Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Rahasia terdalam


__ADS_3

Sejenak Yosan dan Arash berpandangan, sepertinya mereka mengetahui sesuatu tentang Narita dan menutupi sesuatu yang mereka ketahui itu dari Menara.


Narita adalah kekasih Menara yang sudah ia pacari selama mereka duduk di bangku SMA. Dan kini Narita bekerja pada perusahaan ayah Menara sebagai sekretaris salah seorang kepala divisi di perusahaan tersebut.


Apa yang Yosan dan Arash ketahui mengenai Narita? Tentunya tentang hubungan terlarang yang Narita jalin dengan ayah Menara.


Mereka sudah lama mengetahui hubungan ayah Menara dengan Narita, hanya saja mereka tidak berani mengatakan pada Menara mengingat Menara begitu mencintai Narita dan apabila mereka mengatakannya pun belum tentu juga Menara mempercayainya jadi mereka membiarkannya, biarlah Menara mengetahuinya dengan mata kepalanya sendiri.


NARITA BELLA



“Balik yuk.” Ajak Arash pada kedua temannya, namun Menara masih enggan untuk beranjak karena melihat hujan dan petir belum reda, “Tunggu bentar lagi Ar, sampai hujannya berenti.”


“Iya santai dikit apa?!.” Ujar Yosan.


“Masalah nya gue ada janji nih.” Arash dengan wajah gelisahnya.


“Ya udah sono elo balik aja duluan, gue sama Menara bentar lagi.” Imbuh Yosan. “Iya kan Ra?.” Sambungnya.


Menara hanya mengangguk dengan mata yang tetap fokus pada layar laptopnya.


“Ya dah kalau gitu gue cabut duluan ya?.” Arash hendak meninggalkan mereka.


“Memangnya elo ada janji sama siapa sih?.” Yosan sedikit penasaran.


“Paling juga sama si tante kriting.” Celoteh Menara.


“Anjir! Elo masih jalan sama tu emak-emak haha.” Yosan berkelakar.


“Eh biar emak-emak juga tendangannya masih pulen tahu!.”


“Anjir haha.. dasar penggila emak-emak luh, najis gue haha.” Yosan kembali berkelakar.


“Dari pada elo! Pacaran sama anak ABG, hari gini pacaran cuma ngobrol doang?! Kalau cuma ngobrol doang mah di rumah aja juga bisa sama emak luh!.”


“Eh anjir.. mending sama ABG suci dari pada emak-emak bau tanah! Haha.”


“Sialan luh! Seta*n!.” Arash meninggalkan Yosan dan Merana yang tetap asik dengan laptopnya.


Sepeninggalan Arash, Yosan terus memperhatikan Menara yang terus saja melihat biodata Berlian berulang-ulang.





“Elo nyari apa lagi sih Ra? Terus aja bolak balik liat foto itu bocah!.”


“Kali aja ada info lain Yo.”


“Emang yang elo cari info apaan lagi sih dari dia?.”


“Tentunya info yang bisa kita jadikan kartu As buat kita lah Yo.”


“Lah kurang kerjaan. Eh tapi kalau di lihat-lihat, manis juga ya dia?.”


“Kalau menurut gue sih biasa aja, lebih bagusan Narita.”


“Yah Narita mulu… eh Ra, elo cinta banget ya sama dia? Ra kalau misalkan dia selingkuh dari elo, gimana ya?.”


“Gak mungkin, dia tife cewek setia.”


‘Yah… elo masih aja buta Ra.. kalau saja elo tahu si Narita itu simpanan bokap elo.. hancur luh gue rasa jiwa elo.’ Bathin Yosan.


“Apa sih yang bikin elo jatuh cinta sama dia Ra?.”


“Jawabannya sama kayak pertanyaan gue ke elo Yo. Sekarang gue tanya, apa sih yang elo suka dari cewek ABG elo itu?.”

__ADS_1


Yosan diam mendengar apa yang Menara tanyakan padanya. Kemudian, “Gue cuma kasian aja sama dia Ra, gue masih ga tega ninggalin dia karena kegadisannya udah gue renggut.” Imbuh Yosan.


“Ya gue juga gitu sama… keperawanan Narita gue gagahi sejak ia SMA, kalau gue tinggalin dia, gue takut dia hancur.”


‘Orang dia udah hancur Ra… elo aja yang gak tahu… kapan ya? Elo bisa buka mata dan telinga elo. Kasihan gue sama elo Ra, masih saja gampang di bodohi sama si Narita.’ Yosan membathin.


“Yuk cabut.” Ajak Menara yang tengah mematikan laptopnya.


Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan kafe tersebut masuk ke dalam kendaraannya.


................


Dan hari pun telah pagi.


Jodi yang telah rapi dengan stelan kantornya masuk ke kamar Berlian, di dapatinya gadis itu masih selimutan, kemudian


“Haciiih…. Haaaciiih…” Berlian bersin-bersin dan terlihat hidungnya meler dengan mata sayunya.


Bergegas Jodi mendekat ke arahnya. “Sayang… kamu sakit?.” Jodi memegang kening gadis itu dan ia merasakan panas pada tubuhnya.


“Papa… sepertinya aku demam.”


“Ya sudah kamu tidak usah masuk kuliah dulu ya sayang… sebentar papa telepon dokter dulu.” Jodi terlihat sedikit panik Kemudian Ia menghubungi dokter pribadinya. Setelah ia menghubungi dokter pribadinya, ia merapikan selimut yang menutupi tubuh Berlian yang terlihat sedikit menggigil.


Pada saat Riksa hendak ke ruang makan dan melintas di depan kamar Berlian, Jodi melihat penampakannya dan memanggilnya.


“Ada apa Boss?.”


“Kayaknya gue gak ke kantor ya Rik hari ini, elo handle kerjaan gue.. putri gue sakit.”


“Apa perlu gue telepon dokter sekarang Boss?.”


“Gak usah, gue udah telepon barusan.”


“Oh… ya sudah. Gue sarapan duluan ya Boss?.”


“Ya udah sana elo sarapan aja.” Kata Jodi tanpa menoleh ke arah Riksa, kemudian “sayang.. kamu mau sarapan apa? Papa bikinin kamu bubur ya sayang, mau?.” Tanya Jodi pada putri kecilnya seraya mengusap pucuk kepalanya.


Melihat Jodi sibuk membuat bubur, seorang pelayan menghampirinya.


“Biar saya yang buat buburnya tuan?.”


“Tidak usah teh biar saya saja.” Kata Jodi.


Sementara Riksa memperhatikan Jodi sembari menikmati sarapannya.


‘’Pinter juga dia masak ya? Demi cinta, Boss rela turun dapur, kakaka.” Bathin Riksa.


Tiba-tiba seorang pegawai yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih menghampiri Riksa menyampaikan bahwa dokter yang mereka telepon telah datang.


“Boss katanya dokternya sudah datang tuh.” Kata Riksa.


“Ya udah suruh masuk.” Kemudian Jodi menyuruh pelayan untuk menyelesaikan bubur yang ia masak dan meminta untuk membawanya ke kamar Berlian.


Sementara itu ia menghampiri dokter pribadinya yang menunggu di ruang tengah dan mengantarnya ke kamar Berlian.


Sesampainya di dalam kamar. Kemudian dokter pribadi mereka memeriksa Berlian.


Setelah dokter memeriksa Berlian, kemudian ia menyampaikan bahwa Berlian hanya ke capekan saja, lalu memberikan vitamin dan obat penurun panas. Setelah itu dokter pun kembali pulang.


Sementara itu Riksa pamit pada Jodi untuk berangkat ke kantor.


“Boss gue berangkat sekarang ya?.”


“Ya udah…” Kemudian Jodi menutup pintu kamar Berlian dan mendekat kearah Berlian yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya.


“Sayang… makan dulu ya?.” Kata Jodi yang mengambil bubur yang ia buat di atas meja nakas.


Berlian memposisikan tubuhnya bersandar pada kepala tempat tidurnya. Kemudian Jodi mulai menyuapinya.

__ADS_1


“Papa belum sarapan?.”


“Nanti papa sarapan, kalau kamu udah selesai minum obatnya.”


Singkat cerita, setelah Berlian selesai menghabiskan buburnya lalu Ia minum obat yang dokter berikan tadi.


“Sekarang kau istrirahat ya sayang.” Kata Jodi, tapi Berlian diam saja.


Jodi tahu, kalau tidak ada respon berarti dia ingin di temani. Akhirnya Jodi membuka jas dan kemejanya, tinggallah singlet yang membalut tubuh atletisnya.


Kemudian ia naik ke atas tempat tidur dan membiarkan dada bidangnya sebagai tumpuan kepala gadis kecilnya.



“Kemarin kamu terlalu lelah main di mall bersama temanmu itu jadi bikin kamu drop.”


“Maaf papa.”


“Iya gak apa-apa tapi lain kali jangan terlalu lelah ya sayang.. kamu kan belum terbiasa kena angin di luar sana.”


Kemudian tiba-tiba terdengar suara ponsel Berlian berbunyi.


Jodi memgambil ponsel Berlian yang kebetulan ada di samping kepalanya. Lalu Ia lihat layar ponselnya,


“Sayang… Maurin telepon kamu.”


“Papa aja yang bilang ke dia kalau aku sakit.”


Kemudian Jodi menerima panggilan dari Maurin dan mengatakan Berlian sakit. Setelah selesai mengatakan itu pada Maurin, Jodi menutup sambungan ponselnya dan meletakan ponsel Berlian di atas meja nakas.


“Ya sudah… kau istirahat ya sayang.” Kemudian Jodi mengecup kening Berlian dan mengelus-elus punggungnya. Hingga Berlian tertidur.


................


Sementara itu di kampus nampak Maurin setelah menghubungi Berlian melalui ponselnya dan mendengar kabar kalau Berlian sakit akhirnya ia masuk ke dalam kelasnya sendiri.


Dari kejauhan nampak Menara, Yosan dan Arash memperhatikan Maurin yang masuk ke dalam kelasnya sendiri.


“Kemana bocah itu ya? Kok si Maurin sendiri.” Ujar Arash.


“Iya kemana ya dia?.” Sambung Yosan.


“Mati kali!.” Ketus Menara.


“Anjir! Sadis luh! Haha.” Kelakar Yosan.


Kemudian mereka berlalu menuju kelas mereka yang kebetulan mereka memang satu angkatan dan satu kelas pula.


Namun, tiba-tiba saja Menara minta ijin kepada teman-temannya untuk ke toilet. Padahal itu hanya alasan dia saja, sebenarnya ia akan pergi ke ruangan kelas lain.


Ia masuk ke ruang kelas dimana Maurin tengah duduk sendiri dan memalingkan wajahnya ke hadapan jendela.


Pada saat Menara memasuki ruangan itu, nampak semua wanita yang berada di kelas itu berdecak kagum melihat penampakan yang memikat pandangannya.


Pada saat Maurin menoleh ia terkejut melihat Menara yang menghampirinya. Kemudian


“Heh Maurin! Temanmu kemana? Kok tidak kelihatan.”


“Eh kakak… Mh.. itu kak.. Mh Berlian sakit.” Maurin sedikit gugup karena baru kali ini ia di datangi lelaki yang di gilai wanita satu kampus.


“Sakit apa sakit?.”


“Maksud kakak?.”


“Mungkin dia takut gue kerjain lagi kali ya.”


“Hm… tapi tadi aku telepon dia kak, papa nya yang angkat, papanya bilang Berlian demam.”


“Oh gitu.” Tanpa mengatakan apa pun lagi, Menara pergi meninggalkan Maurin yang terpaku memandangi wajah tampannya, begitu pun dengan teman-teman satu kelasnya.

__ADS_1


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Terima kasih untuk reader yang selalu meninggalkan jejaknya🥰


__ADS_2