Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Mandi bareng


__ADS_3

Matahari pagi menyinari seisi bumi di hari minggu yang cerah.


Jodi bangun dari tidurnya, kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri. Setelah menampung air hangat lalu ia membenamkan diri nya ke dalam bathtub.


Begitu pun dengan Berlian yang kala itu terjaga dari tidurnya, ia beranjak dari kamarnya menuju kamar Jodi, entah apa yang akan ia lakukan sehingga membuatnya bergegas menuju kamar om nya itu.


Sesampainya di kamar, ia tak menemukan Jodi, namun ia mendengar gemercik air dari kamar mandi, lalu ia melangkah ke kamar mandi dan perlahan membuka pintunya, nampak dalam pandangannya Jodi tengah berendam di dalam bathtub.


Jodi tersentak kala melihat Berlian tengah memandanginya di depan kamar mandinya, “Sayang.. ada apa? Papa lagi mandi dulu cepat tutup pintunya.” Kata Jodi, lantas Berlian menutup pintu kamar mandi itu tapi dirinya malah masuk ke dalam kamar mandi itu.


“Sayang… ngapain kamu disitu? Keluarlah dulu, papa lagi mandi ini.” Kata Jodi kembali.


“Aku mau mandi sama papa.”


“Apa?! No… No… baby… kau mandilah di kamar mandimu!.” Jodi sedikit gugup.


“Gak mau! Aku mau mandi disini sama papa.”


“Ayo lah sayang… jangan seperti ini.”


“Bukankah dari dulu papa selalu mandi bersamaku?.”


“Lain dulu lain sekarang sayang… dulu kau adalah bayi kecilku.. sekarang kau adalah gadis dewasa. Apa kau lupa? Kau kekasihku.. Kita tidak boleh lagi mandi bersama.”


“Apa bedanya dulu dan sekarang, pokonya aku mau mandi sama papa.” Kata Berlian yang langsung membuka semua pakaiannya. Melihat semua itu Jodi langsung membuang pandangannya walau sepintas lalu, ia melihat dada montok putrinya dan area sensitif lain yang telah di tumbuhi bulu halus membuat jantung Jodi bergemuruh dan berdebar hebat.


Kemudian Berlian masuk ke dalam bathtub itu.



“Hehe…Bukankah dulu kita juga mandi seperti ini papa?.” Kata Berlian cengengesan tanpa dosa.


‘Oh Tuhan… kuatkan lah hambamu ini… entah karena kepolosannya atau memang putriku sengaja ingin menggodaku, sungguh ini cobaan terberat untukku.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya ibunya melihat aku dalam keadaan seperti ini bersamanya.’ Bathin Jodi.


“Sayang… tetap kau di ujung situ ok?.”


“Haha.. kenapa papa terlihat gugup seperti itu?.”


“Sayang pelankan suaramu. Kau tidak mengerti sayang.. Kau sudah dewasa!.”


“Iya terus kalau aku sudah dewasa kenapa papa?.”


“Kita tidak pantas seperti ini, bagaimana kalau orang tahu?!.”


“Gak ada yang akan tahu papa, kita cuman berdua disini dan tidak melakukan apa pun. Kita hanya mandi bersama kan?.”


“Oh sayang… dengar baik-baik! Kau tahu? Ah.. bagaimana papa menjelaskannya padamu…” Jodi terlihat semakin bingung.


“Katakan pelan-pelan saja papa, papa tak usah panik haha.”


“Sayang.. dulu kau adalah putriku, saat aku memandikanmu tak ada perasaan apa pun dalam hatiku.. kini kau telah dewasa, saat kita terlihat seperti ini, jiwa lelaki papa terpancing sayang… jangan sampai nanti papa lupa diri, kau mengerti sayang?.”


“Anggap saja ini ujian buat papa haha.” Kemudian Berlian sengaja mendekati Jodi,



“Stop! Disitu sayang…”


“Papa ini kenapa sih? Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, kenapa papa ketakutan seperti melihat hantu saja.”


“Papa bukan ketakutan! Tapi kau seolah menggoda papa sayang.”


“Aku tidak sedang menggoda papa… papa aja yang merasa tergoda. Papa ini aneh… ayo sini berikan tangannya biar aku bersihkan tangan papa dengan spons ini.” Kata Berlian yang menarik tangan Jodi dan menggosok tangan itu dengan spons.


Jodi terdiam dengan gemuruh dan debaran jantung yang tidak menentu. Setelah Berlian menggosok kedua tangan Jodi, lalu ia memberikan spons itu pada Jodi.

__ADS_1


“Sekarang papa gosok punggungku.” Kata Berlian seraya membalikan tubuhnya, mendekatkan punggungnya pada Jodi untuk menggosoknya dengan spons yang ia berikan tadi.


Perlahan Jodi mulai menggosokan spons itu pada punggung Berlian, “Sayang.. sekarang kau sudah besar. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan kau sudah mulai nakal ya sama papa, hem.” Tanpa sadar Jodi membenamkan dagunya pada pundak Berlian dan mencium ceruk leher gadis itu.


“Papa….” Desah gadis itu dengan sedikit mengangkat kepalanya.


“Mh.. kau suka sayang?.” Bisik Jodi pelan.


“Hm um.”


“Sayang… kita jangan melakukan yang lebih dari ini. Kau paham? Kau belum cukup umur untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Ingat, kau jangan melakukan yang sering kita lakukan dengan lelaki lain, karena papa akan marah padamu.” Bisik Jodi dengan bibir yang menempel pada telinga gadis itu.


“Baik papa.” Jawab Berlian mengarahkan pandangannya pada wajah lelaki di belakang tubuhnya.


“Sekarang, ayo selesaikan mandinya. Kita sarapan.” Kata Jodi, dengan sekuat tenaga menahan hasrat yang menggodanya.


Kemudian mereka menyelesaikan ritual mandi bersamanya.


Selesai mandi, Jodi memakai pakaian santainya karena hari itu adalah hari minggu, sementara Berlian pergi ke kamarnya untuk memakai pakaiannya.


Tanpa sengaja Riksa melihat penampakan Berlian keluar dari kamar Jodi dan masuk ke dalam kamarnya hanya dengan mengenakan handuk yang membalut tubuhnya,


‘Hadeh… makin hot aja nih pasangan bucin… udah berani mandi bareng segala halah… siap-siap aja ini mah siaga satu menuju KUA hahay.’ Bathin Riksa yang berjalan menuju ruang makan dan duduk di salah satu kursi yang biasa ia duduk disana.


Tak lama Jodi keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju ruang makan dan duduk di kursi tepat di depan Riksa.


“Boss. Sepertinya gue tadi lihat sekelebat ada orang keluar dari kamar Boss.” Selidik Riksa.


“Ah masa sih? Elo salah lihat kali Rik.” Kata Jodi datar.


“Iya kali ya? Gak jelas juga sih, soalnya tadi gue baru bangun tidur.” Ujar Riksa menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Padahal dia sangat tahu sekali kalau Berlian lah yang keluar dari kamar Jodi.


‘Halah… pake ngeles segala. Jelas-jelas tadi gue lihat bayi gedenya yang keluar dari kamarnya.’ Bathin Riksa.


Tak lama kemudian terlihat Berlian menuruni tangga dan mendekat ke arah mereka.


“Seger bener tuan putri pagi ini.” Goda Riksa.


“Iya dong… kakak gak joging? Biasanya minggu pagi olah raga.”


“Tuh papamu! katanya mau joging bareng tapi malah asik tidur, jadi aja kakak malas kalau harus olah raga sendiri.”


“Iya ya sekarang papa kok jarang olah raga, kenapa pa?.”


“Lagi males sayang, tapi kan setiap bangun tidur papa selalu push up. Sama aja kan?.” Ujar Jodi sembari menyeruput kopinya.


“Oya Boss tadi ada undangan melalui WhatsApp.” Kata Riksa mengalihkan pembicaraan.


“Undangan apa Rik?.”


“Undangan pesta dansa dari salah seorang pengusaha asal Medan. Undangan resminya nanti menyusul.”


“Aku ikut.” Timpal Berlian.


“Kapan acaranya?.” Tanya Jodi kembali.


“Minggu depan. Di ballroom hotel A.”


“Papa aku ikut.” Rengek Berlian.


“Anak sekolah gak boleh datang sepertinya tuan putri.” Ujar Riksa.


“Ah… kak Riksa gitu.. kalau aku gak boleh ikut papa juga gak boleh pergi.”


“Jangan dengerin Riksa sayang… pasti kamu ikut dong.. kan nemenin papa dansa hehe.”

__ADS_1


“Asyiik.” Teriak Berlian kegirangan.


“Sayang nanti siang kita jalan ya?.”


“Kemana papa?.”


“Kemana saja yang kamu suka, tapi kita ke mall dulu belanja bulanan kan biasanya?.”


“Oh iya, aku lupa.”


Kemudian mereka bertiga menikmati sarapannya sembari bersenda gurau.


Sementara itu di sebuah rumah mewah lainnya, nampak Menara tengah menikmati sarapannya di ruang makan. Ibu nya nampak tengah asik di dapur, Menara memperhatikan ibunya yang tengah sibuk.


‘Sebenarnya aku ingin bilang ke mama tentang kelakuan papa dengan Narita. Tapi aku gak tega melihat mama sedih nantinya.. biarlah, aku simpan dulu masalah ini.’ Bathin Menara.


“Ma, papa sampai kapan di luar kota?.” Selidik Menara.


“Sampai beberapa hari kedepan sayang, kenapa?.”


“Gak apa-apa. Cuman heran aja minggu kok masih kerja juga.”


“Papamu kan pengusaha sayang, jadi tidak mengenal hari libur, begitu biasanya.”


“Orang lain libur kok.”


“Tapi papamu beda sayang… kadang hari minggu juga banyak relasinya yang minta bertemu.”


‘Relasi… relasi… relasi apaan? Mama gak tahu aja kalau akhir pekan ini papa sedang menghabiskan waktu bersama pacarku, Cih najis!.’ Bathin Menara.


“Kamu akan merasakannya nanti setelah kamu memegang perusahaan papamu.” Sambung ibunya.


“Oya? Bagaimana acara malam minggu kamu dengan Berlian?.” Tanya ibunya.


“Sukses ma.” Jawab Menara berbohong.


“Syukurlah kalau begitu. Kamu antar dia jam berapa pulang kerumahnya?.”


“Jam 9 ma, itu juga gak sampai rumahnya, karena kebetulan di tengah jalan ketemu sama papanya jadi Berlian ikut di mobil papanya.”


“Terus, kamu pergi kemana lagi abis itu? Kok mama periksa kamar kamu jam 12.00 kamu masih belum pulang?.”


“Ke rumah Arash ma.”


“Yang bener?.”


“Kalau mama gak percaya mama telepon aja noh si Arash nya.” Menara sedikit kesal.


“Hehe.. iya deh mama percaya. Oya mama harap kamu bisa cocok sama Berlian ya sayang?.”


Mendengar kata Berlian, ia jadi mengingat perjalanan semalam saat ia mengambil sosis dan minuman milik Berlian. Tanpa sadar ia tersenyum membayangkan tingkah konyolnya. Dan ibunya melihat itu.


“Hehe.. senyum-senyum sendiri. Ada yang berkesan ya semalam bersama Berlian?.” Goda sang mama.


“Ah mama apaan sih.” Menara yang sedikit kikuk karena ketahuan saat membayangkan kebersamaannya bersama Berlian. Tiba-tiba datang Arash mengusik keakraban ibu dan anak itu,


“Pagi tante.”


“Hey kamu Ar, Tumben pagi-pagi datang.”


“Biasa tante mau diskusi hehe.”


“Yuk! Ke kamar!.” Ajak Menara pada Arash, dan mereka berdua pun berlalu menuju kamar Menara. Sementara sang ibu melihat kepergian mereka dengan senyuman di bibirnya.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹

__ADS_1


Terima kasih buat readers yang sudah meninggalkan tandanya sampai episode ini🥰🥰


__ADS_2