Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Yang terpenting kau sudah kembali.


__ADS_3

Benar-benar sunyi suasana yang kini Alfredo rasakan di rumah putih itu. Tak terdengar lagi suara tangisan dari bayi kecil, dan tak ada lagi sosok wanita yang selama ini selalu menemani Alfredo di ruang makan.


Alfredo benar-benar kesepian, ia terus merutuki diri karena kebodohannya tak begitu memperhatikan gerak-gerik tawanannya itu. Ia terlalu percaya diri bahwa ia merasa aman menyembunyikan tawanannya di rumah itu. Ternyata kenyataannya tak seperti apa yang di bayangkannya.


Disaat ia tengah menikmati makanannya yang terasa hambat di lidah, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.


“Hallo Al, kau tidak ke rumah sakit hari ini?.” Tanya Andre di balik ponsel.


“Tidak Dre, aku kurang enak badan hari ini. Ada sedikit masalah juga di rumah.”


“Masalah… masalah apa?.” Tanya Andre pura-pura tidak tahu.


“Masalah kecil sih… tapi tidak apa-apa kok, aku bisa menyelesaikannya.”


“Syukurlah kalau begitu. Aku pikir kau kenapa tidak terlihat di rumah sakit. Biasanya sebelum aku datang kau sudah terlebih dahulu datang pagi-pagi sekali.”


“Ya tadinya aku akan pergi ke rumah sakit tapi tiba-tiba saja kepalaku pusing, mungkin semalam aku kurang tidur. Tapi di usahakan besok aku sudah bisa ke rumah sakit lagi kok.”


“Ya sudah kalau begitu. Istirahat yang cukup ya Al.”


“Ya Dre. Makasih.”


Dan mereka pun menutup pembicaraannya. Alfredo kembali pada mimik awal sebelum mendapatkan panggilan ponsel dari Andre. Kembali terlihat sorot matanya memandang tajam ke arah kamar yang sempat ditempati oleh Berlian. Lalu bergegas ia berlalu menuju kamar itu.


Perlahan ia masuk dan memandangi sekitar. Berharap ia dapat menemukan petunjuk dari kamar yang telah di tinggalkan oleh penghuninya tersebut.


Terlihat ia duduk diatas tempat tidur dan memandangi bantal yang biasa dipakai Berlian. Ia sentuh bantal itu dengan tatapan kerinduan. Kemudian ia beranjak bangkit dan berjalan menuju jendela balkon kamar itu.


Ia pandangi sekitar halaman samping dari sisi jendela itu seperti tengah mengamati sesuatu. Namun tak ia temukan juga jawabannya.


Kemudian ia berlalu kebagian dalam dan duduk pada sofa di kamar itu. Ia pandangi sofa itu dan tiba-tiba saja muncul perasaan tidak enak dalam hatinya.


‘Aku merasa ada yang lain disini… sofa ini seperti pernah di singgahi seseorang, tapi siapa? Hanya dia dan aku yang pernah duduk pada sofa ini. Apa semalam ada seseorang masuk kedalam kamar ini dan membawa Lolita pergi?.’ Bathin Alfredo.


Sesaat ingatannya mengarah pada CCTV dirumah itu. Bergegas ia merogoh ponselnya untuk melihat rekaman CCTV yang sudah terkoneksi dengan ponselnya.


Lama ia melihat rekaman CCTV dari berbagai titik, namun ia tak menemukan apa pun disana. Karena tanpa ia sadari CCTV yang terpasang di rumahnya telah di retas oleh Riksa.


“Sial!! Aku tidak menemukan apa pun dalam rekaman CCTV ini!!.” Geram Alfredo.


Karena ia tak menemukan apa pun akhirnya ia berlalu dari kamar itu dan pergi dengan kendaraannya meninggalkan kediamannya.


Ia berniat keliling kota untuk mencari Berlian kembali, ia berharap dapat menemukan Berlian di pusat kota. Namun hasilnya tetap saja nihil hingga membuat kepalanya pusing karena kecewa.


BUG!!!! Ia memukul stir mobilnya melampiaskan kemarahannya. Kemudian membawa kendaraannya menepi di tepi jalan pusat kota.


“Kau benar-benar telah membuatku kecewa Lolita! Seandainya saja aku tahu kau akan lari, tentunya aku akan tetap mengurungmu dan merantai kakimu agar kau tak bisa lari kemana-mana.” Geram Alfredo kembali.


“Tapi apakah mungkin kau bisa lari? Sampai aku tak dapat menemukanmu? Apakah mungkin seseorang telah membawamu lari? Mungkinkah lelaki tua itu tahu keberadaanmu?.” Tiba-tiba saja muncul ingatannya pada sosok Jodi.


Terbersit dalam pikirannya Berlian di bawa pulang oleh Jodi, karena di dalam pikirannya tidak mungkin Berlian dapat kabur sendiri membawa putranya tanpa sebab, sementara ia tengah alami amnesia. Bisa jadi Jodi telah diam-diam membawa lari Berlian, begitu yang terlintas dalam pikirannya.


Karena pikiran itu terus menghantui dirinya, akhirnya dia memutuskan untuk kembali pulang dan memikirkannya kembali di rumah.


..............


Sementara itu di ceritakan di sebuah tempat nampak Krista bersama suaminya Philipe tengah berbincang.


“Keadaanmu semakin membaik sekarang, kamu hanya tinggal melancarkan otot-otot pada tubuhmu saja.” Ujar Philipe.


“Ya Philipe, semoga secepatnya aku dapat beraktivitas kembali”


“Ya sepertinya tidak akan lama lagi kau dapat kembali beraktivitas Krista. Bersabarlah.”

__ADS_1


“Terima kasih Philipe kau mau menjagaku, Padahal aku sudah mengecewakanmu.”


“Sudahlah Krista jangan kau katakan itu lagi. Bukannya semua yang terjadi tak lepas dari kesalahanku juga yang tidak respek akan keinginanmu? Aku sadar aku salah, mungkin jika kita membicarakan semua nya baik-baik, kamu tidak akan berbuat seperti itu. Aku tak ingin kau menyalahkan dirimu sendiri, mari kita sama-sama perbaiki semua kekeliruan yang pernah kita buat.”


“Ya Philipe… aku ingin memperbaiki segalanya. Dan kedepannya aku akan mengikutimu dan patuh padamu… Oya? Kapan kita akan kembali ke negara mu? Aku ingin cepat kembali kesana, memulai segalanya dari awal.”


“Secepatnya kita akan kembali Krista. Aku akan menemui Jodi dulu sebelum kita kembali kesana.”


“Apa kau sudah membuat janji dengannya?.”


“Sudah. Besok kita lakukan pertemuan dengannya. Kita datangi rumahnya. Dia meminta kita untuk datang kesana.”


“Baiklah. Kita akan menemuinya disana.”


..............


Ditempat lain, nampak terlihat Jodi dan keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga pada kediamannya di daerah perkebunan. Berlian pun turut hadir disana, terlihat ia tengah duduk di salah satu kursi dengan memangku putranya, di samping Jodi yang tengah memangku Miriam putrinya.


“Aku harap kamu baik-baik disini bersama papa dan mamaku. Aku bersama opa dan omamu akan kembali ke Jakarta. Secepatnya aku akan selesaikan urusanku di sana.” Kata Jodi pada istrinya.


“Ya. Berhati-hati lah disana, aku akan baik-baik saja disini bersama anak-anak juga bersama papa dan mama.”


“Oya Jod, lalu bagaimana urusan si Alfredo itu?.” Tanya Budi.


“Tentunya kami akan menangkapnya pak, tapi karena dari data-data yang kami dapat bahwa kejahatan Alfredo di lakukan di negara J, kemungkinan kami akan menghubungi pihak berwajib negara itu. Karena itu adalah kewenangan mereka, alamat domain yang dia gunakan juga memakai alamat negara itu pada situs terlarangnya. Jadi biar negara J saja yang mengusut tuntas segala kejahatannya. Disini kita hanya sebagai pelapor saja.” Jelas Jodi.


“Iya pak, itu akan memudahkan kita untuk menjebloskan dia kedalam penjara disana. Karena yang paling berat adalah kasus mengenai pembunuhan dan memproduksi obatan terlarangnya. Sementara urusan dengan kita, akan kita tindak lanjuti setelah nya.” Sambung Riksa.


“Setelah kita menghubungi pihak negara J, mungkin kita akan mendatangi kediamannya melakukan penggeledahan, karena kita perlu satu bukti lagi, yaitu barang bukti mengenai tempat dia memproduksi racun itu di sini. Doakan saja semoga semuanya lancar.” Ujar Jodi.


“Ya kami akan selalu mendoakan kalian agar dapat dengan mudah menuntaskan masalah dengan si Alfredo itu.” Kata Ferry.


“Lalu apakah ada kemungkinan dia akan mendatangi kita di rumah atau ke kantor saya seperti yang kamu katakan Jod?.” Tanya Budi.


“Bener-bener gila orang itu. Kenapa harus Berlian?.”


“Pasien-pasien yang lain nya pun sudah banyak yang menjadi korban pak, jadi tidak hanya Berlian saja. Kebetulan saja korban yang terakhir orang terdekat kita. Jadi kejahatannya dapat dengan mudah terbongkar.” Jelas Riksa.


“Oya? Besok saya ada janji dengan Philipe suaminya Krista, mereka akan datang kerumah untuk bertemu dengan saya jadi kemungkinan besok pagi saya sudah harus berada di rumah sana.” Jelas Jodi.


“Ya sudah, kita berangkat sore ini saja Jod, agar kamu dapat beristirahat dulu disana.” Jujur Budi.


“Iya pak?, rencana kita sore ini kembali ke Jakarta. Kalau begitu mari kita bersiap-siap.”


Kemudian Budi dan Irma bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta bersama Jodi juga tim yang ikut bersamanya.


Singkat waktu, setelah Jodi pamit kepada istrinya dan orang tuanya, akhirnya Jodi pun pergi berangkat ke Jakarta membawa opa dan oma nya Berlian bersama tim.


Timbul rasa cemas di dalam hati Berlian kala Jodi pergi meninggalkan dirinya dan anak-anaknya.


‘Ya… perasaan cemas ini seperti perasaan khawatir seorang istri pada suaminya. Aku sangat mengkhawatirkannya… sayang sekali aku masih tak dapat mengingat masa laluku. Kapan aku dapat mengingat kembali semuanya? Pikiranku masih kosong tak satupun kenangan masa lalu dapat aku ingat.’ Bathin Berlian saat menatap kepergian suaminya beserta opa oma nya.


“Apa yang kau pikirkan nak?.” Tanya Eva pada Berlian yang terpaku menatap kepergian Jodi padahal Jodi beserta rombongan sudah hilang dari pelupuk matanya.


“Aku hanya berusaha mengingat segalanya ma.”


“Jangan terlalu di paksakan, jika sudah waktunya, kau pasti akan mengingat kembali masa lalumu nak. Yang terpenting sekarang, kau bersama putramu sudah kembali ke pangkuan kami. Mengenai ingatanmu jangan kau pikirkan ya?.”


“Iya ma, terima kasih.”


Kemudian terlihat Delima menghampiri mereka dengan memangku Miriam.


“Ayo kita masuk sayang… ibu membuatkan sesuatu untukmu, bakso merupakan makanan kesukaanmu, mudah-mudahan saat kau mencicipinya ingatanmu akan kembali hehe.” Celoteh Delima sembari membawa Berlian masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Dan mereka pun masuk kedalam rumah menuju ruang keluarga. Mereka duduk-duduk sambil menikmati bakso yang sudah tersedia disana.


“Bagaimana rasanya?.” Kata Delima.


“Enak bu. Ibu sering membuatkan bakso untukku ya?.”


“Iya sayang… kau suka sekali bakso makanya ibu selalu membuat bakso di rumah jadi kalau kamu pengen, tinggal bikin saja.”


“Ya aku sangat menyukai rasanya. Selama aku disana, aku tidak pernah makan makanan kesukaanku ini.”


“Nah sekarang kau sudah kembali pulang. Jadi makanlah sepuasnya.” Kata Delima.


“Oya sayang? Apakah disana dia memperlakukanmu dengan baik?.” Tanya Eva.


“Dia memperlakukanku dengan baik ma, hanya saja memang kelakuannya agak aneh gitu. Dia dingin, lebih banyak diam, bicara hanya seperlunya saja. Dan tingkah lakunya misterius.”


“Benarkah begitu?.”


“Iya ma. Memang terlihat dari sikapnya juga kalau dia adalah orang yang berbeda. Benar kata suamiku, karena selama bersamanya aku selalu patuh jadi dia memperlakukanku dengan baik.”


“Syukurlah kalau begitu. Takutnya dia melakukan hal-hal yang tidak-tidak.”


“Selama aku bersamanya, sampai suamiku membawaku pergi dari sana, aku diperlakukan dengan baik, sama sekali dia tidak menyakitiku dan bayiku.”


“Untunglah kalau begitu. Kami sangat tidak menyangka kalau dokter itu ternyata orang jahat. Padahal waktu pertama kali bertemu kesannya sangat baik, makanya kita sangat percaya padanya.” Ujar Delima.


“Iya tapi semakin kesini semakin kelihatan keanehannya. Kalau melihat tatapannya kadang membuat kita merinding.” Sambung Eva.


“Untung saja aku sudah terbebas darinya. Bu, ma, maaf kalau aku masih canggung pada kalian, aku…”


“Sssstt… sudah jangan merasa begitu, kami sangat mengerti sekali kok sayang. Yang terpenting adalah kau sudah kembali pada kami. Masalah ingatanmu, kami yakin suatu saat akan pulih kembali.” Ujar Delima.


“Terima kasih… kalian begitu baik dan sangat menyayangiku. Aku bahagia berada di tengah-tengah kalian.”


“Ya sayang… kami juga sangat berterima kasih sekali kau mau pulang. Entah bagaimana rasanya kalau kau tak mau pulang, tentunya kami akan selalu mengkhawatirkanmu.”


Mereka menikmati kebersamaan mereka sembari menikmati makanan. Meski sikap Berlian terkesan bagai orang asing di tengah-tengah mereka, mungkin itu lebih baik dari pada tidak ada kehadirannya disisi mereka.


.............


Singkat waktu, Jodi dan tim telah sampai di tempat tujuan mereka. Budi dan Irma diantar ke rumahnya oleh tim Jodi atas permintaan mereka, sementara Jodi dan Riksa langsung menuju markas mereka.


Sesampainya di markas, Jodi langsung berkumpul bersama tim untuk menugaskan beberapa orang tim nya pergi ke negara J mengurusi kasus Alfredo yang mereka tangani itu.


Kemudian mereka sama-sama mengamati keadaan Alfredo di rumahnya itu melalui alat pelacak. Dan mereka masih mendengar adanya pergerakan dan suara dari Alfredo dari sana, tandanya Alfredo masih berada di kota P tersebut tepat di dalam rumahnya.


Faisal pun mendapatkan informasi dari Andre. Andre mengatakan bahwa Alfredo tidak terlihat di rumah sakit dan memberikan kabar bahwa ia tengah sakit.


“Ok. Setelah kita mendapatkan kabar dari pihak berwajib negara J. Bersama mereka kita akan kerja bareng melakukan penangkapan padanya.” Kata Jodi.


“Siap Boss!.” Jawab Kompak mereka.


“Sekarang periksa kembali data-data kejahatan dia yang sudah kita dapatkan, takutnya ada yang lupa tidak ke save kemarin.”


“Ok.”


Terlihat mereka semua sibuk dengan urusannya, Kemudian Jodi masuk kedalam ruang kerjanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa hingga saking lelahnya kesadarannya mulai menghilang, dan ia pun terlelap dalam buayan mimpi.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Terima kasih kepada reader yang masih setia mengikuti perkembangan cerita ini🥰


Dan terima kasih yang sudah Like, vote, favorite dan hadiahnya🙏🏻😍

__ADS_1


__ADS_2