
Riksa yang duduk menunggu Jodi akhirnya melihat Boss nya itu keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah segar tidak seperti waktu sebelum nya.
“Ayo Boss kita makan dulu. Biar ceritanya enak, kita sambil menikmati sarapan kita.” Ajak Riksa, kemudian Jodi mendekat dan duduk di dekat Riksa lalu mengambil sarapan untuk dirinya.
“Tim kita sudah mendapatkan hasil pemeriksaan sidik jari dan rambut yang tertinggal di dalam mobil si Maurin. Hasilnya itu sidik jari dan rambut milik seorang residivis, dia langganan keluar masuk penjara dengan berbagai macam kasus, dari mulai narkoba sampai penculikan anak.” Jelas Riksa mengawali pembicaraan serius mereka sembari menikmati sarapannya.
“Kemudian hasil pemeriksaan dari bekas suntikan itu ternyata suntikan itu berisi obat bius dosis tinggi dan mengandung zat adiktif berbahaya. Diduga obat bius itu di suntikan pada Berlian.” Sambung Riksa.
Duuuhggh!!! Dada Jodi bergemuruh mendengar apa yang Riksa katakan barusan. Sesak dadanya membayangkan tubuh gadisnya kini telah terkontaminasi oleh zat yang membahayakan bagi tubuhnya. Ia tidak mampu berkata-kata hanya diam dalam perih yang ia rasakan.
“Tapi Boss gak perlu khawatir, nanti nya kita akan menetralisir zat yang berbahaya itu jika memang masih tersisa pada tubuh gadis Boss. Sementara tim yang kita perintahkan untuk mencari tempat keberadaan mereka, belum mendapatkan apa-apa. Sepertinya pelaku adalah penjahat profesional sehingga sulit terlacak dan jejaknya masih kita telusuri. Rencananya tim kita saat ini sedang mencari orang-orang yang kenal dengan si penculik itu untuk di mintai keterangan. Siapa tahu keterangan yang kita dapat dari mereka bisa membuka jalan untuk menangkap mereka dan menemukan putri Boss.” Sambung Riksa.
“Sejak bayi gue rawat kekasih gue itu Rik, gue jaga dan gue pastikan agar dia mendapatkan asupan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik. Tapi kini para bedebah itu menghancurkan keindahan yang udah gue pupuk sejak dini. Demi Tuhan! gue gak akan pernah rela. Sampai mati akan gue kejar mereka.” Geram Jodi dengan mata merah berkaca-kaca dan rekatan gigi yang menyiratkan amarah yang tak tertahankan.
“Karena itu gue minta kerja sama nya Boss, biar kita dapat menyusun strategi dengan baik dan kita dapat melakukannya dengan maksimal, Boss juga harus pikirin diri sendiri biar kuat menghadapi mereka dan biar bisa berpikir jernih. Tetap tenang dan jaga kesehat, makan dan tidur yang cukup karena lawan kita sepertinya bukan orang sembarangan. Melihat dari zat adiktif nya saja yang mereka suntikan pada Berlian itu sudah bisa di pastikan mereka adalah lawan yang kuat. Zat adiktif itu tidak bisa kita temukan dengan bebas, mereka menjualnya melalui pasar gelap di dark web.” Jelas Riksa.
Sebenarnya Riksa tidak tega menceritakan segalanya yang mungkin saja akan membuat Jodi down, tapi Riksa harus menceritakan segalanya karena melihat Jodi seperti sudah hilang semangat dan hancur. Mungkin dengan ia memberi semangat akan menumbuhkan gairah kembali pada diri Jodi.
Wajar memang jika seseorang merasakan hal seperti itu mengingat kejadian yang mereka alami adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Apalagi jika melihat lawan mereka yang kuat, sepertinya dibutuhkan kesiapan yang matang agar dapat segera mengungkap kejahatan mereka.
“Habis kita makan, kita ke ruangan lab komputer ya Boss, kita lihat sama-sama hasil kerja tim kita.”
Jodi mengangguk sembari memaksa memakan sarapannya meski lidahnya tak berselera. Tetapi kata-kata yang Riksa ucapkan sedikit banyak dapat memberikan semangat baru padanya.
“Oya Boss berkali-kali bu Delima menghubungi gue dan mengirim pesan, meminta gue buat menyampaikan maafnya pada Boss mungkin karena Boss mematikan ponsel jadi dia berusaha menghubungi gue. Cuman belum gue jawab.”
“Biarkan saja dulu Rik, kita konsentrasi saja dulu ke Berlian. Gue rasa keselamatan Berlian lebih penting dari sekedar memberi maaf.” Ucap Jodi yang masih dengan rasa kecewanya.
Namun saling menyalahkan pun tidak ada guna pikirnya. Yang jelas kini ia hanya ingin konsentrasi pada Berlian tanpa di campuri urusan lain.
Selesai mereka menghabiskan sarapannya akhirnya mereka beranjak pergi ke ruangan yang mereka sebut lab komputer mereka. Tempat anggota tim mereka melakukan pekerjaan mereka yang berhubungan dengan dunia maya. Dari mulai melakukan peretasan sampai perang cyber dengan lawan dari klien mereka.
Jodi dan Riksa duduk di depan layar monitor yang berukuran besar, mereka tengah melihat data dan informasi yang anggota mereka baru saja dapatkan Mengenai penjahat yang telah menculik Berlian.
Satu informasi penting yang mereka dapatkan bahwa penjahat itu menjual korbannya pada agen human trafficking yang sulit terlacak, karena mereka merupakan jaringan yang melakukan transaksi di dunia bawah tanah.
Jodi sedikit lega karena sudah mendapatkan benang merah dari masalah yang tengah ia hadapi. Kemudian ia melangkahkan kakinya pada sebuah komputer hendak melihat-lihat informasi lain yang mungkin saja dapat memberikan keterangan lebih lanjut.
Pada saat ia membuka emailnya ia melihat beberapa pesan yang masuk dan membukanya, namun ada satu pesan dari alamat yang asing bagi nya, perlahan ia buka pesan itu dan membuat ia sedikit bertanya-tanya kemudian ia memanggil Riksa.
“Rik coba lihat ini.” Panggil Jodi sembari mencoba memahami isi pesan tersebut, karena hanya berupa kode atau simbol, kemudian Riksa menghampiri dan melihat pesan itu.
“Itu sepertinya sandi Morse ya Boss?.”
“Iya benar Rik, coba kita cek.”
•- -• / •- / •- -• / •-
__ADS_1
- / - - - / •-•• / - - - / -• / - -•
- / •- / -•••
-•• / •-•
-•• / •- / -•• / •• / ••- / •••
- - - / •-• / -•• / - - - / -• / • / •••
Papa
tolong
lab
dr
darius
ordones
Betapa terkejutnya saat Jodi membaca pesan tersebut, betapa luluh hati nya saat ia menduga kalau pesan itu datang dari putrinya yang tengah meminta pertolongan.
“Good job baby….” Ucapnya haru dengan mata yang meremang seolah tak percaya bahwa gadis kesayangannya itu menghubungi dirinya.
“Tomy!! Angga!! Cepat kemari.” Teriak Jodi.
Tak lama masuk dua orang yang ia panggil itu, “Siap Boss!.” Jawab kompak mereka.
“Cari tahu tentang dr.Darius Ordones!!!.”
Bergegas dua orang yang bernama Tomy dan Angga itu duduk di depan komputernya dan mulai mencari informasi mengenai seseorang yang bernama dr.Darius Ordones.
Setelah mereka sedikit mendapatkan informasi tentang orang tersebut kemudian Tomy meretas email milik dokter itu.
Sejenak mereka terdiam pada saat melihat salah satu pesan yang dokter itu kirim pada seseorang mengenai pengiriman seorang wanita ke negara X untuk di lelang pekan depan.
Apa lagi saat mereka melihat bahwa foto Berlian terpampang nyata disana. Terlihat dalam foto tersebut Berlian yang tidak sadarkan diri dan masih memakai pakaian seragam hotel.
Dengan muka merah padam menahan nafsu, Jodi mengeratkan giginya, “Dasar setan!! Mereka pikir bisa dengan mudah menjual kekasih gue se-enak jidatnya!!.” Kemudian,
“Rik, tolong atur keberangkatan gue kesana dan urus semua dokumen beserta kelengkapannya! Gue mau ikut lelang!.”
“Apa!! Boss mau ikut lelang gadis Boss sendiri?!.”
“Iya. Gue gak rela kalau gadis gue jatuh ke tangan orang lain, apalagi manusia-manusia bejad seperti mereka! Berapa pun harganya akan gue beli!!.”
__ADS_1
“Boss. Apa sebaiknya kita tangkap saja si dokter Darius itu terlebih dahulu?.”
“Gue rasa itu tidak mudah Rik. Dan elo bisa lihat sendiri kalau dia udah menjual gadis gue dengan harga fantastis pada panitia lelang itu? Mending kalau kita bisa menangkap dia dalam waktu dua atau tiga hari, sementara lelang Berlian waktunya mepet. Lelang nya akan di laksanakan pekan depan di negara X. Artinya beberapa hari sebelumnya gue harus sampai di negara X tersebut. Sekarang juga elo urus manipulasi data-data gue.”
Mendengar apa yang dikatakan Boss nya, Riksa tak bisa apa-apa. Dan memang masuk akal juga setelah ia pikir-pikir kembali.
“Ok kalau gitu. Sekarang gue akan urus semuanya.” Jawab Riksa seraya berlalu menuju ruangannya.
Sementara itu Jodi yang masih di lab bersama Tomy dan Angga mencari informasi lebih lanjut.
“Masuk ke dark web Tom! Cari situs yang berhubungan dengan human trafficking dan lelang gadis.” Perintah Jodi.
“Siap Boss.” Jawab Tomy seraya bergegas mengenakan atribut ala-ala hacker agar tidak terdeteksi.
“Server nya jangan lupa Tom alihkan dulu.”
“Udah Boss gue pakai server negara X tersebut.”
“Iya bagus. Gue tunggu infonya. Gue ke ruangan gue dulu ya.”
“Siap Boss.”
Kemudian Jodi berlalu keruangannya dan merebahkan dirinya di atas sofa.
“Sayang… tunggu papa… papa akan menyelamatkanmu.” Bathin Jodi.
Tak lama Riksa masuk. “Boss mau pakai data yang mana?.” Kata Riksa seraya memperlihatkan beberapa pilihan pada Jodi dengan tab nya.
“Maksud elo?.”
“Boss pilih sendiri, mau pakai data orang timur tengah apa Eropa? Kalau pakai data timur tengah mungkin nanti Boss disana pakaiannya ala-ala timur tengah gitu, pakai gamis lengkap dengan sorbannya hehe.”
“Elo pikir gue mau umroh hah!! Macam-macam saja. Udah… pakai yang gak ribet aja. Pakai asal negara leluhur gue aja.”
“Ya kali aja mau nyamar jadi sultan Dubai gitu hehe.”
“Eh gue kesana bukan mau main-main! tapi mau nyelamatin cewek gue! Tahu gak?.”
“Baik Boss. Hehe emosi mulu nih papa cayang.”
“Anjir!! Pergi luh sana!.” Usir Jodi dengan melempar botol kosong tepat di punggung Riksa.
“Aw… haha..” Riksa berlari menyelamatkan diri.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
Terima kasih buat readers yang tetap setia mengawal cerita ini🥰🥰🙏🏻