kiri rumah sakit!. Mau yang mana luh!.”
“Buset dah! Gak gitu juga kali Boss, gue kan cuma ngasih pandangan sama Boss.”
“Elo denger gue ya baik-baik Rik! Bagi gue dia tetaplah putri kecil gue sampai kapan pun! Ngerti gak luh!.”
“Iya Boss iya, maaf.”
‘Gue rasa… elo bakal nyesel luh Boss setelah ada cowok yang deket sama dia hahay..”
__ADS_1
Bersambung……..
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞