Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Jerat yang sulit terlepas


__ADS_3

Angin malam menusuk memasuki celah dinding kamar lelaki dewasa yang tengah merebahkan tubuhnya berselimut lelah.


Jodi yang malam itu hanya memakai celana boxer nya, merebah dengan memandangi langit-langit kamar. Entah apa yang ia fikirkan, yang jelas galau tengah melanda hati dan pikirannya.


Berulang ia memejamkan matanya namun kembali terbuka, pikiran yang mengganggu rupanya merusak sedikit komitmen pada hatinya.


Ia sedikit terkejut kala melihat gagang pintu kamarnya bergerak, tanda seseorang dari diluar hendak masuk kedalam kamarnya.


Ia pejamkan matanya namun sedikit dapat melihat siapa yang memasuki kamarnya dan mendekat kearahnya.


Nampak dalam pandangan buramnya putri kecil nya menghampiri kearahnya. Sontak membuat dada Jodi bergemuruh dan bertanya-tanya hendak apakah putri kecilnya mendatanginya malam-malam.


Iya tetap berpura-pura tertidur pulas karena hendak menyelidik.


Perlahan putri kecil itu berjalan semakin mendekat, kemudian ia duduk di samping tubuh Jodi yang hanya tertutup selimut sampai pinggang sehingga dada bidangnya terlihat jelas.


Dengan tatapan sayu gadis itu terus memandangi wajah om nya dan Jodi masih melihat penampakan bahwa gadis itu tengah menatapnya dalam pandangan buram.


Bayi kecil yang dulu mungil kini telah berubah menjadi sosok remaja dengan tubuh yang mampu menggoda.


‘Sayang… ingatlah bahwa aku juga ayahmu yang turut andil membesarkamu… jangan kau paksakan dirimu untuk menjadi wanitaku. Please… karena aku tak akan pernah tega menjadikanmu teman diatas ranjangku… bagiku kau adalah tetap putri kecilku.‘Bathin Jodi.


Dengan leket Berlian terus memandangi wajah tegas Jodi. Perlahan ia dekatkan wajahnya dan menjatuhkan bibir manisnya pada bibir kokoh Jodi. Sebentar kemudian ia melepaskannya dan berbisik.


“Tetaplah terlelap dalam buaian mimpimu om… karena aku masih ingin menikmatinya. Aku tak ingin melewatkan momen indah ini. Aku sangat merindukan hal ini om. Biarlah aku melakukannya tanpa kau sadari, karena jika aku melakukannya dengan sadarmu, tentunya akan ada penolakan darimu. Aku rasa dekat denganmu sudah menjadi candu bagiku. “Guman Berlian lantas meraup kembali bibir kokoh itu.


Betapa terkejutnya Jodi saat putri kecilnya meraup bibirnya dengan penuh kelembutan hingga ia hampir saja terhanyut, namun ia cepat sadar kembali hingga masih dapat berpura-pura tertidur.


Ingin rasanya ia menghempaskan tubuh putri kecil itu menjauh dari tubuhnya, ingin rasakan ia menghindari raupan bibirnya namun tangan dan tubuhnya seakan terkunci membuatnya membeku.


Sekuat tenaga ia menahan gejolak hasrat dalam dirinya agar luma*an bibir hangat itu tak menghanyutkannya. Ia merasakan pada ujung rambutnya tangan kecil tengah membelai mesra, terasa nafasnya yang wangi menyeruak ke dalam rongga mulutnya membuat ia ingin berteriak, namun tubuhnya kaku bagai mayat hidup yang tengah di telanjangi oleh rasa malu.


“Putriku tolong hentikan ini semua… aku mohon sayang… jangan kau buat aku tersiksa seperti ini… “Bathin Jodi menjerit menolak rasa yang tengah menggelayutinya. Menangis jiwa nya, meronta bathinnya kala sang putri terus memainkan bibir dan lidah pada mulutnya.


Perlahan putri itu melepaskan ikatan bibirnya, “ini indah om.. terasa hangat dan lembut.. aku tak minta kau membalasnya, aku hanya ingin menikmati ini dalam diamku. Om kau tahu? Kau adalah lelakiku, meski masa mudamu telah habis di masa lalu. Namun masa depan mu adalah milikku. Kau adalah kebahagiaanku yang tersembunyi.. biarlah selamanya seperti ini, demi menjaga perasaan. Aku rela…” Bisik gadis itu kemudian ia mengecup kening lelaki yang terbujur kaku itu lantas pergi meninggalkannya.


Setelah Jodi memastikan putri kecil itu telah luput dari pandangannya. Bergegas ia bangkit dari pembaringannya, terduduk dan tertunduk.


Ia remas kasar rambutnya dan ia atur nafasnya menahan sesak di dadanya, dan pecah lah air matanya dalam diam.


“Oh Tuhan… ada apa ini??? Kenapa ini harus terjadi padaku?.. Har, gue minta maaf.. gue gak bisa jaga putri elo dengan baik… Intan tolong jangan marah sama gue… gue bingung tidak tahu harus bagaimana…” Menjerit bathin Jodi ia telungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur berharap semua yang telah terjadi tadi adalah mimpi terburuknya. Walau naluri lelakinya mengatakan ia sangat menikmati ciuman mesra itu.



Hingga menjelang pagi, tubuh kekar itu masih menelungkup seakan tak rela ia mendapatkan posisinya dalam situasi yang pelik dan sulit.


Perlahan ia bangkit dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.



Pikiran dan perasaannya sungguh kacau pagi ini, karena bayangan semalam masih menyisakan kenangan di sisi hatinya. Namun ia harus menyembunyikan semua ini dari siapa pun termasuk dari putri kecil itu.


Selesai membersihkan diri, kemudian ia memakai stelan jas nya, kali ini ia pilih stelan jas warna hitam dipadukan dengan kemeja merah maroon.


Setelah rapi, ia keluar dari kamarnya. Pada saat ia melintasi kamar putri kecil itu, ia terdiam sejenak, biasanya ia langsung masuk, tapi kali ini tidak, karena ia bingung bagaimana harus bersikap kala berhadapan dengannya.


Dengan mengumpulkan kekuatan yang ada, Jodi berusaha menyembunyikan segalanya agar ia tak di curigai akan hal yang ia simpan rapat.


Perlahan ia pegang gagang pintu kamar putri kecil itu dan membukanya. Sudah nampak didalam kamar sang putri tengah merapikan rambutnya, tubuh langsing yang di balut dengan rok rempel pendek kotak-kotak pink dipadu dengan tangtop putih semakin terlihat jelas tubuh Seksi seorang gadis dewasa.

__ADS_1


Jodi tersenyum ke arah wajah putri itu dalam pantulan cermin, ia berlaku selayaknya hari kemarin, berpura-pura seolah tak tahu apa yang terjadi malam tadi.


“Hai om.” Wajah ceria putri itu menyapa.


“Hai sayang… kau sudah siap?.”


“Sudah om.” Jawabnya bangkit dari duduknya.


Namun sepertinya penampilan yang memperlihatkan lekuk tubuh dan tangan terbukanya membuat Jodi tidak setuju akan pakaian yang dikenakan putrinya itu.


“Kau mau ke kampus dengan pakaian seperti ini?.”


“Iya om. Kenapa?.”


“Tutup tubuhmu dengan pakaian yang pantas, jangan seperti itu sayang… gunakan blazer dan pakai leging untuk menutupi kulitmu yang terlihat. Kau tidak pantas berpakaian seperti ini.” Bergegas Jodi membuka lemari putrinya dan mengambil blazer warna putih serta leging.


Ia pakaikan blazer itu pada tubuh putrinya dan memberikan leging warna merah Jambu pada gadis itu, “Pakai ini sayang.. jangan biarkan orang lain melihat kulit kakimu. Itu tidak pantas.”


Melihat wajah om nya yang sedikit masam akhirnya Berlian mengambil leging itu dari tangan Jodi dan memakainya. Kemudian,


“Nah begitu kan lebih baik sayang.. .” Jodi memeluk putri kecil itu. “Lain kali jangan seperti ini ya sayang?.”


“Iya om, tadinya aku pengen seperti teman yang lain.”


“Jadilah diri sendiri sayang… ibumu, juga Ibu Delima berpakaian sederhana, kalau kau mau mencontoh.. contohlah pakaian ibumu bukan wanita lain, kau mengerti?.”


“Baik om.”


“Anak pintar. Ayo kita sarapan.” Jodi mengajak Berlian keluar dari kamarnya dengan menggandeng bahunya.


Riksa yang sudah menunggu di ruang makan melihat Boss dan putrinya menghampiri ke arahnya.


“Eh iya ya.. padahal kita gak janjian, iya kan om?.” Berlian melihat dirinya yang memakai stelan warna merah jambu kemudian melihat ke arah Jodi yang memakai kemeja merah maroon.


Jodi hanya menganggukan kepala dan melemparkan senyum manisnya.


“Itu tandanya nona sama papanya satu hati hehe.” Goda Riksa yang sebenarnya di tujukan pada Jodi. Kemudian Jodi pun melirik ke arah Riksa dengan tatapan tajamnya.


“Iya kita memang sehati.” Jawab Berlian.


Kemudian mereka menikmati sarapannya dan setelah selesai sarapan, mereka pun pergi meninggalkan ruang makan menuju kuda besi mereka.


Singkat cerita mereka telah sampai di halaman parkir kampus. Terlihat dari kejauhan Maurin berjalan dan melihat ke arah Berlian yang baru turun dari mobilnya.


“Berlian!.”


“Hei Maurin, sini.” Kemudian Maurin mendekat ke arah Berlian.


“Maurin kenalkan, itu papaku dan itu kak Riksa asisten papa.”


“Pagi om hehe.. pagi kak?!.” Maurin menyapa Jodi dan Riksa, Jodi dan Riksa menyambut hangat sapaan Maurin dengan senyumannya.


Setelah berpamitan, Berlian dan Maurin masuk ke dalam kelasnya. Sambil menunggu dosen datang, mereka berbincang


“Berlian! Yang tadi itu benar papamu?.”


“Iya, memangnya kenapa?.”


“Kok papamu masih muda sih?.”

__ADS_1


“Siapa bilang? Papaku sudah manula tahu hihi… usianya sudah di atas 40 tahun.”


“Masa sih?”


“Eh gak percaya.”


“Sumpah aku gak percaya Berlian, kelihatan masih muda banget papamu ya?.”


“Ganteng kan papaku?.”


“Iya ganteng banget… eh asistennya juga tampan hihi.. siapa nama asisten papamu Berlian?.”


“Namanya kak Riksa..”


“Udah punya cewek belum dia?.”


“Nanti deh aku tanyain ya? Kenapa? Kamu naksir ya?.”


“Hehe.. tahu aja.”


“Nanti aku bilangin ya ke kak Riksa. Kalau kamu naksir sama dia.”


“Ih jangan Berli… aku malu… gimana kalau dia sudah punya pacar.”


“Ya gak apa-apa kalau pacar mah, kalau udah punya istri, baru gak boleh.”


“Hehe.. terserah kamu deh.”


Disaat mereka tengah berbincang, tiba-tiba tiga lelaki idola masuk ke dalam kelas mereka. Semua mahasiswi yang melihat kedatangan mereka tebar pesona, termasuk Maurin. Namun Berlian tetap tidak perduli malah mengerlingkan matanya.


“Oh jadi ini ruangan anak baru itu.” Kata Menara yang mendekat ke arah Berlian lalu duduk di atas meja Berlian.


“Berdiri kamu!.” Kata Arash pada Berlian, namun Berlian tidak memperdulikannya.


“Kamu tuli atau bego!.” Kata Yosan yang juga mendekati Berlian.


“Kalian sebenarnya mau apa? Hah!.” Berlian Mengangkat tubuhnya, berdiri di tengah-tengah mereka.


“Kamu tahu?! Urusan kita belum selesai!.” Kata Menara yang sama-sama mengangkat tubuhnya berdiri di depan Berlian.


“Oh jadi ceritanya kalian mau jadi pengecut! Beraninya cuma sama wanita.” Sinis Berlian.


“Eh. Tutup mulut mu! Di kampus ini tidak ada seorang pun yang berani pada kita.” Sela Arash.


“Oya?! Kasihan sekali mereka takut sama manusia seperti kalian. Dan aku sedikit pun tidak pernah takut sama kalian!.”


“Sombong sekali kamu! Memangnya kamu siapa Berlian?.” Sambung seorang wanita yang juga teman satu ruangan.


“Heh! Diem kamu! Jangan ikut campur!.” Sentak Yosan pada wanita itu. Dan wanita itu pun diam.


Kemudian Menara berusaha menarik tangan Berlian untuk membawa Berlian keluar ruangan namun dengan sigap Berlian menepisnya lalu dengan telapak tangannya mendorong dada Menara hingga terpental ke belakang.


“Heh! Kurang ajar kamu bocah.” Pekik Arash hendak menjambak rambut Berlian, namun lagi-lagi Berlian dapat menghindarinya dan menendang perut Arash hingga tubuhnya terpental.


Lalu Giliran Yosan yang akan menyerang Berlian namun belum juga ia melakukan serangan Berlian sudah lebih dulu meraih tangan Yosan dan membantingnya hingga tersungkur.


Semua orang yang berada di ruangan itu di buat terhenyak dengan aksi yang Berlian lakukan, termasuk dosen yang baru masuk kedalam ruangan tersebut.


Bersambung….

__ADS_1


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2