Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Kelahiran yang dramatis


__ADS_3

Jodi memangku Miriam yang sejak tadi rewel memanggil-manggil mamanya. Biasanya putrinya tidak akan rewel seperti itu jika sudah berada di pangkuannya. Namun kali ini Miriam sulit ditangani, hingga akhirnya suara tangisannya mengundang orang tua Jodi dan Delima masuk ke dalam kamarnya.


“Kenapa Miriam Jod?.” Tanya Eva.


“Gak tahu Ma, dia gak berenti nangis dari tadi.”


“Ada yang terasa sakit kali ya di badannya? Sini sayang.” Kata Delima seraya meraih tubuh Miriam dari pangkuan Jodi.


“Perasaanku juga tidak enak dari tadi, kenapa ya?.” Kata Jodi.


“Mama pikir cuma mama saja yang merasakan gak enak perasaan.” Sambung Eva.


“Loh kok kita sama ya? Aku juga gak enak hati ini, kenapa ya?.” Ujar Delima.


“Aku merasa… telah terjadi sesuatu pada istriku Ma, sekarang kan usia kandungannya 9 bulan. Aku punya firasat putraku akan lahir Ma.” Kata Jodi menatap ibunya dengan tatapan meremang.


“Jod. Kita do’akan istri dan putramu ya? Semoga mereka mendapatkan keselamatan dan kemudahan dari Allah.” Ucap sedih Eva.


“Hiks… putriku… dimana kau nak?.” Lirih Delima sembari terus menenangkan Miriam.


“Aku benar-benar payah! Kenapa sampai sekarang aku tak mampu menemukan istriku!.” Kata Jodi seraya mengusap kasar rambutnya.


“Yakinlah kita akan menemukannya Jod, yang penting sekarang kita do’akan dia dan bayinya agar baik-baik saja dimana pun mereka berada.” Ucap Eva.


“Kenapa aku bisa dengan mudah memecahkan kasus-kasus klienku, tapi aku tak mampu menemukan istriku. Sudah dua bulan ma istriku menghilang dan aku masih belum dapat menemukan keberadaannya. Aku kalah ma… aku kalah!.” Ucap sedih Jodi.


“Dengar baik-baik putraku! Kau boleh merasa kalah sekarang. Tapi kau tidak boleh menyerah. Bukankah kau janji akan menemukan dia?! Maka yakinlah kau akan menemukan dia, nanti!.” Kata sang ibu lantang.


“Kemana dokter itu membawa putriku hiks.. kenapa dia tega mengambil putriku satu-satunya.” Tangis Delima.


“Dokter gila itu seperti ular. Sangat licin dan pandai bersembunyi. Aku masih belum juga dapat menemukan dia! Dimana sebenarnya dia menyembunyikan istriku!.” Kata Jodi setengah putus asa.


“Bagaimana dengan yang dilakukan polisi?. Apa ada perkembangan?.” Tanya Delima.


“Sama juga, polisi kesulitan dalam mencari mereka.” Balas Jodi.


“Ya Tuhan… kemana sebenarnya dokter itu membawa menantuku pergi hiks.” Tangis Eva.


“Ma aku pasti dapat menemukan istriku. Jadi tenang saja ya. Sekarang aku akan pergi ke markas dulu ngontrol tim. Sudah sejauh mana perkembangannya. Mudah-mudahan ada kabar baik.”


“Iya Jod hati-hati ya?.”


“Ya ma, titip Miriam ya?.”

__ADS_1


“Ya. Pergilah.”


Kemudian Jodi memakai jaket kulit hitamnya lalu pamit kepada ibunya dan Delima seraya berlalu meninggalkan kamarnya menuju ruangan dimana Riksa sudah menunggunya di ruang tengah.


Jodi bersama Riksa pergi menunggangi kuda besinya menuju markas mereka.


............


Sementara itu di dalam bunker keadaan Berlian sungguh sangat mengkhawatirkan.


Betapa Malang nasibnya, ia berusaha sendiri menahan rasa sakit di perutnya itu, sementara orang yang ia panggil tak datang juga, kerinduan pada orang-orang terkasihnya semakin menusuk relung hatinya.


Disaat-saat seperti sekarang ini lah seharusnya ia berada di samping mereka yang begitu mengasihinya, terutama suami tercintanya. Namun sungguh Malang nasibnya kini. Ia berjuang sendiri dalam keadaan antara hidup dan mati memperjuangkan putranya yang akan lahir kedunia.


“Papaaa…hiks… sakiiit.” Jerit Berlian tak mampu menahan nyeri di perutnya.


Ia merangkak menuju ke atas tempat tidur. Sebagian tubuhnya telah habis bersimbah air ketuban yang telah pecah.


“Hiks… Malang sekali nasibku duhai Tuhanku…kenapa aku harus sendiri dalam keadaan seperti ini… aku sudah tidak kuat lagi Tuhan… aku mohon selamatkan lah putraku.” Pekik jerit Berlian.


Dengan sekuat tenaga ia tertatih-tatih merangkak untuk mencapai tempat tidur, walau dengan susah payah akhirnya ia dapat meraih ujung tempat tidur.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia naik keatas tempat tidur memposisikan dirinya senyaman mungkin.


Setelah ia merasa nyaman, perlahan ia mengatur nafasnya. Tubuh yang telah basah bersimbah peluh, dan wajah yang pucat pasi berusaha sendiri mengatasi masalah besar yang tengah ia hadapi. Tanpa suami dan tanpa orang-orang terkasih ia berjuang sendiri.


Satu tarikan nafas ia hentakan dengan sekuat tenaga, sepersekian detik terdengar suara tangisan bayi mungil memecah kesunyian di dalam ruangan itu.


Haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Ia masih tak percaya akan tangisan bayi yang baru saja ia dengar itu, “Ya Tuhan… bayiku… bayiku telah lahir.” Berlian meraih bayi merahnya dengan tangisan haru ia mendekap tubuh kecil yang sehat itu di iringi deraian air mata. Kemudian ia letakkan bayi itu di atas dadanya.


“Hiks… putraku telah lahir.. terima kasih Tuhan.. ia lahir dengan selamat.” Pecah tangis Berlian kala itu. Namun sesaat kemudian ia merasakan sakit kembali pada perutnya.


Sekali lagi ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam rahimnya, sepersekian detik ia mampu mendorong ari-ari itu keluar.


Berlian terkulai lemas dengan bayi mungil di dalam pelukannya. Tak dihiraukannya darah yang memenuhi tempat tidur itu, yang ingin ia lakukan adalah melepas lelahnya.


Ia tertidur bersama bayi nya yang menyusu diatas pelukannya.


Sungguh dramatis kelahiran putranya itu, tanpa pengalaman dan pengetahuan yang cukup, Berlian berupaya agar dapat melahirkan putranya dengan selamat. Dan ajaibnya ia mampu melewatinya meski harus bersusah payah.


Entah sudah berapa lama ia terlelap. Pada saat ia terjaga dan membuka matanya, tubuhnya telah bersih dengan pakaian barunya.


Ia melihat sekeliling, kesadarannya belum penuh ia rasakan. kemudian ia mengingat-ingat kejadian yang ia alami. Seketika ia mengingat akan kelahiran putranya tadi.

__ADS_1


“Dimana putraku…. Dimana dia.” Dengan wajah panik Ia mencari bayi yang telah di lahirkan itu, namun tak ia temukan di sekitarnya.


Tapi pada saat ia menjuruskan pandangannya kearah sofa, ia melihat Alfredo tengah memangku seorang bayi kecil.


“Dokter… berikan bayiku padaku!.” Kata Berlian hendak bangkit untuk mengambil putranya dari pangkuan Alfredo.


“Jangan bergerak nyonya.” Kata Alfredo seraya mendekat kearah Berlian dan menyerahkan bayi mungilnya itu.


Bergegas Berlian memgambil putranya itu, “Hiks… putraku.” Ia mendekap bayi mungil itu dengan tetesan air mata seraya menciuminya.


“Kau hebat nyonya… kau mampu melahirkannya sendiri. Maaf saya terlambat datang, kelahiran putra anda di luar prediksi saya.” Ujar Alfredo.


Berlian diam seribu bahasa, ia tak menanggapi perkataan Alfredo. Ia hanya fokus pada putranya saja.


Tak berapa lama terlihat Alfredo mengambil makanan untuk Berlian.


“Nyonya makanlah… nyonya pasti lemas karena kehabisan tenaga.” Ujar Alfredo seraya menyerahkan piring makanan itu di atas nampan dan meletakkannya di dekat Berlian.


Semakin lama Berlian tinggal disana semakin dia hafal karakter Alfredo, ia tahu Alfredo tidak akan pernah suka jika ia meminta pulang dan menyebut nama keluarganya apalagi nama suaminya.


Jadi Berlian berusaha menuruti apa yang di katakan dan di inginkan oleh Alfredo, meskipun tidak sesuai dengan hatinya, ia harus berpura-pura seolah-olah sedikit demi sedikit ia melupakan masa lalunya. Karena hanya dengan cara itulah ia merasa aman.


Meski pun ia harus menahan rasa rindu pada suaminya. Untuk sementara waktu, ia hanya dapat menyimpannya dalam hati saja. Karena jika tidak begitu, ia akan merasa kesulitan mencari jalan keluar dari tempat itu.


Yang ingin ia lakukan saat ini adalah bagaimana caranya agar Alfredo percaya padanya.


‘Baik dokter… mari kita bermain-main denganku. Rasa sakit dan kesendirian yang kau ciptakan untukku. Telah membuat diriku menjadi pribadi yang mampu melawan siapapun. Kini aku tidak takut lagi akan apa pun, sebagaimana aku tidak takut saat di penghujung antara hidup dan mati!. Kita lihat… siapa yang akan menang! Kau atau aku! Demi putraku aku bersumpah! Tanpa bantuan siapa pun aku dapat keluar dari tempat ini. Sebagaimana aku dapat melahirkan putraku sendiri tanpa bantuan orang lain.’ Berlian membathin dengan gemuruh yang ia rasakan di dalam hatinya.


Berlian menyantap makanan yang di berikan oleh Alfredo itu hingga habis. Ia benar-benar lapar setelah seluruh tenaganya terkuras habis. Selagi ia menikmati makanannya. Terlintas dalam ingatannya wajah putri dan suami tercintanya.


‘Hiks.. papa, seandainya kau ada disini, tentunya kau tak akan membiarkan aku makan sendiri. Kau pasti sudah menyuapiku dan memeluk putra kita ini. Papa… putra kita tampan mirip denganmu. Dia putra yang sehat papa… dan kali ini aku akan memberinya ASI ekslusif. Papa… aku rindu padamu dan putri kita hiks… doakan kami disini, semoga kami mampu melewati hari-hari kami tanpa kalian. Aku tahu kau pasti sedang berusaha mencari kami…. Mari kita sama-sama berjuang papa… Aku pun akan berusaha keluar dari tempat ini, apa pun dan bagaimana pun caranya.’ Bathin Berlian.


Sementara di dalam hati Alfredo, ia merasakan begitu bahagia karena ia melihat perubahan pada diri Berlian yang ia rasakan, sedikit demi sedikit Berlian sudah sesuai dengan kehendaknya.


Ia begitu yakin Berlian sudah sedikit lupa pada suami dan keluarganya. Padahal tanpa ia ketahui Berlian hanya berpura-pura saja. Agar ia tidak merasa kesulitan di tempat itu.


Karena seperti yang ia ketahui Alfredo tidak akan pernah suka kalau sudah mendengar Berlian merengek minta kembali pulang.


Jadi sebisa mungkin Berlian mencari cara untuk mengelabui dokter gila itu.


Berlian kini tengah mencari jalan bagaimana caranya agar ia dapat keluar dari tempat yang telah mengurungnya itu.


Namun ia tak mau gegabah dalam melakukannya, ia harus berpikir dalam-dalam agar ia dapat dengan selamat keluar dari tempat terkutuk itu.

__ADS_1


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Terima kasih buat reader yang sudah meninggalkan jejaknya😍


__ADS_2