
Hari-hari yang di rasakan Jodi bersama keluarga begitu suram tanpa kehadiran istri tercintanya. Dua bulan sudah mereka hidup terpisah tanpa saling tahu bagaimana keadaan mereka kini.
Di dalam ruang kerjanya Jodi mematuk diri di atas meja. Wajah yang dingin dengan pandangan nanar menyiratkan rasa rindu yang teramat dalam, bagai sang kekasih yang tengah dilanda rasa rindu yang mendalam.
‘Sayang… kau dimana? Bagaimana putra kita? Ku harap kau baik-baik saja disana. Maafkan aku yang belum juga dapat membawamu pulang… jalannya masih tertutup sayang.. dimana pun kau kini berada, aku harap kau dan putra kita tak kurang suatu apa. Kau tahu? Putri kita Miriam sekarang sudah pintar berjalan dan pintar menyebut nama kita berdua. Dia semakin tumbuh besar dan semakin cantik seperti dirimu. Aku yakin kau pasti merindukan kita disini. Seperti kita yang selalu merindukanmu.. Aku harap kau mampu bertahan dimana pun engkau kini sayang.. aku harap kau tetap setia menungguku untuk datang menjemputmu. Dan aku berjanji akan membuat perhitungan pada bajingan itu.’ Bathin Jodi dalam lamunannya.
Namun suara panggilan pada gendang telinganya membuyarkan lamunannya.
“Boss! Ikut kami ke lab. Ada sesuatu yang harus Boss lihat.” Ujar Riksa yang sudah berada di hadapan Jodi.
Bergegas Jodi mengambil langkah seribu menuju lab komputer di susul Riksa di belakangnya.
Sesampainya di lab Jodi menghampiri Jack. “Bagaimana Jack?.” Tanya Jodi pada Jack yang tengah terpaku di depan layar monitor.
“Boss akan terkejut melihat ini.” Balas Jack seraya memperlihatkan apa yang terpampang di layar monitor komputernya.
Benar saja, bertapa terkejutnya Jodi pada saat ia melihat layar monitor tersebut.
Nampak di layar monitor tersebut beberapa foto sang istri dengan memakai kostum beraneka ragam terlihat disana, sontak Jodi membulatkan matanya dengan dada yang bergemuruh.
Rasa rindu yang telah lama terpendam terhapuskan dengan penampakan sang istri pada layar monitor itu, meski hanya sebuah gambar namun itu sudah cukup membuatnya merasa lega melihat istrinya terlihat baik-baik saja.
“Dari mana elo dapat ini Jack?.” Tanya Jodi dengan buruan napas yang memacu.
“Gue gak sengaja menemukan ini di dalam dark web Boss. Tadinya gue iseng-iseng mau cari mafia yang kita selidiki dalam kasus yang lagi kita tangani itu. Gak tahu nya gue malah nemu yang lebih penting.” Kata Jack.
“Cari tahu pemilik akunnya Jack?.”
“Akunnya atas nama Beautiful_life mannequine.fred Boss. Jadi akun ini khusus menampilkan manekin-manekin si pemilik akun ini. Sepertinya ini orang memiliki kelainan mengoleksi manekin. Disini dapat kita lihat banyak bermacam-macam manekin yang ia share dengan berbagai macam gaya dan kostum. Ia akan share manekin sesuai dengan permintaan pengikutnya. Dapat Boss lihat ini! Pada kolom komentar dapat kita baca permintaan seseorang, yang meminta agar si pemilik akun untuk menampilkan manekin yang terbuat dari mayat manusia. Kemudian beberapa hari kemudian si pemilik akun upload apa yang mereka minta.” Jelas Jack.
“Dasar manusia gila!.” Geram Jodi.
“Nah di kolom komentar lain mereka ada yang meminta untuk upload manekin hidup. Dan si gila itu menamai foto istri Boss ini Beautiful life mannequine, sepertinya istri Boss lah yang ia jadikan manekin hidup untuk meluluskan keinginan si pengikut orang gila ini.” Jelas Jack.
Mendengar apa yang Jack katakan betapa hancurnya hati Jodi. Ia tak menyangka kalau Alfredo memiliki kelainan yang betul-betul aneh, terlebih melibatkan istrinya.
Meski istrinya lebih beruntung dari nasib wanita lain yang harus dibunuh terlebih dahulu untuk di jadikan manekin, tapi tetap saja ia khawatir akan permintaan dari pengikut orang gila itu, kalau-kalau meminta melakukan hal aneh pada istrinya itu.
“Cari tahu dimana mereka Jack? Coba elo kirim semua foto-fotonya ke gue.” Tegas Jodi dengan sorot mata yang berkaca-kaca memandangi wajah sang istri.
Dapat ia lihat dalam tatapan sang istri wajah yang tertekan dan kesedihan yang mendalam.
‘Sabar baby… aku pasti akan menemukanmu. Kau baik-baik saja kan sayang? Tunggu papa.’ Desir Jodi dalam bibir yang bergetar.
“Kapan foto-foto istri gue itu di posting Jack? Lihat waktunya.” Titah Jodi.
__ADS_1
“Kalau dilihat dari tanggalnya sih dua bulan yang lalu Boss, beberapa hari setelah nyonya di bawa sama si Alfredo itu.”
“Foto terbarunya tanggal berapa Jack?.”
“Sepertinya belum ada foto terbaru Boss.”
“Ok. Kita gak perlu cari tahu siapa orang gila itu, karena kita sudah sama-sama tahu yang nyulik istri gue itu si Alfredo. Yang harus kita cari tahu adalah dimana mereka sekarang tinggal. Bagaimana pun caranya elo harus bisa menemukan tempat dimana mereka berada Jack.” Titah Jodi.
“Siap Boss.”
Kemudian Jodi kembali kedalam ruangannya. Bergegas ia menyalakan laptopnya untuk melihat kembali foto-foto istrinya yang sudah Jack kirim Kedalam emailnya.
Kini ia sudah membuka foto-foto sang istri pada emailnya. Kembali perasaannya tergugah kala ia terus memandangi wajah sang istri, ia pandangi dalam-dalam apa yang ternampak dalam layar laptopnya sembari menyelidik dari setiap sisi pada foto tersebut. Berharap ia dapat menemukan petunjuk di dalamnya.
..............
Sementara itu Berlian yang berada di dalam bunker tengah kenyusui sang anak. Dan terlihat Alfredo mendekatinya seraya berkata, “Simpanlah dulu bayimu nyonya, karena saya ingin mengambil foto anda. Segeralah berganti pakaian.”
Tak ada bantahan dari Berlian, ia patuh pada Alfredo demi rencananya.
Singkat waktu Berlian sudah berganti pakaian, kemudian Alfredo mengambil beberapa foto Berlian dengan berbagai pose.
“Kalau boleh tahu? Untuk apa foto-foto saya ini dokter?.”
“Untuk kesenangan saja nyonya. Saya senang melihat kecantikan dalam diri wanita dan itu harus saya abadikan.” Jawab datar Alfredo sembari terus mengambil gambar Berlian yang berganti-ganti pose layaknya model.
“Dokter putraku nangis, bolehkan saya menggendongnya?.”
“Tentu saja, gendong lah nyonya.”
Kemudian Berlian bergegas mengambil putranya lalu membawanya dalam pangkuan.
Alfredo melihat penampakan keindahan yang alami pada saat Berlian menggendong putranya, kemudian ia mengambil gambar Berlian yang tengah mengendong putranya itu.
Alfredo ingat ia pernah membeli pakaian anak berbagai macam karakter, kemudian ia mengambil pakaian itu dan memakaikan pakaian itu pada bayi Berlian yang masih merah itu.
Sebenarnya Berlian tidak rela kalau harus melihat putranya yang masih merah diperlakukan seperti itu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa demi kebebasan yang tengah ia rencanakan sendiri dalam hatinya.
‘Sabar putraku tersayang… meski kita tidak nyaman, saat ini kita harus mengalah demi kebebasan yang sedang mama rencanakan. Biarkan penjahat itu melakukan segala keinginannya pada kita. Biarkan ia menjadikan kita manekin sebagai kesenangannya. Suatu saat nanti dia akan menyesal telah memperlakukan kita seperti ini.’ Bathin lirih Berlian seraya mengecup putra kesayangannya itu.
Memang Alfredo tak melakukan kontak fisik pada Berlian dan putranya, apalagi melakukan penyiksaan. Ia menyediakan segala kebutuhan Berlian dan putranya dengan lengkap tanpa kurang suatu apa.
Namun itu tidak lah dapat membuat siapapun akan merasa bahagia jika harus mengikat kebebasan hati, jiwa dan raga seseorang, terlebih pengasingan dan penyekapan itu merupakan kebutuhan Alfredo demi sebuah konten gila nya.
Lalu apa yang Alfredo dapat dari semua ini? Tentunya tips yang di berikan dari pengikutnya yang bernilai Jutaan dolar jika dinilai dengan nilai uang yang beredar.
__ADS_1
Karena transaksi yang mereka lakukan di dunia bawah tanah bukanlah menggunakan mata uang yang beredar, tetapi mereka bertransaksi dengan bit coin, uang digital atau Berlian, dengan begitu keberadaan mereka tidak mudah terlacak.
Bertahun-tahun Alfredo menikmati kegilaannya, profesi dokternya ia manfaatkan dalam melampiaskan kejahatan yang sebenarnya yaitu mencari korban, bahkan tak jarang demi kesenangannya ia melakukan pembunuhan pada pasiennya untuk di jadikan manekin.
Kemudian jika pengikutnya itu menyukai manekin yang ia share dan berkeinginan membelinya, tentu saja ia memperjual belikan manekin itu. Ternyata di dunia bawah tanah ada komunitas manusia seperti Alfredo yang mengoleksi manekin dari mayat manusia untuk kebutuhan bermacam-macam.
Setelah Alfredo puas mengambil foto dan video Berlian, ia berlalu meninggal Berlian di dalam bunker tersebut menuju ruang komputernya untuk me-upload hasil jepretannya yang baru saja ia lakukan.
Sontak upload terbarunya dapat terdeteksi oleh tim Jodi yang terus memantau aktivitas akun Alfredo di dunia dark web itu.
................
Salah seorang tim menyampaikan apa yang mereka lihat pada Riksa kemudian Riksa memanggil Jodi untuk melihat upload terbaru dari si akun misterius itu.
Sesampainya di lab komputer, Jodi langsung mengamati foto dan beberapa video terbaru yang Alfredo share.
Bergetar hatinya kala ia melihat penampakan istrinya tengah menggendong putra yang telah dilahirkannya.
“Ya Tuhan… dia putraku… dia telah lahir..” Gumam Jodi dengan rasa haru dan bahagia. Ia terus pandangi foto dan video itu.
Riksa dan semua tim yang ada disitu enggan berkomentar, ia membiarkan Boss nya menikmati dunianya, melepas kerinduan meski hanya melalui tayangan pada layar komputer di hadapannya.
“Maafkan papa nak… papa tidak ada disisimu saat kau lahir… papa belum dapat menemukan keberadaan kalian… papa rindu padamu nak, tunggulah papa. Bertahanlah sampai papa dapat menjemput kalian.” Tangis Jodi pecah kala melihat tayangan putranya yang tengah di pangku Berlian.
“Boss tenang saja. Saya sudah menjadi member mereka, jadi selama 24 jam kita dapat memantau aktivitas istri dan putra Boss.” Kata Jack.
Jodi diam tak bersuara, hanya anggukan sebagai respon terhadap apa yang Jack katakan. Pandangannya terus menatap penampakan istri dan putranya yang ia rindukan dengan sorot mata kesedihan.
Disisi lain ia bahagia dapat melihat istri dan anaknya, disisi lain ia sedih dan kecewa karena harus menyaksikan penampakan mereka dalam sebuah web terlarang.
‘Ini sangat menyakitkan… tapi minimal sudah menjadi obat bagi kerinduanku. Tidak apa-apa. Aku terima semua ini dengan lapang dada. Namun kau harus tahu Alfredo. Kau mendapatkan harga mahal dari istri dan putraku yang kau jadikan konten. Itu tandanya harga mahal yang harus kau bayar pada kehidupan mereka harus kau tunaikan. Kau sudah menabuh genderang perang denganku Alfredo. Mari kita mulai peperangan kita.’ Geram Jodi dengan mengeratkan giginya dan sorot mata yang memerah dengan buliran bening yang jatuh pertanda rasa sakit yang terdalam tengah ia rasakan.
“Coba kau tulis pada kolom komentar Jack. Tanyakan sama si setan Alfredo itu, apa manekin hidupnya dijual? Kita akan membelinya berapa pun harganya!.”
Kemudian Jack mengetikkan seperti apa yang Jodi perintahkan, dan tak lama mereka mendapatkan balasan, “Maaf kami tidak akan pernah menjualnya.’
“Mereka tidak menjualnya Boss.”
“Ok. Kalau begitu. Retas akun nya Jack!!.”
Kata Jodi dengan penuh amarah seraya memukul meja yang terletak di dekat pintu.
BRAK!!! Meja pun hancur berkeping-keping. Riksa dan Jack saling berpandangan.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
Jangan lupa sesajennya ya?😍
Makasih😘