
Pagi-pagi sekali, Jodi sudah mamandikan Berlian juga putrinya, mereka sudah rapi, begitu pun dengan dirinya yang sudah memakai pakaian lengkap, tubuhnya yang atletis di balut dengan celana Cargo hitam dipadukan dengan t-shirt hitam di lengkapi dengan topi pet warna hitam pula.
Hari ini Jodi harus ke markas karena ada meeting penting yang akan di pimpinnya, jadi mau tidak mau dia harus menghadiri pertemuan itu.
“Sayang… hari ini aku harus ke markas karena ada meeting penting, tidak apa-apa ya? Di rumah kan banyak orang, mama sama papa juga masih ada disini, ibu mu dan oma juga mau disini dulu jaga Miriam.” Kata Jodi pada istrinya seraya mencium keningnya. Lalu,
“Oya? Nanti ada dokter ahli saraf yang datang untuk memeriksamu dan memberikan terapi padamu, mungkin dia datang sebentar lagi. Aku tidak bisa menemuinya karena aku harus cepat-cepat ke markas, tidak apa-apa kan? Ada papa dan mama nanti yang akan menemuinya.” Sambung Jodi.
Kemudian Delima masuk kedalam kamar mereka, ia membawa Miriam yang duduk di atas kasur.
“Wah… wah… semua nya sudah rapi, kesayang oma juga udah cantik nih.” Kata Delima seraya mencium Miriam dalam pelukannya.
“Ayo sayang kita ke bawah sarapan, mereka sudah nunggu kita di bawah.” Sambung Delima membawa Miriam.
Lalu Jodi pun membawa Berlian dalam pangkuannya menuju lantai bawah, kemudian ia memerintahkan salah seorang pelayan untuk membawa kursi roda Berlian ke lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Jodi meletakan tubuh Berlian diatas kursi roda tepat di samping kursi tempat duduknya. Sementara orang tuanya juga opa oma Berian sudah duduk rapi di kursinya masing-masing.
“Pa… ma… aku titip Berlian ya? Aku ada meeting penting jadi aku harus memimpin meeting nya.”
“Ya gak apa-apa Jod. Kamu bekerjalah yang tenang, jangan pikirkan Istrimu dan putrimu, kami ada di sini untuk menjaganya.” Sahut Ferry.
“Makasih pa.”
“Oya Jod? Bapak juga ada rapat penting di perusahaan, jadi mungkin yang nanti menemui dokter ahli saraf yang datang itu, papamu ya?.” Ujar Budi.
“Iya pak… biar nanti papa saya aja yang menemui dokter itu.”
“Iya Bud. Tenang saja nanti saya yang akan bicara sama dokter ahli saraf itu.” Sahut Ferry.
Lalu terlihat Riksa menuruni anak tangga mendekat pada mereka yang sudah berkumpul di ruang makan. Kemudian Riksa duduk di sebelah Jodi.
“Ayo Rik sarapan.” Sapa sang Boss.
“Iya Boss, makasih.” Jawab Riksa yang kemudian ikut menikmati sarapan bersama keluarga Mereka.
Sementara Jodi dengan telaten menyuntikan bubur saring pada selang yang menempel di hidung Berlian, sembari ia menikmati sarapannya.
Setelah bubur saring itu habis, kemudian ia menyuntikan beberapa cairan vitamin ke dalam selang tersebut.
“Ma… kalau aku telat pulang nanti, mama yang gantiin aku memberikan makanan dan vitamin buat Berlian ya? seperti ini ya cara menyuntikan makanan dan obatnya.” Kata Jodi pada ibunya.
“Iya mama udah hafal kok, Oya? itu obat yang di masukan gak apa-apa di konsumsi ibu hamil?.” Tanya Eva.
“Tidak apa-apa ma, ini kan vitamin jadi kata dokter aman untuk ibu hamil.” Jawab Jodi.
“Oh ya sudah kalau begitu.”
Kemudian Jodi dan Riksa pamit pada mereka untuk pergi ketempat kerjanya, begitu pun dengan Budi yang akan berangkat ke perusahaannya.
Selang sepuluh menit mobil yang di tumpangi Jodi dan mobil yang ditumpangi Budi meninggalkan gerbang rumah mereka, terlihat sebuah mobil memasuki gerbang rumah itu.
Turun dari dalam mobil tersebut seorang pria tampan dan gagah dengan memakai jas Dokter. Di ikuti oleh dua orang perawat wanita di belakangnya.
Sudah dapat di pastikan pria itu adalah dokter ahli saraf yang akan merawat Berlian. Dokter Alfredo Frederick namanya, usia 27 tahun, memiliki tampang rupawan dan terkenal di gandrungi banyak pasien wanita karena ketampanan dan tubuh idealnya yang di lengkapi dengan perut sixpack yang membuat para wanita ngiler saat melihatnya.
Kedatangan Dokter dan dua orang perawatnya di sambut oleh Ferry dan Eva juga Delima. Sementara Irma tengah menemani Berlian di taman samping dekat kolam renang rumah mereka.
“Perkenalkan bapak… ibu… nama saya Alfredo Frederick, dokter yang diutus oleh rumah sakit untuk melakukan perawatan pasien dari rumah, untuk nyonya Jodi. Dan saya membawa dua orang perawat untuk membantu pekerjaan saya disini, setiap hari kami akan visit dari mulai pukul 9.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB. Jika di hari-hari tertentu saya tidak bisa datang karena hal lain, mungkin nanti perawat-perawat saya ini yang akan menggantikan.” Kata Alfredo.
__ADS_1
“Iya dokter… selamat datang di rumah kami. Dan terima kasih dokter sudah bersedia menjadi dokter khusus yang menangani menantu saya.” Ujar Ferry.
“Baik pak. Mungkin nanti di setiap harinya akan dilakukan terapi memakai alat kesehatan dan itu saya yang akan melakukannya, sementara terapi pijat akan dilakukan oleh dua orang perawat saya. Perkembangan dari tingkat kemajuan saraf pada nyonya Jodi akan kami kontrol setiap hari.” Jelas Alfredo.
“Oya dok? Putri kami kan sedang hamil muda, apa tidak akan berpengaruh pada kehamilannya jika dilakukan pijat padanya?.” Tanya Delima.
“Baik ibu, sebelumnya saya sudah membaca data-data rekam medis mengenai pasien yang akan kami tangani. Termasuk data-data putri anda, kami tahu betul keseluruhan kondisi nyonya Jodi, berhubung usia kehamilan nyonya Jodi, sudah melewati trimester pertama, jadi aman apabila kami melakukan terapi pijat untuk kesehatan saraf dan ototnya, justru terapi pijat pada ibu hamil akan mengurangi tingkat stress dan pegal-pegal pada otot dan persendian.” Jelas Alfredo.
“Oh syukurlah kalau begitu, kami khawatir takutnya kenapa-napa, karena kami pernah mendengar kata orang tua dulu. Ibu hamil tidak boleh di pijat hehe.” Ujar Eva.
“Mungkin yang tidak boleh itu jika pijat dilakukan pada usia-usia kandungan tertentu atau jika pasien memiliki riwayat penyakit lain yang tidak memperbolehkan melakukan terapi pijat, sementara untuk nyonya Jodi, terapi pijat yang akan kami lakukan sangat aman, karena kami menggunakan metode khusus yang sesuai dengan kondisi yang tengah nyonya Jodi alami saat ini.” Sambung Alfredo.
“Baiklah kalau begitu dokter. Terima kasih atas kesediaannya membantu putri kami.” Kata Delima.
“Iya ibu sama-sama. Oya? Kalau begitu boleh saya menemui nyonya Jodi sekarang?.”
“Oh silahkan dokter. Dia sedang berjemur di taman samping di temani oma nya.” Kata Eva seraya membawa dokter dan dua orang perawat itu menuju taman samping rumah mereka.
Sesampainya di taman samping, Alfredo dan dua orang perawatnya melihat penampakan Berlian yang tengah duduk di atas kursi roda ditemani oleh Irma.
‘Oh ternyata ini pasien baruku… masih sangat muda sekali sudah mengalami sakit yang parah dalam kondisi hamil muda… kasihan sekali anak ini.’ Bathin Alfredo.
“Itu putri saya dokter.” Tunjuk Delima pada Berlian yang tengah duduk diatas kursi roda menghadap kolam renang. Kemudian, “Silahkan dokter menemuinya.” Sambung Delima yang tengah memangku Miriam.
“Baik bu. Oya ini putri nya nyonya Jodi bu?.” Tanya Alfredo pada Delima kala ia melihat Miriam dalam pangkuannya.
“Iya, Miriam putri pertama anak saya, baru berusia 10 bulan sudah mau punya adik lagi hehe.”
“Oh begitu ya? Bagus bu mumpung masih muda.”
“Oya dokter saya tinggal dulu ya? Sepertinya Miriam haus.” Kata Delima hendak mengambilkan susu untuk Miriam karena terlihat rewel.
“Baik bu… silahkan.”
Perlahan Alfredo mendekati Berlian yang ditemani oleh oma nya, di ikuti oleh dua orang perawatnya.
“Permisi bu, saya Alfredo, dokter yang di utus rumah sakit untuk menangani nyonya Jodi, dan saya membawa dua orang perawat untuk membantu pekerjaan saya disini.” Sapa Alfredo pada oma Berlian.
“Oh iya dokter silahkan. Mau di periksa langsung? Apa harus di bawa ke kamar dulu?.” Kata Irma.
“Tidak usah bu, disini saja dulu sekalian berjemur. Saya hanya akan melihat-lihat dulu kondisinya.”
“Baiklah kalau begitu. Saya tinggal dulu ya dokter.” Kata Irma seraya meninggalkan Berlian bersama Alfredo dan dua orang perawatnya.
Kemudian Alfredo menarik pegangan kursi roda dan membawanya mendekati kursi taman, lalu ia berhenti di hadapan kursi taman seraya duduk diatasnya, sehingga dirinya dan Berlian duduk berhadapan.
“Nyonya Jodi, perkenalkan saya Alfredo Frederick, saya dokter ahli saraf yang akan merawat anda sampai anda sembuh.” Kata Alfredo pada Berlian dengan senyuman manisnya.
“Saya harap nyonya bisa kerja sama dengan saya dengan cara, berpikir positif dan optimis agar nyonya cepat pulih kembali, dan saya tidak sendiri, saya di temani dua perawat saya, ini Aneta dan ini Julia.” Sambung Alfredo sembari memperkenalkan dua orang perawatnya.
‘Ya dokter… semoga saja kau bisa menyembuhkanku sampai aku benar-benar pulih.’ Bathin Berlian.
Kemudian Alfredo meminta map pada salah seorang perawatnya yang tengah memegang map plastik hijau di tangannya, lalu perawat itu pun memberikan map hijau itu pada Alfredo.
Alfredo membaca rekam medis Berlian sembari sesekali melihat ke arah Berlian, kemudian,
“Menurut rekam medis, pendengaran anda dan penglihatan anda berfungsi dengan baik nyonya, berarti anda dapat melihat dan mendengar apa yang saya katakan, jika anda menjawab iya, tolong anda kedipkan mata anda.” Kata Alfredo.
Kemudian perlahan Berlian mengedipkan kedua matanya.
“Bagus. Dengan mengedipkan mata anda, itu adalah salah satu cara kita berkomunikasi ya nyonya? Itu sudah cukup bagi kita.” Kata Alfredo.
__ADS_1
Kemudian Alfredo merogoh sesuatu pada saku jas dokternya, nampak pada tangannya alat terapi berukuran sebesar ballpoint.
“Maaf nyonya, saya pinjam tangan kanan nyonya.” Kata Alfredo seraya meraih telapak tangan Berlian.
Kemudian ia meletakkan ujung alat itu pada titik-titik saraf di tangan kanan Berlian. Setelah beberapa menit kemudian berganti pada tangan kirinya.
“Anda belum merasakan getarannya nyonya?.” Tanya Alfredo. Kemudian terlihat Berlian mengedipkan matanya.
“Tidak apa-apa. Alat ini akan membantu merangsang saraf-saraf di tangan anda dan lambat laut anda akan merasakannya nanti, harus di lakukan berulang-ulang setiap hari.”
Setelah selesai melakukan terapi pada kedua tangan Berlian lalu Alfredo menyuruh perawatnya untuk mengambilkan air hangat pada wadah lalu membubuhinya dengan garam.
Air hangat yang telah di bubuhi garam itu akan di gunakan untuk merendam kaki Berlian.
“Sebelum di lakukan terapi pada kaki anda, saya akan merendam kaki anda dulu nyonya, gunanya adalah untuk mengeluarkan racun dalam tubuh secara alami, karena garam yang mengandung magnesium selain dapat memproses mendetoksifikasi racun, mineral yang dibutuhkan dalam proses metabolisme akan terisi kembali dan berfungsi secara optimal.” Jelas Alfredo.
Kemudian terlihat perawat kembali dengan membawa air hangat yang sudah di bubuhi garam dan memberikannya pada Alfredo.
Dengan lembut dan telaten Alfredo mengangkat kaki Berlian kemudian merendamkan kaki mulus itu kedalam air garam tersebut.
Setelah beberapa waktu, kemudian Alfredo mengangkat kaki itu, lalu menyuruh kembali Perawatnya untuk membuang air garam itu.
Kemudian Alfredo membawa Berlian kedalam rumah, di ikuti oleh perawatnya.
Sesampainya di dalam,
“Nyonya, sekarang saya akan melakukan terapi pada tubuh dan kaki anda menggunakan alat, bisa kita lakukan di dalam kamar?.” Tanya Alfredo, terlihat Berlian mengedipkan matanya, namun ia bingung bagaimana cara memberitahu Alfredo letak kamarnya, karena kamarnya berada di atas lantai dua.
Melihat Alfredo masuk ke dalam rumah membawa Berlian lantas Ferry menghampiri mereka,
“Bagaimana dokter? Ada yang bisa saya bantu?.” Tanya Ferry pada Alfredo.
“Oh iya pak maaf… saya akan melakukan terapi pada kaki dan tubuh nyonya Jodi, kamarnya di sebelah mana ya?.”
“Oh kamarnya di lantai dua dok, mari saya tunjukan, biar menantu saya, saya yang bawa.” Kata Ferry.
Namun karena Alfredo melihat Ferry yang sudah tua khawatir kalau harus menggendong ke lantai dua, akhirnya Alfredo menawarkan diri untuk membawa tubuh Berlian ke atas.
“Biar saya aja yang membawa tubuh nyonya ke atas pak, saya khawatir pinggang bapak nanti sakit.”
“Hehe.. baiklah dokter.”
“Maaf nyonya.” Kata Alfredo seraya memangku tubuh Berlian ala-ala bridal style menaiki anak tangga menuju kedalam kamarnya.
Sesampainya di kamar, Berlian di baringkan diatas tempat tidur, lalu Alfredo meminta salah seorang perawatnya mengambilkan alat terapi untuk kaki dan tubuh.
Perawat itu mengambil alat-alat tersebut yang ia bawa dalam tas besar kemudian menyerahkannya pada Alfredo.
“Maaf nyonya.” Alfredo mengangkat gaun panjang Berlian sampai lutut karena ia akan memasang alat terapi kompres pada betis. Kemudian memasang alat terapi setrum akupuntur pada telapak kaki Berlian.
“Jika nanti saya berhalangan datang ke sini, kalian lakukan hal seperti yang saya lakukan tadi ya?.” Kata Alfredo pada kedua perawatnya.
“Baik dok.” Jawab kompak Aneta dan Julia.
Bersambung
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Jangan kupa Like, komen, favorite dan hadiahnya ya gais😍😍
Juga lupa rate 5 nya juga🥰
__ADS_1
Makasih😘