
Kini malam pun tiba. Langit gelap yang menaungi makhluk seisi bumi membawa suasana lebih mencekam bagi insan yang tengah ketakutan akan misteri dibaliknya.
Tapi tidak bagi hati yang di landa gairah, ke elokan gulitanya justru mendukung bagi suasana yang menggoda jiwanya.
Di rumah itu nampak pak Budi beserta istri sudah duduk berdampingan, dan Berlian nampak duduk di samping omanya. Sementara Jodi dan Delima duduk di hadapan mereka bertiga.
Gemuruh jantungnya ia rasakan mana kala bola matanya mulai melihat bibir dari sosok lelaki paruh baya itu akan memulai perbincangan diantara mereka.
“Bismilahirrahmanirrahiim. Pertama-tama saya mohon maaf jika kedatangan saya begitu mendadak. Selain kami telah rindu pada cucu kami ini yang lama sudah tidak bertemu karena kesibukan kami. Akhirnya di waktu luang ini kami menyempatkan diri datang kemari. Selain itu ada hal penting yang ingin kami bicarakan bersama, makanya saya kumpulkan kalian dalam rapat kecil ini. Berlian… kini kau telah dewasa dan kau adalah harapan kami satu-satunya dalam tumbuh kembang perusahaan peninggalan ayahmu itu. Tentunya ini tidak mudah sayang… kau harus menguasai segalanya, makanya kami mendukung kuliahmu hingga pencapaian akhir yang dirasa memang menjadi syarat sebagai dukungan dalam kariermu kedepan. Kau adalah cucuku satu-satu yang akan menjadi penerus keluarga kami dan kami sangat menggantungkan harapan padamu agar kelak kau dapat seperti ayahmu dalam mengembangkan perusahaan yang ia tinggalkan. Kami bangga padamu nak, kau tumbuh menjadi putri yang patuh dan baik. Meski kau jauh dalam asuhan ayah dan ibumu, namun orang tua penggantimu tak kalah telatennya dalam mengurus, mendidik dan menjagamu hingga kau menjadi seperti saat ini. Opa dan oma percaya kau dapat memegang teguh kepercayaan kami. Dan kau Jodi juga Delima, kami sangat berterima kasih pada kalian. Kalian begitu baik menjadi keluarga kami hingga rela mengorbankan kepentingan kalian demi membantu keluarga kami dan itu sangat membuat kami tersanjung dan kami tak tahu harus berterima kasih dengan cara apa pada kalian. Namun walau pun demikian kami tahu kalian pun memiliki keinginan di luar dari jangkauan keluarga kami. Untuk itu apa pun yang akan kalian lakukan kedepannya kami akan selalu mendukung.” Jelas pak Budi.
Sesaat hening menyelimuti mereka, kemudian pak Budi melanjutkan kembali kata-katanya.
“Berlian… kami selalu menginginkan dan melakukan yang terbaik buatmu, dan tanpa mengurangi rasa sayang kami padamu, opa memiliki rencana untuk mengikat kau dengan tali pertunangan bersama seseorang yang mungkin telah kau kenal sebelumnya. Semua itu opa lakukan demi masa depanmu yang lebih baik.”
Duuuug!!!! Bergemuruh dada Berlian seketika, begitu pun dengan apa yang di rasakan Jodi. Namun keduanya dapat menguasai perasaannya dan mengendalikan ego dalam dirinya. Meski penuturan kakeknya membuat ia terhenyak dan kecewa, namun sisi baik dari seorang Berlian kini telah dipertaruhkan. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tenang mendengarkan rencana sang kakek yang membuat dirinya melemas Memaksanya untuk pasrah akan keputusan tersebut.
Begitu pun dengan Jodi yang merasakan hal sama seperti gadis itu. Tak mungkin rasanya ia melakukan perdebatan dan menyanggah rencana lelaki paruh baya itu karena seperti mematahkan perasaan dan harapan dari ikatan cinta antara gadis itu dan dirinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha bijak menyikapi segalanya.
Sementara itu, Delima memperhatikan mimik putrinya dan Jodi. Keduanya terlihat tenang.
Kemudian terdengar pak Budi melanjutkan kembali kata-katanya. “Berlian… kami tak akan memaksamu, jika kau tidak setuju, kau boleh menolak dan kau boleh mengungkapkan alasannya. Karena kami tidak ingin membuat kau merasa terpenjara apa lagi merasa tersakiti dengan rencana kami. Kami ingin kau menerima keputusan kami dengan perasaan yang tidak memberatkan dan menjadi bebanmu. Kami akan mendengarkan keputusanmu nak, apa pun itu.”
Perlahan Berlian mengangkat kepalanya, dengan sekuat tenaga ia menahan gemuruh dalam jiwanya, dan berusaha menutupi keadaan bathin yang sebenarnya, ia menarik nafas panjang dan mulai mengatakan sesuatu, “Opa dan oma, terima kasih sudah menjadikan aku sampai seperti saat ini. Menjadi anak yang tak kekurangan apa pun meski ayah dan ibuku telah tiada. Apa pun yang kalian rencanakan untuk hidupku, aku tahu itu yang terbaik untukku. Tak ada luka dan sakit sedikit pun dalam hatiku, dan aku akan mengikuti apa pun yang kalian lakukan untukku. Aku akan menerima dan aku patuh pada rencana kalian.”
Lega hati pak Budi, bu Irma sang oma juga Delima sang ibu sambung mendengar penuturan gadis itu. Meski mereka tidak tahu sebenarnya bathin nya tengah menjerit karena merasa ketidak adilan yang tengah ia rasakan kini.
Sementara Jodi dengan sekuat tenaga tengah menahan rasa yang menyesak dalam dadanya. Entah harus merasa Senang kah? Atau terluka kah? Ia berusaha bijak menerima ini semua. Ia tak menyalahkan gadisnya karena perasaan cintanya kepada dirinya, juga tak menyalahkan opa, oma dan Delima yang seolah menentang hubungan mereka. Ia hanya merasa dunia begitu licik memperlakukan perasaannya seolah seperti tengah mempermainkan rasa cintanya.
Mungkin seandainya rencana kakek Berlian itu terungkap pada saat cintanya belum tumbuh pada gadis itu, ia tak akan merasakan sakit seperti ini, namun justru di saat cintanya mulai bersemi mengapa kabar pertunangan dengan gadis itu menghancurkan semangat mencintainya, menggugurkan harapannya. Meski ia sadar akan dirinya yang mungkin orang menilainya tak pantas.
Iy menyadari kenyataan yang tengah ia hadapi kini. Dan demi suasana yang tetap harus terkendali, ia masih berusaha menutupi kecewanya dengan air muka seolah mendukung rencana pak Budi.
“Terima kasih putri yang baik. Kau memang anak kebanggaan kami.” Ucap sang Oma.
“Aku bangga padamu nak.” Sambung sang opa.
“Ya opa. Ayo kita makan aku sudah lapar hehe.” Ujar gadis itu melemparkan senyuman untuk menutupi sedihnya.
Kemudian mereka berlima menikmati makan malam mereka.
__ADS_1
Berlian dan Jodi kompak menyembunyikan segalanya, bercengkerama dengan mereka seolah menerima hal yang menyakitkan baginya.
“Oh ya Tuhan… aku lupa, tugas kuliahku belum selesai. Aku harus menyelesaikannya. Aku permisi dulu ya semua…” Kata bohong Berlian seraya lari masuk menuju kamarnya. Padahal ia sudah tidak kuat ingin menumpahkan tangisannya.
Bergegas ia masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya. Dengan perasaan luluh ia jatuhkan tubuhnya membenamkan wajahnya pada bantal kemudian menangis sejadi-jadinya.
‘Duhai lara… apakah aku tidak pantas bahagia bersama lelakiku? Apakah perasaanku begitu mengganggu mereka hingga harus di patahkan dalam keadaan seperti ini… aku tahu cintaku akan mendapatkan penolakan bahkan separuh dunia pun menolaknya… namun salahkan jika aku memelihara rasa ini? Kenapa dunia seolah tak berpihak padaku? Kenapa pada cinta pertamaku, aku harus terjatuh dan tersungkur tak berdaya seperti ini?… namun aku tak mampu membangkang kenyataan ini. Biarlah sakit ini ku pendam sendiri, berharap dapat mendewasakan aku dalam perjalanan kisahku. Duhai lelakiku… kuharap sakit yang kau rasakan tak sesakit ini. Namun aku masih menggantungkan harapan padamu… agar kita bisa lari bersama menghindari keadaan yang menyiksa ini… semoga masih ada secercah harapan di depan kita.” Bathin Berlian dalam tangisan diamnya.
Sementara itu Jodi yang masih berkumpul bersama mereka, tiba-tiba saja menerima panggilan ponselnya. Di lihatnya layar ponsel yang ada dalam genggamannya, anggota dari agen rahasianya yang menghubunginya.
“Hallo Jack! Ada apa?.”
“Ada sesuatu yang harus kami sampaikan secara langsung pada Boss, bagaimana? Boss bisa ke markas sekarang? Kami menunggu Boss malam ini.” Suara di balik ponsel.
“Ok. Gue sekarang otw sama Riksa.” Kemudian Jodi menutup ponselnya. Lalu,
“Pak! Saya mohon ijin untuk menemui anggota saya.” Kata Jodi pada pak Budi, dan pak Budi sangat paham akan pekerjaan Jodi sebagai agen rahasia, karena hanya pak Budi lah yang tahu akan hal itu.
“Baiklah Jod, hati-hati ya?.”
“Baik pak! Saya permisi dulu.” Kemudian Jodi berlalu kedalam kamarnya mengganti pakaian santainya dengan pakaian resminya. Lalu menghampiri Riksa yang ada diruang kerjanya untuk ikut mendampinginya ke markas.
Singkat waktu Jodi dan Riksa pun sampai di markas mereka. Bergegas Jodi disusul Riksa di belakangnya berjalan cepat memasuki gedung markas itu yang keberadaannya tersembunyi dari warga sipil.
Jodi dan Riksa masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan nampak lima anggotanya telah menunggunya disana.
Jodi duduk di tengah-tengah mereka, dan mulai mengawali pembicaraan bersama tim nya itu.
“Bagaimana Jack?.”
“Begini. Boss, klien kita yang konglomerat China itu meminta pertemuan langsung dengan Boss untuk mengungkap siapa pencipta virus baru saingan perusahaannya itu.”
“Bukannya waktu itu gue udah wakilin sama kalian?.”
“Tapi konglomerat itu meminta bertemu langsung dengan pimpinan kami, yaitu Boss.”
“Dimana mereka ingin bertemu gue?.”
“Mereka meminta pertemuan itu di negara yang di embargo oleh negara super power Boss!.”
__ADS_1
“Lah, jauh-jauh amat! Kenapa gak disini aja sih?.”
“Alasannya agar tak terlacak lawan mereka Boss.”
“Ah macam-macam saja keinginan orang kaya itu. Kapan pastinya pertemuan itu?.”
“Ya kalau bisa sih secepatnya.”
“Ya sudah katakan pada mereka, gue cari waktu yang tepat dulu. Aneh-aneh saja, padahal yang penting kerjaan kita sesuai dengan yang mereka mau, gak perlu juga pengen ketemu sama gue. Kalian tahu kan gue paling menghindari pertemuan dalam urusan kayak begini.”
“Seandainya Boss ingin memanipulasi penampilan Boss, kita bisa usahakan kok.”
“Ya itu nanti kita bicarakan belakangan. Sekarang gue minta elo bilang aja ke mereka kalau gue secepatnya akan mengatur pertemuan itu.”
“Siap Boss.”
“Oya Jack, ada wine? Kepala gue sedikit pusing, gue pengen menghilangkan kepenatan di kepala gue.” Pinta Jodi pada anggotanya itu. Namun dengan Cepat Riksa mengarahkan pandangannya dengan menggelengkan kepala pada Jack mengisyaratkan tidak ada/jangan. Karena Riksa tahu Bossnya itu sedang patah hati dan ia tahu bahwa Boss nya itu sudah meninggalkan minuman beralkohol cukup lama.
“Mh… kebetulan lagi gak ada Boss, ada juga bansus. Mau gak?.” Ujar Jack
“Apaan bansus?.” Tanya Jodi
“Bandrek susu Boss hehe.”
“Sialan luh! Elo pikir gue lagi masuk angin! Gue butuh alkohol tahu!.” Bentak Jodi.
Kemudian Riksa menyuruh anggota yang lain pergi meninggalkan Boss mereka. Karena akan percuma saja berlama-lama dengan Boss nya yang tengah di landa galau itu. Lalu Riksa meminta pada mereka membawakan dua cangkir kopi hitam tanpa gula untuk Jodi dan dirinya.
Riksa tahu apa yang Jodi rasakan dan dapat menebak apa yang terjadi pada rapat keluarganya. Sehingga membuat Boss nya itu terlihat lemah.
“Seperti itu lah kekuatan cinta… seketika dapat membuat tubuh gagah menjadi lemah. Namun juga dapat melenakan bagi siapa yang tengah dimabuk olehnya.” Gumam Riksa
“Gue gak nyangka kalau gue akan terjatuh oleh rasa gue sendiri. Gadis kecilku… kau telah berhasil membuat luluh hatiku… jika saja kau tahu, aku akan semakin hancur kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehangatan itu kembali, tentu kau akan merasa sedih melihatku seperti ini.” Ucap Jodi dalam kemelutnya.
Bersambung
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Jangan lupa tinggalkan jejaknya🥰
__ADS_1
Makasih😍😘