
Arash mendekati temannya itu yang tengah memandangi langit-langit kamarnya.
“Gue curiga elo lagi mikiran Berlian.” Celoteh Arash.
“Kalau iya, mau apa elo?.”
“Pastinya gue cemburu lah hahaha.”
“Sialan luh! Awas aja kalau elo nikung gue.”
‘Emang udah ada dalam rencana gue haha.’ Bathin Arash.
“Eh dari pada elo gabut gak jelas gitu… kita ketemu tante yuk?.” Ajakan sesat Arash mulai dimainkan.
“Najis luh! Gue kan udah bilang, gue gak mau lagi.”
“Ah payah luh… di kasih enak malah nolak.” Ledek Arash.
“Dasar luh me*um! Kelainan jiwa!.”
“Haha… ya udah kalau elo gak mau, gue mau pergi sendiri. Gue udah janjian sama tante Naura tadi.” Kata Arash seraya mengambil jaketnya lalu memakainya, kemudian, “Kalau elo laper, minta aja sama si empar ya Ra.” Sambung Arash kemudian berlalu meninggalkan Menara di dalam kamarnya.
**
Matahari mulai tenggelam keharibaannya di upuk barat. Senja yang temaram menghiasi sebagian langit bagai payung penaung diri.
Sang pengantin perempuan tengah asik bersenda gurau dengan wanita-wanita senior yang selalu menciptakan kebisingan mewarnai kebahagia di setiap harinya. Mereka tengah berbincang pada ruang keluarga rumah mereka.
“Sayang… sekarang kau adalah seorang istri jadi harus lebih dewasa, nanti kau akan menjadi ibu bagi anak-anakmu. Yang pandai lah mendidik anak-anakmu kelak, karena madrasah utama bagi seorang anak adalah rumahnya, dan guru yang utama bagi seorang anak adalah ibunya.” Petuah itu terlontar dari sang oma.
“Kalau aku jadi gurunya, si papa kepala sekolahnya dong ya oma?.” Celoteh Berlian.
Sesaat ketiga perempuan senior itu saling berpandangan kemudian mengulum senyumnya.
“Hihi… iya benar sayang… suami mu itu kepala sekolahnya.” Ujar Delima.
“Oya sayang.. kalau habis menikah biasanya penganten baru itu suka honeymoon, apa kalian sudah berencana untuk bulan madu ke suatu tempat?.” Tanya Eva sang mertua.
“Belum oma, papa belum bicara masalah honeymoon.”
“Eh kalau kalian honeymoon ajak-ajak oma ya?.” Sambung Irma.
“Tentu saja nanti aku akan ajak kalian semua untuk berbulan madu bersama.”
“Kamu kalau bulan madu kira-kira sukanya kemana sayang?.” Tanya Delima.
“Aku terserah papa aja mau bawa aku kemana. Papa tahu kok tempat-tempat yang aku suka.”
“Eh kamu jangan begitu, mintalah sama papamu ke tempat yang paling kamu idam-idamkan. Misalkan kau minta di bawa ke Jepang atau ke negara lain gitu, jangan terserah sama papamu terus.” Delima seolah memanas-manasi.
“Iya deh nanti aku akan pikir-pikir dulu. Oya oma, ibu… aku sudah ngantuk, aku mau tidur dulu ya?.”
“Ya sudah sayang… sana kau istirahatlah.” Kata Delima.
“Papa… aku ngantuk.” Panggil Berlian pada Jodi.
Jodi yang tengah asik berbincang dengan dua pria terbaik dalam hidupnya, mendekat kearah istrinya.
“Kau sudah ngantuk sayang? Ayo kita tidur.” Kemudian Jodi membawa Berlian setelah pamit pada mereka semua.
Setelah sampai kamarnya, Jodi membawa istrinya ke atas tempat tidur, seperti biasa ia merebahkan kepala istrinya di atas dadanya.
“Apa yang kau bicarakan tadi bersama oma dan ibu mu hem?.” Tanya Jodi mesra.
“Kata oma dan ibu, kalau kita honeymoon kita jangan lupa ajak mereka papa.”
__ADS_1
“Ya kalau rombongan bukan honeymoon dong sayang, piknik itu namanya. Kalau honeymoon cuma kita berdua aja.”
“Tapi oma sama ibu mau ikut papa, katanya mereka, aku disuruh minta sama papa buat honeymoon ke Jepang.”
‘Halah itu sih bisa-bisanya mereka aja, dasar pasukan lebah! Ngerecokin mulu!.’ Bathin Jodi.
“Iya deh nanti kita ajak mereka honeymoon kalau ada waktu ya sayang… sekarang tidurlah.” Kata Jodi seraya membelai rambut istrinya itu.
Belaian dan pelukan sang suami begitu membuatnya hangat dan nyaman, tak ada tempat senyaman selain berada bersama sang kekasih hati. Itulah yang membuat dirinya tak bisa lepas dan tak bisa jauh, keberadaannya bagai magnet yang selalu menarik untuk selalu berada di sisinya, ketiadaannya bagai sang malam yang kehilangan dewinya.
Semakin lama semakin belaian itu menghipnotisnya membawa ia kedalam alam bawah sadarnya.
Setelah sang istri terlelap, Jodi perlahan beranjak pergi menemui Riksa sang asisten di ruang kerjanya.
“Gimana Rik? Udah siap semuanya?.”
“Sudah Boss, dua jam lagi kita berangkat.”
“Perlengkapan gue sama bini udah beres semua?.”
“Udah rapi semuanya, udah masuk mobil, kita tinggal brangkat aja.”
“Bagus!. Oya si Angga sama si Tomy udah elo hubungin buat bantu pak Budi di perusahaan?.”
“Udah Boss tadi, jadi besok mereka menghadap pak Budi.”
“Ok. Kalau gitu semuanya udah beres ya?.”
“Udah Boss.”
“Bagus. Ya udah elo istirahat sana, lumayan ada waktu dua jam buat istirahat.”
“Ya udah Boss gue masuk kamar dulu ya. Nanti langsung ke garasi aja ya Boss?.”
Menunggangi waktu yang sempit bagai sekejap mata menyusuri lorong waktu. Dua jam bukanlah waktu yang lama bagi si pencari waktu untuk meniti setiap detiknya. Dan kini adalah saatnya beranjak pada tanggung jawab yang nyata meski harus membawa serta sang kekasih hati tiadalah menjadi beban baginya.
Setelah rapi dengan pakaian lengkap beserta jaket kulit warna hitam, ia meraih jaket serupa untuk sang cinta kemudian berjalan ke arahnya yang tengah terlelap.
“Baby… bangun sebentar.” Ia memakaikan jaket pada tubuh yang masih dalam ketidak sadarannya itu.
“Hm..” Tubuh itu menggeliat karena mendapat sentuhan.
“Sayang… ayo sini.” Sang suami mengangkat tubuh istrinya kedalam pelukannya, kemudian bangkit.
Merasa tubuhnya alami pergerakan, ia sedikit terjaga, “Papa… kita mau kemana?.” Tanya sang istri dengan mata yang masih tertutup seraya melingkarkan tangannya pada leher sang suami.
“Kita akan pergi ke suatu tempat sayang….”Kata Jodi seraya keluar dari pintu kamar dan dengan hati-hati menutup pintu itu.
“Honeymoon?.”
“Iya sayang… kau pasti suka disana.”
“Mh…” jawabnya dengan suara kantuknya.
Jodi telah sampai pada garasi, nampak Budi dan Ferry telah ada di sana.
“Hati-hati ya Jodi? Titip cucuku.” Kata Budi setengah berbisik lantas membelai rambut cucunya yang tengah terlelap dalam pangkuan Jodi.
“Iya pak. Sampaikan pamit saya pada ibu dan Delima.”
“Iya nanti bapak sampaikan.”
Kemudian ia pamit pada ayahnya. “Papa… do’ain aku sama istriku ya?.”
“Iya Jod, hati-hati ya disana, jaga diri dan istrimu baik-baik.”
__ADS_1
“Baik papa. Sampaikan pamit saya pada mama.”
“Ya… pergilah.”
Kemudian Jodi masuk kedalam mobil dengan memangku Berlian pada jok bagian belakang. Sementara Riksa sudah berada pada jok samping kemudi, karena kendaraannya di kendalikan oleh supir yang akan membawa kembali pulang mobil mereka.
Dan mobil pun berlalu perlahan meninggalkan rumah itu dengan di iringi lambaian tangan Budi dan Ferry.
Di dalam perjalanan ke bandara, Berlian masih tertidur pulas dalam pangkuan Jodi.
“Ribet banget ya punya bayi gede hehe.” Celoteh Riksa.
“Gak juga.” Jawab Jodi datar.
“Gue yang ribet lihatnya. Cuma enaknya kalau bayi gede gak minta susu ya? Malah kita yang nyusu sama dia hahay.” Celoteh Riksa.
“Udah mulai deh luh ah! Dasar kutu!!”
“Papa…” Suara sang istri menghalau obrolan mereka.
“Iya sayang.”
“Kita mau kemana?.”
“Kita mau honeymoon ke luar negeri sayang.”
“Apa ibu sama opa oma ikut?.”
“Nanti mereka nyusul sayang.” Ucap bohong Jodi.
“Oh… papa aku haus.”
Riksa langsung menyodorkan botol air mineral pada Jodi, kemudian Jodi memberikan minum itu pada Berlian.
Setelah Berlian menenggak minumannya kemudian ia bangkit dan duduk di sebelah Jodi, terlihat ia sudah berada di dunia nyata.
“Kenapa kita berangkatnya malam papa?.” Tanya Berlian sembari melihat ke sisi kaca mobil.
“Papa ada pekerjaan yang mendesak disana sayang. Jadi kita harus berangkat malam ini juga. Kau tidak apa-apa kan?.”
“Tidak apa-apa papa. Bawalah aku kemana pun papa pergi.” Ucap Berlian sembari memeluk suaminya, lalu sang suami membalas pelukannya itu. Kemudian,
“Oya, nih tas kamu yang ditemukan di mobilnya Maurin.” Jodi memberikan tas milik Berlian.
Lalu Berlian mengambilnya dan membuka tas tersebut. Terlihat di dalamnya ponsel dan dompet pink nya. Pada saat ia membuka dompetnya, bertapa terkejutnya saat melihat tulisan yang pernah ia masukan ke dalam botol di tepi pantai ada di dalam dompet tersebut.
“Loh.. kok tulisan ini jadi ada disini?.” Berlian merasa heran.
“Oh waktu itu papa memasukannya ke dalam dompetmu.”
“Jadi papa yang menemukan tulisan ini?.”
“Iya, message in a bottle, itu kau yang buat?.”
“Hehe, iya. Aku iseng tulis ini saat aku lihat ada botol disana.”
“Macam-macam saja. Bagaimana jika orang yang menemukannya? Apa kau mau jadikan orang itu pacarmu? Ingat kau sudah punya suami!.”
“Hehe.. tapi kan papa yang sudah lebih dulu menemukannya.”
Dan mobil yang membawa mereka pun akhirnya sampai di bandara. Mereka turun dari dalam kendaraannya dan berlalu menuju pintu terminal.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih untuk readers tersayang yang selalu setia sampai titik ini😘😘
__ADS_1