
Hari itu Jodi membawa Berlian ke sebuah rumah sakit di negara X. Ia akan memeriksakan kondisi kesehatan Berlian pasca kejadian penculikan yang dilakukan oleh oknum human trafficking beberapa waktu lalu.
Karena selama penculikan itu tubuh Berlian di cekoki zat adiktif, Jodi khawatir akan kesehatan gadisnya itu, mengingat bahwa zat yang di masukan kedalam tubuh Berlian dalam dosis tinggi sehingga perlu kiranya Jodi mengetahui efek dari zat berbahaya tersebut.
“Papa aku takut.” Kata Gadis itu seraya membenamkan wajahnya pada lengan Jodi saat gadis itu akan di bawa keruang pemeriksaan oleh 2 orang perawat wanita.
“Tidak apa-apa sayang, mereka hanya akan memeriksamu saja. Papa akan temani setelah papa selesai konsultasi dengan dokternya ya sayang?.”
Dengan bujuk rayu akhirnya Berlian mau di bawa oleh 2 orang perawat itu ke ruang pemeriksaan. Sementara Jodi masuk ke dalam ruangan dokter yang menangani Berlian.
Jodi menceritakan segalanya pada dokter tersebut mengenai kondisi Berlian. Bahwa Berlian bukan pengguna narkoba tetapi ia korban penculikan gembong human trafficking yang memberikan zat adiktif dosis tinggi dan dokter itu mengerti.
Kemudian dokter itu menjelaskan pada Jodi, dalam bahasa Inggris yang sudah di translate kedalam bahasa Indonesia.
“Baik tuan Jodi, saya perlu melihat dulu hasil test dan hasil pemeriksaan putri anda, baru nanti saya akan jelaskan secara detail nya. Sementara ini saya akan mendiagnosa menurut keterangan yang anda berikan. Jadi jika memang putri anda bukan pengguna narkoba, sementara zat adiktif itu masuk kedalam tubuhnya, dan di khawatirkan akan berdampak tidak baik, mudah saja untuk detoksifikasi. Secara ilmiah detoksifikasi merujuk pada proses normal tubuh untuk menetralkan dan membuang racun melalui hati, usus besar, paru, ginjal dan kulit. Hati memiliki peran kunci dalam menetralkan racun tubuh, karena itu fungsi hati yang baik membuat proses detoksifikasi lebih optimal, khususnya dalam detoks narkoba. Cara detoks narkoba akan membantu mengeluarkan racun-racun dalam tubuh, yaitu hanya perlu melakukan anjuran-anjuran yang saya akan berikan. Yang pertama perbanyak minum air putih, kemudian makan yang bergizi, olahraga yang cukup, gaya hidup yang sehat dan tentunya perlu di lakukan juga terapi pijat dan nanti akan saya berikan obat penetralisir zat racun. Namun jika memang nanti dari hasil pemeriksaan dan melihat gejala dari putri anda pasca terpapar zat kimia itu tentunya akan ada langkah-langkah selanjutnya. Dan yang terpenting perlu juga di lakukan pemeriksaan secara psikologis mengingat biasanya korban penculikan alami trauma.” Jelas dokter. Sementara Jodi mendengarkan dengan seksama.
Tidak berapa lama datang seorang perawat membawa beberapa lembar berkas. Ternyata berkas itu adalah hasil pemeriksaan Berlian.
Kemudian terlihat dokter itu membaca satu persatu berkas hasil pemeriksaan Berlian.
Jodi mengamati dokter yang tengah membaca berkas itu. Timbul dalam benaknya rasa was-was mengenai hasil diagnosa tersebut namun ia berusaha tenang.
Tak berapa lama dokter itu mulai menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut.
“Tuan saya akan sampaikan hasil pemeriksaan putri anda”
“Baik dokter.”
“Dari hasil pemeriksaan memang terbukti bahwa putri anda bukan pengguna apa lagi pecandu narkoba dan zat adiktif yang beberapa kali mereka suntikan pada tubuh putri anda memang zat yang sangat berbahaya dan racun nya dapat merusak otak, hati, paru dan ginjal bahkan kulit. Jadi nanti mungkin saya akan memberikan beberapa obat untuk menetralisir racun yang tersisa dalam organ tubuh tersebut. Dan tuan tidak perlu khawatir obat yang akan saya berikan adalah obat terbaik dan akan sangat cepat sekali membantu pemulihan putri tuan.” Jelas dokter.
Mendengar penjelasan dokter Jodi sedikit lega. Kemudian ditengah-tengah perbincangan mereka, seorang perawat masuk membawa Berlian.
Lalu Berlian duduk di samping Jodi yang berhadapan dengan dokter tersebut.
Kemudian dokter itu memberikan pengarahan pada Berlian sesuai dengan apa yang tadi ia sampaikan pada Jodi bahwa dirinya harus banyak minum air putih, olahraga yang cukup, mengkonsumsi makanan yang bergizi dan menjaga pola hidup yang sehat, juga menghabiskan obat yang akan dokter berikan nanti.
Singkat cerita akhirnya Mereka berdua pun selesai melakukan pemeriksaan itu dan meninggalkan rumah sakit tersebut.
Mereka masuk kedalam mobil yang berada di parkiran rumah sakit, Riksa dan Tomy sudah menunggu mereka di dalam mobil tersebut.
“Bagaimana hasilnya Boss?.” Tanya Tomy yang melajukan kendaraan yang mereka tumpangi itu.
“Alhamdulillah semua nya baik, hanya saja dokter memberi beberapa obat untuk menetralisir racun itu.” Jawab Jodi seraya mengecup pucuk kepala gadis itu yang bersandar pada dadanya.
“Syukur deh kalau begitu.”
“Jadi kapan kita kembali ke Indonesia Boss?.” Tanya Riksa.
“Mungkin besok kita kembali, karena urusan kita sudah selesai disini. Elo urus saja langsung buat kepulangan kita besok Rik.”
__ADS_1
“Siap.” Jawab Riksa.
Sementara Tomy melihat penampakan Jodi dan Berlian melalui kaca spion, terlihat mesra bagai sepasang kekasih yang tengah dilanda asmara.
Riksa melihat ke arah Tomy yang terus memperhatikan mereka melalui spion itu, kemudian Riksa memberi kode,
“Heh… Ssssstt…..” bisik Riksa pada Tomy.
Kemudian Tomy melirik kearah Riksa dan mengisyaratkan dengan alis dan gerakan matanya seolah mengatakan, ‘ada apa? Kenapa?’. Dan riksa mengisyaratkan dengan menggelengkan kepalanya seolah mengatakan, ‘Biarkan mereka dengan dunianya.’ Dan mereka berdua pun mengerti seraya membiarkan keduanya terhanyut dalam perasaannya.
Tanpa terasa mereka pun telah sampai pada hunian mereka. Setelah mereka masuk ke dalamnya, mereka masuk ke kamarnya masing-masing untuk membenahi barang-barang mereka, karena besok mereka akan kembali ke Indonesia.
Di dalam kamar, nampak Berlian tengah membenahi pakaian milik Jodi. Sementara Jodi duduk bersandar di atas tempat tidur, ia sibuk dengan laptopnya yang ia letakan di atas pangkuannya.
“Janji ya? Papa akan membawaku langsung ke rumah orang tua papa?.” Berlian memastikan.
“Iya sayang.” Jawab Jodi dengan mata yang tetap fokus pada laptopnya sembari menyeruput kopinya.
“Aku ingin tinggal beberapa hari disana, boleh?.” Tanya Berlian kembali.
“Iya boleh tapi jangan lama-lama.”
“Loh kenapa?.”
“Aku tidak nyaman ketemu terus sama singa itu.” Kata Jodi yang mengatakan bahwa singa itu adalah bapaknya.
“Hehe… kalau papa tidak nyaman tinggal lama-lama disana, papa tinggalkan saja aku untuk beberapa hari, lalu nanti kalau aku mau pulang papa jemput lagi ya?.”
“Aku tidak bersemangat bertemu mereka.”
“Loh kenapa? Kamu tidak boleh begitu sayang, walau bagaimana pun mereka adalah orang-orang yang sayang padamu.”
“Papa juga sama ke orang tua sendiri begitu, seperti tidak semangat mau ketemu mereka.”
“Tapi ini ceritanya lain sayang… kau tahu?! Orang tua ku cerewet, apalagi papa ku, kau tahu sendiri bagaimana dia.”
“Tapi padaku mereka baik. Kau ingat? Terakhir kali kau membawaku kesana saat usiaku 9 tahun.”
“Ya, aku ingat. Waktu itu kau masih kecil. Oya? Apa yang akan kau katakan pada orang tuaku nanti disana?.” Tanya Jodi penasaran.
“Aku akan katakan pada mereka, aku datang untuk melamar papa.”
“Apa!!!!” Jodi terkejut sekaligus ingin tertawa. “Haha… apa yang kau lakukan? Mana ada kau melamarku? Yang harus melamar itu aku pada keluargamu.”
“Hehe… maksudnya aku mau meminta ijin pada mereka agar mereka merestui kita. Dan papa tahu? Orang tua papa bisa kita minta tolong.”
“Tolong apa?.” Jodi terlihat penasaran.
“Aku tahu papa pasti tidak berani melamarku pada opa dan oma. Jadi biar orang tua papa aja yang bilang pada opa dan oma.”
__ADS_1
“Aduuh sayang… kalau seperti itu, sepertinya perang dunia ke tiga akan segera di mulai.” Jodi mendengus kasar.
“Papa itu ribet! Di ajak kawin lari gak mau! Di ajak kawin bener-bener gak mau! Aku jadi bingung.”
“Papa lebih bingung lagi sayang… kau tahu? Setiap kata yang kau ucapkan seakan membuat kepala papa ini akan meledak.”
“Makanya papa cukup diam saja. Ikuti aturan mainku kalau papa tak berani melakukan apa pun.”
“Papa bukan tidak berani… tapi papa harus memikirkan dulu segala sesuatunya sebelum bertindak.”
“Mikir papa itu kelamaan, tidak praktis. Papa itu tidak berani ambil resiko. Papa seperti pengecut saja.”
“Apa kau bilang sayang?.”
“Iya papa seperti pengecut, tidak berani melakukan sesuatu untuk memperjuangkan cinta kita.”
“Hei sayang… papa tidak mau bertindak gegabah makanya papa harus pikirin dulu baik-baik sebelum melakukan sesuatu.”
“Aku gak mau papa banyak mikir lagi… kalau papa masih mikir-mikir lagi… aku mau kabur lagi aja!”
“Hei… no.. no… baby… hati-hati dengan ucapanmu ya.. awas aja kalau kau kabur lagi!.” Kata Jodi dengan penuh penekanan.
“Makanya papa jangan banyak mikir!.” Ucap kesal Berlian.
“Ok… ok… terserah kamu! Papa ikut cara main kamu! Puas!.”
“Hehe… nah begitu dong. Baru itu namanya calon suami yang baik.” Kata Berlian mendekat ke arah Jodi seraya melempar laptop yang berada di atas pangkuan Jodi ke atas tempat tidur. Kemudian ia naik ke atas pangkuan Jodi.
“Hei… kenapa kau lempar kasar laptop itu, kau tahu papa sedang bekerja.”
“Tinggalkan dulu pekerjaannya sebentar.” Kata Berlian lantas mendaratkan bibirnya pada bibir kokoh itu. Lama sekali gadis itu menyesap bibir lelakinya, hingga Lelaki itu terbawa suasana.
“Kau tahu sayang? Di hadapanmu aku benar-benar lemah.” Kata Jodi seraya memandangi gadis itu sembari membelai rambut panjangnya.
“Ya aku tahu. Papa tidak cukup berani untuk melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaanku. Dan aku sangat mengerti itu. Karena hubungan kita berawal dari hubungan ayah dan anak, pasti itu membuat papa merasa canggung pada keluargaku. Karena itu biar aku yang memutar otak untuk masalah ini. Papa cukup diam saja.” Ucap gadis itu seraya memandang mesra lelakinya.
“Hehe… ini benar-benar aneh sayang… papa masih tidak percaya akan semua ini. Terkesan lucu sekaligus menyenangkan.” Jodi membalas pandangan sendu itu dan membelai wajah cantik itu.
“Hanya kau yang bisa membuat aku bahagia. Aku tidak perduli dengan apa yang mereka katakan, asal aku selalu bersamaku, itu sudah cukup bagiku.” Gadis itu membenamkan wajahnya pada ceruk leher lelakinya.
“Kau tahu? Jika ada lelaki yang paling bahagia di dunia ini, tentu aku lah orangnya. Betapa beruntungnya aku bisa memilikimu. Betapa indahnya Tuhan dalam memperlakukan aku, dimana Dia membiarkan aku menjaga jodohku sedari ia kecil hingga saat ia siap aku peristri. Bukan kah itu hal yang menakjubkan yang Tuhan persembahkan untuk kita?.” Ucap Jodi.
“Iya benar… Tuhan begitu indah dalam memperlakukan kita.” Kata gadis itu seraya mengecup kembali bibir lelakinya kemudian ia bangkit dari atas tubuhnya dan kembali mengemasi barang-barang milik dirinya dan lelakinya.
Sementara Jodi memperhatikan pergerakan gadisnya itu dengan tatapan penuh kasih dihiasi senyuman menawannya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Pantau terus ceritanya ya gais🥰
__ADS_1
Di episode-episode selanjutnya tentunya akan lebih seru😍
Terima kasih😘