Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Jatuh bangun, patah tumbuh, kita lalui bersama.


__ADS_3

Pada suatu malam, di saat semua Mahkluk bumi beristirahat. Berlian yang gelisah dalam pembaringannya, beranjak dari kamarnya menuju kamar Jodi.


Dilihatnya lelaki itu tengah tertidur pulas hanya dengan memakai celana boxer saja, selimut yang menutupi tubuhnya hanya sampai menutupi dadanya yang bidang.


Perlahan Berlian mendekati tubuh yang tengah tertidur pulas itu. Lalu duduk di sampingnya kemudian merebahkan tubuhnya sembari memandangi wajah tampan di sampingnya.


‘Aku tidak bisa jauh darimu wahai lelakiku. Berada di dekatmu membuat ku tenang sementara jauh darimu meninggalkan rasa gundah dan cemas. Kau tahu? Cinta yang tidak biasa ini membuatku gelisah. Aku tahu kau memikirkan sesuatu yang rumit ini. Namun aku tidak bisa menghindarimu. Aku butuh kau di sampingku walau hanya sekedar melepas kerinduan mata ini untuk memandangimu. Aku tahu di depan sana akan sulit, tapi bisa kah kita bersama memperjuangkan ini semua? Sungguh! Kau telah menjadi kebutuhanku… aku tidak bisa sedikit pun tak melihatmu. Ku harap kau tahu itu.’ Bathin Berlian.


Lama ia memandangi wajah pulas yang tersirat lelah dari sudut matanya yang terpejam.


Entah mengapa perlahan mata yang terpejam itu sedikit demi sedikit terbuka, nafas wangi yang menerpa wajahnya membuat ia terjaga.


“Sayang… kau disini?.” Bisiknya keluar dari suara serak memecah keheningan. Gadis itu hanya mengangguk dengan netra masih terus memandanginya.


“Kenapa? Ada yang kau pikirkan hem?.” Tanya mesra lelaki itu. Kali ini ia menggeleng pelan kepalanya. Kemudian lelaki itu lebih mendekatkan lagi wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti saja.


“Tidak apa-apa aku disini papa?.”


“Tentu saja tidak sayang… jika kau nyaman tidur disini, kau boleh kesini kapan pun kau mau.”


“Papa tidak merasa terganggu?.”


“Tentu saja tidak sayang.” Kemudian Jodi mengecup bibir mungil itu. “Tidurlah… besok kau harus kuliah.” Kata Jodi seraya memeluk tubuh gadis itu membawanya kedalam pelukannya.



Dan gadis itu pun terbenam dalam dada bidang sang lelaki. Terasa hangat dan menenangkan jiwanya, hingga membuat ia tertidur pulas.


..........


Pagi harinya Jodi terbangun dan gadis itu masih berada di sampingnya tertidur pulas. Perlahan ia dekati dan mengecup bibirnya.


“Sayang… bangunlah, hari sudah pagi.” Bisik Jodi. Namun gadis itu tak merespon. Akhirnya Jodi beranjak dari atas tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandinya dengan handuk yang melilit di pinggangnya lalu melihat kearah gadisnya itu masih tertidur pulas. Kemudian ia mendekat dan duduk di sampingnya. Di belainya wajah yang tengah terlelap kantuk itu.


‘Sayang… kau cantik sekali pagi ini. Aku tahu kau begitu mencintaiku. Dan kau tahu? Cintamu itu telah membuatku terjatuh jauh kedasar hatimu. Mari kita perjuangkan ini sama-sama. Jatuh bangun, patah tumbuh, akan kita lalui bersama. Kini aku tak ragu lagi melangkah bersamamu, meski dunia akan menentang kita.’ Bathin Jodi seraya membelai wajah cantik itu.


Merasakan dingin pada pipinya, perlahan Berlian membuka matanya.


“Papa sudah mandi?.” Sapanya dengan wajah khas bangun tidur.


“Iya sayang… kau mandilah sana.”


“Iya, sebentar lagi papa, aku masih ingin memandangi tubuhmu itu.”


“Hehe.. kau suka?.”


“Hm um….” Jawabnya pelan kemudian memeluk tubuh kekar yang masih basah itu. Di balasnya pelukan itu dengan kecupan di pucuk kepala sang gadis.


“I love you… baby.” Bisik Jodi.


“I love you too… papa.” Balasnya. Kemudian, “Don’t ever leave me for a second, because if that happens my world will be destroyed.” Sambung gadis itu.


“It won’t happen baby… I will always be by your side no matter what, trust me… I love you more than words.” Ucap Jodi seraya mencium mesra gadis itu.


Setelah mereka puas saling mencium, akhirnya Berlian beranjak dari kamar Jodi menuju kamarnya untuk membersihkan diri.



...............


Di tempat lain. Nampak Menara sudah rapi dengan pakaiannya. Ia bersiap akan pergi ke kampus menggunakan mobil kesayangannya.


“Sarapan dulu sayang?.” Kata sang ibu saat melihat putranya keluar dari kamarnya.

__ADS_1


“Iya ma.” Kemudian Menara duduk di salah satu kursi makan. Dan sang ibu memberikan putranya roti yang telah di bubuhi isinya.


“Sayang… hari ini mama mau bertemu dengan ibu Delima.”


“Oya? Mamanya Berlian ada di sini ma?.”


“Tidak sayang. Dia ada di Bandung dan mama mau ke Bandung sekalian ada perlu ke sana.”


“Oh.”


“Kok cuma oh doang. Gak nitip pesan gitu?.”


“Pesan apaan?.”


“Ya nitip salam sama putrinya misalkan?.”


“Lah.. ngapain juga nitip-nitip salam, sebentar lagi juga aku ketemu sama dia di kampus.”


“Hehe… iya ya. Oya sekali-kali ajak dong dia main ke rumah Ra.”


“Mau ngapain ngajak dia kesini?.”


“Ya main-main aja lah Ra.”


“Mana bisa! Papanya gak akan ngijinin.”


“Masa?? Kan main nya ke rumah kita, gak kemana-mana Ra.”


“Tetap saja harus ada ijin papanya.”


“Begitu ya?.”


“Iya… ya udah aku berangkat ya mam.” Kata Menara seraya mencium pipi ibunya lalu pergi meninggalkan ibunya itu menuju mobilnya yang telah terparkir di halaman rumahnya.


.............


Tak lama dari itu, mobil Menara terlihat memasuki area parkir kampus dan memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dari mobilnya beranjak melangkahkan kaki nya menuju kedalam gedung kampus.


Di dalam gedung kampus, Menara melihat Berlian hendak memasuki ruang kelasnya, dengan cepat ia menghadang, ia halangi jalan masuk Berlian dengan tubuhnya.


“Kakak, minggir!.” Seru Berlian menarik tangan Menara yang sengaja di lentangkan pada pintu. Namun Menara sengaja tidak memberikannya jalan.


“Aku mau ngomong sama kamu!.”


“Ngomong apaan sih kak?. Awas ih minggir!.” Berlian mencoba kembali menarik tangan Menara yang erat memegang ujung daun pintu.


“Sini dulu.” Menara menarik tangan Berlian membawanya berjalan hendak ke tempat lain.


“Kakak ih, ngapain sih.” Berlian mengikuti langkah Menara yang menarik tangannya itu.


Kemudian Menara membawa Berlian ke sebuah ruangan kosong, sepertinya ruangan itu adalah ruangan yang biasanya di gunakan untuk olahraga karena terlihat beberapa matras dan alat olah raga lainnya.


Kemudian Menara melepaskan pegangan tangannya yang memegangi tangan Berlian itu.


“Kakak mau apa?.” Tanya Berlian sembari mengusap-ngusap pergelangan tangannya bekas pegangan tangan Menara.


“Heh, aku tahu rahasia kamu sekarang.” Kata Menara.


“Rahasia apa? Aku gak punya rahasia.”


“Jangan bohong, aku tahu Jodi itu bukan papamu kan?.”


“Terus kalau dia bukan papaku kau mau apa?.”


“Dan aku tahu, kamu pacaran kan sama dia?.”

__ADS_1


“Emang apa peduli mu hah!.”


“Heh Berlian! Buka mata kamu! Apa sedikit pun kamu tidak curiga sama si Jodi itu?.”


“Apa maksudmu?.” Tanya Berlian, namun tiba-tiba saja ponsel Menara berbunyi, dan pada saat Menara merogoh ponsel dari kantong celananya, Berlian memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari nya.


“Heh! Berlian tunggu!.” Kata Menara hendak mengejar sembari ia melihat pada layar ponselnya bahwa Narita lah yang melakukan panggilan itu.


Di terimanya panggilan ponsel itu, “Mau apa?.”


“Sayang, kenapa kamu nanya nya gitu? Ada apa dengan kamu??.” Suara Narita di balik ponsel.


“Aku yang harusnya nanya sama kamu!, ada apa dengan kamu?.” Ucap ketus Menara.


“Maksud kamu apa Ra?.”


“Ga ada! Aku cuma minta kamu gak usah ganggu aku lagi.”


“Apa? Kenapa Ra?.”


“Aku tahu apa yang kamu lakukan selama ini di belakangku.”


“Maksud kamu apa Ra?.”


“Kau punya hubungan gelap dengan papaku kan? Ja*ang kamu Narita! Aku benci kamu! Kamu telah menyakiti aku dan ibuku.”


“Apa yang kau katakan Menara?. Aku tak punya hubungan apapun dengan papamu, selain hubungan atasan dan bawahan. Oh aku tahu teman-temanmu itu kan yang menghasutmu?.”


“Teman-temanku tidak ada urusannya dengan masalah kita. Kau tahu? Aku melihat ayahku masuk ke apartemenmu, tadinya aku datang ingin memberi kejutan padamu makanya aku tidak menghubungimu terlebih dahulu, dan apa yang terjadi hah!? aku membuntuti ayahku dan apa yang kulihat adalah, kalian tengah melakukan yang sering kita lakukan. Kamu menjijikan Narita. Aku benci kamu! Kamu tak ubahnya seperti wanita ja*ang, dengar baik-baik! Jangan pernah kau menghubungiku lagi! Anggap saja di antara kita tidak pernah ada apa-apa. Dan satu lagi! Tak akan ku biarkan kan kau menguasai papaku! Ingat itu!.”


Kemudian Menara menutup kasar sambungan ponselnya dan pergi masuk ke dalam ruang kelasnya.


Sementara di ruangan lain, Berlian masuk ke dalam kelasnya dengan menekuk mukanya membuat Maurin bertanya-tanya.


“Kamu kenapa Berlian?.” Tanya Maurin.


“Hari ini aku sebel! Pagi-pagi udah bikin bad mood aja tuh orang!.”


“Si Menara ya? ngapain lagi dia?.”


“Gak tahu! Seneng banget dia ngerjain aku.”


“Suka kali dia sama kamu hehe.”


“Ish… amit-amit!.”


“Hey… orang lain berlomba-lomba loh pengen dapetin dia!.”


“Tapi aku gak!.”


“Kalau gue yang di kerjainnya sih malah seneng hehe.”


Kemudian terlihat salah seorang dosen memasuki ruangan kelas.


“Baiklah semuanya mohon di dengarkan. Kali ini ada yang akan saya sampaikan pada anda semua. Begini, di setiap tahunnya, kampus kita bekerjasama dengan IDUKA (Industri dan Dunia kerja). Dan untuk tahun ini kami mengundang salah satu pemimpin perusahaan sebagai dosen istimewa yang akan memberikan ceramah mengenai mata kuliah Pengantar rekayasa dan desain, dan kebetulan beliau hari ini berkenan hadir dan akan mengisi ceramahnya di kelas ini. Selamat Mengikuti mata kuliahnya dan mohon tertib.” Jelas dosen tersebut.


Tak berapa lama masuklah seseorang yang menjadi dosen istimewa tersebut kedalam kelas itu. Dan semua mata tertuju padanya.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Siapa dia???


Tinggalkan jejak dulu ya readers tersayang🥰


Makasih🙏🏻😘

__ADS_1


__ADS_2