Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Keterangan Direktur RS


__ADS_3

Alfredo masuk kedalam kamarnya dengan membawa senyuman kebahagiaan. Lalu ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Sesaat ia terdiam lalu bangkit dan melangkah menuju meja menyalakan laptopnya dan melihat pada layar monitor aktivitas di dalam bunker yang telah ia pasang CCTV di berbagai titik.


Nampak dalam pandangannya Berlian tengah tertidur pulas dan sudah berganti pakaian dengan gaun tidur yang telah ia sediakan di dalam sana.


‘Lama-lama kau akan betah tinggal di dalam sana nyonya kecil… saat kau sudah melupakan masa lalumu, saat itulah aku akan membebaskanmu dari dalam sana. Aku yakin kau akan bahagia tinggal bersamaku dari pada tinggal bersama mereka.’ Gumam Alfredo yang terus memandangi wajah yang terlelap itu.


Setelah ia puas memandangi Berlian pada layar laptopnya lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama ia kembali lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.


Malam semakin larut, membawa tubuh yang lelah menikmati alam mimpi yang sejenak dapat menghilangkan kepenatan yang terjadi.


Sementara itu ditempat lain, pada sebuah markas tepatnya pada lab komputer, orang-orang masih di sibukan dengan aktivitasnya. Belum ada perkembangan yang akan menjadi berita baik bagi mereka.


Mereka masih kehilangan jejak atas seseorang yang bernama Alfredo itu.


“Kalau kalian sudah lelah, iatirahatlah. Besok bisa di lanjutkan kembali.” Kata Jodi yang tiba-tiba saja muncul di dalam lab ketika anggota tim nya tengah sibuk melakukan aktivitas di depan layar monitor komputernya.


Riksa melihat ke arah Boss nya itu dan memerintahkan anggotanya untuk rehat, sementara dirinya menghampiri Jodi dan pergi meninggalkan lab itu bersama Jodi menuju sebuah ruangan.


“Kita pasti akan menemukan mereka Boss, hanya perlu waktu saja.” Ujar Riksa seraya duduk pada salah satu kursi di ruangan itu.


“Ya Rik. Selama apa pun waktunya, gue akan terus kejar si Alfredo itu. Kita mungkin menganggapnya remeh ternyata dia memang licin.”


“Iya Boss. Apalagi jika kita cari di dunia maya terdalam. Pastinya bukan lagi identitas aslinya lagi, kita harus menguliti satu-satu dari orang-orang yang mencurigakan dan itu butuh waktu. Sementara kita tidak memegang satu kunci pun untuk mengetahui siapa si Alfredo itu sebenarnya.”


“Besok, setelah 2 X 24 jam. Tolong elo sebar informasi orang hilang di internet, siapa tahu mereka ada yang melihat bini gue dan si Alfredo itu.”


“Siap Boss. Rencananya kita juga besok akan ke rumah sakit untuk berbicara dengan Direktur rumah sakit itu. Kita harus tanyakan pada mereka bagaimana si Alfredo itu bisa masuk ke rumah sakit itu. Mungkin dari sana kita bisa tahu sebenarnya dia datang dari mana.”


“Iya Rik, itu perlu juga elo tanya ke rumah sakit. Terus elo juga cari informasi Krista dan keluarganya, tunangannya si Alfredo itu mungkin saja kan dapat memberi keterangan mengenai si Alfredo itu?.”


“Iya Boss. Nanti gue cari informasi dia. Kita juga sedang melacak semua universitas kedokteran dalam dan luar negeri. Setelah kita menemukan dimana dia kuliah kita juga akan mencari tahu siapa-siapa saja orang yang dekat dengan dia.”


“Ya sudah kalau begitu. Elo istirahat aja dulu Rik, jangan terlalu di paksakan, sepertinya untuk menghadap si Alfredo ini kita harus bener-bener teliti. Dalam menghadapi permasalahan sekarang gue udah bisa tenang kok gak kayak dulu lagi.”


“Baiklah kalau begitu, Boss juga harus istirahat ya?.”


“Iya Rik.”


Kemudian Jodi berlalu meninggal ruangan itu menuju ruang kerjanya. Ia duduk diatas kursi kerjanya dengan meluruskan kakinya di atas meja, menyatukan kesepuluh jari tangannya dengan pandangan lurus kedepan seperti tengah memikirkan sesuatu.


Ia terus berfikir mengenai seseorang yang bernama Alfredo itu. Ia berfikir keras mencari jalan untuk mengungkap orang misterius itu. Jodi mengingat-ingat kembali pembicaraannya dengan Alfredo saat beberapa kali mereka pernah berbincang.


Mungkin saja dari apa yang pernah Alfredo bicarakan dengannya ada kata-kata yang dapat ia ambil sebagai jalan keluar dalam mengungkap orang itu.


Sampai lelah menyapa dirinya, akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari tetap memikirkan orang tersebut hingga membawa ia ke alam mimpi.


..............


Tak terasa pagi telah menjelang. Terlihat Alfredo tengah memasak sarapan untuk dirinya dan Berlian.


Setelah ia selesai membuat sarapan itu, kemudian ia membawanya di atas nampan ke dalam bunker. Ia masuk kedalam bunker itu, didapatinya Berlian masih terlelap dalam mimpinya.


Alfredo tidak ingin mengganggunya, ia duduk di atas sofa setelah menyimpan nampan yang berisi sarapan untuk dirinya juga Berlian itu di atas meja.


Ia pandangi wajah cantik yang masih terlelap itu.

__ADS_1


‘Seharusnya, di usiamu yang masih muda ini kau menikmati kebebasanmu nyonya kecil. Tapi si brengsek Jodi itu telah merenggut kebebasan itu darimu. Hingga kau terlihat menyedihkan. Di usia 18 tahun kau memiliki dua anak yang sebetulnya belum pantas kau berada pada posisi itu. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran lelaki itu. Begitu teganya dia memperlakukanmu seperti ini. Tapi mulai saat ini kau bebas nyonya kecil… kau tidak akan lagi menjadi budak nafsu bagi si lelaki tua itu. Kau akan terbang lepas menjadi pribadi yang bebas dan mandiri. Meski pun aku harus mengurungmu dulu di tempat ini sampai kau dapat melupakan masa lalumu.’ Gumam Alfredo yang terus memandangi Berlian yang terlelap.


Tak berapa lama terlihat Berlian usik dari terlelapnya. Perlahan ia membuka matanya. Pada saat matanya mengarah pada area sofa, ia terkejut karena melihat penampakan Alfredo yang tengah duduk di atas sofa tengah memandanginya.


“Dokter ada di kamarku?.” Bergegas Berlian bangkit dan beranjak dari atas tempat tidur, ia mundur beberapa langkah.


“Hehe… nyonya sudah bangun? Jangan takut nyonya, saya hanya mengantarkan sarapan untuk anda. Kemarilah.” Ucap Alfredo.


Berlian memandangi sekitar ruangan, kesadarannya belum seratus persen, hingga perlahan ia ingat kalau ia ada di tempat dokter Alfredo.


“Dokter, kapan aku pulang, aku rindu putriku dan suamiku juga seluruh keluargaku.” Kata Berlian yang masih berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding.


“Anda akan saya bawa pulang asal anda patuh pada saya. Sekarang cuci muka lah, lalu kita sarapan bersama.”


Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Berlian terlihat berjalan menuju wastafel. Ia basuh wajahnya dan menggosok giginya kemudian berjalan mendekati Alfredo dan duduk di hadapannya.


“Makanlah, biar bayimu mendapat asupan gizi yang baik. Dia harus tumbuh menjadi putra yang sehat. Dimasa depan dia yang akan menjagamu.” Kata Alfredo seraya meletakan piring sarapan di hadapan Berlian.


“Bagaimana dengan putriku? Aku memikirkannya, apa dia sudah makan atau belum?.” Ucap Berlian menerawang.


“Tentu saja dia sedang sarapan sekarang, kau jangan khawatirkan putrimu. Dia pasti dirawat baik oleh ibu dan opa omamu.” Alfredo mencoba menenangkan hati Berlian.


“Kenapa aku harus di pisahkan dari mereka. Aku rasa aku sudah cukup baik tinggal bersama mereka.”


“Kalau tidak ada seseorang yang bernama Jodi itu tidak masalah kau tinggal bersama mereka. Tapi karena ada dia, kau harus di amankan dulu disini. Kau tahu? Semakin lama kau tinggal bersama dia, itu akan semakin berpengaruh buruk pada kehidupanmu, terutama pada masa depanmu.”


“Tapi dia suamiku. Dia tidak pernah berlaku kasar padaku, dia sangat menyayangi aku dan putriku. Dia sama sekali tidak mempengaruhiku dalam hal keburukan.”


“Hal buruk apa yang kau kenal nyonya? Hal buruk yang kau tahu adalah yang selama ini dia terapkan dalam dirimu. Lalu apakah dia pernah mengajarimu, bahwa memperlakukan anak dibawah umur seperti memperlakukan orang dewasa itu adalah hal yang paling buruk? Tidak kan?.”


“Tapi sekarang aku sudah dewasa dokter.”


Alfredo terus mempengaruhi Berlian dengan pemahaman-pemahamannya untuk merubah mindset Berlian. Memang terdengar sangat baik, seolah ia begitu memperhatikan masa depan Berlian tapi tidak ada yang tahu maksud di balik dari apa yang ia sampaikan pada Berlian itu. Yang dia inginkan adalah bahwa Berlian melupakan masa lalunya terutama agar Berlian melupakan siapa suaminya. Sebisa Mungin pribadi buruk pada seorang Jodi tengah ia ciptakan dalam pikiran Berlian.


...............


Sementara di markas, nampak Jodi dan Riksa tengah bersiap untuk pergi menuju rumah sakit tempat Alfredo terakhir bertugas.


“Rik, gue ikut elo aja ke rumah sakit, yang lain di sini aja.” Kata Jodi pada Riksa.


“Ok Boss. Yuk kita jalan sekarang.”


Akhirnya mereka berdua pun pergi meninggalkan markas menuju rumah sakit.


Singkat waktu mereka pun sampai di sebuah rumah sakit yang mereka tuju, dan kebetulan sekali Direktur rumah sakit itu sedang ada di tempat, jadi mereka berdua dapat menemui Direktur tersebut.


Mereka berbincang diruang Direktur itu. Jodi dan Riksa menceritakan semuanya pada Direktur kalau dokter Alfredo membawa kabur Berlian.


Sang Direktur begitu terkejut pada saat mendengar bahwa Alfredo membawa kabur Berlian, ia tidak menyangka kalau Alfredo akan melakukan hal senekad itu.


Kemudian akhirnya Dikrektur itu mengatakan awal mula Alfredo bekerja di rumah sakit tersebut.


Menurut keterangan Direktur itu bahwa Alfredo masuk di rumah sakit itu menjadi Salah satu dokter disana atas dasar rekomendasi dari sahabat pemilik rumah sakit tersebut yang berkebangsaan negara J. Dan Direktur itu menjelaskan bahwa sahabat dari pemilik rumah sakit yang memberi rekomendasi agar Alfredo bekerja di rumah sakit itu adalah dosennya Alfredo waktu sekolah kedokteran di negara J tersebut.


Jodi dan Riksa sedikit lega karena dari keterangan Direktur itu sedikit banyak dapat membantu permasalahan yang tengah mereka hadapi.


Dari keterangan Direktur itulah Riksa dapat mulai mencari rekam jejak Alfredo yang pernah mengenyam pendidikan lanjutan di negara J tersebut.

__ADS_1


Setelah mendapatkan keterangan yang cukup jelas dari Direktur itu akhirnya Jodi dan Riksa pamit kepada sang Direktur untuk kembali ke markas dan melanjutkan pelacakan Alfredo melalui internet.


Singkat waktu, Jodi dan Riksa sudah kembali ke markas. Jodi dan Riksa langsung bersama tim di ruang lab komputer mencari data-data sekolah jurusan kedokteran di negara J tersebut.


Pada saat mereka melihat semua universitas di negara J, begitu banyak jurusan kedokteran dan mereka harus melihat satu persatu data alumni jebolan dari jurusan kedokteran di negara J tersebut.


Namun satu pun tak ada yang bernama Alfredo Frederick, sudah dapat di pastikan bahwa dia memiliki nama lain. Akhirnya Riksa mengarahkan tim nya untuk melihat satu persatu foto profil dari alumni lulusan jurusan kedokteran di negara J yang jumlahnya puluhan ribu orang.


Mereka benar-benar disibukkan hari itu dengan mencocokkan wajah Alfredo dengan ribuan orang alumni lulusan kedokteran di negara tersebut. Hingga akhirnya mereka menemukan seseorang yang mirip dengan Alfredo namun memiliki nama yang berbeda.


“Boss ini lihat! Sepertinya diantara sekian banyak wajah, wajah ini yang paling mendekati dengan orang yang kita maksud.”


“Ya dia mirip sekali, coba identifikasi wajahnya Rik.” Titah Jodi. “…. Dan lihat data-datanya. Gue yakin orang ini adalah si Alfredo.” Sambung Jodi.


Setelah satu jam Riksa mengidentifikasi ternyata 95% foto orang yang mereka temukan itu cocok dengan Alfredo.


Akhirnya mereka mencari data-data orang itu. Dan mereka menemukan bahwa sejak lima tahun yang lalu orang itu di nyatakan meninggal.


“Gue yakin ini orang bukan meninggal tapi mengubah identitasnya Boss. Bisa jadi sejak lima tahun kebelakang identitasnya dirubah menjadi Alfredo Frederick.” Ujar Riksa.


“Ya, tapi yang jadi pertanyaan, kenapa data Alfredo Frederick pun tidak dapat kita temukan Rik.” Balas Jodi.


“Tapi feeling gue, dialah orangnya Boss. Sekarang kita datangi saja apartemennya. Kita geledah kesana Boss. Mudah-mudah di apartemennya kita dapat menemukan barang bukti yang dapat mengarahkan kita padanya.”


“Ok. Ayo cabut!.”


Akhirnya Riksa dan Jodi berlalu menuju alamat apartemen Alfredo yang tadi Direktur rumah sakit berikan pada mereka.


Jodi dan Riksa ditemani beberapa orang tim untuk mendatangi apartemen Alfredo itu.


Singkat waktu sampailah mereka di sebuah apartemen mewah tempat asal Alfredo tinggal selama di Jakarta.


Setelah sampai di depan pintu unit apartemen milik Alfredo, mereka dapat dengan mudah membuka pintu akses untuk memasuki apartemen tersebut dengan menggunakan alat untuk meretas kode akses agar dapat masuk kedalamnya.


Jodi dan Riksa beserta tim menggeledah setiap ruangan apartemen milik Alfredo itu.


“Rupanya setiap ruangan sudah dibersihkan sama dia Boss jadi kita tidak dapat menemukan apa-apa.” Kata salah seorang anggota tim.


“Cari kembali, gue yakin kita dapat menemukan petunjuk dari sini.” Titah Jodi.


“Siap Boss.”


Mereka terus menyisir dari satu sisi ke sisi lain. Sampai akhirnya di dalam kamar milik Alfredo, Jodi mendapat sebuah petunjuk.


“Rik, coba sini. Sepertinya pintu lemari ini sedikit mencurigakan. Gue yakin ada sesuatu di dalamnya.” Kata Jodi.


Kemudian Riksa memanggil beberapa tim nya untuk memeriksa lemari itu. Setelah mereka buka pintunya mereka tidak menemukan apa pun.


“Clear Boss.” Kata salah seorang tim.


Kemudian Jodi mendekati lemari itu dan mengamati setiap sisinya. Pada saat ia menekan bagian dalam, tiba-tiba saja permukaannya sedikit bergeser.


Perlahan Jodi menggeser kesamping, sisi bagian dalam dari lemari itu. Dan benar saja nampak di dalamnya seperti sebuah pintu.


Jodi dan Riksa juga beberapa tim saling berpandangan dan mereka mulai membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥

__ADS_1


Terima kasih untuk yang sudah Like, vote, hadiah, favorite, rate bintang 5 dan komennya🥰😍


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, semoga Ibadah puasanya diterima oleh Allah SWT… Amiiin🙏🏻


__ADS_2