Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Mas Kawin


__ADS_3

Fajar yang telah siap mendongakkan senyumannya menyisirkan cahayanya melalui celah-celah Sempit memaksa diri akan kehadirannya.


Suara nyanyian alam seolah mengiringi eksistensi sang fajar, tanda mereka siap melayani makhluk yang menerima kehadirannya.


Pancaran sinarnya yang menembus sebuah rumah mewah di sudut ibu kota membangkitkan tiga perempuan yang memiliki misi yang sama. Eva, Irma dan Delima, tiga wanita beda generasi itu berbisik pelan setelah menyelesaikan ibadahnya bersama.


“Aku sudah membeli beberapa test pack bu, buat Berlian.” Kata Delima pada Irma dan Eva.


“Bagus! Ayo kita ke kamarnya, kita bangunkan dia supaya pipis dan kita ambil pipisnya hehe.” Ujar Irma.


“Eh besan… kok aku jadi deg-degan gini ya?.” Kata Eva.


“Kenapa anda yang jadi deg-degan? Kan yang mau uji kehamilannya juga menantu anda hihi.” Celoteh Irma.


“Aku deg-degan karena aku merasa tidak percaya kalau aku sebentar lagi akan menimang cucu hihi.”


“Ya sudah ayo kita ke kamarnya.” Ajak Delima kepada kedua oma-oma itu.


Sementara Berlian yang berada di kamar Jodi terbangun karena ia merasa tidak kuat ingin buang air kecil.


Dengan mata setengah terbuka ia berjalan menuju kamar mandi dan melepaskan sesak di perutnya, setelah merasa lega ia kembali ke atas tempat tidur. Dilihatnya sang lelaki tengah mendengkur pelan seakan memanggil dirinya untuk mendekat.


Kemudian ia dekatkan bibirnya lantas mengecupnya. Jodi terjaga kala ia merasakan dingin pada bibirnya, setengah sadar ia mencoba membuka mata, terlihat gadisnya tengah berada di atas tubuhnya.


“Sayang… apa yang kau lakukan?.” Suara seraknya semakin menggoda sang gadis. Namun sang gadis tak menjawab, ia malah terus memandangi wajah tampan itu dan sesekali mengecupnya.


“Sudahlah sayang… ayo sana mandi.” Kata Jodi yang mulai menemukan kesadarannya.


“Sebenar lagi papa, aku masih betah di atas sini.”


“Kau senang dia atas ya? Hehe.”


“Ish.. papa mes*m.”


“Hei kau yang selalu duluan menggodaku, sebenarnya siapa yang mes*m hem?.” Kata Jodi seraya membelai wajah gadis itu.


“Tapi aku kan tidak melakukan apa pun, aku hanya senang memandangi papa dari atas sini.”


“Aw… oh… kau jangan bergerak-gerak sayang ouh.”


“Kenapa memangnya?.”


“Kau membangunkan sesuatu sayang, diam lah tak usah goyang-goyang.”


“Aku gak goyang-goyang, papa sendiri yang gak bisa diem.”


“Turunlah sayang… ayo sana lekas mandi.” Jodi semakin tidak enak dengan posisinya.


“Sebentar lagi papa.. papa tidur lagi aja deh, berisik ih.”


Sementara itu, Eva, Irma dan Delima yang sudah sampai di depan pintu kamar Berlian, mulai mengetuk pintu, namun beberapa kali pintu itu di ketuk tak ada jawaban, akhirnya mereka bertiga masuk, namun setelah mereka masuk, mereka tidak menemukan Berlian pada tempat tidurnya. Lalu mereka memeriksa ke kamar mandinya, tak juga mereka temukan gadis yang di carinya.


Sesaat mereka berpandangan, kemudian ketiganya terdiam dan sama-sama menjuruskan pandangannya pada kamar sebelah.


“Mungkin kah Berlian tidur di kamar sebelah?.” Kata Delima.


“Oh.. ya Tuhan… .” Eva dan Irma saling berpandangan dengan menutup mulutnya yang menganga.


“Ayo kita cek.” Kata Delima membawa oma-oma itu meninggalkan kamar Berlian menuju kamar Jodi.


Sesampainya di depan pintu kamar Jodi mereka terdiam, dan benar saja mereka mendengar sayup-sayup suara Berlian di dalam kamar Jodi. Lantas ketiganya menempelkan telinganya masing-masing pada daun pintu.


“Oh… sayang… jangan seperti ini ouh…sakit tongkat komando papa.”


“Aw… sakit papa ah…” Jodi menggigit paha Berlian agar Berlian turun dari tubuhnya, dan benar saja usaha nya berhasil, Berlian turun dari atas tubuhnya, kemudian dengan cepat Jodi mengungkung tubuh gadis itu hingga kini posisinya berbalik, Jodi menutup tubuh mereka dengan selimut hingga kepala.


“Kena kau hah!.”


“Ampun papa haha… udah geli.” Jodi menggelitik gadis itu hingga meronta-ronta.

__ADS_1


Sementara ketiga orang yang tengah menguping di balik pintu saling berpandangan menutup mulutnya yang menganga.


“Apa yang mereka lakukan di dalam sana?.” Bisik Irma.


“Entah lah… sepertinya sedang….” Jawab Eva.


“Oh…. Tidak….tidak…. Tidak mungkin pagi-pagi begini mereka melakukan….” Sanggah Delima.


Namun keberadaan mereka diketahui oleh pak Budi.


“Sedang apa kalian di sini?!.” Tanya pak Budi pada ketiganya sontak ketiganya terperanjat kaget.


“Hehe… gak lagi ngapa-ngapain kok pak, ayo pak kita olahraga.” Ajak bu Irma malu-malu pada suaminya, ia sengaja mengajak pak Budi untuk mengalihkan topik pembicaraan agar tidak banyak bertanya lagi dan untuk menutupi kelakuan konyolnya.


“Kalian lagi nguping ya?.” Gertak pak Budi.


“Eh… Ssssttt… bapak ih jangan keras-keras ngomongnya, nanti mereka dengar.”


“Mereka siapa?.” Pak Budi mengernyitkan dahinya.


“Mmh…. Itu mereka… cucu kita sama…” Kata bu Irma gugup, menunjukan telunjuknya pada pintu kamar Jodi.


Belum sempat bu Irma melanjutkan kata-katanya, pak Budi langsung menangkap sesuatu yang mencurigakan lantas dengan cepat dibukanya pintu kamar Jodi itu.


BRAK!!!!


Suara pintu itu mengagetkan Jodi dan Berlian yang tengah berada di dalam selimut hingga membuat keduanya menimbulkan kepalanya dari dalam selimut melihat ke arah pintu yang sudah terbuka lebar.


Sementara Irma, Eva, Delima dan pak Budi, terkejut membulatkan matanya melihat Jodi di atas tubuh Berlian yang tertutup selimut sampai lehernya.


Dengan cepat Jodi bangkit, “Sedang apa kalian di depan pintu kamarku?.” Tanya Jodi pada mereka.


“Kau sendiri sedang apa di dalam selimut dengan cucuku hah!.” Pak Budi sedikit kikuk


“Hehe… kalian lagi ngintip ya?.” Kata polos Berlian.


“Aku lagi main-main saja. Terus opa sama oma-oma dan ibu lagi ngapain di depan pintu kamar om?.”


“Eh ibu ada perlu sama kamu, tadi Ibu nyari kamu di kamar gak ada, kami menduga kamu berada di kamar om mu dan ternyata benar. Ayo sini kita ke kamar mandi.” Kata Delima mengalihkan pembicaraan kemudian meraih tangan Berlian hendak membawa Berlian ke kamar mandi, disusul oleh Irma dan Eva.


“Mau apa sih bu?.”


“Ayo, kamu harus pipis terus pipisnya masukin ke tempat ini sebagian.” Kata Delima pada Berlian memberikan wadah kecil.


“Buat apa sih bu?.” Berlian tidak mengerti.


Melihat kelakuan Delima, Jodi geleng-geleng kepala.


“Ayo pipis aja dulu, nanti juga kamu tahu.”


“Aku udah pipis tadi bu, sekarang lagi gak mau pipis.”


“Bisa kok pipis lagi… ayo sayang.” Delima membawa Berlian masuk ke kamar mandi.


Setelah dalam kamar mandi, “ayo sayang pipis… keluarin aja gak apa-apa sedikit juga.” Paksa Delima.


“Ibu ih gak bisa, gak keluar, aku udah pipis banyak tadi.” Rengek Berlian


“Ayo….” Paksa mereka bertiga.


“Papa…….” Teriak Berlian. Dengan cepat Jodi masuk ke kamar mandi.


“Ada apa sayang?”


“Aku di paksa pipis sama ibu.”


“Ya Tuhan Del… apa-apaan sih. Gak bisa di paksa-paksa dong… orang dia udah buang air kecil tadi. Udah deh jangan aneh-aneh ah. Gue pastikan dia tidak apa-apa!.” Kata Jodi dengan nada kesal.


Kemudian Jodi membawa Berlian keluar kamar mandi. Sementara Delima diam, lalu perlahan ia keluar dari kamar mandi menghampiri oma-oma yang berdiri dekat pintu, sementara pak Budi sudah berlalu sejak mereka ribut di kamar mandi.

__ADS_1


“Sini…. Wadah nya! Biar gue isi kencing gue!.” Geram Jodi.


“Oh gak deh… gak usah… permisi….” Delima berlalu membawa oma-oma keluar dari kamar Jodi.


“Macam-macam saja itu emak-emak. Udah nuduh yang enggak-enggak. Maksa-maksa suruh orang pipis, ah ada-ada saja!.” Gumam Jodi, lalu ia duduk di sofa kamarnya.


“Papa, kenapa ibu maksa aku suruh pipis?.” Tanya Berlian yang mendekat ke arah Jodi.


“Ibu mu mau tahu kamu hamil apa gak? Karena kemarin kamu muntah-muntah.”


“Oh begitu. Hehe… ada-ada saja.”


“Ya sudah kau kembali lah ke kamarmu lekas mandi, kita akan pergi.”


“Pergi kemana papa?.”


“Kau lupa? Kalau besok kau nikah? Dan aku harus membeli mas kawin buatmu. Kau mau mas kawin apa sayang?.” Jodi menarik tangan Berlian dan membawa tubuh gadis itu ke atas pangkuannya lantas memeluknya.


“Apa saja terserah papa.”


“Ya sudah sekarang kembali lah ke kamarmu dan lekas mandi.”


“Baiklah… Muach.” Berlian mengecup pipi Jodi lantas bangkit dari pangkuan Jodi kemudian berlalu meninggalkan kamar lelaki itu.


Kemudian Jodi beranjak dari sofanya lalu masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi Jodi memakai pakaiannya namun pada saat ia akan memakai t-shirt nya, pintu kamarnya diketuk dari luar lalu ia membukanya, nampak Riksa di hadapannya.


“Ini Boss koper-kopernya, sama ini nih dompet dan ponsel nona yang waktu kita temukan di TKP itu.” Kata Riksa menyerahkan tas kecil milik Berlian.


“Oh iya Rik. Makasih ya? Tolong elo simpan aja koper-kopernya dekat lemari.”


“Ok Boss. Gue mau ngurusin buat acara besok, gue duluan ya bos?.”


“Ok.”


Kemudian Jodi memakai t-shirt nya, setelah rapi ia berlalu meninggalkan kamarnya.


Tak berselang lama Berlian keluar dari kamarnya, dan sama-sama menuju ruang makan.


“Mau kemana udah pada rapi?.” Tanya Eva yang tengah menghidangkan makanan untuk sarapan bersama Irma dan Delima.


“Mau ke mall oma. Papa mau beli mas kawin buat aku.” Jawab Berlian seraya duduk di samping Jodi.


“Oma ikut ya?.” Pinta Eva.


“Boleh oma.”


“Ibu juga mau ikut ya?.” Sambung Delima.


“Iya boleh bu.”


“Hehe oma juga mau ikut dong.” Kata Irma.


Mendengar emak-emak pada mau ikut Jodi memutar bola matanya.


‘Udah nih… pastinya riweuh lagi disana hadeh…’ Bathin Jodi.




💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih buat readers tersayang yang sudah setia sampai bab ini😘😘😘


Terus kawal Berlian ya? Biar dapat give away nya 😍


Makasih🥰

__ADS_1


__ADS_2