
Warning!!!
Terdapat konten 21+
Harap bijak menyikapinya!!
Terima kasih.
Happy Reading!!
............
Disuatu pagi yang cerah, terlihat Alfredo sudah berpakaian rapi.
“Lolita, aku akan pergi ke rumah sakit, hari ini aku akan menghadap Direktur mengenai pekerjaanku disana. Kau baik-baik dirumah ya?.” Ujar Alfredo pada Berlian.
“Ya suamiku. Kau hati-hati dijalan ya?.”
“Ya, terima kasih. Ayo kita sarapan dulu.”
“Kau yang membuat sarapan untuk kita?.”
“Ya… karena kita belum menemukan seseorang untuk membantu pekerjaanmu di dapur. Mungkin hari ini aku akan sekalian menemui temanku, mungkin saja dia kenal dengan agen penyalur pembantu.”
“Baiklah.”
Kemudian mereka berdua berlalu menuju ruang makan dan duduk pada kursi yang berada disana.
“Jika kau merasa bosan, kau bisa telepon aku. Ini ponsel untukmu, kau peganglah. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku. Jangan lupa selalu kunci pintu dan jangan bicara dengan orang yang tidak kamu kenal.” Kata Alfredo.
“Ya.. baiklah. Tapi kenapa aku tidak boleh berbicara dengan orang lain yang tidak aku kenal?.”
“Karena kita tidak pernah tahu orang yang kita ajak bicara itu orang baik atau orang jahat. Di kota ini kita adalah orang baru, jadi kita harus berhati-hati.” Balas Alfredo.
“Ya baiklah, aku akan selalu hati-hati.”
Kemudian mereka berdua menikmati sarapan paginya, setelah selesai sarapan lalu Alfredo pamit pada Berlian untuk berangkat ke rumah sakit.
Ditempat lain, Jodi dan Riksa yang mendengar pembicaraan Alfredo dan Berlian melalui alat penyadap, merasa geram mendengar perkataan Alfredo yang dilontarkan pada Berlian.
“Dasar manusia gila! Sepertinya dia sudah mempengaruhi istriku dengan mengaku sebagai suaminya! Sembarangan saja bajingan itu juga mengganti nama istriku seenak jidatnya! Dasar bedebah!.” Geram Jodi.
“Sengaja dia mengganti nama istri Boss. Agar istri Boss semakin lupa akan masa lalunya, yang lebih utama agar istri Boss lupa pada Boss.” Ujar Riksa.
“Benar-benar sudah keterlaluan kau Alfredo!! Dasar bajingan kau!.” Amarah Jodi membuncah dengan sorot mata yang memerah.
“Tenang saja Boss, kita beri pelajaran dulu dia sebelum kita sergap.”
“Bagaimana caranya Rik?.” Tanya Jodi.
“Begini Boss. Si Alfredo kan belum tahu kalau kita sekarang ada disini. Jadi dia merasa aman dan tenang melancarkan aksinya. Nah Boss harus bisa mendekati istri Boss dengan mengaku sebagai orang lain, karena sekeras apa pun bos meyakinkan istri Boss kalau Boss itu adalah suaminya, gue rasa akan sulit di terima sama dia sekarang-sekarang ini, karena si Alfredo sudah lebih dulu mempengaruhi pikirannya. Jadi nanti pada saat si Alfredo meninggalkan rumah, Boss dekati istri Boss, pengaruhi istri Boss perlahan-lahan dengan kenangan yang pernah dia alami dulu bersama Boss. Dan itu merupakan terapi alami untuk memulihkan ingatannya Boss.” Jelas Riksa.
Jodi terdiam mendengarkan apa yang Riksa katakan. Kemudian,
“Elo yakin cara ini dapat membantu mengembalikan ingatannya?.”
“Insha Allah Boss kita kan sedang berusaha. Soalnya kalau sekarang-sekarang ini kita bawa istri Boss lari, gue khawatir akan mengguncang psikologisnya. Apalagi jika Boss langsung datang dengan mengakui bahwa Boss adalah suaminya, itu akan membuatnya bingung karena yang ia tahu bahwa suaminya adalah si Alfredo itu.”
“Tapi gue gak rela dia tidak mengakui gue sebagai suaminya Rik. Sakit hati gue waktu tadi gue dengar dia mengatakan suami pada si gila itu.”
“Makanya Boss harus dapat mempengaruhinya pelan-pelan.”
“Ya sudah. Ayo kita cabut.” Kata Jodi seraya mengajak Riksa dan tim nya ke dalam mobil.
Kemudian mereka pun menunggangi kuda besi nya menuju rumah putih itu.
Singkat waktu, sampailah Jodi dan Riksa juga dua orang tim di rumah tersebut.
“Ayo Boss kita datangi rumah itu. Mumpung di dalam cuma ada istri boss saja. Suami gadungannya lagi dinas hehe.”
“Kita mau ngapain kesana Rik?.” Tanya Jodi heran.
“Kita nyamar jadi tukang service AC Boss hehe.”
“Apa?! Terus gue ngapain disana?.”
“Boss cukup diam saja memandangi wajah istri Boss, biar gue yang kerja. Mau gak? Gak kangen lihat bini lebih dekat?.”
“Ok… ok… gue ikut elo.”
Kemudian mereka pun berlalu mendekati rumah putih itu.
“CCTV di rumah itu aman gak?.” Tanya Jodi pada Riksa.
“Tenang Boss udah gue retas, semuanya clear.”
__ADS_1
“Ok good.”
Jodi dan Riksa semakin mendekati rumah yang hanya Berlian dan putranya yang berada di dalam sana.
Semakin dekat dan semakin mendekat hingga akhirnya sampailah mereka di halaman rumah itu. Dada Jodi bergemuruh kala ia menapaki halaman rumah tersebut.
Di depan pintu mereka terdiam. Kemudian Riksa memberikan kartu pengenal pada Jodi.
“Pakai ini Boss, gue lupa tadi ngasih ini sama Boss hehe.” Kata Riksa seraya mengalungkan name teks itu pada leher Jodi.
Setelah menarik nafas panjang, perlahan Riksa memijat bel rumah itu tepat di samping pintu masuk. Tak ada jawaban dari dalam rumah hingga mereka menekan beberapa kali.
“Dia lagi istirahat kali Rik?.” Kata Jodi yang terlihat tegang.
“Iya paling juga lagi nyusuin baby nya, bentar lagi nih dia nyusuin bapaknya hehe.” Celoteh Riksa.
“Sialan luh!!.”
“Becanda Boss. Hehe.”
“Ya udah kita balik kesini satu jam lagi aja Rik, gue gak tega ganggu dia.”
“Kita coba sekali lagi ya Boss. Kalau gak ada jawaban juga kita kembali.”
“Ok.”
Kemudian Riksa kembali memijat bel. Lama tak ada respon dari dalam rumah, yang akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dan kembali lagi nanti.
Namun pada saat Jodi dan Riksa hendak keluar dari Gebang, tiba-tiba suara lembut dari arah belakang mengejutkan mereka,
“Maaf. Ada yang bisa dibantu?!.”
Dugh.. mendengar suara itu jantung Jodi berdegup. Perlahan ia membalikan badannya dan nampak dalam pandangannya wajah yang selama ini dirindukannya tepat menusuk matanya. Seakan terkesima kaki Jodi melangkah menuju kearah istrinya dengan tatapan yang menyiratkan kerinduan yang dalam.
‘Baby… kau kah itu?! Aku rindu padamu sayang. Apa kau tidak merindukanku? Dulu kau selalu langsung naik keatas pangkuanku jika sudah lama tak bertemu. Tapi kali ini kau seolah tak mengenaliku. Aku tidak bisa kau biarkan seperti ini sayang.. kemarilah.. Peluklah aku.’ Bathin Jodi seraya mendekat hendak memeluk istrinya itu, namun dengan cepat Riksa menarik tangan Boss nya itu.
“Sadar Boss! Sekarang ini kita sedang berkamuflase.” Bisik Riksa.
Kata-kata Riksa menggugah lamunannya.
“Maaf Nona mengganggu waktunya sebentar.” Kata Riksa menyapa Berlian.
“Ya. Ada apa ya?.”
“Kami dari perusahaan L Nona, kami akan menawarkan produk baru pada nona. Perusahaan kami setiap tahunnya selalu meluncurkan produk baru, dan tahun ini kami meluncurkan pendingin ruangan terbaru dan tercanggih. Disamping itu kami akan memberikan service gratis untuk AC yang berada di rumah anda.” Jelas Riksa.
Jodi hanya diam membeku memandangi wajah istrinya yang seolah tak mengenali dirinya yang tepat berada di hadapannya. Sedih bathinnya melihat sang istri bagai memandang orang asing padanya. Sakit hatinya kala sang istri menyebut suami pada pria lain.
‘Aku gak bisa seperti ini baby… Please buka matamu, aku suamimu, aku disini ada dihadapanmu. Jangan lakukan itu padaku baby… itu sangat menyakitkan bagiku.’ Lirih Jodi dalam bathinnya.
“Baiklah Nona, tapi bolehkah saya melihat AC yang terpasang di rumah ini? Mungkin ada yang butuh di service?.” Tawar Riksa.
“Aduh.. maaf, lain kali saja ya mas?.” Kata Berlian yang terlihat seperti ketakutan.
“Ya sudah kalau begitu, kami akan kembali lagi di saat suami anda ada di rumah. Maaf Nona telah mengganggu waktunya. Kami permisi nona.” Kata Riksa seraya berlalu meninggalkan rumah itu karena ia melihat Berlian begitu ketakutan.
Sementara Berlian langsung masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah itu.
Sesampainya di dalam mobil, Jodi dan Riksa langsung masuk dan duduk pada Jok belakang.
“Gue gak bisa di giniin Rik.” Ucap kesal Jodi.
“Sabar Boss masih banyak cara lain. Ini baru awal. Kita masih bisa nyamar jadi profesi lain.”
“Gak! Sakit hati gue Rik lihat dia menganggap gue orang asing.”
“Kan Boss tahu sendiri dia lagi amnesia, wajar kalau dia tak mengenali Bos.”
“Gue gak mau nunggu lama. Pokoknya nanti malam gue mau nyelinap masuk kedalam kamarnya.”
“Apa!!! Boss itu terlalu beresiko.” Riksa sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan Bos nya itu.
“Eh ngapain gue bawa kalian! Kalau kalian gak bisa ngapa-ngapain!, cuma nyuruh gue kesakitan dalam drama kamuflase aja. Gue gak mau kayak gitu. Gue mau gerak cepat!.” Teriak Jodi, yang membuat Riksa dan dua orang tim yang duduk pada jok depan terdiam. Kemudian, “Gue gak mau tahu! Nanti malam gue mau menemui istri gue di kamarnya, elo pikirin caranya bagaimana! supaya gue aman masuk ke dalam sana.” Sambung Jodi.
Perintah Jodi tidak dapat mereka tolak, bagaimana pun caranya mereka harus mempersiapkannya saat ini Juga.
Bergegas Riksa dan satu orang tim keluar dari dalam mobil mengitari rumah itu.
Setelah beberapa lama, mereka kembali.
“Kamar istri Boss dan putra Boss di sebelah kiri, itu jendelanya pada balkon kedua. Nanti malam Boss bisa masuk lewat jendela itu.” Kata Riksa seraya menunjuk salah satu jendela pada rumah itu.
“Gue sama tim berjaga-jaga pada delapan penjuru mata angin Boss.” Ujar Faisal.
“Bagus! Itu yang gue mau. Ok. Sekarang kita cabut. Malam kembali lagi kesini.” Perintah Jodi. Kemudian kuda besi yang mereka tumpangi pun meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Singkat waktu malam pun tiba.
Alfredo sudah ada di rumah itu, ia tengah menikmati makan malamnya bersama Berlian.
Alfredo tidur di kamar terpisah, ia tidur di kamar lain. Sementara Berlian ia tempatkan pada kamar bekas kamar dirinya karena kamar itu kamar yang cukup lumayan luas dibanding dengan kamar lainnya.
Sengaja Alfredo menempatkan Berlian di kamar itu dengan putranya agar lebih leluasa, begitu menurut hemat Alfredo.
Selesai mereka menikmati makan malamnya, Berlian masuk kedalam kamarnya terlebih dahulu karena terdengar putranya rewel, sepertinya waktunya bayi itu menyusu hendak tidur.
Terlihat Alfredo pun masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat, karena hari ini adalah hari pertamanya bekerja di rumah sakit. Ia mulai bekerja di salah satu rumah sakit di kota itu menggantikan dokter lain yang kebetulan alih tugas ke tempat lain.
Di dalam kamar, Berlian merebahkan dirinya diatas tempat tidur menyusui putranya, hingga putranya terlelap tidur.
Setelah ia memastikan putranya sudah tertidur pulas, ia kembali membaringkan tubuhnya.
Baru saja ia terlelap, ia merasakan kehadiran seseorang disekitarnya. Ia merasakan hembusan nafas seseorang pada wajahnya.
Perlahan ia membuka matanya, dan nampak wajah pria tepat berada di atas wajahnya tengah memandanginya. Sontak membuat Berlian terkejut dan hampir saja ia berteriak.
Pada saat ia hendak berteriak tiba-tiba saja mulutnya di bekap oleh bibir kokoh seseorang itu.
“Jangan berteriak! Diamlah!.” Bisik Jodi yang sudah berada di atas tubuh istrinya itu.
“Si-siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?.”
“Aku adalah suamimu yang sebenarnya. Kedatanganku kesini tentu saja ingin melihat putraku dan mamanya.”
“A-apa aku sedang bermimpi?.”
“Ya… kau sedang bermimpi. Maka tetaplah kau bermimpi sayang.”
“Kenapa kau selalu datang dalam mimpiku mengatakan kau adalah suamiku. Siapa kau sebenarnya? Bukankah suamiku adalah Alfredo!.”
“Namaku Jodi Pratama, aku adalah suami sah mu, dan lelaki yang bernama Alfredo itu adalah suami gadungan yang mengaku-ngaku saja sebagai suamimu. Dia memanfaatkan amnesia yang kamu derita sehingga memanipulasi dirinya. Dia telah mengambilmu dari sisiku. Maka aku akan mengambilmu kembali ke sisiku.”
“Aku tidak mengerti dengan semua yang telah terjadi, aku tak mengingat apapun.”
“Suatu saat kau akan mengingatnya. Dan namamu adalah Berlian bukan Lolita yang ia sebutkan itu. Dia telah merubah identitasmu agar kau melupakan masa lalumu. Kau tahu? Kita sudah memiliki dua anak. Putri pertama kita ada bersamaku sayang.”
“Apa?! Aku juga punya seorang putri?.” Berlian terlihat terkejut.
“Iya sayang, dia cantik sepertimu.”
“Aku bingung… suamiku bilang kita baru punya satu anak.”
“Berhenti kau mengatakan dia suamimu! Suamimu adalah aku! Bukan dia! Tolong sadarlah sayang.” Ucap Jodi meyakinkan Berlian seraya membelai wajah cantiknya dalam kegelapan, hanya lampu remang-remang yang menyinari mereka berdua yang terpancar dari lampu duduk meja nakas.
“Aku merindukanmu sayang.. kau pergi terlalu lama, putrimu sangat merindukanmu juga. Pulanglah sayang.” Sambung Jodi.
Namun Berlian terlihat bingung, dia diam Seribu bahasa sembari terus membalas tatapan suaminya. Semakin lama ia menatapnya, semakin tak asing wajah yang berada tepat dihadapannya itu. Namun ia tidak ingat dimana ia pernah bertemu dengan wajah itu.
Perlahan Jodi mengecup bibir ranum itu. Rasa manis yang baru ia rasakan kembali, begitu membangkitkan gelora jiwanya, hingga tak terasa kecupan itu berubah menjadi ciuman yang menghangatkan.
“Jangan lakukan ini… biarkan aku terbangun dari mimpi ini.” Berlian berusaha bangkit dan melepaskan kungkungan tubuh kekar itu.
“Tetaplah bermimpi sayang… aku sangat merindukanmu. Kau tak perlu mengatakan apa pun. Kau hanya butuh meresapinya dalam-dalam. Aku pastikan kau akan mengingat segalanya.” Kata Jodi seraya terus menghujamkan sesapannya membuat sang istri tak mampu berkata apa-apa dan berbuat apa-apa.
“Apa yang akan kau lakukan padaku?.” Bisik sang istri dengan deru nafas yang mulai memacu, saat Jodi sudah tak terkendali.
“Diamlah dan nikmati. Aku hanya ingin kau mengingat semua ini. Bahwa dulu kita sering melakukannya.”
“Aku takut.”
“Jangan takut sayang… aku suamimu, aku tak akan pernah menyakitimu.” Bisik Jodi dengan berbagai jurus serangannya.
Kehangatan yang Jodi berikan membuatnya terbang ke langit ke tujuh. Keduanya terhanyut menari-nari di puncak nirwana.
Belaian, pelukan dan sentuhan yang sudah lama baru mereka rasakan kembali, seolah membawa mereka kedunia baru. Dunia yang telah lama dirindukan, meski sang istri tak mengenali sosok sang suami, namun sentuhan itu seolah tak asing baginya.
Penyatuan diri itu akhirnya terjadi tanpa penolakkan, keduanya saling menikmati, meresapi rasa yang membawanya membumbung tinggi hingga keduanya merasakan pelepasan bersama.
“Tidurlah kembali. Tetaplah bermimpi sayang.” Bisik sang suami seraya mengecup kening yang bersimbah peluh itu.
Sang istri begitu lelah hingga membawanya terlelap dalam buaian mimpi. Kemudian Jodi membasuh peluh pada sekujur tubuh sang istri lalu memakaikan pakaian istrinya kembali lantas menyelimutinya.
Setelah sang suami berpakaian kembali, ia menghampiri bayinya lalu mencium dan memeluknya.
“Papa akan datang kembali dan membawamu pulang sayang.”
Kemudian Perlahan sang suami beranjak meninggalkan kamar sang istri berlalu pergi.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Jangan lupa sesajennya ya kesayangan😍
__ADS_1
Makasih😘