
Dosen lelaki bertubuh kurus yang akan mengisi mata kuliah di ruang kelas Berlian menyuruh ke tiga pria tampan itu pergi. Kemudian memanggil Berlian ke kantornya.
Setelah sampai di kantornya dosen tersebut mempersilahkan Berlian duduk.
Dosen mata kuliah ekonomi makro yang bernama pak Trisno itu berkata, “Apa yang kamu lakukan pada mereka?.”
“Saya hanya membela diri pak. Mereka yang duluan cari gara-gara. Kenapa bapak cuma memanggil saya? Bukannya mereka yang nyerang saya duluan?.”
“Sebentar Berlian, maksud saya memanggilmu karena ingin berterima kasih padamu Berlian.”
“Apa? Berterima kasih? Untuk apa pak?.”
“Karena kamu telah memberi pelajaran pada mereka. Kamu tahu? Di kampus ini seorang pun tidak ada yang berani pada mereka, termasuk dosen. Karena orang tua mereka sangat berpengaruh dan menjadi donatur tetap di sini.”
“Oh begitu. Pantas saja semua orang mendewakan mereka.”
“Iya Berlian, mereka memiliki kekuatan yang besar di kampus ini, sedikit saja kami melakukan kesalahan pada mereka, itu akan mengancam masa depan kami. Makanya tolong kerjasamanya. Apabila siapa pun bertanya, katakan saja saya memanggilmu untuk menghukum kamu.”
“Baik pak. Bapak jangan khawatir. Saya akan mengatakan pada mereka seperti apa yang bapak katakan tadi.”
“Baik Berlian. Terima kasih atas kerjasamanya. Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan. Sebentar lagi saya akan masuk membawakan mata kuliah ekonomi makro.”
“Baik pak. Saya permisi.”
Kemudian Berlian meninggalkan ruang kantor pak Trisno dan kembali ke ruang kelasnya.
Di dalam ruangan Berlian di sambut Maurin yang terlihat penasaran dan ingin segera menanyakan yang terjadi pada Berlian,
“Berlian! Apa yang terjadi padamu? Apa kau dihukum?.”
“Memangnya aku penjahat sampai harus di hukum segala!.”
“Biasanya kalau orang sudah berurusan dengan ketiga orang itu pasti ujung-ujungnya di hukum.”
“Aku bener-bener tidak mengerti Maurin, apa sih sebenarnya tujuan mereka ngerjain aku.”
“Karena kamu melawan mereka Berlian. Makanya kemarin aku suruh kamu diam saja gak usah lawan mereka, karena ujung-ujungnya akan seperti ini.”
“Oh pantas saja.”
Kemudian terlihat pak Trisno masuk dan siap memberikan materi yang akan ia sampaikan. Dan mereka semua pun Menyimak apa yang di sampaikan oleh dosen tersebut.
*
Sementara itu di sebuah gedung kantor, nampak Jodi tengah sibuk di depan laptop di ruangannya. Kemudian Riksa masuk hendak menyampaikan sesuatu yang penting.
“Boss tadi seorang pengusaha yang bernama tuan Dae jung menghubungi kita. Dia orang Korea yang sudah lama menetap di Indonesia karena beristrikan orang Indonesia. Perusahaannya menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita.”
“Ya sudah.. segera buat janji dengan beliau Rik.”
“Siap Boss.” Kemudian Riksa merogoh ponselnya dari saku celananya dan menghubungi asisten tuan Dae Jung.
Setelah selesai menghubungi mereka, kemudian
“Mereka mengagendakan waktu pertemuan dengan kita malam minggu Boss, bagaimana?.”
“Ok. Siap! Dimana?.”
“Di hotel A Boss. Jam 20.00 WIB.
“Ok.”
Kemudian Jodi melanjutkan aktivitas kantornya, sementara Riksa hendak kembali keruangannya, tapi baru saja ia akan beranjak, ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk. Dan ia pun menerima panggilan ponselnya.
“Hallo kak Riksa. Setengah jam lagi jemput aku ya? Kuliah nya sebentar lagi selesai.” Suara di balik ponsel.
“Baik Nona, segera saya berangkat.”
“Ada apa?.” Tanya Jodi
“Nona minta di jemput Boss, kuliahnya sudah selesai.”
“Ya sudah jemput dia dan bawa pulang ke sini.”
“Siap Boss. Saya permisi dulu.” Riksa pun meninggalkan ruangan Boss nya menuju halaman parkir gedung kantor.
*
Sementara itu di kampus, Berlian telah selesai mengikuti mata kuliahnya dan berlalu meninggalkan ruangan bersama Maurin menuju taman kampus.
Di taman kampus mereka duduk pada sebuah kursi menunggu jemputan sambil berbincang.
__ADS_1
“Kamu mau langsung pulang Berlian?.”
“Iya, kalau kamu?.”
“Kalau aku pengennya sih maen dulu soalnya masih siang. Tapi maen sendiri gak asik.”
“Memang nya kamu biasa maen kemana Maurin?.”
“Ya paling ke mall, eh Berlian bagaimana kalau kita maen ke mall dulu yuk?.”
“Aku harus minta ijin papa dulu Rin.”
“Ya sudah. Ayo kamu telepon papamu, katakan kamu mau ke mall dulu sama aku.”
“Ok… aku telepon papaku dulu ya?.”
Kemudian Berlian menghubungi Jodi.
“Hallo sayang? Ada apa?.” Suara Jodi di balik ponsel.
“Papa.. aku mau minta ijin.”
“Ijin apa sayang?.”
“Boleh gak aku maen ke mall sama Maurin?.”
“Mau apa ke mall sayang?.”
“Ya mau maen aja papa, kan masih siang.”
“Kita bicarakan di kantor papa ya? Sekarang Riksa sedang menjemputmu sayang.”
“Baiklah.” Kemudian Berlian menutup sambungan ponselnya.
“Maurin, kita ke kantor papaku dulu yuk?.”
“Mau ngapain? Kita langsung saja ke mall, papa mu barusan ngijinin kan?.”
“Belum, aku harus ketemu papa dulu di kantor.”
“Yaelah ribet banget sih, musti harus ke kantor dulu.”
“Hehe.. boleh juga deh.”
Kemudian Riksa menghampiri mereka.
“Eh kak Riksa sudah datang.”
“Mari nona, kata Boss nona harus ke kantor dulu.”
“Baiklah. Ayo Maurin.” Berlian mengajak Maurin menuju kendaraannya dan masuk kedalamnya.
Dan kuda besi yang di kendalikan Riksa pun melaju meninggalkan kampus.
Di dalam perjalanan menuju kantor.
“Kak Riksa.”
“Iya nona ada apa?.”
“Kak Riksa udah punya pacar belum?.”
“Hehe.. Memangnya kenapa Nona?”
“Ini Maurin naksir kakak hehe.”
“Ih Berlian kamu kenapa sih ih.. vulgar banget, gak pake aba-aba dulu.”
“Katanya tadi suruh nanyain, kak Riksa udah punya cewek apa belum.”
“Ya tapi gak gitu juga kali. Aku malu tahu.” Maurin berbisik. Kemudian,
“Gak kak Berlian bohong.” Ucap Maurin menahan malu.
Sementara Riksa tersenyum tipis menanggapi kekonyolan mereka.
Akhirnya mereka pun sampai di gedung kantor Jodi. Kemudian ketiganya memasuki gedung tersebut.
“Wah… ini kantor papamu Berlian?.” Tanya Maurin berdecak kagum memandangi kantor mewah itu.
“Iya Rin. Ayo kita masuk ke ruang kerja papaku.”
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu Berlian masuk keruang kerja Jodi, membawa Maurin di susul Riksa di belakang mereka.
“Papa…” Seru Berlian.
“Sayang.. sudah pulang?.”
“Sudah papa… oya ini Maurin teman aku.”
“Bukannya kamu sudah mengenalkan temanmu itu tadi pagi sama papa Hm?.”
“Hehe… iya. Jadi bagaimana papa?.” Rengek Berlian.
Kemudian Jodi mengisyaratkan pada Riksa dengan tatapannya untuk membawa Maurin keluar dulu.
“Nona Maurin, mari ikut saya dulu ke ruangan saya.”
“Baiklah.” Kemudian Maurin pergi mengikuti Riksa.
Setelah Riksa dan Maurin keluar dari ruangan Jodi. Jodi merentangkan tangannya, “Come to papa, baby…” Bergegas Berlian berlari memeluk Jodi dan naik keatas pangkuannya.
Seperti sepasang kekasih yang baru bertemu, mereka saling mengeratkan pelukannya. Sepertinya Jodi mulai menikmati kehangatan itu.
Kemudian Jodi duduk di atas kursi kerjanya dengan posisi Berlian masih diatas pangkuannya. Mereka saling berhadapan dengan wajah yang hampir menempel.
“Papa..” ucap manja Berlian.
“Mh..”
“Boleh ya? Aku main ke mall bersama Maurin.”
Jodi tidak menjawab, dia hanya terdiam saja sembari memandangi wajah gadis itu dengan senyum tipisnya.
“Ayo lah papa sayang..” Berlian sedikit merayu menempelkan wajahnya pada pipi Jodi.
Namun sepertinya Jodi sengaja tidak menjawab, karena ia masih menikmati kebersamaan itu.
“Papa please…” Rengek Berlian,
“Sayang… sebetulnya papa khawatir melepas kamu main sendiri.”
“Tapi aku kan di temani Maurin papa.”
“Baiklah tapi kalian di dampingi Riksa ya? Dan jangan lama-lama. Jam pulang kerja harus sudah kembali di sini lagi.”
“Baik papa.. makasih papa.” Betapa senangnya Berlian hingga mencium wajah Jodi bertubi-tubi. Dan lagi-lagi Jodi terlihat menikmati itu.
“Baiklah sayang, bersenang-senanglah…” Jodi mengecup kening gadis itu, dan mengambil black card dari laci mejanya lalu menyerahkannya pada Berlian.
“Apa ini papa?.”
“Gunakanlah sesuka hatimu, bukankah kau ingin bersenang-senang dengan temanmu itu?.”
“Apa aku boleh menggunakannya bersama Maurin? Membeli semua yang aku suka papa?.”
“Ya… belilah semua yang kamu suka sayang.”
“Yeah… makasih papa.” Kembali Berlian menciumi wajah Jodi.
“Sudah sayang… ayo sana, kasihan temanmu sudah lama menunggu.”
“Baiklah papa.” Kemudian Berlian turun dari pangkuan Jodi, berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Jodi memandangi wajah ceria itu berlalu dari pandangannya hingga menghilang di balik pintu.
Dengan wajah sumringah Berlian masuk keruangan Riksa. Terlihat Maurin tengah duduk di atas sofa.
“Maurin… ayo kita pergi sekarang.” Berlian menarik Maurin dengan penuh semangat karena ini adalah kali pertama ia keluar tanpa di temani Jodi.
“Baiklah.. ayo.”
“Kak Riksa ayo! Papa nyuruh kakak nemenin kita.”
“Ok.”
Dan mereka bertiga pun berlalu dari ruangan itu menuju kuda besi mereka yang akan mengantarkan mereka di bawah kendali Riksa.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Tinggalkan jejaknya ya Readers tersayang🥰
Makasih🙏🏻
__ADS_1