
Sehebat apapun kita menutupi sesuatu, akan ada saat dimana baunya menyeruak terhempas angin. Demi menunjukan eksistensinya, angin membantu membawanya muncul ke permukaan, entah di minta atau tidak, buruk atau baik, pada saat sesuatu harus menjadi ada, dia akan ada, pada saat ia harus muncul maka ia akan muncul, sekali pun tanpa sebab.
Begitupun dengan pernikahan tertutup yang di lakukan Jodi dan Berlian, akhirnya sampai juga pada telinga Menara.
Entah datang dari mana angin itu hingga sampai pada telinga Menara. Tentu saja Menara di buat terkejut oleh kabar angin yang ia dengar. Meski ia tahu dari awal kalau Berlian memiliki hubungan dengan om nya tersebut. Tapi ia tak pernah membayangkan kalau Jodi akan sampai menikahi Berlian secepat itu, apalagi semua orang tahu kalau usia Berlian masih sangat muda untuk menikah.
Menara tak ingin kabar yang ia tahu itu ia pendam sendiri, tentunya ia akan selalu menceritakannya ke pada kedua temannya yaitu Arash dan Yosan.
Hari itu selepas mereka kuliah, Menara membawa temannya Arash dan Yosan ke rumahnya untuk menceritakan kabar angin mengenai pernikahan Jodi dan Berlian.
Mungkin jika kabar itu sampai ke telinga Yosan yang tidak perduli akan kebersamaan Berlian dan Jodi, kabar itu tidak akan berpengaruh sedikit pun. Tetapi bagaimana kabar itu jika sampai pada telinga Arash yang menyimpan suatu rahasia? Tentu saja akan menjadi masalah bagi kelangsungan pernikahan Jodi dan Berlian. Karena obsesinya untuk memiliki Berlian yang bukan atas dasar cinta tetapi karena ia tahu bahwa Berlian adalah pewaris tunggal Harv Company.
Setelah ia mendengar dari Menara bahwa Berlian telah dinikahi Jodi, betapa terkejutnya ia hingga membuatnya terdiam namun dalam hatinya bergemuruh.
‘Sialan si Jodi! Hebat juga dia bisa sampai menikahi si Berlian!. Gue harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka. Lihat saja Jodi! Elo gak akan lama memiiiki Berlian. Berlian dan seluruh hartanya harus jadi milik gue!.” Bathin Arash.
“Pantas saja dia lari dari acara pertunangan itu, ternyata memang udah punya rencana kawin sama om nya itu.” Yosan berkomentar. Namun ia heran ketika melihat Arash yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
“Kenapa luh?.” Yosan membuyarkan lamunan Arash.
“Gak kenapa-napa. Gak ngaruh juga buat gue sih.” Jawab Arash menutupi apa yang di pikirkannya.
“Ya minimal elo gimana kek, ada komentar gitu.”
“Gue gak ada urusan sama mereka, ngapain juga gue ngomentarin hidup mereka.”
“Tapi kan kalau menyangkut teman kita, itu juga jadi masalah kita Ar.”
“Ya kan kita sama-sama tahu. Berlian gak punya perasaan apa-apa sama elo Ra! Ya kan? Elo juga gak punya perasaan apa-apa sama dia. Ya udah biarin aja mereka bahagia.” Arash berusaha mengomentari kabar angin itu untuk menutupi maksud dan tujuannya.
Sementara Menara hanya diam membatu di atas tempat tidurnya dengan meletakan kepalan tangan pada keningnya.
“Elo gak ngerti ya? Dia udah mulai ada rasa tahu!.” Bisik Yosan pada Arash.
“Ya kalau ceweknya gak mau, gak bisa di paksa-paksa kali Yos. Gimana sih luh.”
“Ya minimal elo hibur dia, bukan ngomong kaya gitu.”
“Ya udah ayo kita cari hiburan… ke club yuk! Kita minum sampai mati!.”
“Sialan luh anjir!” Kata Yosan sembari menoyor kepala Arash.
“Eh Ra, masalah itu semakin dipikirkan akan semakin bikin kita pusing. Masalah itu harus kita lampiaskan biar plong. Gue nih ya! Kalau ada masalah, apalagi sakit hati karena cewek, ya gue cari cewek lagi buat melampiaskan segalanya, abis itu plong deh.” Kata konyol Arash.
“Iya bener Ra, ayo deh kita temenin. Kira-kira elo pengen ngapain atau kemana gitu, biar elo plong Ra?.” Hibur Yosan. Tapi menara tetap diam saja tak menanggapi, namun kemudian terlihat menara bangkit dan,
__ADS_1
“Ayo entar malam kita ke club!! Gue pengen lihat elo minum sampai mati Ar!.” Ujar Menara yang langsung membuka t-shirt nya lalu membuka pintu bagian kamar yang menghubungkan kamarnya langsung dengan kolam renang. Dan BYUUR!! Ia menjatuhkan tubuhnya pada kolam renang tersebut.
“Eh anjir! Kalau gue mati elo yang pertama akan gue datengin haha.” Kata Arash yang juga ikut menceburkan diri ke dalam kolam tersebut setelah membuka pakaiannya.
...........
Sementara itu, nun jauh disana, di negara yang sarat dengan seni klasiknya, termasuk hampir seluruh bangunan disana bergaya klasik. Nampak Jodi di temani Berlian juga Riksa tengah melakukan pertemuan dengan kliennya yang bernama Fu Shen seorang pengusaha kebangsaan Cina.
Pertemuan itu di lakukan di sebuah Museum yang bernama De la revolucion, konon museum itu dulunya bekas istana kepresidenan bergaya menyerupai ruang eponymouse di istana versailles.
Sengaja mereka melakukan pertemuan itu di sebuah museum sembari melihat-lihat sajian dari sejarah negara tersebut. Sehingga mereka terlihat seperti pengunjung atau turis yang tengah menikmati wisatanya di negara tersebut. Tidak terlihat seperti orang yang memang sengaja melakukan pertemuan, tujuannya adalah untuk mengaburkan kecurigaan mana kala ada orang yang memang mengintai mereka. Mengingat Fu Shen tengah berseteru dengan partnernya yang menjadi saingan perang dagangnya.
Sudah dapat di pastikan kemana pun ia pergi, musuh akan selalu mengintainya sebagaimana ia selalu mengikuti perkembangan dari musuhnya sampai harus menyewa agen rahasia shadow man yang di pimpin Jodi tersebut.
Sepanjang Jodi bersama tuan Fu Shen berbincang sembari berkeliling menikmati apa yang ada di museum tersebut, Berlian pun dibiarkan berkeliling sendiri menikmati segala sesuatu yang berada di dalam museum itu di ikuti Riksa di belakangnya. Karena memang titah Jodi agar Riksa mengikuti Berlian kemana pun dia pergi.
‘Apaan yang bagus dari semua ini ya? Kok mereka senang banget ke tempat kayak gini. Termasuk itu bocah. Bagusan ke pantai kali, bisa lihat bokong bule uhuy.’ Bathin Riksa.
Di dalam museum itu mereka cukup lama sekali berkeliling, hingga Berlian sudah puas berkeliling pun, Jodi dan tuan Fu Shen masih belum selesai melakukan pertemuannya.
“Kak Riksa, papa belum selesai ya ngobrol sama kliennya?.” Tanya Berlian yang terlihat sudah mulai kesal.
“Belum nona, mungkin sebentar lagi.”
“Aku sudah lelah kak, gimana dong?.”
“Iya kak.”
“Ya sudah, saya mau bilang sama Boss dulu ya? Nona tunggu di sini.”
“Kenapa kakak harus mencari papa kesana, menghubungi lewat ponsel aja kan bisa.”
“Dinegara ini signal terbatas nona, pemakaian internet dibatasi.”
“Masa sih kak?.”
“Iya nona, negara ini kan salah satu negara yang di embargo, jadi segala bentuk pembangunan dan perekonomian tidak mendapatkan pasokan, jadi mereka mengandalkan sendiri dari SDA dan SDM yang mereka punya.”
“Oh pantas saja, sepanjang kota kita tak menemukan mini market, apa lagi super market yang menjual produk luar ya kak? Tidak seperti di negara kita.”
“Iya nona, untuk bahan makanan saja rakyat disini mengandalkan program pangan mandiri. Mereka setiap hari bergantung mengkonsumsi kacang-kacangan dan umbi-umbian, sayuran dan buah. Tetapi keuntungannya rakyat disini semua sehat hampir tidak pernah ada yang sakit. Karena itu saya membawa makanan banyak dari Indonesia buat nona karena disini nona tidak akan menemukan toko yang menjual makanan.” Jelas Riksa.
“Sangat menarik sekali. Pantas saja aku pernah mendengar menurut data WHO bahwa negara yang memiliki sistem kesehatan terbaik di dunia adalah negara ini ya kak.”
“Iya nona, bahkan sekolah kedokteran terbaik di dunia ada disini, setiap tahunnya mereka menelurkan 6000 dokter, jadi di negara ini jumlah dokter lebih banyak dari pada orang sakit, makanya yang di andalkan dari negara ini jika mengirimkan bantuan bagi negara yang terkena bencana bukan bantuan bahan pangan atau lainnya, tetapi tenaga dokter yang mereka kirim, bahkan disini ada peribahasa satu rakyat ditangani satu dokter.”
__ADS_1
“Hebat! Aku suka.” Decak kagum Berlian.
“Anteng bener.” Tiba-tiba suara Jodi menggugah obrolan mereka.
“Eh papa udah selesai ngobrol sama kliennya?.” Kata Berlian yang terkejut karena tiba-tiba Jodi datang dari arah belakangnya dan langsung memeluknya.
“Udah sayang.”
“Kemana orangnya?.” Berlian mencari-cari orang yang tadi berbicara dengan Jodi.
“Dia sudah pergi.” Jawab Jodi seraya mencium tengkuk istrinya.
Melihat kelakuan mereka. Riksa balik badan, ‘Yaelah… anggap aja gue patung Fidel Castro lah, kebiasaan cium-ciuman gak tahu tempat, huh!.’ Bathin Riksa.
“Ayo sayang kita ke suatu tempat.” Jodi membawa Berlian dengan menggandengnya untuk keluar dari museum itu menuju suatu tempat yang kemarin ia janjikan.
“Kita mau kemana papa?.”
“Papa akan ajak kamu ke Jose marti park.”
“Tempat apaan itu papa?.”
“Jose Marti Park adalah taman kota terbaik di Kuba. Disana kamu akan suka karena disekitaran taman kota itu banyak bangunan-bangunan klasik bersejarah.” Jelas Jodi.
“Ok. Tapi kita makan dulu ya papa? Aku lapar.”
“Baik sayang.”
Kemudian mereka pun berlalu meninggalkan museum itu menuju tempat yang mereka maksud. Riksa yang selalu setia, mengikuti mereka dari belakang.
Singkat cerita, sampailah mereka di taman kota tersebut, setelah mereka menikmati makanan lokal di salah satu restoran di tempat itu.
Berlian langsung berlari mengitari pelataran taman kota yang di kelilingi bangunan-bangunan klasik bersejarah. Sementara Jodi mengikutinya dari belakang bersama Riksa.
“Oya Boss bagaimana kata tuan Fu Shen?.” Tanya Riksa.
“Ya intinya dia minta bantuan kita agar secepatnya dapat membongkar kebusukan kliennya itu. Selebihnya dia cuma ingin kenal gue lebih dekat aja. Karena rasa penasaran dia sama organisasi kita. Yang memang menurut dia terkenal di dunia gaib haha.” Kelakar Jodi.
“Haha.. Boss bisa saja. Memang sih waktu bicara sama gue di telepon juga, maksa-maksa pengen ketemu sama Boss, katanya penasaran banget sama sosok pimpinan shadow man, soalnya lihat kecakapan anggotanya udah pinter-pinter, ganteng-ganteng lagi, apa lagi saat dia lihat gue haha.” Kelakar Riksa.
“Anjir!! Haha.” Kelakar mereka bersama menggema di taman kota terbaik di negara tersebut.
Sementara Berlian masih asik dengan kamera ponselnya mengambil foto bangunan-bangunan klasik di sekitaran taman kota tersebut.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
__ADS_1
Terimakasih readers tersayang atas atensinya 🥰
Luv yu pull pokoke😘