
Perjalanan hidup dalam dimensi ruang dan waktu bagai putaran roda yang terus menapaki jalan-jalan yang terjal nan asing yang diselubungi penuh misteri.
Tak tahu hari esok akan seberat apa? Atau seringan kapas? Tetap saja kita tidak akan pernah tahu, bahkan satu detik yang akan datang pun kita tidak pernah tahu apakah masih dapat menapaki jejak kehidupan atau tidak, yang jelas selama nafas di kandung badan, kita harus memiliki mimpi agar diri termotivasi.
Hari ini adalah satu minggu setelah segala pengap menyapa kembali pada kehidupan Jodi dan Berlian. Dimana seorang wanita yang mengaku tunangan dokter Alfredo menyambangi rumah mereka dengan membawa masalah pribadi yang tak seharusnya memasuki kehidupan mereka.
Namun seperti inilah hidup. Masalah akan selalu ada tanpa kita minta dan meski bukan berasal dari diri kita.
.............
Pagi-pagi sekali Alfredo menghubungi Jodi, mengabarkan kalau ia sudah merasa pulih dan akan kembali melakukan terapi pada Berlian. Alfredo menduga kalau kepergiannya kerumah Berlian tidak akan di ikuti oleh Krista. Karena seminggu mensiasatinya ia rasa itu sudah cukup, dan ia pun melihat dari status Whatsapp terlihat Krista sedang berada di luar kota, jadi ia menggunakan kesempatan itu untuk mendatangi rumah Berlian. Padahal Krista pun tidak sebodoh yang ia pikirkan, yang sebenarnya adalah Krista hanya memasang status palsu saja.
Tentu saja kabar Alfredo akan datang kerumah membuat Jodi sedikit merasa tegang, karena hari ini adalah hari dimana ia akan melihat secara langsung bagaimana wajah Alfredo kala bersama dirinya dan tentu saja ia ingin tahu bagaimana reaksi Alfredo melakukan terapi kepada istrinya saat ia ada di rumah.
Jodi sengaja tidak akan pergi ke markas hari ini, ia bersama Riksa memilih bekerja di rumah.
“Boss gue mau jemput Maurin dulu ya?.”
“Ya. Eh gimana? Bokap sama nyokapnya ngijinin dia maen disini?.”
“Jangankan maen nginep juga ngijinin apalagi kalau di kamar gue bobo nya haha.”
“Dasar gila! Hati-hati luh itu anak orang.”
“Ya iya lah Boss, aku juga mikir. Lagian takut banget gue sama bapaknya.”
“Emang kenapa?.”
“Bapaknya kan pengacara. Salah-salah dikit nanti di gugat gue, hehe.”
“Ya makanya yang bener luh jagain dia.”
“Pastinya lah Boss. Ya udah gue cabut dulu ya Boss.”
Kemudian Riksa berlalu menuju parkiran sementara Jodi naik ke lantai dua, tak lama ia kembali membawa tubuh Berlian dalam pangkuannya.
“Sayang sarapan dulu ya?.”
“Iya papa.”
Kemudian Jodi meletakan tubuh Berlian diatas kursi roda tepat di depan meja makan.
“Papa, aku jadi takut bertemu dengan dokter itu.”
“Kamu tenang saja, bersikaplah seperti biasa padanya. Papa akan awasi dia, tapi mudah-mudahan saja dia tidak memiliki niat apa pun padamu.”
“Papa, apa sebaiknya aku dirawat jalan aja ke rumah sakit?.”
“Tapi papa khawatir kamu lelah sayang. Kamu harus bolak balik ke rumah sakit, bukankah lebih nyaman dirawat dirumah? Lagi pula kamu sudah semakin membaik, papa rasa kamu tinggal bagaimana kakimu bisa jalan lagi aja.”
“Baiklah. Oya? Kapan kita USG lagi papa? Aku masih penasaran dengan jenis kelamin anak kedua kita.”
“Bulan depan saja ya sayang? Biar jelas nanti melihat hasilnya. Tapi kalau feeling papa sih anak kedua kita cowok, jadi siap-siap saja kamu mencari nama buat putra kita hehe.”
“Hehe… mudah-mudahan saja feeling papa benar jadi aku kebagian ngasih nama buat anak kita.”
“Ya meskipun anak kedua kita perempuan lagi, kan nanti akan ada anak ketiga, ke empat dan seterusnya hehe.”
“Ih papa capek tahu aku ngelahirin terus.” Ujar Berlian memonyongkan bibirnya.
“Hey… kamu sudah lupa? Kamu pernah berjanji padaku akan memberiku banyak anak.”
“Hehe iya deh.” Kemudian mereka sarapan pada piring yang sama.
Selang beberapa menit, terdengar suara mobil memasuki gerbang rumah mereka. Jodi dan Berlian saling pandang, keduanya menduga bahwa yang datang adalah dokter Alfredo.
Berlian memegang tangan Jodi seraya berkata, “Papa, dia datang.” Dengan wajah tegang pandangannya beralih pada pintu masuk.
“Jangan takut sayang… kan ada papa.” Kata Jodi seraya mengelus punggung tangan istrinya.
Terlihat pada pintu masuk tubuh Alfredo berdiri lantas perlahan masuk dan mendekati Jodi dan Berlian.
“Selamat pagi tuan Jodi dan nyonya.” Ucap salam Alfredo.
“Selamat pagi juga dok, bagaimana hari ini? Sudah baikkan?.” Tanya Jodi dengan pandangan leket pada Alfredo.
“Saya sudah sehat kembali tuan.”
“Syukurlah kalau begitu. Kebetulan sekarang saya lagi WFH, jadi saya bisa menemani istri saya terapi sambil kerja di rumah.”
__ADS_1
Terlihat wajah Alfredo sedikit berubah, namun kemudian, “Oh bagus kalau begitu tuan, jadi anda dapat melihat proses terapi yang saya berikan pada istri anda.” Sebisa mungkin Alfredo menutupi kekecewaannya karena ia pikir Jodi pergi ke kantornya hari ini dan ia dapat leluasa berduaan dengan Berlian, ternyata dugaannya salah.
“Bagaimana keadaan nyonya hari ini?.” Sambung Alfredo mengalihkan pembicaraan.
“Baik dokter, saya sudah semakin lancar berbicara dan menggerakkan tubuh dan tangan saya, tinggal kaki saja yang belum dapat di gunakan untuk berjalan.” Sahut Berlian.
“Iya dokter, istri saya masih takut untuk latihan berjalan.” Sambung Jodi.
“Baik, nanti akan saya lihat kondisi saraf-saraf di kakinya.”
“Oya dok, mari ikut sarapan dulu bareng-bareng.”Ajak Jodi.
“Tidak tuan terima kasih, silahkan, saya sudah sarapan tadi.” Jawab Alfredo, kemudian, “Saya menunggu ditaman, tuan… nyonya!.” Sambung Alfredo seraya berlalu ke taman samping rumah.
Sementara Jodi dan Berlian memperhatikan Alfredo hingga punggungnya hilang di telan pintu.
Singkat waktu, setelah mereka selesai sarapan akhirnya mereka berlalu meninggalkan ruang makan menuju taman samping rumah dimana Alfredo berada.
Terlihat Alfredo tengah memainkan ponselnya, ia duduk di kursi taman. Lalu Jodi yang mendorong Berlian di atas kursi roda menghampiri Alfredo.
“Istri saya sudah siap di terapi dokter. Boleh di lakukan di taman dokter?.”
“Baiklah. Boleh saja tuan asal nyonya nyaman saja. Justru di lakukan di sini nyonya bisa lebih relaks.” Jawab Alfredo yang kemudian mengeluarkan alat kompres listrik yang akan di tempel pada betis Berlian.
Jodi memperhatikan bagaimana Alfredo memasangkan alat itu.
“Sepertinya mudah caranya ya dok?.” Jodi berusaha menanggapi apa yang di lihatnya sembari menyelidik jawaban si dokter.
“Ya tuan. Tuan juga bisa melakukan asal tahu saja kapan dan berapa lama alat ini digunakan. Jika tuan mau, nanti saya akan beri tahu cara-caranya menggunakan alat ini.”
“Boleh dok. Jadi kalau saya dapat melakukannya, dokter tidak perlu setiap hari kesini kan? Dokter hanya datang mengontrol saja.”
“Betul tuan, karena sebenarnya tinggal kaki nona saja yang harus di terapi.”
Ditengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba Maurin datang mengejutkan mereka.
“Hai semua…” Sapa Maurin.
“Hai Maurin! Kau ada disini?.” Balas Berlian.
“Iya Berli… aku kan sudah musim libur jadi aku akan tinggal di rumahmu hehe.” Maurin merangkul Berlian. Sementara Jodi berjalan mendekat ke arah Riksa dan duduk berdua di gazebo.
“Benar kah? Wah aku senang sekali Maurin, jadi aku ada teman ngobrol.” Ucap senang Berlian.
“Hai dokter! Bagaimana nasib kaki temanku ini? Apa dapat pulih secepatnya?.” Pertanyaan Maurin menggugah Alfredo yang tengah menyelidik mereka.
“Tentu saja nona. Asal nyonya Jodi terus latihan berjalan itu akan mempercepat pemulihan.”
“Tuh kan benar kataku? Kau harus banyak latihan jalan Berli biar kakimu terlatih.”
“Ya kalau sudah ada ijin dari dokter aku gak takut lagi, kemarin kan dokter belum bilang apa-apa.”
“Nah sekarang saya sudah memperbolehkan nyonya untuk latihan berjalan, maka lakukanlah. Nyonya bisa menggunakan alat walker dan sejenisnya.” Jelas Alfredo.
Sementara itu Jodi dan Riksa tengah berbincang sembari memperhatikan gerak gerik Alfredo.
“Oya Boss, bukannya tunangannya si Alfredo waktu itu meminta sama Boss buat ngasih tahu dia kalau dokter itu datang kemari?.”
“Iya Rik, bagaimana menurut elo? Apa gue kasih tahu dia sekarang kalau Alfredo ada disini?.”
“Coba aja Boss chat dia, kasih tahu kalau si Alfredo ada di sini.”
“Ok.” Kemudian Jodi mengirim chat pada Krista memberitahukan kalau Alfredo datang berkunjung.
Saat itu juga Krista langsung membalas dan langsung akan datang ke rumah itu.
“Pasti si Alfredo kaget lihat ceweknya datang kesini hehe.. sepertinya dia belum tahu ya kalau minggu lalu itu cewek datang kesini?.”
“Ya sepertinya dia belum tahu, kalau tahu pasti dia nanya ke kita Rik.”
Setelah kira-kira satu jam terlihat Krista masuk ke ruang keluarga dimana Mereka tengah berkumpul. Betapa terkejutnya Alfredo pada saat melihat Krista tiba-tiba saja masuk diantar oleh salah seorang pelayan dirumah itu.
Alfredo tidak tahu kalau sebenarnya Krista telah di beritahu oleh Jodi.
“Apa yang kau lakukan disini?.” Tanya Alfredo mendekat kearah Krista.
“Kenapa? Kamu terkejut aku ada disini? Aku akan selalu tahu dimana pun kamu berada Al.” Jawab Krista, kemudian ia mendekat kearah Berlian, “Anda istri tuan Jodi? Yang menjadi pasien dari tunanganku?.” Tanya Krista.
“Iya saya pasien tunangan anda. Mari silahkan duduk.” Jawab sopan Berlian.
__ADS_1
“Baik nyonya, perkenalkan nama saya Krista Adistya tunangan dokter Alfredo, maaf jika kedatangan saya mengganggu kenyamanan anda.”
“Oh tidak sama sekali, kami tidak merasa terganggu kok.”
Karena Alfredo begitu khawatir akan kelakuan Krista, tanpa di duga-duga, tiba-tiba saja Alfredo menarik tangan Krista hendak membawanya keluar dari rumah Berlian.
“Lepaskan!.” Kata Krista yang berusaha melepaskan tangan Alfredo.
“Tolong jangan ganggu kerjaanku Krista.”
“Aku tidak mengganggu, aku hanya ingin berkenalan dengan keluarga pasien yang sedang kamu rawat.”
“Ini tidak ada hubungannya denganmu Krista.”
“Tentu saja ada, karena aku adalah tunanganmu jadi aku harus tahu apa yang kamu lakukan. Lepaskan!.”
“Berhentilah menggangguku Krista!.” Geram Alfredo dengan pelan agar tak terdengar oleh Berlian dan orang-orang yang ada diruangan itu.
“Aku tak akan berhenti sampai kamu menerimaku kembali, jika tidak! Aku akan mencari tahu siapa penyebab dari perubahanmu itu.” Bisik Krista.
Karena Alfredo tidak ingin membuat keributan di rumah pasiennya. Akhirnya ia bersepakat dengan Krista.
“Baiklah. Aku akan kembali padamu, tapi tolong kau jangan mengacaukan pekerjaanku!.” Alfredo memohon.
“Tidak akan! Asal kau mengikuti keinginanku!.” Ancam Krista.
“Baik. Tapi sekarang pergilah dulu. Tunggu aku di apartemenku.”
“Kenapa aku harus pergi? Aku ingin menunggumu disini sekalian berbincang dengan keluarga pasienmu.” Kekeuh Krista.
Karena Alfredo tidak ingin berdebat dengan Krista akhirnya dia hanya bisa menghela nafas dan meminta ijin pada Jodi agar Krista menunggunya di rumah itu.
“Tidak apa-apa dokter lebih bagus tunangan dokter ada disini, biar tunangan dokter tahu, bukankah lebih bagus kalau kita saling mengenal?.” Ujar Jodi.
“Terima kasih tuan.” Ucap Alfredo dengan senyuman terpaksanya. Sebenarnya keadaan hati dan perasaannya sangat terganggu dengan orang-orang baru yang datang kerumah itu termasuk Krista, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Terlihat semuanya berkumpul pada ruang keluarga, Krista pun terlihat akrab dengan Berlian dan Maurin. Sementara Jodi dan Riksa asik berbincang dengan mereka sembari menyelidik gerak-gerik Alfredo.
Sungguh keadaan itu membuat Alfredo tidak bisa apa-apa, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri terapinya siang itu.
“Tuan Jodi, sepertinya terapi hari ini sudah cukup, dan untuk kedepannya mungkin tuan bisa membantu nyonya belajar melancarkan otot-otot kakinya menggunakan alat seperti walker, sementara saya akan mengontrol perkembangan nyonya seminggu sekali.” Jelas Alfredo.
“Oh baik dokter. Terima kasih atas bantuannya.” Balas Jodi.
“Oya tuan Jodi bolehkan saya titip mobil disini karena saya akan pulang bersama tunangan saya, nanti mobil saya diambil oleh orang suruhan saya.” Ujar Krista yang memang tadi dia datang membawa kendaraannya sendiri.
“Ya silahkan.” Jawab Jodi, sementara Alfredo lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa mengikuti aturan main Krista.
Setelah Alfredo dan Krista berpamitan akhirnya mereka meninggalkan rumah tersebut.
Di dalam perjalanan Alfredo hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Kenapa? Aku mengganggumu?.” Tanya Krista seraya memainkan jari-jarinya di telinga Alfredo yang tengah fokus menyetir.
Alfredo tidak menjawab ia hanya meliriknya sebentar kemudian kembali fokus kedepan.
“Kau tahu? Aku sepertinya mencurigai sesuatu. Feeling aku mengatakan bahwa kau menyukai salah satu dari mereka.” Selidik Krista.
“Apa maksudmu?.” Alfredo terlihat gugup karena ia tahu arah pembicaraan Krista.
“Ya aku mencurigaimu, kamu menyukai istri tuan Jodi atau kalau tidak, kau menyukai Maurin.” Kata Krista menantang.
“Jangan sembarangan kau bicara! Bukankah kau tahu sendiri mereka adalah pasangan?!.”
“Ya aku tahu Maurin itu kekasih asistennya tuan Jodi, tapi tidak menutup kemungkinan kan? Kalau kamu menyukainya?.”
“Demi Tuhan aku tidak menyukainya.”
“Bagaimana dengan istri tuan Jodi? Hah!.”
“Sama saja. Kamu jangan menduga yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin aku menyukai istri tuan Jodi. Yang benar saja kamu!.”
“Baiklah. Aku percaya padamu. Karena kau sudah menerimaku kembali, aku tidak akan mencari tahu siapa yang telah berani merebutmu dariku, dan mulai hari ini aku akan tinggal bersamamu kembali di apartemen.”
“Apa??! Yang benar saja. Kau masih berstatus suami orang. Kau sadar itu Krista!.”
“Tenang saja, aku akan melayangkan gugatan cerai pada suamiku, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Alfredo benar-benar bingung dengan semua yang terjadi. Terlebih dengan sikap Krista yang mendominasi kehidupannya. Namun ia tak ingin gegabah dalam bertindak, sepanjang perjalanan sepertinya Alfredo tengah merencanakan sesuatu. Entah apa rencana yang sedang ia pikirkan. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih yang sudah meninggalkan jejaknya😍