
Jodi dan Riksa juga beberapa tim masuk kedalam ruangan itu. Ruangan itulah yang dulu Alfredo jadikan sebagai walk in closet tempat menyimpan koleksi kostum wanita berbagai macam karakter.
Di dalam ruangan itu nampak kosong, sudah tidak ada lagi koleksi kostum karena memang sudah di pindahkan ke tempat lain. Namun masih terlihat ada beberapa dus dan paper bag.
Jodi dan Riksa juga beberapa tim membuka satu persatu paper bag dan dus yang tersisa di ruangan itu. Pada saat mereka membuka dus-dus itu mereka tak menemukan apa pun, tetapi pada saat mereka mengecek paper bag nya, pada salah satu paper bag berisi beberapa lembar kertas dan kartu nama. Tertulis dalam kartu nama itu sebuah nama yaitu Philipe Arnold.
Mereka mengamankan paper bag berisi beberapa lembar kertas yang mungkin saja dapat mereka jadikan petunjuk. Setelah mereka menyisir walk in closet itu, akhirnya mereka keluar dari sana kembali ke ruang kamar Alfredo.
Pada saat salah seorang anggota tim membuka laci meja nakas, mereka menemukan sepasang anting-anting wanita.
“Boss saya menemukan ini!.” Kata salah seorang anggota tim pada Jodi.
Kemudian Jodi mengambil anting-anting itu dan mengamati anting-anting itu.
“Gue gak kenal anting-anting ini. Anting-anting ini bukan milik bini gue, mungkin miliknya Krista.” Kata Jodi seraya memberikan anting-anting itu pada Riksa. Lalu Riksa memasukan anting-anting itu kedalam sebuah plastik kecil.
Terlihat beberapa tim di kamar itu juga tengah mengambil sidik jari dari beberapa barang yang ada disana.
Setelah mereka selesai menggeledah apartemen itu dan mendapatkan beberapa barang yang mungkin saja bisa mereka jadikan bukti, akhirnya mereka pergi meninggalkan unit apartemen Alfredo.
Setelah sampai di basement, Jodi memerintahkan tim nya untuk kembali ke markas terlebih dahulu karena dirinya dan Riksa akan pulang kerumah mereka menemui keluarga Berlian.
Dan mereka pun berpisah di basement apartemen tersebut. Riksa memacu kendaraannya bersama Jodi menuju rumahnya sementara beberapa tim menuju markas menggunakan kendaraan yang berbeda.
Singkat waktu akhirnya Jodi dan Riksa sampai pada kediamannya.
Orang tua Jodi dan opa oma nya Berlian juga Delima menyambut kedatangan mereka, berharap Jodi membawa kabar baik mengenai Berlian. Sementara Riksa duduk bersama Maurin pada kursi yang terletak di taman samping rumah itu.
Jodi langsung meraih tubuh putrinya yang kala itu di gendong oleh Delima. Ia peluk dan ia cium putrinya itu, lalu membawanya duduk pada sofa ruangan keluarga, bersama keluarga yang sudah menanti informasi yang akan Jodi sampaikan pada mereka.
“Kami belum dapat menemukan keberadaan mamanya Miriam dan dokter gila itu.” Kata Jodi dengan bola mata yang meremang sembari memandangi putrinya yang duduk diatas pangkuannya.
Terlihat Miriam sangat senang bersama papanya.
“Kemana dokter gila itu membawa cucuku hiks.” Lirih Irma.
“Ibu tenang ya? Jodi dan tim nya pasti menemukan cucu kita bu.” Hibur Budi.
“Apalagi yang mereka inginkan dari menantuku? Kenapa masalah seolah tak ada habisnya.” Ucap geram Ferry.
“Pa, aku akan terus mencari istriku dan putraku yang tengah ia kandung. Sampai kapan pun aku akan terus mencarinya hingga ketemu. Aku tidak tahu maksud dokter gila itu membawa kabur istriku. Entah apa yang dia inginkan, segalanya masih jadi misteri untuk kita. Karena itu aku minta doa dari kalian semua agar Tuhan memberikan kelancaran padaku untuk dapat segera menemukan istriku dan semoga istriku beserta anakku baik-baik saja disana.” Ucap Jodi seraya menyeka air matanya yang terjatuh.
“Kami di rumah akan selalu mendoakan agar putriku cepat kembali hiks. Aku sangat mengkhawatirkan dia.” Lirih Delima.
“Del.. perasaan kita semua sama. Percayalah aku pasti akan menemukan dia. Aku hanya minta titip putriku untuk sementara waktu karena aku harus bekerja keras mencarinya.” Ujar Jodi.
“Iya kak. Kakak jangan khawatir aku akan menjaga Miriam dengan baik. Sekarang kakak makanlah dulu, aku tahu kalau lagi ada masalah kakak susah makan.”
“Iya Jodi ayo kita makan dulu.” Ajak Eva sang ibu.
Kemudian mereka makan bersama di ruang makan. Meski mereka sama-sama tahu bahwa untuk menikmati makanan saja rasa nya hambar karena semua tengah merasakan cemas akan Berlian yang dibawa pergi oleh Alfredo, tetapi tetap saja mereka harus memikirkan kesehatan mereka.
Tak ada percakapan yang berarti diruang makan yang begitu hening itu, hanya suara sendok dan garpu yang beradu menemani mereka yang tengah saling diam.
Setelah mereka selesai melakukan aktivitas di meja makan, akhirnya Jodi dan Riksa pamit pada keluarga untuk kembali ke markas melanjutkan misi mereka mencari Berlian.
Sebelum pergi Jodi memeluk dan mencium putrinya, terlihat Miriam menangis pada saat melihat Jodi akan pergi meninggalkannya.
“Sayang, jangan nangis ya? Papa mau cari mama dulu. Papa janji akan membawa mama pulang. Kau harus menjadi putri yang kuat. Sabar ya sayang.” Jodi berlalu pergi dengan membawa hati yang hancur karena tidak tega mendengar tangisan putrinya.
Ia terus berjalan menuju pintu keluar tanpa melihat kembali kebelakang, ia seka air matanya dalam langkahnya, jika ia harus melihat lagi kebelakang, ia tak akan mampu melihat tangisan putrinya yang memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
Riksa mengikuti Boss nya dari belakang. Ia kemudian duduk dibelakang kemudi setelah Boss nya telah siap duduk pada jok di sampingnya.
Dan kuda besi mereka pun meninggalkan rumah itu dengan di iringi tangisan dari keluarga, berharap Jodi dan tim dapat kembali pulang membawa Berlian.
..............
Sementara itu nun jauh disana, terlihat Alfredo masuk kedalam bunker dimana Berlian berada disana.
“Nyonya, aku ingin kau berganti pakaian dengan gaun yang berwarna merah itu.”
“Untuk apa dokter? Aku sedang hamil mana bisa aku memakai gaun itu?.”
“Aku rasa gaun itu tidak akan mengganggu kondisi kehamilan anda, pakailah. Aku ingin melihat anda memakai gaun itu.”
“Dokter, aku ingin pulang hiks.” Kembali Alfredo menyaksikan Berlian merengek.
“Berhentilah merengek nyonya. Aku tidak suka anda meminta pulang terus, apalagi menyebut nama lelaki itu. Jangan paksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat anda tidak dapat menemui putri anda kembali, mengerti!.” Tegas Alfredo membuat Berlian terhenyak.
Akhirnya mau tidak mau Berlian menuruti apa yang Alfredo perintahkan padanya, yaitu memakai gaun ala-ala Cinderella.
Kemudian ia berlalu menuju ruang ganti untuk memakai pakaian yang Alfredo inginkan itu. Tak lama ia keluar dari kamar ganti itu dengan memakai gaun yang Alfredo inginkan.
Alfredo melihat penampakan Berlian yang memakai gaun itu tanpa berkedip.
“Kau memang indah manekin hidupku.” Decak kagum Alfredo terlontar tanpa ia sadari, dan Berlian mendengar itu.
‘Apa yang dokter itu katakan tadi? Dia mengatakan aku manekin hidupnya? Benar kata papa dan kak Riksa, dia memang dokter gila. Ya Tuhan… tolonglah aku. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku selanjutnya. Papa… tolong selamatkan aku.’ Lirih Berlian dalam hati.
“Diamlah mematung.” Titah Alfredo pada Berlian. Kemudian ia mengambil kameranya yang tergantung pada lehernya dan mulai mendokumentasikan penampilan Berlian.
Setelah beberapa waktu ia terlihat bersemangat dan mengambil pakaian lain dan menyuruh Berlian untuk berganti gaun dengan yang ia pilih.
Tidak banyak yang dapat Berlian lakukan selain menuruti perintah Alfredo. Sesaat kemudian Berlian kembali dengan gaun lainnya. Kembali Alfredo mendokumentasikan dengan kameranya, begitu seterusnya hingga Berlian harus berganti beberapa gaun membuat ia kelelahan.
Berlian diam mematung mencermati apa yang Alfredo katakan tadi. ‘Projek? Apa masuknya? Aku tidak mengerti dengan apa yang ia katakan tadi. Apa yang akan dia lakukan padaku? Ya Tuhan…kenapa aku harus jatuh pada manusia aneh seperti dia.’ Bathin Berlian.
Kemudian ia berlalu menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Karena ia kelelahan dari tadi bergonta ganti pakaian akhirnya Berlian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Sementara itu terlihat Alfredo memasuki sebuah ruangan lain di dalam rumahnya itu, setelah keluar dari dalam bunker.
Nampak ia tengah melakukan proses pemindaian data pada sebuah internet.
Ia memasukan foto dan video Berlian ke dalam sebuah akun miliknya di dalam internet. Entah untuk tujuan apa ia mengunggah foto dan video Berlian yang tengah memakai gaun-gaun tadi.
Terlihat dari wajahnya ia begitu senang dengan aktivitasnya itu.
Ternyata ia menjadikan Berlian konten dalam akun miliknya pada dark web. Dark web adalah bagian internet yang tidak bisa di akses oleh sembarang orang. Untuk mengaksesnya memerlukan software tertentu yang dapat membuat si pengguna anonim dan tidak dapat terlacak.
Biasanya pada situs dark web berkaitan dengan aktivitas kriminal dan pasar ilegal juga konten-konten yang dapat mengganggu mental bagi orang yang masuk kedalamnya.
Lalu apa maksud dari Alfredo menjadikan Berlian konten di dalam sana? Ternyata dia adalah salah seorang penjahat di dalam dark web yang menjadikan korbannya menjadi manekin. Tak jarang ia membuat manekin dari mayat wanita yang ia awetkan.
Kelakuan aneh itulah yang membuat ia terobsesi dengan Berlian untuk di jadikan manekinnya sebagai bahan tontonan.
Karena atas dasar banyaknya permintaan dari pengikutnya agar ia menampilkan manekin hidup, akhirnya ia menjadikan Berlian yang ia anggap cocok sebagai manekin hidup untuk meluluskan keinginan dari pengikutnya itu.
Pada saat ia mengunggah foto dan Video Berlian di dalam situs itu, dalam waktu beberapa menit saja pengikutnya bertambah hingga mencapai jutaan orang.
............
__ADS_1
Kembali pada Jodi dan Riksa yang kala itu sudah sampai di markas. Mereka langsung mengidentifikasi semua barang bukti yang ia dapatkan di apartemen Alfredo.
Namun Jodi penasaran dengan kartu nama yang berada di tangannya itu. Kemudian ia mencoba menghubungi nomor pada kartu nama yang tertulis di dalamnya atas nama Philipe Arnold.
Seseorang di balik ponsel menerima panggilan ponselnya. Setelah mereka berbicara sebentar, kemudian Jodi menutup kembali sambungan ponselnya dan memanggil Riksa untuk berbicara dengannya di dalam ruang kerja miliknya.
“Rik, gue udah hubungin nomor atas nama Philipe Arnold ini.”
“Oya? Dia siapa Boss?.”
“Menurut pengakuannya dia adalah suaminya Krista.”
“Apa suaminya Krista?.” Riksa terkejut.
“Iya. Ternyata si Krista itu adalah mantannya si Alfredo. Dulu mereka pacaran sudah lama, tapi akhirnya Krista menikah dengan si Philipe ini. Cuma beberapa bulan lalu si Krista kabur dari suaminya. Suaminya sempat mencari bahkan ia pernah menemui si Alfredo dan memberikan kartu nama ini. Berharap si Alfredo dapat memberitahu Philipe kalau ketemu sama si Krista. Sepertinya si Alfredo tidak memberi tahu si Philipe mengenai keberadaan si Krista. Padahal yang kita tahu beberapa waktu lalu si Krista pernah ke rumah kita bahkan mengaku tunangannya Alfredo. Iya kan?.”
“Terus, Boss bilang semuanya sama dia kalau kita pernah kedatangan si Krista?.”
“Iya gue ceritain semuanya sama si Philipe dan sepertinya si Philipe akan melaporkan si Alfredo ke polisi.”
“Yah… bakal susah itu mah ketemunya.”
“Ya sih. Tapi biarkan saja si Philipe lapor, sementara kita nyari sendiri.”
“Oya Boss, apa mungkin Krista sama Istri Boss dibawa bareng sama si dokter gila itu?.”
“Bisa jadi Rik. Makanya kita harus cari dia sampai dapat. Agar kita tahu maksud orang aneh itu apa. Pake nyulik-nyulik istri gue sama istri bule itu.”
“Ya kalau nyulik istri si bule itu sih wajar secara cewek itu pernah jadi ceweknya. Nah kalau nyulik istri orang yang lagi hamil kan aneh? Udah fix, gila tuh manusia.” Ujar Riksa.
Jodi, Riksa dan tim terus di sibukkan dengan pencarian Berlian dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga berganti bulan.
Singkat waktu, bulan ini adalah tepat usia kandungan Berlian 9 bulan. Berarti kurang lebih 2 bulan Berlian telah menghilang. Dan Berlian masih terkurung di dalam bunker itu.
Jodi dan tim belum juga dapat menemukan Istrinya, keterangan yang ia dapatkan hanya mengenai Krista yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Berlian. Karena seperti kita ketahui bahwa Krista di buang di tempat yang berbeda dengan Berlian.
Hingg sampailah pada suatu hari, dimana Berlian merasakan nyeri yang hebat pada kandungannya. Sepertinya ia akan segera melahirkan. Karena ia melihat bercak darah pada bagian pakaian dalamnya.
Dengan tertatih-tatih ia menaiki anak tangga menuju pintu keluar bunker tempatnya di kurung. Ia ketuk-ketuk pintu itu sembari berteriak memanggil-manggil Alfredo.
“Dokter… dokter… tolong hiks… perutku sakit… sepertinya aku akan melahirkan… tolong…” Teriak Berlian, namun Alfredo tak jua membuka pintu itu.
Berlian berusaha membuka pintu itu sendiri, tetapi ia tak dapat membukanya karena memang pintu itu hanya Alfredo yang mampu membukanya dengan menggunakan kode akses.
Ternyata Alfredo tengah asik di dalam ruangan lain di hadapan komputernya, ia tengah berinteraksi dengan pengikutnya pada situs terlarang itu.
Berlian terus menangis dan menjerit memanggil orang-orang terkasihnya karena tidak kuat merasakan sakit pada perutnya.
“Papaaa hiks…. Ibu… opa oma… tolong… aku sakiiiit… papa…” Berlian terus menjerit merasakan sakit yang semakin menjadi pada perutnya.
Dan sepertinya Bathin sang suami merasakan kepedihan yang tengah dirasakan oleh sang istri.
Jodi terlihat gelisah, kebetulan saat itu ia tengah berada di rumah.
“Oh Tuhan… kenapa bathinku merasa tak enak. Sekarang tepat usia kandungan istriku 9 bulan. Mungkinkah ia akan melahirkan? Ya Tuhan… dimana pun istriku berada, selamatkanlah ia dan putraku. Aku mohon Tuhan… hanya Engkau yang mampu menyelamatkan mereka.” Tangis Jodi dalam bathinnya di atas pembaringannya memeluk erat putrinya.
Begitu pun Miriam saat itu yang tiba-tiba saja rewel tidak jelas. Biasanya jika ia ada bersama Jodi, ia tidak akan se-rewel itu meskipun jauh dengan ibunya. Tetapi hari itu begitu membuat Jodi kewalahan, ditambah lagi suasana hatinya yang semakin kacau memikirkan keadaan istrinya yang tidak tahu bagaimana nasibnya dan entah berada dimana.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Selamat menjalankan ibadah puasa ya gais🥰
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menghibur reader semua yang tengah menjalankan ibadah puasanya😍
Terima kasih🙏🏻