
“Katakanlah sekarang!.” Alfredo mendekatkan wajahnya dengan kedua tangan bertumpu pada kursi roda.
“Dokter aku bahagia sekali, suamiku menjanjikan akan memberikan kejutan padaku jika aku sembuh kembali. Makanya aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan dokter untuk mengatakan semua itu. Agar dokter terus berusaha menyembuhkanku.”
Alfredo bangkit dan mundur beberapa langkah, kata-kata Berlian kali ini bagai belati yang menusuk ulu hatinya. Ia pikir Berlian akan mengatakan sesuatu yang membuatnya senang, ternyata apa yang di katakannya adalah sesuatu yang membuatnya kecewa.
“Sembuhkan aku secepatnya dokter! Aku sudah tidak sabar dengan kejutan yang akan suamiku berikan padaku.” Ucap riang Berlian.
Alfredo diam seribu basa, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun ia cepat dapat menguasai dirinya.
“Oya? Kira-kira dia akan memberi kejutan apa ya dok?.” Sambung Berlian.
Terlihat Alfredo seperti berfikir, namun bukan memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Berlian tapi ia memikirkan cara agar ia tak terlihat cemburu.
“Entahlah nyonya, sepertinya saya tidak bisa menebak-nebak.” Alfredo berdiri membelakangi Berlian.
“Padahal saya ingin tahu jawaban dokter kira-kira apa.”
“Nyonya….Sepertinya nyonya begitu mencintai suami nyonya.”
“Tentu saja, kami saling mencintai dok… dia adalah lelaki pertama dan terakhir yang aku cintai, memilikinya bagiku sudah cukup. Dokter tahu? Dia lah lelaki terbaik untukku.”
Cemburu dan amarah menjadi satu membuat ia hampir saja membongkar rasa yang ia pendam. Tak ada tanggapan apa-apa darinya, hanya anggukan pelan yang terlihat.
‘Kenapa rasa sakit ini lebih sakit dari sakit yang Krista lakukan padaku. Kenapa kau harus katakan itu padaku? Kau tahu? Aku tak ingin kau mengatakan tentang dia di depanku. Apa kau tidak merasakan hatiku ini sangat mengharapkanmu. Aku jatuh cinta padamu Berlian. Kenapa tak kau katakan sesuatu yang indah padaku? Kau malah mengatakan sesuatu yang membuatku terluka.”
Kemudian Alfredo membalikan tubuhnya dan membawa Berlian mendekat pada kursi taman, dan ia duduk di kursi taman itu, lalu ia mengambil alat dan mulai menggunakan alat itu pada lengan Berlian.
Tak ada sepatah kata pun yang ia lontarkan, dan itu membuat Berlian heran, karena biasanya Alfredo selalu bicara apa saja kalau sedang melakukan terapi.
“Dokter. Apakah dokter sudah menikah?.” Tanya Berlian memandangi wajah Alfredo.
Alfredo hanya menjawab dengan gelengan kepala, kemudian, “Dulu hampir saja menikah.” Lalu ia terdiam kembali.
“Maaf jika aku telah menyinggung perasaan dokter.”
“Tidak apa-apa.” Kata Alfredo seraya memasukan kembali alat terapinya ke dalam saku jasnya, kemudian ia mengangkat tubuh Berlian menuju kamarnya di lantai dua.
Selama dalam pangkuan Alfredo, Berlian terus memandangi wajah dokter itu. Sesekali Alfredo membalas pandangan itu dengan wajah dinginnya.
Sesampainya di dalam kamar, Alfredo membaringkan tubuh Berlian di atas tempat tidur.
Ia melakukan terapi seperti biasa yang ia lakukan, dari terapi memakai alat sampai melakukan pijatan pada tubuh Berlian dengan tangan kosong.
Setelah Alfredo melakukan langkah-langkah terapi entah untuk ke berapa kalinya, tiba-tiba terlihat jari-jari Berlian dapat bergerak perlahan. Betapa senangnya Berlian pada saat ia melihat dapat menggerakkan kesepuluh jarinya.
“Ya Tuhan… dokter lihat! Aku dapat menggerakkan jari-jariku.” Ujar Berlian dengan mimik senangnya.
“Ya bagus! Terus latih jari-jari dan pergelangan tangan anda nyonya, perlahan-lahan ya?.” Senyum manis Alferdro terpancar sembari membantu menggerakkan jari dan tangan Berlian.
Alfredo terus melakukan pijatan lembut pada tangan Berlian, terus dan terus hingga kelembutan tangan Berlian membuatnya terhanyut, membuat pikirannya membayangkan dirinya tengah mencium tangan itu.
Sesaat ia terhanyut, namun kembali ia tersadar.
“Bagaimana rasanya nyonya? Apa pada saat anda menggerakkan jari dan tangan anda, terasa sakit?.”
“Tidak dokter hanya sedikit terasa ngilu pada tulang-tulangnya.”
__ADS_1
“Ya pasti, tapi lama-lama setelah anda terbiasa tidak akan terasa ngilu lagi nyonya.”
“Aku senang sekali dokter, dan papa pasti senang melihat aku dapat menggerakkan kedua tanganku mesti belum sempurna.”
“Ya, suami anda pasti akan senang melihatnya.” Kata Alfredo sembari menahan sesak di dadanya.
Setelah Alfredo selesai melakukan terapi pada Berlian hingga sore hari, akhirnya Alfredo kembali pulang.
Sepeninggalan Alfredo, Berlian terus menggerak-gerakan jari-jarinya dan memutar-muter pergelangan tangannya, dengan senyum bahagianya.
Pada saat Jodi yang baru pulang dari pekerjaannya, melihat penampakan istrinya yang tengah mencoba menggerak-gerakan tangannya itu.
“Sayang… tanganmu sudah dapat di gerakan?.” Kata Jodi seraya mendekat seolah tak percaya melihat tangan istrinya bergerak-gerak.
“Sudah papa, meskipun baru sedikit-sedikit.”
“Bagus sayang, aku senang melihatnya.” Kata Jodi seraya memeluk Berlian dan mencium pucuk kepalanya.
“Oya? Dimana putri kita?.” Tanya Jodi.
“Putri kita sedang bersama oma di kamarnya papa.”
“Baiklah, ayo kita kesana.” Kata Jodi seraya memangku Berlian menuju lantai dua.
Sesampainya di kamar putrinya, terlihat Irma tengah mengajak Miriam bermain pada playground di kamar itu, lalu Jodi meletakan tubuh istrinya diatas tempat tidur putrinya. Lalu mengambil putrinya dan mendudukkannya di samping Berlian.
Perlahan Berlian menggerakkan tangannya dan mencoba menyentuh wajah putrinya.
“Papa… lihat! Aku dapat menyentuh putri kita. Aku bahagia papa.” Ucap haru Berlian dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ya sayang.. aku juga bahagia melihat ini semua.” Sahut Jodi dengan ekspresi yang sama.
............
“Bagaimana kau bisa masuk? Mau apa kau datang kembali?.” Alfredo membalikan tubuhnya dan sedikit mundur beberapa langkah.
“Bukankah apartemen ini, dulu tempat kita tinggal sayang, tentu aku tahu bagaimana caranya masuk kesini, aku rindu padamu Al.”
“Kau gila!! Bagaimana jika suamimu tahu kau menemuiku? Pergilah! Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi.”
“Tidak Al! Kita belum putus, kita masih bisa melakukan hal seperti dulu lagi, meski aku harus sembunyi-sembunyi dari suamiku.”
“Apa kau sudah gila! Aku tidak mau berurusan dengan istri orang meski kau dulu adalah kekasihku. Lupakan kalau kita pernah bersama, lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Bukankah kau yang menginginkan aku pergi dari kehidupanmu, hah?.”
“Tolong jangan katakan itu Al, aku menyesal telah pergi darimu. Bisa kah kita mengulang kembali masa-masa indah itu? Aku tahu kau masih mengharapkan aku kembali kan? Aku tahu hanya aku wanita yang kau cintai. Maka, mari kita memulai lagi dari awal.”
“Apa kau bilang?! Begitu mudahnya kau datang dan pergi dari hidupku?! Gampang sekali kau memutuskan sesuatu sesuai kehendak hatimu tanpa melihat perasaanku? Apa tujuanmu sebenarnya Krista? Apa?… jangan kau permainkan hidup orang lain dengan caramu sendiri… ya, dulu mungkin aku bodoh sehingga mudah kau dustai, tapi kini aku tidak ingin mengulang kembali kesalahanku dengan terus memaafkanmu, sehingga kau menjadi lebih berani mengulang kesalahan yang sama. Berapa kali aku memaafkanmu dari laki-laki yang datang dan pergi pada saat aku masih bersamamu Krista!, Berapa kali!!… dan sekarang! Aku sudah tidak bisa kembali padamu Lagi.”
“Tidak mungkin… kau tidak mungkin mengatakan ini semua! Kau sangat mencintaiku dan kau masih mencintaiku. Aku janji, ini adalah kesalahan terakhir kali yang aku lakukan.”
“Tidak Krista. Setiap kau meminta maaf padaku, kau selalu mengatakan itu dan kembali melakukan kesalahan yang sama. Aku benar-benar kalah Krista… aku benar-benar tidak dapat merubahmu dan kini aku menyerah.”
“Demi cinta kita jangan kau katakan itu Al! Kali ini aku benar-benar menyesal. Aku sudah capek dengan semua kesalahan-kesalahanku dan aku ingin memperbaiki semuanya. Please… maafkan aku.”
“Maaf Krista… kali ini aku tak bisa. Kembali lah pada suamimu… sekarang aku sudah ikhlas, aku tidak ingin menjadi duri dalam daging di dalam rumah tanggamu..”
“Ternyata dia bukan suami yang baik untukku Al, hiks… aku ingin berpisah dengannya dan kembali padamu. Aku sadar aku salah… dia menikahiku karena formalitas, dia hanya butuh status saja Al, di dalam pernikahan dia tak menginginkan anak, pernikahan macam apa itu?.”
__ADS_1
“Seharusnya kau pikirkan dari awal sebelum kau memutuskan untuk menikah dengannya. Seharusnya kau berpikir dulu sebelum kau melakukan sesuatu. Bukankah aku sering mengatakan itu padamu? Hah!.”
“Aku minta maaf Al. Aku menyesal. Aku janji akan menjadi wanita yang baik untukmu. Kali ini aku akan patuh padamu.”
“Maaf Krista. Semuanya sudah terlambat.”
“Terlambat! Maksudmu apa? Apa kau sudah memiliki penggantiku hah? Katakan padaku siapa orangnya? Katakan padaku Al? Siapa dia yang telah berani merebut kekasih hatiku.” Pekik Krista mengguncang-guncang tubuh Alfredo.
“Hey… sadarlah Krista! Kau sudah bukan siapa-siapa lagi di hidupku. Kau hanyalah masa lalu bagiku. Jadi sekarang! Kau urusi lah urusanmu. Jangan kau campuri urusanku!.” Kata Alfredo seraya melepaskan tangan Krista dari tubuhnya.
“Baik! Jika kau tak mau mengatakannya padaku. Akan aku cari tahu sendiri!.” Geram Krista dengan air mata yang sudah membanjiri seluruh permukaan wajahnya.
“Pergilah.” Usir Alfredo dengan menunjukkan telunjuknya pada pintu keluar.
Dengan berat hati Krista wanita yang dulu pernah menghiasi hidup Alfredo harus pergi dengan terhina.
Sebelum ia meninggalkan Alfredo ia berkata, “Tak akan ku biarkan seorang pun merebut kamu dariku. Jika aku menemukan siapa dia! Aku akan membuat perhitungan dengannya!.” Kemudian ia pergi dengan tangisan yang membuncah.
Sepeninggalan Krista, Alfredo membenamkan wajahnya pada pintu dengan menopangkan kening pada lengannya.
Buk!!…Buk!!!…. Ia meninju dinding yang terletak di sebelah pintu, terlihat darah memuai dari setiap buku pada punggung tangan kanannya.
Sesaat ia berdiri dengan menengadah ke atas dan mengusap kasar rambutnya. Lalu ia membawa dirinya kedalam kamar mandi.
‘Ya Tuhan… ada apa lagi ini? Kenapa dia tiba-tiba datang kembali disaat aku sedang berusaha melupakannya. Bagaimana jika seandainya dia tahu kalau wanita yang telah menggantikan dirinya dihatiku adalah pasienku yang tidak berdaya…. Aaaaarrrgh!…. Sial!.’
Alfredo membenamkan tubuhnya kedalam bathtub. Ia bingung dengan masalah yang akan ia hadapi di depan. Mengapa? Karena Alfredo hafal betul bagaimana Krista jika sudah kecewa. Ia mampu melakukan apa pun demi tujuannya tercapai.
...............
Kita tinggalkan Alfredo yang tengah di landa galau tingkat sultan. Kini kita beralih pada Berlian yang tengah berbahagia karena kini ia dapat menggerakkan tangannya dan jari-jarinya walau pun belum sempurna.
Berlian bersama suaminya tengah bersantai pada taman samping rumah mereka menikmati waktu sore dengan bercengkrama.
“Sayang… aku senang sekarang kau dapat menyentuh wajahku meskipun masih terlihat seperti robot hehe.” Kata Jodi yang tengah duduk di atas kursi roda dan Berlian duduk di atas pangkuannya.
“Ish… papa jahat! Ngeledekin aku terus.” Balas Berlian seraya mencubit hidung suaminya.
“Hehe… memang benarkan? Tanganmu itu masih kaku, jadi jangan di paksakan, nanti juga akan lentur dengan sendirinya. Suaramu saja masih seperti wanita Google hehe.”
“Papa… Ish.” Kembali Berlian mencubit suaminya, kali ini tepat di perutnya.
“Aw… iya sayang maaf. Aku hanya becanda. Tapi seperti apa pun dirimu sekarang atau nanti, kau tetap istri tersayangku.” Ucap Jodi seraya mencium wajah sang istri.
“Haduh… aduh… ini siapa yang gak bisa jalan? Siapa yang duduk di kursi roda?.” Kata Irma seraya mendekat kearah mereka.
“Ini si papa ikut-ikutan duduk di kursi roda oma, jadinya aku duduk di atasnya.
“Kalian ini seperti anak kecil saja. Ayo masuklah ke dalam rumah hari sudah menjelang maghrib.” Kata Irma seraya berlalu meninggalkan mereka.
Kemudian Jodi bangkit dan mengangkat tubuh Berlian lalu membawanya ke dalam rumah.
Mereka begitu mesra membuat orang-orang yang melihat mereka merasa iri, keadaan seperti apapun tak menyurutkan cinta dari keduanya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Jangan lupa Like, vote, favorite dan hadiahnya ya gais🥰🥰
__ADS_1
Makasih😘