
Waktu bergulir kian cepat melipat hari berganti minggu.
Kehidupan yang Berlian jalani bersama suami dan keluarga begitu bahagia mereka rasakan. Dari hari kehari selalu di isi dengan tawa dan suka cita.
Hari ini tepat usia kandungan Berlian 7 bulan. Acara 7 bulanan kandungan Berlian baru saja selesai di gelar.
Semua keluarga berkumpul di rumah mewah itu. Dan tanpa mereka duga tamu tak di undang datang ke acara mereka di saat acara telah selesai.
Alfredo datang sore itu dengan membawa buket bunga. Semua keluarga terkejut dengan kedatangan dokter itu. Mereka tak pernah menduga kalau dokter itu akan datang walau tanpa di undang.
“Anda datang dokter?.” Tanya Jodi heran.
“Iya tuan Jodi. Meski anda tidak memberitahu saya, tapi saya tahu kalau hari ini anda tengah mengadakan acara 7 bulanan kandungan istri anda.” Jawab santai Alfredo.
Alfredo menatap Berlian yang tengah berdiri di samping Jodi.
Jodi dan Riksa mulai curiga dengan kedatangan Alfredo yang mendadak. Begitu pun dengan apa yang di rasakan oleh keluarga lain. Mereka begitu khawatir akan kedatangan dokter aneh itu.
Dan benar saja, tanpa di duga-duga secepat kilat Alfredo menarik tangan Berlian, tangan kirinya ia lingkarkan pada leher Berlian dan tangan kanannya menodongkan suntikan pada perut Berlian.
Sontak membuat semua orang panik termasuk Jodi yang hanya berdiri kira-kira berjarak dua meter di hadapan Alfredo yang tengah menodong Berlian.
“Apa yang kau lakukan Alfredo! Lepaskan istriku!.” Sentak Jodi.
“Jangan membentakku seperti itu tuan Jodi jika anda ingin istri dan anak anda yang berada di dalam kandungan ini selamat.” Ucap santai Alfredo.
“Hei kau datang tiba-tiba dan langsung menodongkan suntikan itu pada cucu saya! Apa maksudmu dokter?.” Kata Budi.
“Hiks… papa… aku takut.” Lirih Berlian tepat dihadapan Jodi dengan tubuh Alfredo dibekangnya.
“Tenang sayang… tidak akan terjadi apa-apa padamu. Ada papa disini.” Jodi menenangkan sang istri.
“Apa yang kau inginkan Alfredo!.” Kata Jodi.
“Saya hanya menginginkan istri anda!.”
“Apa kau gila! Dia sedang hamil jangan kau lakukan apa pun padanya. Jika terjadi sesuatu pada istriku dan anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!.”
“Tenang saja, saya tidak akan melakukan apa pun pada istri anda Tuan Jodi. Saya hanya ingin mengajaknya jalan-jalan.”
“Apa maksudmu? Jangan macam-macam denganku Alfredo! Lepaskan istriku!.” Teriak Jodi yang sudah mulai tersulut emosi.
Jodi maju beberapa langkah, namun Alfredo sepertinya tidak main-main. Terlihat Alfredo hendak menusukkan jarum suntuk itu tepat di perut Berlian.
“Saya tidak main-main tuan! Apa yang akan saya suntikan pada istri anda dan jabang bayinya tentunya akan membuat mereka hilang seketika. Sekarang biarkan saya membawa istri anda. Dan tolong anda menjauh dari saya.” Kata Alfredo seraya perlahan membawa tubuh Berlian.
Berlian mengikuti langkah mundur Alfredo demi menghindari jarum suntik yang menempel di perutnya.
“Hiks papa… aku takut…” Lirih Berlian meminta tolong pada suaminya.
Namun suami dan seluruh keluarga yang berada di sana tak mampu melakukan apapun karena khawatir akan jarum suntik yang ditodongkan terhadap perut Berlian itu akan benar-benar di suntikan oleh Alfredo pada perut Berlian.
“Tenang sayang… kamu jangan bergerak, papa pasti akan menyelamatkanmu.” Hibur Jodi pada istrinya meski pun dirinya sangat khawatir akan kondisi istrinya.
“Alfredo. Tolong lepaskan istriku. Kita bisa bicara baik-baik. Aku mohon Alfredo, dia sedang mengandung, jika aku dan istri ku pernah melakukan kesalahan pada anda, kami mohon maaf. Apa yang sebenarnya terjadi Alfredo? Mari kita duduk bersama, kita selesaikan baik-baik. Tolong jangan bawa pergi istriku. Aku dan anakku sangat membutuhkan dia.”
“Benarkah apa yang anda katakan itu tuan Jodi? Anda membutuhkan dia? Ya… anda membutuhkan dia hanya untuk tujuan tertentu. Anda itu lelaki jahat yang telah merusak masa depan gadis belia. Anda lelaki bejat yang memanfaatkan kepolosan anak di bawah umur menjadikan dia budak nafsu anda.”
__ADS_1
“Apa yang kau katakan Alfredo! Kami saling mencintai. Tahu apa kamu tentang perasaan kami hah!.” Ucap kesal Jodi.
Namun tiba-tiba saja, Riksa mendekat pada Jodi dan Berbisik. “Boss dia dokter gila. Jangan Boss layani kata-katanya karena tidak akan bener. Kita ikuti saja apa maunya.”
“Kau jangan ikut campur asisten!.” Kata Alfredo.
“Semua urusan Boss akan menjadi urusan gue Alfredo! Jadi elo jangan pernah macam-macam!.” Balas Riksa.
“Boss tenang saja. Kita ikuti aturan mainnya.” Sambung Riksa.
“Bagaimana mungkin gue membiarkan istri gue di bawa sama dia Rik. Gue khawatir dia akan melakukan hal yang tidak-tidak.”
“Saya harap semuanya jangan ada yang bergerak! Atau melapor pada polisi, jika itu terjadi! Kalian siap-siap saja kehilangan wanita ini dan bayinya!.” Kata Alfredo mengingatkan semua orang yang berada di sana.
Alfredo terus berjalan mundur membawa Berlian dihadapannya yang tampak ketakutan dengan tangisannya. Matanya terus menatap Jodi memohon pertolongan. Namun Jodi lagi-lagi tak mampu melakukan apapun, karena ia tak mau gegabah dalam bertindak.
Hingga sampailah Alfredo keluar gerbang sementara Jodi terus mengikutinya dengan terus memohon pada Alfredo agar ia melepaskan istrinya.
Di luar gerbang rumah mereka sudah menunggu van warna putih, Alfredo naik kedalamnya membawa Berlian. Dan mobil itu melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Bergegas Jodi memanggil Riksa yang sudah membawa kendaraannya untuk menyusul van yang membawa istrinya itu.
Seisi rumah menjadi tegang, seluruh keluarga terlihat panik tidak terkecuali Jodi yang sudah masuk kedalam mobil yang di kendalikan oleh Riksa.
Mobil Jodi mengejar van itu dari belakang. Dengan kondisi kacau ia menghubungi tim nya untuk mengerahkan seluruh anggota tim nya mengepung jalan dan menghadang van yang membawa istrinya.
“Rik cepat kejar dokter gila itu!.”
“Baik Boss.”
Entah sudah berapa lama mereka mengejar van itu yang semakin jauh hingga terlihat van itu berhenti di depan sebuah gedung.
Gedung yang terlihat baru selesai pembangunannya dan siap pakai.
Masih terlihat pada pandangan Jodi, Alfredo membawa Berlian keluar dari dalam van itu dan membawa masuk kedalam gedung itu di ikuti oleh dua orang yang sama-sama keluar dari dalam van itu.
Kendaraan Jodi terus mengejar hingga mobil yang membawanya berhenti mengikuti van itu. Bergegas ia keluar dari mobil dan masuk kedalam gedung mengikuti jejak Alfredo yang membawa istrinya.
Sementara Riksa memeriksa van yang telah kosong itu, dan menghubungi tim nya untuk datang ke gedung tersebut.
Jodi terus mencari jejak Alfredo yang membawa istrinya di dalam gedung itu. Gedung itu terlihat masih kosong, belum nampak banyak furniture hanya ruangan-ruangan kosong yang berjajar menyerupai ruangan kantor.
Ia bingung karena jejak Alfredo tak dapat ia temukan, ia masuk ke setiap ruangan namun tak ia temukan Dokter gila yang membawa istrinya itu.
Keringat yang sudah membasahi wajah dan pakaiannya tak ia hiraukan. Di dalam pikirannya hanya bayangan istrinya yang membutuhkan dirinya.
Jodi terus berlari mencari kesetiap ruangan dari lantai dasar ke lantai lainnya. Hingga feelingnya mengarahkan ia pada area lif.
Bergegas ia mencari letak lif, terlihat lif di ujung sebelah kiri dan ia lari kearah lif itu. Benar saja terlihat ada pergerakan menuju lantai paling atas dan ia mencoba masuk ke dalam lif di sebelahnya memijat tombol untuk menuju lantai paling atas.
Di dalam lif ia menghubungi Riksa agar mengikutinya kelantai atas. Dalam kebimbangannya ia kesal menunggu begitu lama pintu lif itu terbuka.
“Sialan kau Alfredo! Akan ku bunuh kau jika terjadi sesuatu pada istri dan putraku!.” Teriak Jodi memukul-mukul pintu lif itu.
Hingga akhirnya lif itu membawanya sampai di lantai teratas gedung itu. Bergegas Jodi keluar dari lif itu mencari jalan keluar untuk mencari pintu kearah rooftop. Karena feelingnya merasakan kalau istrinya di bawa Alfredo ke atas rooftop.
Setelah sekian lama ia mencari. Akhirnya ia menemukan pintu yang mengarah ke atas rooftop. Ia berlari dengan sekuat tenaga untuk mencapai pintu rooftop itu.
__ADS_1
Pada saat ia membuka pintu itu, dengan nafas yang tersengal ia melihat pemandangan di hadapannya, nampak Alfredo yang membawa istrinya sudah naik kedalam helikopter yang sudah siap terbang meninggalkan gedung itu.
Sekuat tenaga Jodi mengejar hendak melompat untuk meraih bagian bawah helikopter itu, namun tangannya tak dapat meraih karena helikopter itu sudah semakin naik.
Di dalam helikopter yang terbang diatas kepalanya, ia masih dapat melihat wajah Alfredo yang tersenyum padanya dengan melambaikan tangannya. Ia pun dapat melihat wajah istrinya yang menangis memandang kearahnya.
“Anjing kau Alfredo!! Kembalikan istri gue!!.” Teriak Jodi dengan mata yang memerah menahan amarah memandangi Helikopter yang semakin terbang menjauh.
Terlihat Riksa dan beberapa orang tim nya mendekat ke arah Jodi yang sama-sama memandangi helikopter yang semakin menjauh pergi.
“Cari tahu heli itu milik siapa?! Dan lihat pada pusat radar kemana heli itu pergi.” Teriak Jodi seraya berlari meninggalkan rooftop itu. Diikuti oleh Riksa dan beberapa orang tim nya.
“Kita ke markas!.” Titah Jodi pada Riksa dan tim nya, kemudian, “Rik. Hubungi orang rumah, katakan kita tidak pulang karena akan melakukan pelacakan di markas. Ceritakan juga semua yang telah terjadi disini pada keluar di rumah.” Sambung Jodi dengan tatapan kosongnya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Kemudian setelah Jodi keluar dari dalam gedung itu, ia masuk kedalam mobil yang dikendalikan Riksa dan mobil itu pun berlalu meninggalkan gedung itu di ikuti oleh tiga mobil tim nya di belakang.
Di dalam mobil, Jodi diam seribu bahasa. Tatapannya kosong kedepan dan terlihat tetesan bening keluar dari sudut pipi kirinya.
Ia seka air mata itu dengan punggung tangannya,
“Bener apa kata elo Rik. Dia memang dokter psikopat. Apa sebenarnya yang dia mau dari istri gue? Kenapa gak dia cari cewek lain saja! Kenapa harus istri gue?. Anjing memang kau Alfredo!.” Geram Jodi mengeratkan giginya dengan tangan yang mengepal.
“Dia datang tak diduga-duga. Gerakannya sangat cepat pada saat narik tangan Istri Boss.”
“Tadi Juga gue udah mau narik istri gue Rik tapi dia keburu nodongin suntikannya. Gue khawatir suntikan itu kena perutnya karena jarumnya udah nancap di baju istri gue. Gue gak bisa gegabah.”
“Tenang Boss. Kita atur strategi. Kita bagi tim kalau udah sampai markas nanti.”
“Oya? Bagaimana orang rumah? Udah elo telepon?.”
“Udah. Pak Budi dan pak Ferry berharap kita dapat membawa istri Boss pulang. Sementara ibu Eva dan bu Irma katanya lagi menunggu bu Delima karena pingsan.”
‘Oh Tuhan… lindungilah istriku. Lindungilah kandungannya. Aku sangat mengkhawatirkannya. Jaga ia ya Tuhan…Aku tak dapat membayangkan seandainya istriku di bawa ketempat asing. Dia tidak bisa jauh dariku.” Bathin Jodi.
Meraung bathin Jodi dalam diamnya. Lemas tubuhnya kala ia membayangkan wajah istrinya pada saat terakhir kali memandanginya di dalam heli yang terlihat begitu sedih dan hancur.
Hingga akhirnya waktu membawa mereka telah sampai pada markas tempat tujuan mereka. Jodi langsung bergegas turun dari dalam mobilnya memerintahkan semua anggotanya.
“Riksa! Tolong bagi-bagi tugas pada semua anggota tim!.”
“Siap Boss!.”
Jodi berlalu kedalam ruangannya sementara Riksa mengumpulkan semua tim nya untuk membagi tugas mereka.
Saat itu juga Riksa langsung melakukan meeting darurat dengan anggotanya. Ada yang ditugaskan untuk meretas nomor ponsel Alfredo dan melacak titik koordinatnya. Kemudian ada yang di tugaskan untuk mencari data-data Alfredo dan seluruh keluarganya. Ada juga yang ditugaskan untuk mencari informasi siapa pemilik helikopter yang digunakan Alfredo dan beberapa tim di tugaskan menghubungi pusat radar penerbangan untuk melacak kemana helikopter itu membawa mereka pergi.
Hari itu di markas tepatnya di ruangan lab komputer, mereka benar-benar sibuk dengan aktivitas darurat yang mereka lakukan. Sementara Jodi di dalam ruangannya terpaku menundukkan kepalanya dengan kedua tangan meremas kasar rambutnya.
‘Kau tidak bisa kemana-mana membawa istri dan putraku Alfredo! Aku bersumpah akan menemukanmu meski kau bersembunyi di lubang semut sekalipun!.’ Geram Jodi.
Terlihat Jodi sedikit lebih tenang dalam menghadapi masalahnya. Ia benar-benar melakukan persiapan yang matang untuk melakukan pencarian pada istrinya. Karena yang mereka hadapi adalah dokter psikopat yang langkahnya bisa saja akan mencelakai istri tercintanya itu. Meski terlihat bahwa dokter itu mudah ia hadapi tetapi ia tidak bisa main-main dalam melakukan perlawanan padanya.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gais🥰
Makasih😘
__ADS_1