
Siang itu cuaca di ibu kota begitu terik. Itu sebabnya mungkin Jodi terlihat sedikit pucat dan merasa lelah di dalam mobil. Ia duduk pada Jok belakang karena pada Jok depan Riksa di temani oleh kekasihnya Maurin.
Riksa bersama Maurin mengantar Jodi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
Tak menunggu waktu lama akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit. Riksa dan Maurin langsung membawa Jodi pada salah satu ruangan.
“Tunggu di sini sebentar ya Boss, gue sama Maurin mau menghubungi dokter dulu, kebetulan dia teman gue dulu waktu sekolah.” Kata Riksa seraya berlalu bersama Maurin meninggalkan Jodi di sebuah ruangan.
Selang beberapa waktu Riksa dan Maurin kembali membawa seorang dokter muda yang bernama Richard.
“Ini Boss gue chard! Tolong elo periksa.” Kata Riksa pada dokter muda itu.
“Ok. Keluhan nya apa?.”
“Tadi pagi Boss gue ini mimisan, padahal sebelumnya dia gak pernah kayak gitu.”
“Oh. Ya sudah gue periksa sekarang ya.” Kata dokter muda itu yang langsung menangani Jodi di ruangan tersebut.
Dengan telaten dokter muda itu melakukan pemeriksaan fisik pada Jodi sembari menanyakan hal-hal yang dirasakan oleh Jodi.
“Apa tuan sering merasa lelah? Dan sakit pada sendi-sendi?.” Tanya dokter muda itu.
“Ya akhir-akhir ini saya sering merasa lelah dok mungkin karena aktivitas saya yang cukup menguras otak saya. Kadang juga saya merasakan persendian sakit.” Jawab Jodi.
“Baiklah.” Kemudian dokter muda itu memeriksa bagian-bagian tubuh Jodi. Dan terlihat ia begitu memahami hasil diagnosanya.
Setelah dokter itu memeriksa Jodi, kemudian ia mengajak Jodi berbicara di temani Riksa dan Maurin yang kala itu berada di dalam satu ruangan bersama mereka.
“Setelah saya memeriksa fisik tuan Jodi, dan melihat ada beberapa ruam dan bintik merah juga kulit yang memucat, saya mendiagnosa anda untuk sementara, saya menduga bahwa anda terkena leukemia tuan.”
Sontak membuat Jodi dan Riksa juga Maurin terkejut.
“Apa dok!! Leukemia??!.” Jodi membulatkan matanya.
“Iya tuan di lihat dari kondisi anda saat ini saya mencurigai anda terkena leukemia. Tetapi tuan jangan khawatir karena itu baru diagnosa awal, dan perlu di lakukan memeriksakan lanjutan. Mungkin nanti kami akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan hasil dari diagnosa kami.”
Lemas hati Jodi kala dokter muda itu menyampaikan hasil diagnosanya. Yang ia tahu bahwa leukemia adalah penyakit yang bukan main-main, leukemia dengan nama lain adalah kanker sel darah putih yang merupakan penyakit serius.
Leukemia adalah penyakit yang terjadi ketika sel kanker di temukan di dalam darah dan sumsum tulang. Kondisi ini disebabkan oleh produksi sel darah putih abnormal atau terlalu banyak. Oleh karena itu, penyakit ini juga kerap disebut dengan kanker sel darah putih.
Sel abnormal ini menghalangi kerja sel darah putih dalam melawan infeksi serta merusak kemampuan sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah merah dan trombosit yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal tersebut dapat menyebabkan masalah serius pada tubuh seperti anemia, pendarahan dan infeksi.
__ADS_1
Bahkan leukemia dapat menyebar ke organ lainnya, sehingga menimbulkan pembengkakan atau nyeri di area tertentu.
Begitulah dokter muda itu menjelaskan mengenai penyakit yang ia diagnosa secara rinci. Tentu saja membuat Jodi, Riksa dan Maurin terkejut mendengar penjelasan dokter itu.
Sesaat mereka hening, Jodi terdiam dengan segala pikiran yang muncul di dalam kepalanya. Ia begitu syok mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan oleh dokter muda itu padanya.
Ia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan menderita penyakit yang serius.
“Tapi tuan tenang saja. Nanti kita akan melakukan, tes darah, tes sumsum tulang dan tes pencitraan. Hanya saja tidak bisa di lakukan sekarang untuk melakukan serangkaian tes itu, mungkin yang dapat di lakukan hari ini hanya tes darah saja, dan tes lainnya kita lakukan besok, bagaimana tuan?.” Pertanyaan dokter muda itu menggugah lamunan Jodi.
“Mh.. dokter, bagaimana jika lusa saja melakukan tes nya, karena hari ini saya akan menemui istri saya dulu di luar kota, setelah saya kembali baru kita lakukan tes nya.” Kata Jodi.
“Baik tuan. Lusa saya tunggu anda untuk melakukan serangkaian tes di rumah sakit ini. Hanya saran saya, tuan tidak perlu syok dengan diagnosa saya karena setiap penyakit ada obatnya, jadi tuan harus optimis bahwa tuan akan baik-baik saja. Justru yang akan membuat kita drop itu karena pikiran kita tuan. Jadi saya sarankan, tuan tidak perlu khawatir, kalau pun benar tuan mengalami leukemia, saya akan mengobati anda sampai tuntas.” Jelas Richard.
“Baik dokter. Saya akan berusaha untuk tidak memikirkan penyakit saya ini.” Jawab Jodi dengan segala pertanyaan yang menggelayuti pikirannya.
“Baiklah. Kalau begitu mungkin pertemuan kita cukup sampai disini dulu. Lusa saya tunggu anda di sini ya tuan Jodi. Dan mungkin sekarang saya hanya akan memberikan resep beberapa vitamin yang harus di minum sampai lusa setelah kita memastikan penyakit yang sebenarnya.” Jelas dokter Richard.
Akhirnya mereka pun mengakhiri pertemuannya diruangan itu.
Riksa dan Maurin membawa Jodi masuk kedalam mobilnya.
Didalam perjalanan Jodi terlihat diam membisu. Entah apa yang di pikirkannya. Tentunya ia tengah merasakan ketidak percayaannya akan kenyataan yang terjadi pada dirinya.
“Gak nyangka gue bisa kena leukemia.” Dengus Jodi.
“Tapi kan itu baru diagnosa Boss. Mudah-mudahan diagnosa si Richard salah.” Riksa berusaha membesarkan hati Jodi.
“Salah atau benar diagnosanya. Yang jelas memang gue merasakan gue kurang vit akhir-akhir ini Rik.”
“Boss kenapa gak ngomong sih?.”
“Ya gue kira gue cuma kecapekan saja Rik. Gak tahunya ada penyakit serius. Gue sedikit syok karena gue gak nyangka aja sih Rik. Oya Rik, Rin? Gue minta sama kalian tolong jangan bilang sama Istri dan keluarga gue, kalau gue sakit ya? Gue takut jadi pikiran mereka, apalagi istri gue kan masih amnesia, takutnya jadi tambah ganggu ingatannya.”
“Iya Boss, tenang aja. Gue sama Maurin akan jaga ini.” Jawab Riksa, kemudian, “Awas ya kamu hati-hati! Jangan sampai keceplosan nanti!.” Kata Riksa pada Maurin.
“Iya.” Jawab Maurin pendek dengan wajah sedihnya, karena ia membayangkan betapa sedihnya kenyataan yang dialami temannya itu, bahwa temannya yang hilang ingatan ditambah lagi suaminya yang alami penyakit serius sementara anak mereka masih kecil-kecil.
“Rik. Kita langsung ke perkebunan aja ya? Gue kangen sama anak dan istri gue.” Lirih Jodi.
“Siap Boss.”
__ADS_1
Riksa pun merasakan hal yang sama. Ia tidak pernah menyangka kalau Boss nya yang terlihat sehat ternyata mengidap penyakit serius. Meskipun itu hanya baru diagnosa dokter saja, tapi ia pun tak bisa meremehkan hasil pemeriksaan dokter temannya itu. Karena bukan alasan untuk tidak mempercayai diagnosa seorang dokter, yang tentunya pemeriksaan itu dilakukan berdasarkan ilmu yang di dapatnya bukan sebab asal-asalan. Apalagi Riksa sangat hafal betul dengan temannya itu yang di kenal dengan dokter muda berprestasi.
................
Sementara itu nun jauh disana. Di suatu tempat yang bernama kota P, nampak Alfredo tengah berada di dalam ruangan sebuah rumah sakit.
Segala usaha yang ia lakukan untuk mencari keberadaan Berlian di kota itu tak membuahkan hasil. Berlian tak juga ia temukan hingga ia menduga bahwa Berlian mungkin saja sudah kembali ke rumahnya, entah bagaimana pun caranya. Begitu yang kini ada di dalam pikirannya.
Tapi yang jelas ia masih menduga kalau Berlian belum lah sembuh dari hilang ingatannya. Karena sebagai seorang dokter ahli saraf tentulah ia sangat tahu betul kalau kondisi orang yang mengidap amnesia tak mudah dapat sembuh dengan begitu saja. Minimal perlu di lakukan pengobatan secara berkala selama berbulan-bulan.
Tapi walau pun demikian ia tetap saja khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan bahwa Berlian akan melakukan tindakan yang tidak di inginkannya.
“Al ayo kita makan siang.” Kata-kata Andre temannya menggugah lamunannya.
“Eh Dre. Ayo.” Balas Alfredo yang kemudian berdiri menghampiri Andre yang berdiri di depan pintu.
“Kamu gak apa-apa kan?.” Tanya Andre yang melihat tingkah Alfredo sedikit berbeda meski ia tahu penyebabnya, pasti karena kehilangan Berlian. Tapi ia harus tetap berpura-pura seolah ia tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi pada temannya itu.
“Gak Dre aku hanya sedikit kurang bersemangat aja hari ini?.” Jawab malas Alfredo.
“Loh kenapa?. Ada masalah?.”
“Gak ada.”
“Ya terus kenapa kamu gak seperti biasanya?.”
“Entahlah.”
“Kalau kamu ada apa-apa kamu cerita saja sama aku.” Ujar Andre basa basi.
“Beneran gak ada apa-apa kok.”
“Ya sudah kalau begitu.”
Lalu keduanya berlalu ke kantin rumah sakit untuk makan siang.
Andre melihat Alfredo tidak begitu menikmati makanannya, ia tahu penyebabnya namun ia tak ingin banyak bertanya karena ia tahu jawaban Alfredo pasti akan mengelak dari masalah yang sebenarnya terjadi.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya tersayang🥰
__ADS_1
Terima kasih😘😍