Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Manipulasi


__ADS_3

Suatu pagi di sebuah rumah nampak Faradina dan ibu nya Lucy tengah sarapan pagi, di rumah sederhana itulah mereka hanya tinggal berdua.


Sebelum mereka pergi bekerja, setiap hari mereka sarapan bersama, di sela waktu sarapannya mereka berbincang namun apa yang mereka bicarakan lain dari biasanya.


“Bu, boleh aku bertanya sesuatu?.” Tanya Faradina sembari memainkan sendok di atas piring sarapannya.


“Kamu mau tanya apa Fara?.”


“Kenapa dalam akta kelahiranku tak tertulis siapa nama ayahku?.” Kata Faradina dengan tatapan menyelidik.


Pertanyaan yang putrinya lontarkan membuat Lucy terdiam, Namun kemudian


“Kenapa kau tanyakan itu nak?.” Lucy balik bertanya, terlihat dari wajahnya ia seperti menutupi kegugupannya.


“Bukankah sebuah keluarga selalu ada ayah ibu dan anak? Sekali pun ayahnya sudah tidak ada, ia akan tertulis dalam akta kelahiran sang anak. Kenapa aku tidak? Dari mana asalku sebenarnya?.”


Lucy diam, sepertinya ia tengah memilah-milah kata untuk ia ucapkan pada putrinya itu.


“Jika ibu tak bisa mengatakannya, tidak apa-apa.” Sambung Faradina dan terlihat kekecewaan dari bahasa tubuhnya.


“Fara, ibu tahu kau pasti akan menanyakan hal ini. Keluarga kita memang tidak sempurna karena tanpa hadirnya seorang ayah, tapi walau pun demikian, kita sudah cukup bahagia sayang. Ya, memang kehadiran seorang ayah bagi anak perempuan sangatlah penting, tetapi jika dia sudah tidak ada, kita bisa apa sayang?.”


“Maksud ibu. Tidak ada disini dalam arti bagaimana? Meninggalkah? Atau dia masih hidup tetapi pergi meninggalkan kita?.”


“Sayang, ibu kira tidak penting dia sudah meninggal atau dia pergi karena sesuatu hal, yang terpenting adalah bagaimana kita sekarang melanjutkan hidup dan bisa menciptakan bahagia untuk kita.”


“Tapi itu penting bagiku bu? Apa ibu tidak kasihan padaku? Bagaimana teman-temanku memperlakukan aku karena aku tak memiliki ayah!.”


“Apa peduli nya dengan mereka sayang? Katakan pada mereka! Bahwa kau punya ayah, jika mereka bertanya siapa ayahmu suruh dia menanyakan padaku, aku lebih tahu hidupmu dari pada mereka.”


“Sekarang aku yang bertanya pada ibu, siapa ayahku? Dan dimana dia?. Lalu siapakah orang yang bernama Jodi Pratama itu?! Aku perlu tahu bu.”


“Dari mana kau tahu nama itu?.”


“Seseorang memberitahuku bu. Siapa Jodi Pratama itu bu?.”


“Kenapa kau menanyakan seseorang yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita?.”


“Benarkah dia tak ada hubungannya dengan kita? Bukankah dia lelaki yang pernah ada dalam masa lalu ibu?.”


“Ya dia memang orang yang pernah hadir di masa lalu ibu, tapi tidak untuk masa depan kita sayang.”


“Kenapa bu?.”


“Karena dia….” Pada saat Lucy hendak melanjutkan kata-katanya, ia melihat pada jam dinding sudah menunjukan waktu hampir jam tujuh. “Sayang… nanti kita bahas lagi masalah ini, ibu telat!.” Kata Lucy seraya pergi tergesa setelah mencium kening putrinya.


Faradina hanya bisa menghela nafas menyaksikan kepergian ibunya dengan rasa penasaran yang masih menggelayutinya.


Tak lama kemudian ia pun beranjak pergi meninggalkan rumahnya menuju tempat bekerjanya.


..........


Ditempat lain, Jodi, Berlian dan juga Riksa, baru saja selesai sarapan, mereka bersiap menuju ke suatu tempat yaitu markas besar tempanya mereka bekerja pada sebuah agen rahasia.


“Sayang jangan lupa bawa laptopmu.” Kata Jodi pada Berlian.


“Sudah siap papa. Kita akan pergi kemana papa?.”


“Ke tempat kerja papa. Kau harus tahu dimana markas besar papa. Tapi kau tidak boleh mengatakannya pada siapa pun ok?.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Kemudian mereka bertiga memasuki kuda besinya yang akan membawa mereka ke markas tersebut. Di dalam perjalanan, Jodi dan Berlian berbincang,


“Apa papa suka dengan pekerjaan papa ini?.”


“Tentu saja sayang, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu hem?.”


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Apa aku boleh bekerja di tempat papa?.”


“Hehe… untuk apa kau bekerja di tempat papa? Pekerjaan papa sangat beresiko sayang, makanya jarang ada perempuan yang bekerja di tempat seperti kami, walau pun ada, wanita itu harus tahan banting.”


“Memang aku tidak tahan banting?.”


“Kamu tidak akan kuat sayang, jangankan bekerja di tempat kami, sehari saja papa tidak membawamu ke pintu surga, kamu sudah seperti orang kesetanan hehe.” Goda Jodi pada istrinya.


“Iy… papa me*um!.” Kata Berlian seraya mencubit perut Jodi.


“Haha… aw… sakit sayang.” Jodi meringis. Lalu,


“Lagi pula untuk apa kamu kerja di tempat lain? Ayahmu sudah meninggalkan perusahaan untukmu, kau hanya tinggal melanjutkannya saja. Bukan kah itu sudah cukup baik buatmu?.”


“Tapi… bisakah aku seperti ayah juga seperti papa mengurus perusahaan itu? Aku ragu dapat melakukannya.”


“Tentu saja kau pasti bisa sayang, karena itu kau kuliah dulu sebagai bekal untuk mengendalikan perusahaanmu nanti. Karena segala sesuatu harus menggunakan ilmu jika kita ingin apa yang kita lakukan itu berjalan dengan baik, tanpa ilmu sebesar apa pun perusahaan yang kita kelola, sebanyak apa pun uang yang kita punya, semuanya akan habis tak tersisa. Karena ilmu adalah modal utama kita dalam menjalani hidup. Tanpa ilmu kau tak akan pernah dapat menjalani hidup ini dengan baik. Berapa banyak perusahaan dan kehidupan seseorang hancur, kenapa? Karena mereka tak menggunakan ilmu. Tapi seandainya kita dapat ilmunya, segala sesuatu akan berjalan dengan baik bahkan akan jauh lebih baik.” Jelas Jodi.


Berlian mendengarkan dengan baik setiap kata per kata, yang Jodi sampaikan padanya.


Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.


Jodi membawa Berlian turun dari kendaraannya di ikuti Riksa dari belakangnya.


“Kok tempat kerja papa seperti gudang?.” Berlian menanggapi penampakan kala ia melihat kondisi sekitar.


Setelah sampai di dalam bangunan yang menyerupai gudang itu, betapa tercengangnya Berlian kala melihat penampakan di dalamnya layaknya seperti sebuah perkantoran mewah.


“Waaah…. Keren sekali di dalam sini.” Decak kagum Berlian terlontar kala ia mengitari sekeliling interior gedung tersebut dengan membulatkan pandangannya.


“Jangan melihat luarnya… tetapi lihatlah isinya. Begitupun saat kau menilai orang atau menilai sesuatu, tidak semua yang kita lihat baik, di dalamnya juga baik, tapi bisa jadi apa yang kita pandang buruk di dalamnya tersimpan keindahan.” Ujar Jodi seraya meraih tangan istrinya kemudian membawanya ke dalam ruangan pribadinya.


Sementara Riksa yang mengikuti mereka dari belakang, berlalu menuju ruang kerja pribadi miliknya.


Pada saat Berlian masuk kedalam ruangan suaminya, lagi-lagi dia dibuat tercengang, “Wah… ruangan papa keren sekali, ini ruangan kerja pribadi papa?.”


“Iya sayang, disini lah papa bekerja. Kau tahu? Pekerjaan papa sangat rahasia tak seorang pun tahu selain opa mu, bahkan ayahmu pun tidak tahu. Dan sekarang kau tahu. Papa harap kau dapat menjaga rahasia tempat ini.”


“Baiklah. Aku akan mengunci mulutku rapat-rapat.”


“Istri pintar!.” Kata Jodi seraya mendekati istrinya itu kemudian memeluknya dari arah belakang.


“Mulai hari ini, kau belajar disini temani papa kerja, kecuali kalau kita lagi keluar daerah.” Bisik Jodi.


“Ok.”


“Ya sudah, sekarang ambil laptopmu dan belajar yang rajin. Papa akan keruangan tim papa dulu.” Kata Jodi seraya mengecup tengkuk istrinya, kemudian ia meninggalkan istrinya di dalam ruangan itu.


Kemudian Berlian mengambil laptopnya dan meletakannya di atas meja kerja Jodi, lalu duduk di atas kursi kerja dan mulai menyalakan laptopnya.


Jodi masuk kedalam ruangan yang lumayan cukup luas, dimana di dalamnya terdapat beberapa meja kerja dengan skat-skat yang memisahkan meja satu dengan meja yang lainnya, nampak tiga orang lelaki tengah duduk pada meja kerjanya masing-masing.


Melihat Jodi datang, ketiga anggota tim nya itu memberi salam.


“Rud. Yang handle pekerjaan Angga sama Tommy sudah ada belum?.” Tanya Jodi pada salah satu orang tim nya.

__ADS_1


“Kalau yang handle kerjaannya bang Tommy kebetulan saya Boss, kemarin bang Riksa memerintahkan pada saya, cuman yang gantiin Angga belum ada Boss.” Jelas seorang yang bernama Rudi tersebut.


“Ok. Kalau gitu, kira-kira siapa yang bisa handle kerjaan Angga? Riswan, kira-kira elo bisa gak? Tapi jangan sampai ngeganggu kerjaan inti elo.”


“Insha Allah bisa Boss, saya akan coba.” Jawab seseorang yang bernama Riswan.


“Bagus! sebelum dapat orangnya, elo handle dulu ya kerjaan Angga?.”


“Siap Boss!.”


“Ya sudah…. kembali kerja!.” Kata Jodi seraya berlalu dari ruangan tersebut menuju ruangan Riksa.


Se-sampainya di ruangan Riksa, Jodi duduk pada sofa yang terletak disana.


“Kopi Boss?.” Tawar Riksa pada Jodi.


“Boleh. Oya Rik yang handle kerjaan si Angga untuk sementara si Riswan sebelum elo dapat orangnya.”


“Ok siap Boss!.” Jawab Riksa seraya memberikan secangkir kopi kepada Boss nya itu.


Dan mereka berdua pun menikmati kopi nya sembari koordinasi mengenai pekerjaan mereka.


*


Sementara itu ditempat lain, nampak Arash tengah berjalan sendiri menuju tempat yang sepi di area kampusnya tepatnya di samping taman kampus.


Terlihat sesekali ia melihat kiri kanan seolah memastikan bahwa tak ada orang yang melihatnya, kemudian terlihat ia merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


“Hallo Fara!.”


“Iya Arash ada apa? Aku lagi kerja loh.” Suara Faradina dari balik ponsel.


“Iya aku tahu, aku cuma mau ngasih tahu aja, nanti pulang kerja, kamu aku jemput ya, ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”


“Ok.”


“Ya udah, sampai ketemu nanti malam.”


Kemudian Arash memutus sambungan ponselnya dan kembali kedalam gedung kampusnya. Tanpa ia sadari dari kejauhan Menara dan Yosan memperhatikan kelakuan Arash tersebut.


“Ra, elo ngerasa gak? Kalau temen kita yang satu itu menyimpan rahasia?.” Kata Yosan sembari memperhatikan pergerakan Arash yang memasuki gedung kampus.


Yosan dan Menara kala itu tengah berada di dalam mobil Menara di parkiran kampus.


“Iya sih kelihatannya dia lagi menyembunyikan sesuatu dari kita. Akhir-akhir ini dia jarang bareng kita juga kan?.” Kata Menara yang Juga memperhatikan Arash dengan pandangannya.


“Iya bener…. Eh bagaimana kalau kita cari tahu yuk Ra? Gue curiga kalau dia lagi merencanakan sesuatu, soalnya dia gak pernah kayak gitu. Kita ikutin aja kemana dia pergi.” Ujar Yosan.


“Okay.”


Lalu mereka berdua pun keluar dari dalam kendaraannya dan berlalu menuju kedalam gedung kampus.


Persahabatan adalah ikatan Bathin dari dua orang atau lebih sekalipun tanpa ikatan darah namun kedekatannya melebihi segalanya. Sama rasa, sama asa, saling mendukung dan saling menjaga. Namun kala kepentingan menyentuh diantara mereka, maka keretakan dapat saja terjadi, sekalipun terlihat masih dekat tentunya ada manipulasi.


Jadilah sahabat terbaik, yang mampu melengkapi kekurangan yang satu dengan yang lainnya.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Jangan lupa tinggalkan jejaknya wahai sahabat🥰


Terima kasih.😘😍

__ADS_1


__ADS_2