Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Perjodohan


__ADS_3

Sementara itu diceritakan di sebuah rumah mewah tepatnya pada kediaman Dae jung, nampak mereka sekeluarga tengah berbincang.


Terlihat Menara bersama kedua orang tuanya tengah duduk bersama pada ruang keluarga rumah mereka.


Istri Dae Jung yang bernama Rosalia, yang merupakan ibu dari Menara itu membuka pembicaraan diantara mereka.


“Papa ingat kan panti asuhan yang pernah kita datangi dulu?.”


“Yang dimana mam?.”


“Yang di daerah Bandung itu pap?.”


“Oh iya kenapa?”


“Tadi kan mama ke sana dan bertemu dengan pengurusnya.”


“Ya terus?.”


“Mama bercerita banyak dengan beliau, sampai akhirnya ia bercerita mengenai putrinya.”


Mendengar itu, Menara beranjak dari tempat duduknya, karena tahu jika mamanya sudah bicara seperti itu, ujung-ujungnya akan berakhir pada usahanya untuk menjodohkan Menara dengan seseorang, dan ini bukan kali pertama Rosalia berniat menjodohkan Menara dengan putri dari teman-temannya.


Rosalia kurang setuju kalau Narita menjadi kekasih Menara, dari sejak mereka SMA Rosalia sudah menentang hubungan mereka, karena kurang suka dengan latar belakang keluarga Narita yang memiliki ayah seorang pemabuk dan penjudi sementara ibunya bekerja di salah satu klub malam di kota itu.


“Menara! Mau kemana kamu nak??.” Tanya Rosalia.


“Ngantuk mam!.” Jawabnya seraya berlalu meninggalkan ruang keluarganya.


“Anak itu! Selalu saja begitu.”


“Sudah biarkan saja mam.” Kata Dae Jung yang tengah asyik dengan ponselnya.


“Dia tahu tuh kalau kita sudah bicara tentang seseorang pasti menghindar.”


“Jangan di paksa-paksa nanti malah jadi gak bener, kayak gak hafal saja anakmu itu bagaimana?.” Sambung Dae Jung.


“Pap, Mama berniat menjodohkan putrinya itu dengan Menara pap, anaknya pintar, lucu dan baik.”


“Sebentar! Bukannya salah satu yang mengurusi panti itu adalah istri dari pemilik perusahaan Berlian grup?.”


“Iya betul itu pap, namanya bu Delima dan putrinya bernama Berlian.”


“Lah, tadi siang papa ketemu sama suami pimpinan perusahaan Berlian grup, namanya Jodi bahkan putrinya juga ikut bersamanya.”


“Nah itu dia pap. Delima bilang dia merasa khawatir akan putrinya itu.”


“Kenapa memangnya mam?.”


“Karena dari kecil putrinya itu tidak pernah bergaul jadi dia khawatir pada tumbuh kembang putrinya itu, dia ingin putrinya itu mengenal lelaki.”


“Aneh… disaat orang lain khawatir akan pergaulan anaknya dengan lelaki di luar sana, ini malah anaknya berusaha di deketin sama lelaki.


“Ya mama juga kurang tahu alasannya, hanya saja tidak ada salahnya kan kalau kita jodohkan Menara sama putrinya itu?.”


“Ya kalau mereka saling suka, kalau tidak bagaimana?.”


“Sebenarnya, mama ingin menjauhkan Menara dari si Narita itu pap. Mungkin dengan mendekatkan Menara dengan putrinya Delima adalah salah satu cara untuk menjauhkan mereka.”


Dae Jung terdiam, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu. ‘Mungkin cara ini bisa juga di gunakan untuk menjauhkan mereka ya? Wanita itu sangat berbahaya, hingga aku pun terjerat olehnya. Seandainya aku pun bisa menghindarinya, tentu sudah ku lakukan dari dulu…’ Bathin Dae Jung. Kemudian,


“Pokoknya terserah mama saja bagaimana baiknya. Papa akan selalu mendukung.”


“Baiklah kalau begitu, kita akan susun rencana pertemuan keluarga ya pap? Agar lebih saling mengenal, mama akan mengundang mereka untuk makan malam. Bagaimana?.”

__ADS_1


“Ya silahkan saja, bagaimana baiknya, papa ikut saja.”


...............


Pagi menjelang, di halaman kampus nampak Maurin menunggu Berlian yang baru turun dari mobilnya yang diantar oleh Jodi dan Riksa.


Setelah berpamitan dan melambaikan tangan pada Jodi, Berlian berlari kecil menghampiri Maurin yang sudah menunggunya berdiri tidak jauh dari tempat itu.


“Yuk! Masuk kelas.” Ajak Berlian. Dan mereka pun berjalan menuju koridor kearah ruang kelas mereka berada. Namun belum saja sampai mereka di kelas mereka, Menara and the gank sudah menghadang mereka.


“Kalian mau apa lagi!.” Seru Berlian.


“Jangan Songong sama kakak tingkat!.” Kata Yosan.


“Saya cuma nanya, kalian mau apa?.” Tanya Berlian.


“Sssstt… kamu jangan mulai Berlian, kamu diam saja ya?.” Bisik Maurin.


“Aku gak bisa di giniin ya Maurin.” Sambung Berlian.


“Kamu itu keras kepala ya?.” Kata Arash.


“Kamu tahu? Urusan kita belum selesai!.” Ujar Menara.


“Urusan yang mana ya kak?.” Tanya Berlian seolah menantang. “Maaf ya kak, aku tidak mau berurusan dengan kalian.” Sambung Berlian yang kemudian menarik tangan Maurin hendak meninggalkan tempat itu, namun Menara menarik lengan Berlian yang satunya lagi.


“Lepas…”


“Diem kamu! Aku akan minta perhitungan dari kamu! Karena kamu telah membuat kita malu di dalam kelas waktu itu!.” Geram Menara.


“Oh masalah itu. Salah kalian sendiri yang cari gara-gara. Udahlah… kita itu udah pada gede, gak baik cari masalah kak. Dan aku tidak mau bermasalah dengan siapapun termasuk kalian.”


“Tutup mulut mu!.” Sentak Yosan.


“Gue minta elo bayar rasa malu kita bertiga.” Ujar Arash.


“Bayar? Bayar gimana maksudnya?.” Tanya Berlian heran.


“Elo harus nurut apa kata kita.” Jelas Menara.


“Apa?! Nurutin kalian?! Aku gak mau!.” Kata Berlian seraya pergi meninggalkan mereka namun lagi-lagi Menara mencekalnya.


“Heh, bocah!! Gak bisa kah elo denger omongan gue sedikit saja!.” Sentak Menara.


“Gak bisa.” Kata Berlian seraya Melepaskan tangan Menara dari lengannya. “Jangan paksa aku untuk membuat kalian babak belur ya?!” Sambung Berlian.


Kemudian Menara mendekatkan dirinya seraya berbisik, “Benar yang bersamamu itu papamu? Kok di bioskop kalian terlihat mesra sekali ya? Hehe, jangan sampai aku sebar luaskan kalau kamu menjalin hubungan terlarang dengan ayahmu.” Ancam Menara.


“Kau!!!.” Berlian mengacungkan telunjuknya pada wajah Menara.


“Ayo! Cabut!.” Ajak Menara pada kedua temannya. Melihat mereka bertiga meninggalkan Berlian, Maurin mendekat ke arah Berlian.


“Apa yang dia bisikan padamu Berlian?.”


“Tak ada! Ayo kita ke kelas!.” Berlian terlihat sedikit gusar.


.............


Sementara itu Delima yang sudah kembali ke rumah, terlihat ia tengah siap-siap untuk berangkat ke kampus menggunakan kendaraannya sendiri. Sementara Jodi, Berlian dan Riksa sudah berangkat terlebih dahulu.


Di dalam perjalanan, ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk.


“Hallo.”

__ADS_1


“Ya Hallo Delima.”


“Hey Rosa, ada apa nih telepon aku pagi-pagi.”


“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan Delima. Kamu lagi sibuk tidak?.”


“Tidak. Aku lagi OTW kampus, bagaimana?.”


“Begini Del, aku mau ngelanjutin obrolan kita yang waktu di Bandung itu hehe. Aku jadi berfikir bagaimana kalau misalkan putrimu kita jodohkan dengan putraku, bagaimana?.”


“Hehe… boleh juga tuh. Mudah-mudahan mereka cocok ya Ros?.”


“Aku kira sih mereka pasti cocok Del, kalau menurutku putraku itu sempurna Del, selain pintar dia juga idola di kampusnya hehe.. dan putrimu itu sangat cocok sekali dengan putraku. Aku sudah bicara semalam dengan suamiku dan suamiku setuju. Lalu bagaimana dengan Jodi suamimu Del?.”


“Aku belum sempat ngobrol sama papanya Berlian, mungkin nanti aku akan cerita sama dia Ros.”


“Baiklah kalau begitu… nanti malam aku akan mengundang kalian makan malam untuk membuat mereka lebih saling mengenal.”


“Baiklah… aku akan sampaikan pada papanya Berlian ya Ros?.”


“Baiklah. Sudah dulu ya Del. Sampai ketemu malam nanti.”


“Oke dah.”


Selesai Delima memutus sambungan teleponnya, kemudian ia mencoba menghubungi Jodi.


“Hallo kak, kakak sibuk tidak?.”


“Tidak Del, ada apa?.”


“Begini. Temanku Rosalia mengundang makan malam kak, kita datang ya?.”


“Rosalia yang mana ya Del?.”


“Dia donatur tetap di panti kita kak, bahkan suaminya beberapa kali sempat mengantar dia ke panti. Suaminya pengusaha juga loh. Nah mereka punya seorang putra. Aku berencana mau mengenalkan Berlian pada putranya kak?.”


“Apa? Kok kamu tidak bilang sama aku dulu Del?.”


“Ya kan sekarang aku bilang ke kakak. Kak Jodi kan tahu bagaimana khawatirnya aku pada Berlian, mungkin jika dia kenal dengan laki-laki lain akan sedikit memperngaruhi pola pikirnya kak, bagaimana?.”


Jodi terdiam, sepertinya dia sedang berfikir dan memang menurut Delima masuk akal juga. Karena ia pun merasa takut jika Berlian terus-terusan hanya mengenal dirinya, ia pun akan terbawa perasaan.


“Ya Delima.. yang penting lelaki yang dekat dengannya harus lelaki yang baik dan benar-benar sayang sama dia nantinya.”


“Tentu saja kak. Lagi pula ini kan cuma perkenalan aja, bukan mau menjodohkan mereka, ya syukur-syukur kalau mereka klik hehe.”


“Ok kalau begitu, kapan mereka mengundang kita?.”


“Malam ini kak?.”


“Baiklah. Tapi kau harus ingat ya? Kita masih harus menutupi jati diri Berlian, di depan mereka kamu jangan sampai salah.. aku dan kamu adalah orang tua Berlian.”


“Siap kak. Kakak jangan khawatir. Aku pasti ingat kok.”


“Bagus.”


“Ya sudah aku udah sampai kampus nih kak. Udah dulu kak.”


Kemudian Delima menutup sambungan ponselnya dan keluar dari kuda besinya menuju kampus tempat ia sharing ilmunya.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Jangan lupa tinggalkan jejak reader💞💞

__ADS_1


Makasih🥰


__ADS_2