Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Untuk apa uang?! Ayo kita habiskan!


__ADS_3

Di dalam sebuah mall terbesar di ibukota, Berlian dan Maurin begitu senangnya memasuki outlet-outlet yang menjual barang-barang branded.


“Ayo Maurin kita ke toko tas itu!.” Ajak Berlian. “Kita pilih semua yang kita suka.” Sambungnya.


“Apa! Itu kan tas-tas mahal Berlian. Uangku mana cukup!.”


“Ayo… pake uangku saja! Papaku memberikan ini!.” Berlian menunjukan black card pada Maurin.


“Black card!?.” Maurin membulatkan matanya.


“Iya, papaku memberikan ini untuk belanja kita Maurin.”


“Serius Berlian??!.” Maurin masih tidak percaya.


“Iya, makanya aku membawamu ke sini, ayo kita pilih semua yang kita suka Maurin.”


“Nanti papamu marah Berlian.”


“Mana mungkin dia marah padaku, dia yang menyuruhku untuk membeli semua barang yang kita suka. Ayo kita habiskan uang papaku hahaha.”


“Haha.. pasti papamu akan kaget nanti lihat notifikasi di ponselnya.”


“Tidak apa-apa… meskipun kita beli isi seluruh mall ini, uangnya tidak akan pernah habis.”


“Ya sudah… ayo kita bersenang-senang.”


“Ayo yuhuuuu….” Mereka berjingkrak dan memilih beberapa tas yang mereka suka. Sementara Riksa yang mengikuti di belakang mereka, hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah konyol dua gadis itu.


“Untuk apa uang?!… ayo kita habiskan!!!… hahaha.” Betapa senangnya Berlian kala ia mengambil tas-tas dan sepatu juga aksesories branded lainnya.


“Eh.. Berlian! Apa setiap kamu belanja segila ini?!.” Maurin sibuk memilah milih salah satu tas merek kenamaan.


“Tidak Maurin, aku tidak pernah belanja sendiri, segala kebutuhanku dari ujung rambut sampai ujung kaki papaku yang urus semua, ini kali pertama aku belanja sendiri.”


“Oh… pantas saja kamu sampai kalap begini, haha.”


“Ayo… sekarang kita ke outlet pakaian itu.” Berlian menarik tangan Maurin.


“Udah aja yuk Berlian! Kita sudah banyak belanjanya ini?!.”


“Eh mumpung kita bisa bebas seperti ini Maurin, ayo lah..”


“Tapi aku sudah banyak menghabiskan uangmu Berlian.”


“Sudahlah kamu jangan pikirkan itu! Sekarang adalah hari kesenangan kita Maurin.”


Kemudian Berlian mengambil baju-baju yang ia suka. “Ayo Maurin, kamu pilih baju yang kamu suka mumpung gratis haha.”


Akhirnya Maurin pun mengambil beberapa pakaian. Baru kali ini belanja sebanyak ini dan semuanya di tanggung Berlian. Meskipun Maurin juga anak orang kaya tapi tak sekaya Berlian. Ayahnya Maurin adalah seorang pengacara kondang di negara ini.


“Berlian! Aku lapar… ayo kita makan dulu.”


“Iya sebentar… aku mau cari dasi untuk papaku dulu ya?.” Kemudian Berlian berlalu menuju outlet sebelah yang menjual pakaian pria dan Maurin mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


“Hadeh… Berlian! Urusan pakaian papamu biar saja nanti dia atau ibu kamu yang beli sendiri.”


“Gak bisa… papaku kalau mau beli pakaiannya selalu minta aku yang pilih, jadi mumpung kita ada disini, aku juga mau beli buat kebutuhan dia Maurin.” Berlian mengambil beberapa dasi dan beberapa kemeja untuk Jodi juga keperluan lainnya.


“Ok udah semua… ayo kita bayar dulu. Abis itu kita makan.” Kata Berlian dan Maurin hanya geleng-geleng kepala.


Begitupun dengan Riksa yang mengikuti dari belakang mereka, “Hadeh… putri sultan… kayak baru bebas dari penjara aja. Yang gak butuh juga di ambil.” Gumam Riksa.


Setelah Berlian selesai menggeserkan black card nya di meja kasir lalu ia berjalan bersama Maurin ke area food court di mall tersebut.


Berlian sudah duduk bersama Maurin di dalam food court itu, kemudian Berlian memanggil Riksa yang berdiri di depan pintu masuk. “Kak Riksa! Ayo sini.. ikut makan sama kita!.”


“Gak non, saya makan nanti saja! Tugas saya kan menjaga anda.”


“Tapi kan kakak juga punya perut. Kakak pasti lapar dari tadi mengikuti kita terus. Ayo… sini duduk sebelah Maurin tuh. Kalau gak mau, aku bilangin papa ya? Kak Riksa kerjanya gak bener!.” Paksa Berlian.


Dengan berat hati akhirnya Riksa mengikuti perintah nona nya walau di bawah ancaman dan tekanan.


Pada saat mereka tengah menikmati makanannya tiba-tiba ponsel Riksa berbunyi, sudah dapat di pastikan, bahwa itu panggilan dari Jodi.


“Hallo Rik! Gimana mereka?.” Suara Jodi di balik ponsel.


“Aman Boss, mereka sedang makan sekarang.”


“Syukurlah, abis makan langsung bawa putri gue ke kantor ya?.”


“Siap Boss!.”


“Kak Riksa! Papa bilang apa?.” Tanya Berlian dengan mulut penuh makanan.


“Oh.. baiklah. Tapi kita antar dulu Maurin pulang ke rumahnya ya kak?.”


“Eh Berlian gak usah, aku minta sopirku jemput di sini aja, tadi aku sudah telepon dia, biasanya kan dia antar jemput aku ke kampus.”


“Kamu gak apa-apa pulang sendiri Maurin?.”


“Ya gak apa-apa lah Berlian, aku kan sudah biasa. Memangnya kamu, baru bisa maen keluar seperti sekarang ini?.”


“Hehe.. iya deh.”


“Eh ngomong-ngomong, makasih ya Berlian kamu udah beliin aku banyak ini. Aku jadi gak enak.”


“Gak usah ngomong gitu kali Maurin. Anggap aja ini adalah ucapan terima kasih aku sama kamu karena kamu sudah mau menjadi teman baikku.”


“Harusnya aku yang terimakasih sama kamu Berlian.. kamu sudah baik banget sama aku. Bilangin makasih juga sama papamu ya?.”


“Iya nanti aku sampaikan sama papa.”


“Enak banget ya jadi temen kamu Berlian… dapat untung banyak haha.”


“Haha.. bisa aja kamu.” Kelakar mereka bersama. Sementara Riksa hanya mendengarkan saja.


Selama mereka berbincang. Tanpa mereka ketahui, beberapa pasang mata tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.

__ADS_1


Ya siapa lagi kalau bukan Menara dan dua temannya yaitu Yosan dan Arash.


“Sepertinya dia anak orang kaya Yos!.” Kata Menara pada Yosan.


“Iya sih… terus kalau dia anak orang kaya, kita gak jadi bully dia lagi gitu?.” Ujar Yosan.


“Ya gak juga sih.” Jawab Menara.


“Ya terus?!.” Tanya Yosan.


“Tapi memang dia cukup berani juga ya? Dan sepertinya hebat juga ilmu bela dirinya.” Kata Arash.


“Kita cari info tentang bocah itu! Ayo cabut!.” Ajak Menara pada kedua temannya.


Sementara itu setelah Berlian dan Maurin selesai menikmati makanannya, akhirnya mereka meninggalkan mall tersebut.


Di parkiran, Maurin sudah di tunggu oleh supirnya, setelah mereka saling berpamitan, Maurin pergi lebih dulu bersama mobilnya yang di kendalikan oleh supirnya. Sementara Berlian pergi setelah Riksa merapikan semua belanjaan Berlian yang memenuhi bagasi mobil mereka.


Singkat cerita mobil yang yang di kendalikan Riksa sudah sampai di halaman parkir gedung kantor, bergegas Berlian pergi menuju lif,, sementara Riksa mengikutinya dari belakang.


Setelah lif itu mengantarkan mereka ke ruangan Jodi, Berlian memasuki ruangan itu, di dapatinya Jodi tengah duduk di sofa menunggu mereka.


“Papa….makasih.” Berlian langsung menghampiri Jodi dan duduk di atas pangkuannya.


“Sudah selesai bersenang-senangnya sayang?.” Tanya Jodi sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Berlian yang duduk menghadap diatas pangkuannya.


Riksa yang melihat penampakan itu menyunggingkan senyuman disudut bibirnya.


‘Dih.. dasar papa genit… cari kesempatan aja, peluk-peluk.. bentar lagi cium-ciuman nih ya?.” Bathin Riksa.


“Sudah papa.. tapi uang papa habis aku belanjain semua hehe.” Ucap manja Berlian sembari meletakan kedua telapak tangannya pada wajah Jodi.


“Gak apa-apa. Itu kan uangmu juga sayang... Oya kamu belanja apa saja?.” Tanya Jodi seraya membelai rambut panjang gadis itu.


“Semua aku beli papa… gak apa-apa kan?.” Berlian mulai merebahkan kepalanya pada pundak Jodi.


“Gak apa-apa sayang… papa kan sudah bilang tadi… beli semua yang kamu mau.” Jodi mulai merasa tak nyaman karena bibir Berlian sudah nempel pada lehernya.


“Oya tadi juga Maurin titip pesan bilang makasih buat papa.” Cup ia mengecup leher Jodi membuat Jodi merinding.


“Iya sayang… apa dia temang yang baik buatku?.” Jodi menarik nafasnya karena sudah merasakan sesuatu dalam dadanya.


“Iya papa… dia baik sekali dan aku senang berteman dengannya.” Tangan kiri Berlian mulai menyentuk lembut telinga dan leher Jodi membuat dia semakin merasakan getaran aneh.


“Syukurlah kalau dia jadi teman baikmu.” Karena pikiran dan perasaannya sudah berkecamuk, kemudian, “Ayo sayang kita pulang.” Ajak Jodi.


Sepertinya panggilan papa untuk Jodi sudah membuat Berlian terbiasa dan panggilan itu lebih membuatnya nyaman, begitu pun apa yang Jodi rasakan.


Kemudian Jodi dan Berlian berlalu meninggalkan ruangannya di ikuti oleh Riksa di belakang mereka yang sedari tadi memperhatikan kelakuan mereka berdua.


‘Gue rasa ini bukan pasangan papa sama anak… tapi pasangan bucin, hoho.” Bathin Riksa.


*

__ADS_1


Sesampainya di kediaman mereka, Berlian dan Jodi masuk ke kamar mereka masing-masing. Sementara Riksa memanggil beberapa pelayan untuk mengangkut belanjaan Berlian yang ia beli tadi. Kemudian Riksa pun berlalu menuju kamarnya sendiri.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


__ADS_2