Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Home sweet Home


__ADS_3

Kesedihan yang di alami oleh Jodi dan Berlian juga keluarga, berangsur-angsur hilang digantikan dengan senyum kebahagiaan karena Barlian telah siuman walau tidak bisa berbicara dan menggerakkan seluruh tubuhnya, tatapi ia masih dapat mendengar.


Jarum infus yang selalu menghiasi tangan Berlian pun kini telah di lepas karena Berlian sudah dapat mengkonsumsi asupan gizi walau pun hanya melalui selang yang dimasukkan kedalam hidungnya. Tetapi itu merupakan perkembangan yang cukup baik dibandingkan hari-hari sebelumnya.


Dengan sabar setiap hari Jodi selalu menyuntikan makanan dan obat pada selang itu. Sementara Miriam putri mereka, mendapatkan banyak kasih sayang dari orang-orang sekitarnya yang selalu bergantian menjaganya.


*


Ditempat lain nampak Arash terlihat sangat putus asa, karena setelah penyamarannya menjadi cleaning service di rumah sakit tempat Berlian di rawat, kembali ia kesulitan untuk menemui Berlian.


Suatu hari ia pernah hendak mengunjungi Berlian dengan menyamar sebagai dokter, namun sempat di ketahui oleh pihak rumah sakit karena identitas dokter yang ia gunakan ternyata identitas dokter yang baru saja meninggal, akhirnya pihak rumah sakit menangkap Arash dan menginterogasi nya sehingga membuat Arash terkena hukuman penipuan identitas, yang tentunya berurusan dengan masalah hukum, dan di kenai hukuman beberapa bulan penjara.


Setelah keluar dari penjara karena orang tuanya malu, ia di asingkan ke negara tempat ibunya berasal yaitu Korea.


Beberapa bulan di Korea, Arash mampu beradaptasi dan sedikit demi sedikit dapat melupakan masalahnya, namun tetap saja ia masih menaruh dendam pada seseorang yang bernama Jodi Pratama itu. Karena seumur hidupnya dalam mencintai wanita ia tidak pernah merasakan gagal, baru pada Berlian lah ia tidak dapat mewujudkan keinginannya dan menurutnya semua itu di karenakan oleh seseorang yang bernama Jodi.


...........


Sementara itu di rumah sakit, Jodi nampak tengah sibuk di depan laptopnya, ia tengah melakukan pekerjaannya, Berlian terlihat tidur pulas bersama putrinya di kamar. Tak lama Riksa masuk,


“Boss, sepertinya kecurigaan kita selama ini mengenai racun itu berasal dari mana, sepertinya memang mengarah pada bocah itu.”


“Ya kalau melihat dari gelagatnya sih memang sepertinya dari dia, apalagi waktu pihak rumah sakit mengatakan kalau dia berusaha menyamar jadi dokter, mau menyusup ke kamar ini. Sebenarnya target dia itu gue, cuma waktu itu kan minuman gue di ambil sama bini.”


“Ya memang tujuannya sih ke Boss. Terus bagaimana? Mau kita buka lagi kasusnya?.”


“Ga usah dulu deh Rik, lagi pula dia kan sekarang gak ada disini. Biarkan saja dulu, yang penting kita tahu siapa orangnya. Sekali lagi dia macam-macam, udah kita habisi!, gak peduli gue kenal atau gak sama bapaknya.”


“Ya udah kalau gitu.” Kata Riksa.


Lalu terlihat seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan dimana mereka tengah berbincang.


“Selamat siang tuan Jodi?.”


“Oh selamat siang dok? Apa dokter ada visit siang ini? Istri saya sedang tidur dok.”


“Ya. Tapi kalau lagi tidur sudah jangan di ganggu, lagi pula kondisinya semakin membaik. Begini tuan Jodi, maksud saya menemui anda, ada yang ingin saya sampaikan, sepertinya istri anda sudah di perbolehkan pulang kalau seandainya memang tuan bersedia istrinya di rawat di rumah, nanti saya akan memerintahkan dokter khusus yang datang kerumah anda setiap hari untuk memberikan terapi dan mengontrol perkembangan kesehatannya, Bagaimana kalau begitu?.”


“Oh boleh dok, dengan senang hati apabila istri saya sudah diperbolehkan pulang dan bisa di rawat di rumah.”


“Iya, karena memang kondisinya dari hari kehari semakin membaik, tinggal pemulihannya saja, jadi boleh di lakukan di rumah. Nanti saya akan kirim dokter ahli saraf setiap hari kerumah anda untuk mengontrol perkembangannya.”


“Baiklah kalau begitu. Saya setuju dokter.”


“Ya tuan Jodi. Berarti besok istri anda sudah diperbolehkan pulang, dan lusa saya akan menugaskan dokter ahli saraf untuk datang kerumah anda.”


“Baik dokter, Terima kasih.” Kata Jodi seraya menyalami dokter tersebut.


Dan dokter itu pun pergi meninggalkan ruangan itu. Kemudian Jodi menyuruh Riksa untuk mengurus kebagian administrasi karena besok mereka akan kembali pulang.


Kemudian Jodi beranjak dari tempat duduknya menuju kamar perawatan. Di dalam kamar ia masih melihat istrinya yang terlelap tidur bersama putrinya.


Ia pandangi kedua malaikat kecilnya itu lalu duduk di samping mereka, dan tanpa sengaja ia melihat bagian paha mulus istrinya, seketika jiwa kelelakiannya bangkit menginginkan sesuatu.


‘Ah… kenapa aku menginginkanmu di siang hari begini sih.’ Bathin Jodi.


Perlahan ia meraba paha mulus itu menyusup hingga kedalam. Namun belum sampai ia menyentuh bagian intinya, tangis Miriam membuyarkan konsentrasinya.

__ADS_1


“Ah sayang… kenapa kamu harus bangun sih… papa mau terapi mamamu dulu biar cepat sembuh.” Gumam Jodi seraya membawa Miriam dalam pelukan.


Selang beberapa menit Delima and the gank datang.


“Ulu… ulu… cucu oma gemes, baru bangun ya?.” Kata Eva seraya meraih tubuh Miriam dari pelukan Jodi.


Sementara Delima dan Irma masuk ke dalam kamar Berlian.


“Mama kesini kok gak bilang-bilang.” Tanya Jodi pada ibunya.


“Kita sebenarnya mau ke mall cuman kepikiran Miriam, jadi mampir dulu kesini sebentar.”


“Oh dikirain sengaja kesini. Oya ma, besok kita sudah boleh pulang kata dokter.”


“Oya? Bagus dong.”


“Iya. Jadi nanti dokter akan ke rumah tiap hari ngontrol kesehatan Berlian. Sekalian terapi sarafnya.”


“Syukur deh kalau begitu. Eh Jodi boleh ya? Mama bawa Miriam ke mall, gak akan lama-lama kok.”


“Boleh ma boleh.” Jodi langsung menanggapi karena dibawanya Miriam oleh mama nya merupakan kesempatan buat dirinya agar bisa berdua-duaan dengan istrinya.


“Tumben langsung boleh aja. Biasanya mikir-mikir dulu.”


“Hehe… mama kayak gak ngerti aja. Aku kan pengen berdua-duaan sama emaknya.”


“Pantas saja kamu langsung ACC.”


“Ya sudah, ayo cepetan pergi ma.”


“Iya-iya.” Jawab Eva yang kemudian mengajak Delima dan Irma untuk berangkat.


“Boleh dong.” Jawab Jodi.


“Curiga nih.”


“Curiga apaan sih Del? Udah sana pada pergi!.”


“Ya udah kita pergi sekarang ya Jod.” Kata Irma.


Setelah Jodi memberikan tas Miriam yang berisi susu, pampers, pakaian ganti dan lain-lain kebutuhan Miriam pada Delima, akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan Jodi di ruangan itu.


Kemudian Jodi masuk kedalam kamar, di dapatinya Berlian sudah terjaga. Lalu ia mendekat dan duduk di sampingnya.


“Sayang… tadi dokter kesini. Katanya besok kau sudah boleh pulang. Kau pasti senang kan?.” Kata Jodi seraya mencium kening Berlian.


Kemudian ia naik keatas velbed lalu memeluk tubuh istrinya.


“Kata dokter, nanti setiap hari akan datang dokter ahli saraf ke rumah yang akan mengontrol kesehatanmu dan memberikan terapi padamu, agar kamu segera dapat menggerakkan anggota tubuhmu lagi juga dapat berbicara kembali.” Sambung Jodi seraya mencium bibir istrinya dan tangan yang mulai bergerilya kemana-mana.


Tak ada de*sahan dan suara-suara gaib lainnnya, hanya sunyi dan hening menyelubungi ruang kamar tersebut. Namun tak menggugurkan hasrat Jodi, ia malah terlihat begitu meresapi sesapan bibirnya dan sentuhannya pada tubuh yang selalu menggodanya itu.


Sementara itu, Riksa yang sudah menyelesaikan administrasi di rumah sakit tersebut, masuk kedalam ruangan perawatan itu, namun tak di dapatinya siapa pun, sementara pintu kamar tertutup rapat dan terdengar suara Boss nya yang sibuk sendiri.


‘Yaelah… masih aja sempet-sempetnya itu bapak-bapak menggagahi istri yang tiada daya dan upaya di siang bolong… Hadeh jadi pusing gue dengernya.’ Gumam Riksa yang kemudian keluar dari ruangan tersebut dan lebih memilih merebahkan tubuhnya pada sofa yang berada di luar ruangan.


Maurin yang baru datang merasa heran melihat kekasihnya tiduran pada sofa yang terletak di teras.

__ADS_1


“Loh, kakak kenapa tiduran disini?.” Tanya Maurin heran.


“Di dalam berisik.” Jawab Riksa yang menutup wajahnya dengan lengan kanannya.


“Berisik? Berisik bagaimana kak?.”


“Coba aja kamu masuk kesana, kamu akan mendengar suara-suara gaib.”


“Ah masa sih?.” Kata Maurin yang tidak mengerti kemudian masuk kedalam ruangan, dan benar saja dari arah kamar ia mendengar suara Jodi yang sibuk sendiri.


Bergegas Maurin kembali dan duduk di sebelah Riksa dengan degupan jantung yang menderu.


Riksa melihat kearah Maurin mengangkat lengannya yang menutupi matanya itu.


“Benarkan kataku?.” Kata Riksa yang kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


“Iya benar kak, pantas saja Miriam cepet punya adik lagi, orang siang-siang gini aja di sikat, apa lagi malem-malem ya kak?.” Kata Maurin dengan tatapan kosong kedepan, entah apa yang ada dalam pikirannya.


“Iya dasar Boss edan.”


“Oya? Miriam siapa yang jagain dong?.”


“Tadi dia tidur sama emaknya di dalam, mungkin masih tidur kali di dalam, makanya emak sama bapaknya anteng.” Jawab Riksa yang belum tahu kalau sebenarnya Miriam dibawa oleh gank lebah.


“Terus, kita nunggu mereka sampai selesai disini gitu?.


“Ya terus mau nunggu dimana lagi? Kamu tahu sendiri nunggu di dalam bikin panas kuping.”


“Kalau gitu kita makan aja yuk kak, aku lapar nih. Kita tinggalin aja mereka.”


“Ya udah ayo!.” Ajak Riksa, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu.


Sementara Jodi masih asik di dalam kamar bersama Istrinya.


...........


Dan hari pun berganti.


Tiba lah saatnya Berlian meninggalkan rumah sakit itu. Jodi dan keluarga berpamitan pada dokter dan beberapa perawat disana yang sudah akrab seperti keluarga, karena mereka tinggal begitu lama di rumah sakit tersebut.


Singkat waktu, mereka pun tiba di rumah mereka, Jodi membawa Berlian dengan menggunakan kursi roda khusus ke dalam rumah mereka.


“Home sweet Home… Kau pasti rindu suasana istana ini. Kau pasti lebih nyaman disini dari pada di rumah sakit, iya kan?.” Kata Jodi seraya membawa Berlian menuju taman samping rumah, kemudian ia duduk pada kursi taman dan berhadapan dengan Berlian yang duduk di atas kursi roda.


“Sayang… Yakinkanlah hatimu, bahwa dirimu sehat, jangan berfikir kamu tidak berdaya, karena apa yang kita pikirkan adalah doa untuk diri kita sendiri. Percayalah… kamu akan dapat berjalan, menggerakkan tubuhmu dan berbicara kembali.” Kata Jodi seraya menatap wajah dan memegangi jemari sang istri.


“Apa pun akan kulakukan agar kau dapat kembali seperti dulu lagi… aku dan Miriam juga adiknya yang masih ada dalam kandunganmu ini, butuh kamu sayang… maka, semangatlah! Dan berfikirlah positif, jangan memikirkan sesuatu yang menjadi beban di hatimu. Jika kau optimis, itu akan mempercepat penyembuhanmu.” Sambung Jodi seraya mencium punggung tangan sang istri.


Kemudian Jodi mengendong istrinya membawanya ke kamar di lantai dua rumahnya.


Sesampainya di kamar, ia baringkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur.


“Istirahatlah. Aku akan menjagamu disini.”


Lantas mereka berdua pun berbaring di atas tempat tidur, Jodi memeluk mesra tubuh istrinya yang memandangi langit-langit kamar.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Terima kasih untuk readers tersayang yang telah meninggalkan jejaknya😍😍


I Luv U All🥰🥰


__ADS_2