
Pemandu lelang menyuarakan limit lelang seharga 20 juta dolar, dan mulai menawarkan pada peserta lelang.
“25 juta dolar!” Kata seseorang yang duduk tepat di samping kanan Jodi.
“31 juta dolar!.” Kata seseorang yang berkulit hitam.
“Ya sampai 31 juta dolar! Silahkan siapa lagi yang akan menaikan harga?!” Kata sang pemandu.
Jodi membuka suaranya, “50 juta dolar!.” Berharap tak ada lagi yang menaikan harga. Namun dugaannya salah.
“54 juta dolar!.” Seseorang yang berpakaian khas timur tengah menyuarakan dengan tatapan nafsunya pada Berlian membuat Jodi sedikit tidak suka pada orang tersebut.
“60 juta dolar!.” Jodi menghadang si timur tengah.
Sejenak suasana hening dan terlihat para peserta berbisik, entah apa yang mereka ucapkan.
Sementara Berlian terlihat berjalan tak tentu arah di atas stage tersebut. Dengan mata sedikit sayu dan tatapan yang kosong ia menatap semua peserta lelang yang mengitarinya. Sesekali ia melemparkan senyum sesekali terdiam kembali.
Sepertinya panitia lelang telah menyuntikan sejenis narkoba pada Berlian agar selain Berlian tidak memberontak, juga supaya Berlian lemah walau ia masih dapat berdiri dan berjalan mondar mandir di atas stage itu.
Jodi terus saja memperhatikan gadisnya, ia merasa bahwa ada sesuatu yang lain dari sikap gadisnya itu. Dan ia pun menduga kalau gadisnya memang telah di cekoki sesuatu sehingga terlihat seperti orang tak waras, terlebih Berlian seperti tak mengenali dirinya yang hadir di sana.
Saking fokus nya ia memperhatikan gadisnya hingga ia lupa kalau dirinya tengah melakukan penawaran. Dan seseorang yang duduk di depannya telah menawarkan harga 70 juta dolar.
Kemudian Jodi menaikan harga 73 juta dolar. Namun masih ada yang menaikan kembali hingga 80 juta dolar. Tanpa berpikir panjang Jodi menawar 100 juta dolar membuat semua mata melirik padanya. Riksa pun terkejut, “Boss gak salah?.” Bisik Riksa.
“Bagaimana pun caranya gue harus memenangkan lelang ini Rik.”
“Duitnya ada emang Boss?.”
“Itu urusan elo! Setelah gue membawa Berlian, elo urus transaksinya dan jangan lupa ambil sertifikat lelangnya.”
“Yaelah… gue lagi dah yang kena! Hadeh..” Riksa tepok jidat.
Dan benar saja pemandu lelang telah mengakhiri lelangnya pada angka 100 juta dolar karena tidak ada lagi yang melakukan penawaran di atas angka itu.
Jodi mulai bernafas dengan lega karena ia dapat membawa gadisnya pulang.
“Come to papa…. Baby.” Jodi Berdiri.
Dengan gagah berani ia datang menaiki stage dan membuka long coat nya lalu memakaikan long coat itu pada gadisnya untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Di bawanya gadis itu ke luar dari stage lalu ia menggendongnya ala-ala bridal style. Sembari mengatakan pada pemandu lelang dan panitia lelang, bahwa asistennya yang akan mengurus sisa pembayaran kenaikan dari harga jual dan segala sesuatunya.
Jodi membawa tubuh itu keluar dari gedung lelang tersebut, gadis yang masih dalam pengaruh narkoba itu terus memandangi Jodi sembari tangan kanannya tak henti meraba-raba wajah Jodi dan sesekali memainkan jambang lelaki itu.
“Kau mirip papaku… tapi hari ini dia tak datang… katakan padanya untuk cepat membebaskanku dari sini.” Gadis itu merancau.
Sementara Jodi tetap diam dengan mata yang berkaca-kaca dan rasa haru merasakan kebahagiaannya karena telah berhasil membawa gadisnya keluar dari jeruji laknat itu.
“Antarkan aku pada papaku… dia pasti sudah menungguku.” Rancau kembali gadis itu sembari memegang hidup Jodi.
Jodi bergegas membawa masuk Berlian kedalam Mobil. Dan benar saja sepertinya di belakang mereka sebuah mobil tengah memantau mereka.
Tomy dan anak buahnya telah bersiap menghadang mereka di mobil lain.
Jodi memberikan perintah pada sopirnya untuk melajukan kendaraannya langsung dalam kecepatan yang sangat tinggi menuju hunian mereka.
Sementara Tomy beserta tim nya menghadang mobil yang mengikuti mobil Jodi, dan entah apa yang ia lemparkan kedalam mobil tersebut hingga terlihat mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan hingga mobil itu berguling dan mengeluarkan asap tebal.
Di dalam mobil Jodi tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia memandangi gadisnya yang berada di atas pangkuannya itu. Sesaat mereka saling berpandangan.
Perlahan ia belai rambut gadis itu lalu mendekap erat tubuhnya.
__ADS_1
‘Benarkan? Aku tidak bohong padamu… aku datang menyelamatkanmu dari kadang singa itu. Kini kau bebas sayang…’
Pada saat Jodi hendak mengecup gadis itu, tiba-tiba saja,
PLAK!!!! Gadis itu menampar muka Jodi,
“Aaaaww…. Sayang kenapa kau menamparku? Apa kau tidak rindu padaku hah!.” Kata Jodi seraya memegang pipinya bekas tamparan gadisnya itu.
“Jangan macam-macam denganku! Akan aku laporkan kau pada papaku karena telah berani menciumku!.”
“Oh ya… aku lupa kalau kau sedang mabuk!.” Gumam Jodi. Dan Jodi hanya bisa memandangi gadisnya itu. Terselip senyum kebahagiaan di sudut bibirnya, namun tiba-tiba,
PLAK!!!! Gadis itu menamparnya kembali.
“Hei… kenapa kau terus menamparku sayang… aku pikir kau akan meciumku setelah lama tak bertemu tapi kau malah menamparku berulang-ulang.” Ujar Jodi kecewa.
“Sekali lagi kau berani memandangku! Ku laporkan kau kepada papaku.”
“Ah kau benar-benar tidak mengenaliku… apa yang telah mereka berikan padamu hah! Hingga aku bagai orang asing bagimu? Dasar manusia-manusia gila! Beraninya mereka merusakmu hingga seperti ini!.”
Dan tak terasa mobil yang membawa mereka pun sampai di hunian tempat tinggal mereka.
Jodi membawa gadisnya masuk kedalam rumah itu di ikuti oleh Tomy di belakangnya.
“Bagaimana orang yang mengikuti kita Tom?.”
“Clear!” Jawab Tomy
“Bagus! Oya gue lupa membawakan pakaian untuk gadisku, sekarang tolong kau carikan beberapa stel pakaian yang pantas untuknya.”
“Baik Boss.”
“Oya sekalian dengan pakaian dalamnya.”
“Kau tanya saja nanti pada pemilik tokonya.”
“Ukurannya Boss?.”
“36A.”
“Wah besar sekali ya? Boss sepertinya hapal betul ukuran gadisnya.”
“Cepat kau pergi!.”
“Warna nya apa Boss?.”
“Pink.”
“Pink tua apa pink muda Boss?.”
“Heh! Kutu!! Elo pergi saja dulu sana! Kalau elo kurang jelas, baru nanti telepon gue! Ribet amat sih luh!.” Kata Jodi seraya masuk kedalam kamar dan menutup keras pintu kamar itu.
Tomy yang berada di depan pintu terdiam, tak lama datang Riksa menghampirinya,
“Kenapa Tom?.”
“Eh elo Rik, antar gue yuk? Beli pakaian dalam untuk gadisnya Boss.”
“Ayo. Sekalian kita jalan-jalan. Lihat-lihat bule siapa tahu ada yang nyantol haha.”
Kemudian mereka berlalu meninggalkan tempat itu menuju kendaraannya dan mereka berdua pun pergi dengan kendaraan yang Tomy bawa.
Di dalam kamar, Jodi membaringkan tubuh Berlian di atas tempat tidur. Kemudian membuka long coat yang ia pakaikan tadi pada gadis itu.
__ADS_1
“Aku benci apa yang kau kenakan ini!.” Kata Jodi seraya melucuti pakaian transparan yang dipakai gadis itu. Juga melucuti pakaian dalamnya. Dan melemparkannya ke sembarang arah.
Kini hanya terlihat tubuh polos yang indah dihadapannya, sebentar ia menatapnya, lalu dengan cepat menutupi tubuh itu dengan selimut.
Karena sejak keluar dari Gedung lelang itu Berlian terus saja merancau tak jelas, sepertinya ia kelelahan dan mulai menunjukan kantuknya, perlahan ia menutup matanya dengan igauannya.
“Awas kau!! Berani menyentuhku… akan…..” Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, kesadarannya sudah hilang.
Jodi tersenyum melihatnya. Lalu ia berlalu menuju sofa yang berada di kamar tersebut, Ia duduk diatas sofa tersebut dengan meluruskan kakinya diatas meja, dan menumpangkan dagunya pada telapak tangannya dengan jari-jari menyentuh mulutnya.
Ia terus pandangi wajah yang telah membuatnya rindu setengah mati itu.
‘Aku tidak percaya kau ada di hadapanku sayang… kau tahu? Betapa bahagianya aku dapat membawamu kembali. Aku janji tidak akan membuatmu kembali terluka.’
‘Jiwa yang hilang kini telah kembali pulang… membenamkan rasa bersama sang cinta dengan rona bahagia. Tak ada artinya segala rasa tanpa sang kekasih hadir di sisi. Jika Tuhan merestui, kenapa mereka tidak? Biarlah mereka menyaksikan seiring prasangkanya. Karena kebahagiaan, rindu, dendam, hanya kita yang rasa. Aku berharap setelah hari ini tak ada lagi tangisan. Tapi kurasa itu tidaklah mungkin, karena sedih dan bahagia akan selalu mengiringi perjalanan kita, bukannya aku membenci akan kesedihan tapi aku takut tak dapat menghentikannya saat ia menyambangimu.’
Tak hentinya Jodi memandangi gadisnya itu hingga ia tertidur di atas sofa tersebut. Dan saat ia terbangun gadis itu masih dalam terlelapnya.
Ia bangkit dari atas sofa tersebut dan berlalu ke kamar mandi hendak membersihkan dirinya.
Setelah ia selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandinya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Namun betapa terkejutnya saat ia melihat sang gadis telah tergeletak di lantai.
Bergegas ia menghampirinya dan mengangkat tubuhnya.
“Papa….” Ucap pelan gadis itu.
Betapa bahagianya Jodi saat mendengar gadisnya memanggil namanya.
“Sayang… kau sudah sadar??.” Ia peluk gadis itu.
“Mh….” Gadis itu hanya menyuarakan suara dalam mulutnya. Kemudian, “Aku pengen pipis papa…”
“Baiklah sayang… ayo papa bantu.” Kemudian Jodi membawa gadis itu ke dalam kamar mandi di atas pangkuannnya.
Setelah selesai, kembali Jodi membawa gadis itu ke atas tempat tidur.
“Istirahatlah dulu.” Kata Jodi seraya merebahkan gadis itu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Aku lapar papa…”
“Baiklah… papa akan pesan makanan buatmu ya!.” Bergegas Jodi menghubungi Tomy agar sekalian membelikan makanan berat untuk dirinya dan gadisnya itu.
“Sebentar lagi mereka akan membawakan makanan untukmu sayang. Sekarang kembalilah istirahat.” Kata Jodi seraya membelai wajah gadis itu.
“Kita berada dimana papa? Apa papa sudah membawaku keluar dari klinik dokter itu?.”
“Kita sekarang ada di negara X sayang.. dan dokter itu sudah papa kasih pelajaran. Jadi kamu tidak usah takut lagi.”
“Oh syukurlah. Papa, kepalaku pusing.”
“Itu karena kau lelah sayang… sebentar juga akan sembuh.” Kata Jodi seraya mengambil air mineral dan memberikan minum pada Berlian, “Minumlah sayang.”
Setelah Berlian minum, ia melihat dirinya kemudian mengalihkan pandangannya pada Jodi.
“Kenapa kita tidak berpakaian papa? Apa kita sudah menikah?.”
Betapa terkejutnya Jodi mendengar apa yang dikatakan gadisnya itu. Ia baru tersadar kalau dirinya belum berpakaian hanya memakai handuk saja. Sementara tubuh gadisnya polos tanpa sehelai benang pun.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Terima kasih untuk reader yang sudah memantau sampai bab ini🥰
__ADS_1
Love you pull😘