Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Masalah sepaket dengan solusinya


__ADS_3

Sore hari pada kediaman Dae Jung, nampak Menara tengah bermanja pada sang ibu yang tengah memasak pada dapur mereka. Menara memeluk ibu nya dari belakang.


“Mama tahu kalau kamu begini pasti ada mau nya.” Kata sang ibu yang tengah sibuk mengiris sesuatu.


“Hehe.. mama tahu aja.”


“Apa yang kamu mau hem?.”


“Aku mau mama sekarang telepon mamanya Berlian.”


“Mau kau suruh apa mama telepon mamanya Berlian hah?.”


“Katakan malam nanti aku ingin ajak dia ke luar makan.”


“Serius?!”


“Seriuslah mam.”


“Bagaimana dengan pacarmu itu hah! Anak yang orang tuanya tidak punya tujuan hidup!.” Ketus Rosalia.


“Ah mama kok jadi bahas mereka sih! Malam ini aku mau jalan sama Berlian, kenapa mama jadi bahas mereka?.”


“Mama akan telepon Delima mamanya Berlian asal kamu janji sama mama. Tinggalkan si Narita itu!.”


“Iya… iya… aku akan meninggalkan dia. Mama puas!! Ayo sekarang mama telepon mama nya Berlian biar kasih ijin aku pergi sama dia.”


“Baiklah. Asal kamu tepati janjimu itu. Kau tahu? Apa bagusnya si Narita itu?! Kalau kamu jadi sama dia akan pusing kepala kita menghadapi keluarga yang bikin malu. Gak ada dalam kamus mama, mama punya besan penjudi dan pemabuk, di tambah lagi ibunya wanita malam! Apa kata saudara dan relasi papamu nanti hah!.”


“Ya Tuhan… kok mama malah bahas mereka lagi sih! Ya sudah! Aku tidak jadi ajak Berlian jalan. Malam minggu ini aku mau tidur saja!.” Kata Menara seraya pergi meninggalkan ibu.


“Heh! Mau kemana kamu! Sini…” panggil Rosalia.


“Ke kamar… mau tidur!.” Menara menghentikan langkahnya.


Kemudian terlihat Rosalia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Hallo Del apa kabar? Dimana kamu?.”


“Aku di Bandung Ros, tadinya mau pulang hanya saja urusanku belum selesai. Hey, ada apa telepon?.” Suara Delima di balik ponsel.


“Oh masih di Bandung dikirain ada di rumah. Ini loh Menara maksa saya supaya telepon kamu?.” Kata Rosalia sembari matanya mengarah pada Menara dan menara balas memandang mengernyitkan dahinya.


“Masa?? Ada apa memangnya?.”


“Dia mau minta ijin sama kamu untuk ngajak Berlian makan malam.”


“Serius?!.”


“Iya, nih anaknya ada di depanku.”


“Oh baiklah. Aku ijinin asal jangan dibawa macam-macam ya? Maklum dia jarang keluar malam kalau bukan kita yang bawa. Biar aku nanti telepon papanya ya.”


“Baiklah kalau begitu… tenang Delima, bersama Menara putrimu dijamin aman hehe.. oke kalau gitu. Makasih ya Del.”


“Iya Ros. Sama-sama, bye.”


“Bye.”


“Tuh. Udah mama telepon ibu nya Berlian.”


“Hehe.. makasih mama sayang Muach.” Menara mencium ibunya dan berlalu ke kamarnya hendak menelepon Berlian.


Di tempat lain. Berlian yang bersama Jodi dalam kendaraannya hendak pulang menuju rumahnya, ia mendengar ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk. Ia lihat layar ponselnya kebetulan ponselnya ada dalam genggamannya.


Namun ia lihat nomor tak di kenal yang menghubunginya.


“Papa.. siapa yang menghubungiku? Aku gak kenal nomornya.” Kata Berlian yang kala itu tengah dalam pelukan Jodi di dalam mobil tersebut.


Lalu Jodi mengambil ponsel Berlian dan menerima panggilan tersebut.


“Hallo! Siapa?.” Sapa Jodi.


“Mh.. Hallo om saya Menara.”


“Oh Menara, ada apa kamu menghubungi putri saya?.”


“Mh.. begini om.. saya mau ajak Berlian ke luar nanti.. sekalian saya minta ijin om. Apa om mengijinkan?.”

__ADS_1


“Ok.. tapi jangan malam-malam pulangnya. Paling lambat jam sepuluh dia harus sudah ada di rumah.” Kata Jodi datar.


“Baik om, kita cuma makan aja kok. Makasih ya om.”


“Ya sama-sama.” Kemudian Jodi menutup panggilan ponselnya.


“Si Menara ya papa?.”


“Iya sayang.”


“Dia bilang apa?.”


“Dia minta ijin sama papa untuk bawa kamu keluar nanti malam. Ingat ya? Papa ijinin kamu tapi kamu jangan macam-macam.”


“Iya papa, lagian pastinya aku di suruh nunggu aja selagi dia menemui pacarnya itu.”


Tiba-tiba terdengar ponsel Jodi berbunyi tanda panggilan masuk. Di lihatnya Delima yang menghubunginya.


“Hallo Del.”


“Hallo kak! Lagi dimana nih?.”


“Di jalan, pulang ngantor, ada apa Del?.”


“Begini kak, tadi mamanya Menara telepon aku, katanya mau minta ijin nanti malam Menara mau ajak Berlian jalan.”


“Iya, tadi juga Berlian bilang dan si Menaranya juga telepon.”


“Oya? Terus? Apa Berliannya mau di ajak jalan?.”


“Mau dia.”


“Serius!”


“Iya nih kalau gak percaya anaknya ada disini.”


“Ada angin apa ya? Dia mau di ajak jalan. Katanya musuhan. Oya kakak gimana? Ngijinin?.”


“Ya ngijinin lah, masa enggak.., gak enak sama orang tuanya, lagi pula si Menara anak baik kan?.”


“Aku ijinin putri ku di bawa jalan sama si Menara itu asal jangan pulang kemalaman dan jangan pernah sekali-kali sentuh dia!.”


“Ya gak akan kali kak.. si Menara juga mikir. Ya sudah kalau gitu, udah dulu ya kak?.”


“Eh Delima… kamu gak pulang?.”


“Gak kak, aku masih sibuk beres-beres di sini.”


“Ya sudah kalau gitu, hati-hati ya disana. Bye.”


Jodi menutup sambungan ponselnya. Kemudian


“Ibu mu sayang.”


“Ibu bilang apa papa?.”


“Ya itu…. bilang masalah si Menara yang mau ajak kamu jalan.”


“Kita bukan mau jalan papa, aku cuma di suruh nganter dia pacaran.”


“Iya tapi ibumu sama mamanya menara tidak tahu itu sayang.”


“Iya ya… oya? Papa nanti ikutin aku ya dari belakang?.”


“Iya lah sayang… papa tidak akan begitu saja membiarkan kamu keluar malam-malam dengan anak-anak bengal itu. Siapa tahu mereka punya niat jahat.” Kata Jodi kemudian, “Oya Rik! Nanti elo sama gue ngikutin dari belakang. Terus suruh si John sama anak buahnya juga ngikutin dari arah lain ya?.” Sambung Jodi pada Riksa.


“Siap Boss!.” Jawab Riksa yang tengah anteng memacu kuda besi yang membawa mereka. Sekarang bagi Riksa penampakan mesra antara Boss dan putrinya sudah biasa, malah ia jadikan hiburan bagi dirinya.


Sore itu jalanan sedikit padat hingga membuat mereka sedikit lelah hingga membuat Berlian tertidur dalam pelukan Jodi.


“Tidurlah sayang.. kamu pasti lelah.” Bisik Jodi seraya mencium pucuk kepala gadis itu.


“Sekarang sudah terbiasa menikmati prosesnya kan Boss?.” Ujar Riksa sembari memandangi wajah Boss nya pada spion.


Jodi menghela nafas panjang, kemudian, “Yak Rik…. Gue ikutin saran elo, karena gue gak mau lihat dia bersedih.” Ucap Jodi seraya memandangi wajah gadis itu dalam pelukannya.


“Ya Boss… itu lebih baik. Karena itu yang dia mau.. akan berat akibatnya jika di tentang.”

__ADS_1


“Ya.. gue gak tega saat ia menangis memohon sama gue. Akan jahat rasanya kalau gue tidak mengindahkan perasaannya. Bagi dia, yang ia rasakan kini adalah cinta pertamanya. Bisa di bayangkan kalau cinta pertamanya di tolak. Bagaimana dia akan menjalani cinta selanjutnya.”


“Lalu… apakah bagi Boss juga dia juga cinta pertama?.”


“Entahlah… aku sudah lupa kapan aku mulai jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.”


“Bukankah cinta pertama itu cinta yang tak bisa terlupakan? Kalau Boss lupa kapan jatuh cinta, berarti memang Boss tidak pernah alami cinta pertama yang sesungguhnya.”


“Begitu ya?.”


“Ya bisa dibilang begitu Boss.”


“Elo tahu Rik? Sampai saat ini gue masih tidak percaya kalau gadis kecil gue ini yang sudah gue anggap putri gue sendiri, kini menjadi kekasih gue. Hehe.. Hidup itu memang lucu ya? Tidak pernah sedikitpun gue membayangkan akan dekat lagi dengan wanita. Yang ada di dalam pikiran gue saat ini hanyalah bagaimana menjaganya dan membuatnya bahagia. Dan yang lebih gila lagi, saat dia sudah menujukan gelagat yang aneh, malah gairah gue muncul kembali setelah sekian lama mati.” Jelas Jodi seraya mendekap erat tubuh gadis itu.


“Ya… cinta memang misteri Boss dan dia seperti bayangan… di saat kita mengejarnya dia malah lari.. tapi di saat kita diam dia malah mendekat.”


“Cuma ada sesuatu yang mengganjal dalam hati gue Rik. Gue gak bisa bayangkan bagaimana marahnya opa dan omanya juga Delima seandainya mereka tahu kalau gue sama gadis ini menjalin hubungan. Gue yakin mereka semua akan menentangnya. Itu lah yang gue jaga selama ini. Sepertinya gue belum siap menghadapi penolakan mereka Rik.”


“Segala sesuatu pasti ada resikonya Boss. Dan siap tidak siap kita harus siap menghadapi itu semua.”


“Ya… kalau gue yang sakit sendiri sih mungkin gue bisa tahan Rik. Tapi bagaimana jika dia yang terluka? Untuk membayangkannya saja gue gak mampu.”


“Tenang Boss gak usah dulu mikirin yang jauh-jauh, sekarang mah nikmatin aja dulu keindahannya. Bukankah setiap masalah yang Tuhan ciptakan sepaket dengan solusinya?. Jadi gue kira apa pun masalahnya nanti di kemudian hari, solusinya akan tetap ada. Percaya deh sama gue.”


“Iya bener Rik…. Thanks ya Rik elo udah mau denger masalah gue.”


“Siap Boss! Kalau ada apa-apa cerita saja. Gue akan selalu ada.”


“Ok. Ya dah yuk kita turun.” Jodi membawa gadis itu dalam gendongannya ala bridal style memasuki rumahnya.


Kemudian ia membawa gadis itu kedalam kamarnya, setelah ia masuk kedalam kamar putri itu, di tutupnya pintu kamar tersebut dan ia mulai merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur.


Perlahan ia buka sepatu dan kaos kakinya,


“Mh… papa.” Gadis itu usik.


“Iya sayang.” Jodi mendekatkan wajahnya.


“Kita sudah sampai di rumah?.” Suara serak gadis itu menyapa.


“Ya kita sudah sampai di rumah, kau mau mandi?.”


“Aku masih penat papa.”


“Ya sudah Istirahatlah.”


“Tapi pakaianku membuat aku gatal papa.”


“Apa kau mau ganti pakaianmu?.”


“Mh…”. Gadis itu mengangguk masih dalam mata yang terpejam.


Kemudian Jodi mengambil pakaian gadis itu dalam walk in closet nya, setelah pakaian gadis itu ada dalam tangannya ia duduk di samping gadis yang tengah berbaring itu.


‘Kemarin-kemarin aku masih bisa memakaikan pakaian padanya, namun kali ini kenapa dadaku berdebar. Sayang… kali ini aku tidak bisa mengganti pakaianmu karena gemuruh dalam dadaku semakin kuat.’ Bathin Jodi memandangi wajah gadis itu.


“Papa… mana pakaian gantiku.” Gumam gadis itu.


“I-ini sayang…” Kata Jodi gugup yang mulai merasakan getaran hebat. “Bangunlah dulu sayang.”


“Hm..” Gadis itu kemudian duduk, perlahan Jodi membuka kancing pakaian gadis itu satu demi satu hingga ia dapat melepas pakainya.


Nampak dalam pandangannya dada yang dulu rata kini terlihat berisi dalam balutan bra merah jambu. Sekuat tenaga ia menelan salivanya karena tiba-tiba saja gairahnya muncul.


Dengan cepat ia pakaiannya gaun pada gadis itu. Dan ritme jantungnya kembali normal menyelamatkan dirinya. Setelah itu ia buka jeans yang membalut kaki mulusnya, setelah terlepas dengan cepat ia tutup tubuh gadis itu dengan selimutnya.


“Istirahatlah sayang.” Bisik Jodi pada telinga gadis itu seraya merebahkan kembali tubuhnya lalu membelai rambutnya, kemudian ia meninggalkan gadis yang terlelap itu.


Setelah keluar dari kamar itu, ia tarik napas dalam-dalam dan membuangnya seperti melepaskan beban yang mengganjal dalam dadanya. Lantas berlalu menuju kamarnya.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Piuh!!! Othor lega juga akhirnya😂😂


Jangan lupa tinggalkan jejangnya sayang🥰🥰


Makasih😍😍

__ADS_1


__ADS_2