
Siang itu matahari begitu terik. Terlihat Maurin mendatangi rumah Berlian selepas ia selesai kuliah.
“Kau sakit Berli?.” Kala Maurin masuk ke dalam kamar temannya itu dan melihat pemandangan Berlian terbaring di atas tempat tidur.
“Iya hari ini aku kurang sehat Rin.”
“Udah minum obat?.”
“Udah tadi abis makan siang, aku langsung minum vitamin. Kamu sudah makan siang belum? Kalau belum sana makan dulu dibawah. Oya? Kamu tahu dari mana aku sakit?.”
“Iya nanti aku ke bawah makan, eh aku tahu dari kak Riksa, kak Riksa telepon aku, katanya kamu sakit makanya aku langsung ke sini. Oya? Semalam papamu telepon aku mencarimu. Kau bilang pergi bersamaku, memangnya semalam kau pergi kemana hah?!.”
“Ada deh.. kepo ah.”
“Heh! Kamu sudah main rahasia-rahasiaan ya sama aku?.”
“Gak kok Rin, aku cuma cari angin doang.”
“Lah kamu bilang padaku katanya gak enak badan semalam? Kok gak enak badan malah cari angin bukannya istirahat.”
“Aku beli sesuatu keluar, ah udahlah jangan di bahas.”
“Iya deh. Eh Berli! Bagaimana urusan perempuan yang ngaku anak papamu itu? Apa dia datang lagi?.”
“Gak ada!.”
“Apa kamu masih sebel sama papamu gegara masalah itu?.”
“Gak tahu juga Rin yang jelas aku masih penasaran aja. Karena papa gak pernah jelasin ke aku.”
“Ya bagaimana mau jelasin…orang kamu nya begitu, Masalah jangan di hindarin tapi di hadapin, ayo kamu bilang sama papamu biar clear semua, kalian ngumpul sama-sama dengan mereka, terus denger penjelasan mereka. Jadi kamu gak kayak gini terus.”
“Ah males aku ngomong sama mereka.”
“Cemburu kamu itu berlebihan tahu gak?! Dewasa dikit lah, eh lama-lama papamu begah loh ngadepin sikap kamu itu. Mau? Papamu cari pengganti hah?.”
“Ish.. kok kamu ngomongnya gitu sih Rin?.”
“Ya terus kamu mau sampai kapan kayak begini hah?!….. Eh atau kita datangin berdua aja yuk perempuan itu ke rumahnya? Sekalian juga kan kita bisa bicara sama ibunya. Bagaimana?.”
“Oke. Tapi tunggu aku sembuh dulu ya Rin?.”
“Siap.”
Saat Maurin memperhatikan Berlian yang bangkit dari pembaringannya hendak ke kamar mandi, ia sedikit aneh melihat Berlian yang meringis seperti kesakitan.
“Kamu sebenarnya sakit apa sih Berli? Kok kayak sakit gitu jalannya? Kamu jatuh?.”
“Gak ada, aku cuma gak enak badan, tubuhku pegel semua.”
“Emang semalam kamu habis ngapain sih?.”
“Gak ngapa-ngapain? Tiba-tiba aja badanku sakit.”
“Ah gak mungkin.”
“”Udah deh ah jangan banyak ngomong, mending kamu makan dulu sana.”
Kemudian Maurin turun ke ruang makan dan makan siang di rumah Berlian.
Sementara itu di tempat lain, Jodi dan Riksa nampak sibuk di markasnya.
“Boss! Siapa yang mau Boss tugasin ke Thailand?.” Ada kabar nih lawan klien kita masok narkoba kesana?.”
“Gue yang pergi kesana.”
“Seriusan Boss?.”
“Iya. Memangnya kenapa?.”
“Dua minggu loh Boss. Bahaya juga kalau bawa cewek kesana. Kita kan mau ke lapangan ngecek mafia narkoba.”
“Memangnya siapa yang mau bawa cewek?.”
“Ya kali Boss kesana mau bawa bini.”
“Gak. Dia di rumah aja. Lagian elo tahu sendiri dia lagi ngambek sama gue.”
“Emang kuat dia jauh sama Boss?.”
“Mungkin sekarang saatnya dia harus belajar jauh sama gue, biar dia dewasa.”
__ADS_1
“Udah siap emang Boss lepasin dia?.”
“Kalau dia udah bisa kabur berarti dia sudah siap menghadapi tantangan di luar sana. Kalau dia udah siap, gue juga harus siap.” Kata Jodi, kemudian
“Tapi gak usah juga ngomong sama dia kalau gue mau ke Thailand, elo juga gak usah ngomong sama Maurin. Nanti jadi kacau urusannya.” Sambung Jodi.
“Ok kalau begitu. Oya? Itu bini sakit apaan Boss?.”
“Sakit enak haha, abis gue bantai semalam.”
“Haha… serius?! Berdarah-darah dong haha?.”
“Bukan berdarah lagi tapi nangis darah haha.”
“Gila!! Pantes sampai sakit, ternyata benteng pertahanannya roboh haha.”
“Lagian macem-macem aja! Keluar malem pake bohong segala, udah gitu pulang-pulang pake kalung baru yang gak gue kenal. Ya udah, gue buang tuh kalungnya, eh berani nampar gue, gimana gue gak kesel. Gue curiga dia abis ketemuan sama cowok tuh, Rik.”
“Maklum remaja labil Boss hehe. Tapi gue yakin abis di kasih enak sama papa, bakal ketagihan haha.”
“Makanya gue mau kasih dia pelajaran, gue mau tinggalin dia dua minggu, gimana tuh rasanya hidup tanpa gue. Macem-macem aja. Elo tahu gak? Semalem dia bilang minta cerei. Gak inget apa? perjuangan gue dulu kayak gimana? Kan bikin emosi yang begitu.”
“Sabar Boss sabar. Gue kan udah bilang, ya begitu kalau punya istri bocil harus banyak sabar.”
“Ini gegara si Faradina itu datang ke rumah, jadi runyam gini nih masalahnya.”
“Oya terus gimana?. Jadi kita rembukin masalah itu?.”
“Gak usah deh. Entar aja. Mending kita konsentrasi sama kerjaan dulu. Kerjaan lebih penting. Tapi kalau misalkan bini gue minta ke tempat mereka, elo antar aja dia. Yang penting kan si Faradina itu memang bukan anak gue. Terus gue udah gak ada apa-apa lagi sama emaknya. Emaknya yang pergi dari hidup gue kok. Emaknya juga lagi gak bisa bilangin anaknya. Bikin pusing gue aja.”
“Ya namanya juga hidup Boss. Pasti ada aja masalahnya.”
“Oya Rik, tolong elo ke rumah siapin baju-baju gue buat ke Thailand, jangan sampe katahuan sama bini gue ya?.”
“Siap Boss! Eh Boss mau di kawal sama siapa kesana?.”
“Sama tim nya si Jack aja ya Rik?.”
“Ok. Gue gak di ajak nih Boss hehe?.”
“Elo disini aja awasin bini gue sama calon bini elo?.”
“Hehe… ok deh.”
“Anjir!! Haha… najis gue takut! Mending cari aman aja deh gue tinggal disini haha.”
“Ya udah sana balik, packing baju-baju gue.”
“Ok siap! Gue pergi dulu Boss.”
Kemudian Riksa pergi meninggalkan ruangan Jodi. Sementara itu Jodi kembali melakukan aktivitasnya di depan laptopnya.
Singkat waktu, Riksa sampai di rumah Berlian, pada saat ia masuk ke dalam rumah, ia mendapati Maurin tengah makan sendiri di ruang makan.
“Ehem.”
Suara Riksa mengejutkan Maurin yang tengah asik menikmati makan siangnya.
“Eh kak Riksa! Kok ada di sini?.”
“Aku juga lapar makanya aku ada di sini hehe.”
“Ya udah ayo kita makan bareng.” Kemudian Maurin mengambilkan makan siang untuk Riksa dan mereka makan berdua di ruang makan tersebut.
“Nyonya Boss mana?.” Tanya Riksa pada Maurin.
“Ada di atas, lagi rebahan. Kasian badannya pada pegel semua.”
“Iya sisa-sisa semalam itu. Abis di hukum sama suaminya. Makanya kamu nanti kalau sudah nikah jangan kabur-kabur, jadinya begitu di hukum sama suaminya.”
“Kejam bener suami kayak gitu.”
“Kok di bilang kejam, justru harus bersyukur tandanya itu suami sayang.”
“Iya deh.”
Sesaat mereka saling berpandangan dan saling melempar senyum. Kemudian,
“Aku tinggal dulu ya ke belakang.” Kata Riksa pada Maurin.
“Iya kak.”
__ADS_1
Kemudian Riksa berlalu menuju ruangan laundry, dan menemui petugas laundry untuk memisahkan pakaian Boss nya yang akan Riksa packing.
Tak lama Riksa kembali dan duduk bersama Maurin kembali.
“Kak Riksa sendiri?.” Tanya Maurin karena tidak melihat Jodi bersamanya.
“Berdua sama kamu hehe.”
“Ih maksudnya bukan itu.” Terlihat wajah Maurin memerah, “Maksudnya kemana papanya Berlian? Kok gak ada sama kakak?.”
“Boss lagi ngambek. Dia gak mau pulang, karena istrinya udah mulai nakal.”
“Oh masalah semalam itu ya?.”
“Iya. Kayaknya Boss mau tidur di tempat kerjaannya. Karena disini juga di anggurin sama istrinya. Wanita itu memang harus di kasih pelajaran.”
“Hehe… aku gak ikut-ikut ya kak?.”
“Kamu juga kalau nakal nanti akan aku kasih pelajaran.”
“Mau dong dikasih pelajaran hehe.”
“Ya nanti aku kasih kamu pelajaran bahasa cinta.”
“Ih mau bangeet.”
“Serius?!.”
“Seriuslah! Mulai kapan nih aku mau di kasih pelajaran bahasa cinta?.”
“Mulai detik ini!.”
“Ok! Deal ya?!.” Maurin menyodorkan tangannya, kemudian Riksa meraih tangan itu.
“Deal!. Oya ternyata kamu orangnya to the point juga ya?.”
“Ya kak! Aku gak suka basa basi, kalau aku bilang suka ya suka kalau gak ya bilang gak.”
“Bagus! Aku suka cewek gitu.”
“Jadi kapan nih kita mulai kencan hehe.”
“Nanti akan ada waktunya dan kamu harus tahu kalau kerjaanku sama Boss tidak mengenal waktu. Jadi kamu harus banyak sabar dan mengerti akan tugas ku.”
“Ok… aku siap.”
“Bagus! Oya? Tolong kamu terus kasih masukan istri Boss itu. Karena dia butuh teman yang bisa di ajak bicara. Kamu ngerti sendirilah bagaimana dia. Selama hidupnya dia di kurung jadi belum pandai bergaul. Dan pengalaman di tinggal kedua orang tuanya sedari kecil yang melatar belakangi dia berbeda dari kita-kita..”
“Iya kak, aku juga kalau ngobrol sama dia suka sedikit-sedikit ngasih masukan. Sebenarnya dia pintar, jenius bahkan, cuman ya begitu dalam bergaul sepertinya kaku.”
“Ya kan seperti yang pernah aku bilang, dia itu si William ceweknya. Jadi orang-orang sekitarnya yang harus bisa ngimbangin dia. Sebenarnya si Boss orang yang cocok dia ajak bicara, cuma karena timbul cinta disana. Jadi orientasinya berubah haluan.”
“Ya nasib orang kaya yang kaya nya baget, biasanya seperti itu ya kan kak? pasti ada aja masalah dalam dirinya. Beda dengan kita yang berasal dari orang biasa. Kita terbiasa hidup susah, mandiri dari kecil, belajar usaha dari kecil, bergaul dengan siapa saja yang penting gaul yang sehat. Jadi dalam menghadapi hidup kita aman dan dapat menyesuaikan diri. karena dari kecil secara tidak langsung hidup sudah mengajarkan kita.”
“Ya benar. Sementara Berlian, dari semenjak di dalam kandungan saja, dia sudah jadi Milyuner, hidupnya nyaris tak pernah susah, sekalipun sudah di tinggal kedua orang tua dari kecil, si Boss mendidiknya dengan baik. Cuman salahnya satu, dia tidak di lepas, jadi dia minim dalam mengenal karakter orang. Coba kamu bayangkan, teman dia itu adalah buku, seumur hidup yang dia kenal hanya buku, memang bagus banyak membaca jadi pintar tapi jangan lupa juga satu hal, kita juga harus mampu membaca diri dan membaca alam dan lingkungan. Tempatnya dimana? Ya di mana-mana, yaitu bersosialisasi, berteman mengenal banyak orang.”
“Kalau mengenal banyak cowok gimana kak hehe?.”
“Ah itu sih kamu! Eh udah sana naik lagi ke atas. Nanti dia termewek-mewek lagi di tinggal lama.”
“Oh iya aku lupa, saking antengnya ngobrol sama Coke jadi lupa sama dia hehe.. aku ke atas dulu ya kak?.” Kata Maurin seraya berlalu menaiki anak tangga.
Setelah memastikan Maurin sudah masuk ke dalam kamar Berlian, bergegas Riksa mengemasi pakaian Boss nya di ruang laundry, setelah selesai semuanya, ia bergegas pergi meninggalkan rumah itu.
.........
Waktu kian cepat berlalu, rentang hari bagai menit yang berdetak cepat membunuh masa lalu.
Telah satu minggu Jodi berada di Thailand, menyelesaikan kasus kliennya dengan profesionalismenya yang tinggi, meski ia memiliki anak buah dalam tim nya namun ia tak jarang untuk turun tangan.
Sementara sang cinta yang di tinggal pergi begitu gelisah karena telah di tinggalkan tanpa kabar dan berita.
Setelah kejadian di malam sweet seventeen itu, bayangannya selalu menghantui dan benar saja apa kata Jodi, bahwa di tak dapat lupa akan malam penyatuan diri itu. Semakin ingin di lupakan semakin jelas terlihat, semakin ia mengingat semakin membuat gairahnya menarik ia ingin mengulang kembali rasa itu.
Arash sempat menghubunginya beberapa kali untuk mempengaruhi dan tentunya ingin memikat dirinya namun tak ia hiraukan karena yang ada di dalam ingatannya dan seluruh pikirannya hanya di penuhi oleh wajah seseorang yang telah membuat dirinya gila.
‘Entah kau yang sadis atau diriku yang tergila-gila hingga ingatan itu bagai sang penggoda menari-nari di atas hayalan… teganya kau pergi setelah kau habisi aku dengan candumu…seolah kau lupa bahwa sang kekasih kesepian setengah mati merindu… dinginmu kini menyiksaku… diammu kini menghisap darahku…tidak kah kau kasihan padaku yang selalu bergantung padamu..bersegeralah ambil kembali diriku… wahai penawar bisa ku.’
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Terima kasih readers tersayang yang tetap setia memantau ceritaku🥰🥰
__ADS_1
Luv U All😘