Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Kegaduhan


__ADS_3

Kebahagiaan kini tengah menyelimuti pasangan beda generasi itu. Betapa tidak? Mereka akan dikaruniai seorang bayi mungil melengkapi suka cita di tengah-tengah mereka. Semua orang-orang terdekat begitu bahagia mendengar kabar kehamilan itu.


Cinta yang unik diantara mereka telah membuahkan sesuatu yang terindah dalam kehidupan mereka.


Hari itu Berlian akan di bawa oleh Jodi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya. Berlian bersama Jodi berada satu mobil dengan Riksa dan Maurin. Sementara orang tua Jodi dan opa oma Berlian berada di mobil yang lainnya.


Singkat cerita, sampailah mereka di tempat dokter Obgyn tersebut. Karena mereka datang berbondong-bondong, tentu saja membuat orang seisi tempat itu mengarahkan pandangannya kepada mereka.


Terlihat disana ada beberapa orang ibu hamil, ada yang di antar oleh suaminya, ada juga yang diantar oleh ibunya, tetapi berbeda dengan Berlian yang datang di antar oleh seluruh keluarganya.


Orang-orang yang berada di sana saling berbisik satu sama lain.


“Mana yang hamilnya ya? Kok yang datang manula semua.” Bisik salah seorang ibu pada wanita di sampingnya.


“Mereka mau nganter periksa kehamilan apa mau piknik?.” Bisik seorang lainnya.


“Mereka salah masuk ruangan kali ya?.”


“Kayak mau demo aja.”


Dan banyak lagi komentar lainnya. Tak berapa lama salah seorang petugas rumah sakit memanggil, “nyonya Jodi.” Serentak semuanya mengikuti Berlian dan Jodi yang hendak masuk keruang pemeriksaan.


Namun salah seorang perawat menegur mereka, “maaf ibu bapak, yang lainnya bisa tunggu di luar saja? Biar ibu hamilnya saja yang masuk bersama suaminya.”


“Tidak bisa! Kami harus ikut masuk kedalam.” Jawab Irma.


“Iya karena yang di dalam kandungan menantu saya ini cucu pertama saya.” Ujar Eva.


“Kami juga harus masuk karena kami ingin mendengar langsung keterangan dari dokter.” Jawab suami-suami mereka.


Karena diluar terdengar seperti ada kegaduhan, akhirnya dokter yang akan memeriksa Berlian keluar dari ruangannya, “Ada apa ini?.” Namun pada saat dokter melihat ke arah pintu, betapa terkejutnya sang dokter senior yang sudah seumuran Budi dan Ferry itu, melihat di depan pintu banyak orang yang memaksa masuk, tentu saja tiada lain adalah keluarga Berlian.


Kemudian salah seorang perawat menjelaskan kepada dokter tersebut, bahwa mereka adalah keluarga yang mengantar ibu hamil yang akan di periksa.


Sementara Berlian yang berada di tengah-tengah mereka, merasa pusing dengan kelakuan pasukan lebah itu.


“Hiks… papa… aku pusing.” Ucap pilu Berlian seraya memeluk suaminya.


“Sabar sayang…. Beginilah nasib hidup bersama sekelompok pasukan lebah.” Bisik Jodi yang sudah tidak bisa apa-apa dalam menghadapi serangan pasukan lebah itu.


Karena pasukan lebah tetap ingin masuk keruang pemeriksaan, akhirnya dokter mempersilahkan semuanya masuk.


‘Seumur hidup jadi dokter kandungan… baru kali ini saya memeriksa ibu hamil, yang mengantarnya satu RT.’ Gumam sang dokter yang memijat pelipisnya. Sepertinya sang dokter pun pusing dengan serangan pasukan lebah itu.


Di dalam ruang pemeriksaan, dokter yang tengah melakukan pemeriksaan di kerubungi oleh mereka, dokter tidak bisa berbuat apa-apa karena pasukan lebah itu tidak mau di atur.


Singkat cerita, setelah pemeriksaan USG selesai. Berlian di bawa duduk oleh Jodi pada kursi yang berada di pojok ruangan, sementara pasukan lebah tengah memburu dokter dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehamilan, membuat sang dokter mengelus dada menghadapi mereka.


Karena kesal, akhirnya Jodi mengendap-endap membawa Berlian keluar dari ruang pemeriksaan itu menuju ruang tunggu dan duduk disana. Di ikuti oleh Maurin dan Riksa. Maurin dan Riksa pun tadi ikut kedalam ruang pemeriksaan namun tidak ikut heboh seperti para senior itu.


“Hadeh… kasihan gue lihat dokternya, mana udah tua, di serang pasukan lebah lagi, gue curiga besok itu dokter masuk rumah sakit akibat serangan lebah itu Boss.” Ujar Riksa geleng-geleng kepala.


“Iya bikin pusing aja ah… lebih-lebih dari anak balita ya? Gak bisa dibilangin. Ayo ah kita balik Rik… tinggalin aja mereka.” Kata kesal Jodi.


“Serius Boss?.”


“Hiks… papa… ayo kita pulang, aku pusing.” Ucap Berlian.


“Iya sayang ayo kita pulang aja ya.” Balas Jodi pada istrinya.

__ADS_1


Akhirnya Jodi, Berlian, Riksa dan Maurin meninggalkan tempat itu. Sementara orang tua mereka masih berada di ruang dokter tersebut.


Didalam mobil,


“Boss, itu mereka di tinggalin gak apa-apa?.” Tanya Riksa.


“Iya om nanti marah loh mereka.” Sambung Maurin.


“Gak apa-apa, udah pada tua ini, mereka bisa pulang sendiri.”


“Papa… aku mau makan bakso.”


“Kau mau bakso sayang?. Rik, cari tukang bakso ya?.”


“Siap Boss!.”


“Iya aku juga mau bakso kayaknya enak nih siang-siang makan pedes! Hehe.” Ujar Maurin.


Dan akhirnya mereka pun sampai di kios bakso, terlihat Berlian dan Maurin menikmati bakso yang mereka makan. Sementara Jodi dan Riksa hanya minum saja menemani mereka.


Setelah selesai, mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya ke kediaman mereka.


Sesampainya di rumah, nampak pasukan lebah telah menanti di rumah, mereka tengah berkumpul di ruang keluarga, melihat kedatangan ibu hamil, mereka langsung menyerbu. Belum sempet mereka mengatakan sesuatu, Jodi sudah menghadang mereka,


“Udah cukup! Ibu hamil mau istirahat dulu!.” Kata Jodi seraya membawa Berlian masuk ke kamar, melihat Jodi yang langsung membawa istrinya ke kamar, pasukan lebah hanya bisa diam, lalu kembali ke tempat asal mereka duduk.


Sementara Riksa dan Maurin berlalu ke taman dekat kolam renang.


..........


Sementara itu di tempat lain, nampak Arash tengah duduk santai di sebuah apartemen milik temannya yang bernama, Sansan.


Nampak Arash tengah memegangi sesuatu di tangannya dengan senyum sinisnya. Sementara Sansan yang sekarang menjadi teman dekatnya, memperhatikan apa yang tengah di pegang oleh Arash tersebut.


“Yang elo pegang itu apaan Ar?.” Tanya Sansan penasaran.


“Sesuatu yang mematikan.” Jawab Arash dengan seringai di bibirnya.


“Racun?.”


“Iya!”


“Jangan bilang elo mau ngeracunin gue loh Ar.” Celoteh Sansan.


“Haha.. gak akanlah San, ini racun buat target gue.”


“Buat siapa?.” Sansan semakin penasaran.


“Seseorang yang menjadi pesaing gue!.”


“Gamer?.”


“Bukan, seseorang yang bininya gue suka haha.”


“Gila!! Elo mau racunin lakinya, biar bini nya jadi milik elo gitu?.”


“Tepat sekali haha.” Kelakar Arash.


“Gila luh! Kayak udah gak ada cewek lain aja!.”

__ADS_1


“Yang ini beda San. Elo juga kalau lihat pasti tertarik.”


“Coba lihat, ada foto nya gak?.”


“Sebentar. Gue cari dulu ya.” Kemudian Arash membuka galeri foto dalam ponselnya, setelah mendapatkan foto Berlian, Arash memperlihatkan foto itu pada Sansan.


Pada saat Sansan melihat foto itu, “Anjir bocil! Haha… serius luh suka sama bocil? Aneh gue… haha, emang elo udah bosan sama tante?.”


“Alah… kalau si tante kan buat have fun doang. Kalau yang ini buat seriusan, gue mau jadiin dia bini hehe.”


“Apa?!jadi bini! Haha gila luh… bocil begini mah banyak kali, elo gak perlu ngerebut dia dari orang.”


“Tapi yang ini beda San, anaknya gak banyak tingkah. Awalnya gue mau deketin dia karena gue tahu dia adalah pewaris tunggal Harv Company. Tapi setelah gue mengenal dia lebih dekat, gue merasa, dia jodoh gue.”


“Anjir jodoh!!! Haha…. Serius luh mikirin jodoh? Gue rasa elo mikirin harta warisannya, secara kalau elo kawin sama dia kekayaan Harv Company yang gak akan habis tujuh turunan itu, bisa elo nikmatin.”


“Sumpah San, asalnya gue mikir kesana. Tapi lama-lama gue berubah haluan, gak tahu kenapa, gue nyaman aja kalau deket sama dia, ada perasaan yang beda gitu.”


“Ya jelas aja nyaman… Orang dia punya segalanya, haha…”


“Ah elo gak ngerti sih San, hati gue ini yang ngerasain.”


“Oya? Terus kapan elo mau ngeracunin suaminya itu? Emangnya gampang?.”


“Nanti pada saat yang tepat, selalu ada kesempatan dalam setiap kejahatan haha… lihat aja nanti.”


“Gila luh!.”


.........


Sementara itu di tempat lain, nampak Menara dan Yosan tengah berbincang di rumah Menara.


“Ra, kapan elo mau ketemu om Jodi buat ceritain semuanya?.”


“Besok kali Yos, sekarang gue males kemana-mana.”


“Oya? Kata si Rendy, dia ketemu si Arash sama si Sansan di club.”


“Oh Sansan casanova itu?.”


“Iya, kayaknya mereka lagi deket lagi ya?.”


“Emang dari dulu juga mereka deket kan? Cuma sempet renggang karena si Arash deket sama kita. Sekarang mereka deket lagi kali. Emang dia cocoknya sama si Sansan, mereka kan satu frekuensi.”


“Iya sih… elo nyadar gak? Kita jadi begajulan kan gegara pengaruh si Arash.”


“Ya kan dia yang suka ngajak-ngajak kita ngerjain orang lah, mabok lah, sampai kita kenal tante-tante juga karena jebakan dia kan? Sialan emang dia!.”


“Iya bener… gila memang si Arash. Teman menyesatkan!.”


“Tapi kan sekarang kita udah jauh sama dia. Gaul kita jadi bisa normal lagi.”


Mereka berdua menghabiskan waktu kebersamaan mereka dengan membahas semua tentang Arash. Teman yang dulu sejalan dengan mereka, namun sepertinya kini mereka menyadari bahwa berteman dengan seorang Arash tidak membawa kebaikan sama sekali bagi kehidupan mereka.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Jangan lupa tinggalkan jejaknya readers tersayang 😍😍😍


Terima kasih 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2