
Warning!!!
Tersemat konten 17+
Harap bijak dalam membacanya!!!
Terima kasih🥰
..........
Diceritakan di sebuah kampus tempat Berlian menggali ilmunya. Nampak Berlian terlihat tengah duduk di atas kursi taman kampus bersama temannya Maurin.
“Maurin kau tahu? Kalau aku di jodohkan oleh orang tuaku dengan Menara.” Kata Berlian. Mendengar kata temannya itu sontak mata Maurin membulat dan memuncratkan minuman yang baru saja ia seruput.
“Apa!! Kau di jodohkan dengan Menara?.”
“Iya. Mungkin pestanya akan di gelar dalam waktu dekat.”
“Kau menerimanya?.”
“Iya.”
“Serius!!! Bukannya kau tidak suka padanya?.”
“Apakah menerima sesuatu itu harus selalu di landasi suka terlebih dahulu?.”
“Lalu kalau kau tidak suka! Atas dasar apa kau menerimanya hah?.”
“Kita sama-sama saling tidak menyukai Maurin. Tapi kami harus menerima ini karena alasan lain.”
“Ish… kalian itu aneh. Kalau aku sih ogah menerima sesuatu tanpa rasa cinta, itu hanya akan mengganggu pikiranku saja.”
“Kau tidak marah padaku?? Idolamu itu menjadi tunanganku? Hehe.”
“Kenapa aku harus marah padamu, kan masih ada sisanya dua orang lagi haha.”
“Hehe kamu bisa saja.”
“Bukan aku yang marah Berli.. tapi noh ribuan penggemar dia yang lain yang akan kecewa pastinya haha.”
Kemudian dari arah depan mereka Menara menghampiri, melihat Menara mendekat, Maurin undur diri meninggalkan mereka memberi kesempatan untuk mereka berdua.
“Aku kesana dulu ya? Orang yang kita bicarakan mendekat kesini hehe.” Maurin pergi menjauh. Kemudian Menara duduk di sampin Berlian.
“Kemarin mamaku mengatakan bertemu dengan mamamu di Bandung dan mereka….” Belum selesai Menara mengatakan kata-katanya, Berlian langsung memotong,
“Ya ibuku dan opa ku juga sudah bilang padaku mengenai rencana pertunangan itu.”
“Aku menerima pertunangan itu.” Balas Menara.
“Aku juga.” Sambung Berlian.
“Tapi tenang saja, sesuai kesepakatan kita. Semua itu kita lakukan untuk membuat mereka senang dan kita tetap jalan sendiri-sendiri di belakang mereka.” Kata Menara.
“Ya. Kita harus berpura-pura senang dengan semua ini agar mereka tidak curiga.”
“Oya bagaimana dengan papamu itu? Apa dia marah?.”
“Tidak. Dia dewasa, dia tidak pernah marah, dia setuju dengan semua ini.”
“Aku akan bilang padanya nanti, untuk memastikan kalau aku tidak benar-benar menginginkan semua itu. Aku tahu kalian saling mencintai.”
“Terima kasih kak Menara. Kau baik.”
“Anggap saja itu adalah permintaan maafku karena pernah ngebully kamu hehe.”
“Aku gak pernah merasa di rugikan kok kak, jadi tenang saja.”
“Oya. Boleh aku bertanya?.”
“Ya ada apa?.”
“Kenapa kau menyukai dia? Padahal dia sudah tua.”
__ADS_1
“Entahlah… dia begitu hangat dan membuatku nyaman. Itulah yang aku rasakan saat dekat dengannya. Orang yang sudah benar-benar matang akan mengerti kita, dan sangat tahu bagaimana kita.” Jelas Berlian.
“Apa karena dia lelaki yang sudah mapan? Sehingga bisa menjamin kehidupanmu?.”
“Bagiku bukan karena itu, karena aku punya banyak uang untuk menjamin kehidupanku, tapi aku mencintainya karena hatiku sudah berhenti di hatinya. Kau tahu? Cintaku tidak buta padanya. Bukankah dia juga lelaki tampan yang kala wanita melihatnya dapat tergoda?.”
“Ya aku tahu itu. Dan kuharap dia tidak marah padaku karena kekasihnya bertunangan denganku.”
“Tenang saja. Dia tak akan marah padamu. Dia lelaki yang sangat sangat mengerti. Kapan-kapan kita jalan bertiga ya? Agar kita lebih akrab hehe.”
“Ok. Sepertinya dia orang yang sangat menyenangkan.”
“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin aku mencintainya hehe.. oya? Bagaimana dengan kekasih kakak? Apa dia tahu kalau kakak akan bertunangan denganku? Apa aku harus bicara padanya untuk menjelaskan semuanya?.” Tanya Berlian pura-pura tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka.
“Tidak perlu. Biar aku saja yang cerita padannya.” Kata bohong menara, padahal yang sebenarnya dia sudah memutuskan hubungannya dengan Narita. Kemudian, “Ya sudah, aku masuk kelas dulu.” Sambung Menara lantas pergi meninggalkan Berlian di taman itu.
...........
Di rumah mewah Menara, nampak sang ibu tengah sibuk menyirami tanaman di taman rumahnya, kemudian Dae Jung yang baru saja datang mendekat ke arahnya dan memeluknya.
“Eh, papa sudah pulang?.” Tanya sang istri.
“Sudah mam, bagaimana Menara?.”
“Dia sekarang telah berubah pap.”
“Maksud mama?.”
“Papa tahu tidak? Kalau dia menerima rencana pertunangan itu.”
“Benar kah?.”
“Benar pap, dia bilang kalau dia sudah putus dengan si Narita, makanya dia menerima rencana pertunangan ini.”
“Putus?.”
“Iya Menara mengatakan pada mama dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan wanita itu. Papa tahu? Mama sangat senang mendengarnya. Artinya kita tidak akan pernah besanan dengan orang-orang gak jelas itu.”
“Rencana pertunangan ini benar-benar merubah putra kita pap, dia sekarang jadi sering di rumah, kemarin saja pulang kuliah dia langsung pulang kerumah, bukan kah itu perubahan yang cukup luar biasa?.”
“Ya syukurlah kalau begitu. Semoga kedepannya akan lebih baik.”
“Ya semoga.”
...........
Sementara itu di tempat lain, yaitu di sebuah kantor perusahaan, Jodi terlihat tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Diruang meeting bersama stakeholder ia tengah membahas projek baru yang akan mereka luncurkan, terlihat mereka begitu semangat dalam membahas strategi-strateginya hingga selesai.
Setelah selesai Jodi meninggalkan ruang meeting itu dan kembali ke ruangannya. Pada saat ia membuka pintu ruangannya, sudah nampak Berlian duduk di kursi kerjanya tengah asyik dengan laptop di hadapannya.
Perlahan Jodi mendekat kearahnya, “Kau sudah pulang sayang?.” Tanya Jodi lantas mencium bibir mungil itu.
“Sudah papa… pulangnya siang karena jadwal mata kuliahnya sedikit.” Jawab gadis itu seraya membalas tautan bibirnya.
Kemudian gadis itu berdiri dan menarik tangan Jodi lalu mendorong tubuh Jodi untuk duduk pada kursi kerja itu.
Dengan cepat ia duduk di atas pangkuannya saling berhadapan kemudian menyerang Jodi dengan lum*tan bibirnya.
“Kau sekarang agresif sayang hehe.” Kata Jodi seraya melancarkan serangan balik dengan bibir kokohnya.
Saling mel*mat dan menyesap hingga keduanya terbuai menari-nari diangkasa.
Karena suasana semakin memanas, akhirnya Jodi membawa gadis itu dalam pangkuannya menuju kamar pribadinya.
Jodi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur menindih tubuh gadis itu dengan serangan bibirnya yang terus bergerilya tanpa memberi ampun. Hingga bibir nya semakin turun ke area leher putih gadis itu hingga de*ahan manja terdengar samar semakin menggugah gairah.
Sementara tangan yang sudah tak terkendali menjamah benda kenyal pada dada gadis itu yang membuat gadis itu semakin menggeliat karena sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Kau suka sayang?.” Suara serak dengan mata sayu keluar dari bibir sang cinta.
“Hm..” Jawab sang gadis tak kuasa menyuarakan kata karena sensasi baru mengunci mulutnya.
__ADS_1
Sementara itu Riksa yang sudah beberapa kali mengetuk pintu ruangan Boss nya tetapi tidak mendapatkan jawaban, akhirnya memaksa masuk namun tak menemukan siapa pun di dalamnya, hanya samar-samar terdengar olehnya suara des*han seorang gadis dari ruang pribadi Boss nya itu.
‘Yaelah… siang bolong begini udah reproduksi, di kantor pula. Hadeh…. Apa gak bisa nunggu entar malam gitu?… dasar Boss me*um.’ Gumam riksa yang kemudian meletakan dua paket makanan siap saji di atas meja kerja Boss nya itu.
‘Nih makan siangnya… abis mantap-mantap pasti pada laper deh tuh entar… ah.’ Bathinnya seraya pergi meninggalkan ruangan Boss nya tersebut.
“Papa…ah.” Suara gadis itu memecah keheningan.
“Mh..” Jawab Jodi yang entah sibuk apa dengan bibirnya di atas dada gadis itu.
“Sepertinya ada orang di luar sana.” Tapi Jodi tidak menjawab ia masih sibuk dengan sesuatunya.
“Oh… papa berenti dulu.”
“Biarkan saja sayang, paling Riksa mengantar makanan.”
“Oh… Ayo kita makan dulu, aku lapar.”
“Sebentar sayang.. belum beres.”
“Udah papa.. aku geli.”
‘Aargh… si Riksa ganggu aja!.’ Bathin kesal Jodi. kemudian ia menghentikan aktivitasnya, lalu membenahi kancing baju pada gadis itu juga membenahi pakaiannya sendiri.
“Sebentar! aku mau pipis dulu.” Berlian lari menuju kamar mandi. Melihat tingkah gadis itu Jodi tersenyum kecil dan mendekat pada pintu kamar mandi,
“Kau basah ya sayang?. Hehe.” Ucap nya seraya berlalu ke ruang kerjanya. Terdengar di dalam kamar mandi menyahut, “Ih… apaan sih… papa me*um.” Jodi hanya mengulum senyumnya.
Di ruang kerja, Jodi sudah melihat di atas meja kerjanya dua porsi makanan siap saji. Kemudian ia membuka keduanya.
Tak lama Berlian datang dan mendekat seraya duduk di pangkuan Jodi, menarik salah satu makanan itu dan siap menikmati makan siangnya.
Melihat gadis yang tengah menikmati makanannya Jodi mengulum senyumnya sembari memandangi gadis itu yang tengah lahap.
“Lapar ya sayang? Abis nyanyi-nyanyi.. hehe.” Goda Jodi.
“Ih apaan sih.. papa gila!.” Ucap gadis itu dengan pipinya yang memerah karena malu.
“Hehe… gak usah malu, nanti juga akan terbiasa.” Ujar Jodi seraya mengecup pipi merah gadis itu.
Di tengah-tengah mereka menikmati makan siangnya Riksa masuk.
“Baru pada makan siang ya? Padahal dari tadi loh di simpan disitu hehe.” Sindir Riksa.
“Udah jangan banyak ngomong. Ada apa?.” Tanya Jodi.
“Ini ada pesan via WhatsApp konfirmasi kehadiran pesta nanti malam.”
“Ya udah jawab aja, kita akan datang.”
“Ok Boss.” Kemudian Riksa membalas pesan itu pada ponselnya.
“Elo mau datang bawa siapa Rik?. Masa elo dansa sama tembok?.”
“Anjir! Haha keras dong.. Gue nyari di tempat aja deh Boss, ada yang nganggur gue sikat haha.”
“Gila luh!.”
“Tuan putri mau bawa siapa dong? Datang sama tunangannya ya?.” Goda Riksa pada Berlian.
“Ih… kak Riksa diem ah.”
“Elo tuh ya iseng terus kerjaannya.” Ujar Jodi.
“Becanda kali Boss.. ya udah nanti kalau siap pulang kabari aja ya Boss gue nunggu di ruangan.” Kata Riksa seraya pergi dari ruangan Boss nya itu, sebelum sampai pada pintu keluar, “Yang banyak makannya tuan putri, energi yang terkuras harus cepat di ganti hehe.” Sindir Riksa kembali.
“Sialan luh!.” Geram Jodi sembari melemparkan ballpoint ke arah Riksa.
“Haha…” Riksa terbahak sembari menyelamatkan diri keluar dari pintu tersebut.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Terima kasih atas Like vote dan favorite nya🥰🥰
__ADS_1