Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Rumah putih


__ADS_3

Melihat kedatangan Philipe suami dari Krista, Maurin beranjak keluar ruangan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berdua.


Sementara Krista bersama suaminya tengah melepas rindu saling berpeluk dan terlihat Krista menangis dalam pelukan sang suami.


"Maafkan aku Philipe. Aku terbawa emosi hingga pergi meninggalkanmu. Aku sadar aku salah, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Aku janji tak akan menuntut untuk memiliki anak darimu lagi.” Tangis Krista.


“Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Mari kita sama-sama perbaiki hubungan kita. Aku janji setelah selesai masa kontrak, kita akan segera melaksanakan program kehamilanmu.”


“Ya Philipe aku ikuti bagaimana baiknya menurutmu saja. Philipe bawalah aku kembali pulang. Aku takut berada disini. Dia jahat padaku, dia telah membuat aku seperti ini, aku menyesal menemui dia kembali. Maafkan aku Philipe.”


“Kamu tak perlu minta maaf padaku, semua ini terjadi karena berawal dari kesalahanku. Nanti kita pulang setelah aku bertemu dengan Jodi untuk berterima kasih padanya.”


“Ya Philipe mereka begitu baik padaku. Mereka yang menyelamatkan aku dari tempat terkutuk itu.”


“Syukurlah mereka telah baik pada kita. Dan kau telah di selamatkan oleh mereka. Makanya aku ingin berterima kasih pada mereka.” Kata Philipe seraya mencium kening Krista.


Melihat kemesraan mereka berdua, Maurin sedikit merasa lega dan sepertinya ia tidak mau mengganggu kebersamaan mereka yang tengah melepas rindu, akhirnya Maurin berinisiatif untuk pulang karena sekarang sudah ada kehadiran Philipe yang menemani Krista.


Maurin masuk kedalam ruang perawatan dan meminta ijin untuk pamit pulang pada mereka.


“Kak, aku permisi pulang dulu ya karena sekarang sudah ada suami kakak disini.” Kata Maurin pada Krista.


“Iya Maurin, terima kasih ya kamu sudah menjagaku.”


“Iya kak sama-sama.”


“Maurin sampaikan kepada kekasihmu dan Boss nya, nanti saya ingin bertemu dengan mereka.” Kata Philipe.


“Baik kak nanti akan saya sampaikan. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya kak.”


Kemudian Maurin pergi meninggalkan ruangan itu.


..............


Ditempat lain, nampak Alfredo tengah asik di depan layar komputer di dalam salah satu ruangan. Ia tengah berinteraksi dengan pengikutnya. Mereka tengah berbincang mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan konten mereka di dalam situs dark web.


Tanpa mereka sadari Jack salah satu tim Jodi berada diantara mereka. Jack menyaksikan perbincangan mereka dan berbaur dengan mereka seolah ia termasuk ke dalam golongan mereka.


“Dasar dokter gila! Obrolannya udah kaya orang mabok aja.” Gumam Jack.


“Kenapa bang?.” Tanya salah seorang di sampingnya.


“Ini kelakuan-kelakuan manusia aneh, lagi pada ngomongin hobby mereka bikin gue mau muntah saja.”


“Emang apa yang di omongin mereka Bang?.”


“Ini yang satu bilang dirinya ketagihan mantap-mantap sama boneka. Yang satunya lagi lebih seru melakukan di dunia maya dengan imajinasinya. Kan manusia gila nih semua.”


“Hehe.. mending kaya begitu, malah ada juga loh yang senang begituan sama binatang.”


“Ish… oek.. najis gue!.” Kata Jack seraya memalingkan mukanya dan kembali fokus pada layar monitornya.


Namun tiba-tiba saja terdengar suara panggilan masuk pada ponsel Jack,


“Hallo Boss.”


“Jack tolong pantau terus ya kegiatan mereka.” Suara Jodi pada sambungan seluler.


“Siap Boss, ini gue lagi dengerin mereka diskusi.”


“Diskusi apaan?.”


“Kegemaran mereka dalam bercinta hehe.”


“Sebentar lagi elo bakal ikut-ikutan gila keseringan gaul sama mereka tuh.”


“Ih.. amit-amit Boss, gue masih pengen jadi manusia berguna. Oya gue juga tadi denger ada yang bahas masalah racun juga.”


“Iya berarti memang salah satunya dia orang yang jual racun itu. Ya udah, bentar lagi gue sampe, elo baik-baik disana ya Jack.” Kata Jodi.


Dan mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka dalam saluran ponselnya.

__ADS_1


Singkat waktu, akhirnya Jodi bersama tim sampai di kota P. Mereka tinggal di sebuah hotel yang lumayan jauh dari tempat Alfredo. Karena untuk melakukan penyelidikan tentunya mereka membutuhkan tempat yang nyaman agar dapat melakukan penyelidikan itu dengan tenang.


“Oya Rik, coba elo survey rumah pinggir kota yang mencurigakan. Bawa saja dua orang tim, gue nunggu di hotel.” Titah Jodi.


“Siap Boss.” Jawab Riksa.


Saat itu juga Riksa bersama dua orang anggotanya pergi menuju pinggiran kota P untuk mencari rumah tempat tinggal Alfredo yang digunakan untuk tempat tinggalnya dan tempat mengurung Berlian.


Sementara Jodi tinggal di dalam hotel bersama beberapa orang Tim.


Kamar hotel tempat mereka singgah, mereka sulap menjadi ruangan tempat penyelidikan tentu saja setelah meminta persetujuan dari pihak hotel. Karena mereka memasang banyak alat dan beberapa monitor yang harus mereka letakkan disana.


Jodi terus mengamati foto-foto dan video istrinya yang telah dia ambil dari akun gelap milik Alfredo.


‘Baby…. Aku sudah berada hampir dekat denganmu. Tunggu aku sayang… aku akan membawamu pulang.’ Bathin Jodi.


Kemudian Jodi pengamati wajah putranya di dalam video itu. ‘Putraku… papa rindu padamu. Sejak kau lahir papa belum sempat memelukmu bahkan menciummu. Papa janji akan membawamu keluar dari tempat terkutuk itu. Tunggu papa sayang.’ Bathin Jodi kembali dengan tatapan yang meremang.


Diceritakan Riksa dan kedua orang anggotanya tengah dalam perjalanan menuju pinggiran kota P. Ia terus mengitari rumah-rumah yang mungkin saja diantara rumah yang mereka lewati merupakan rumah tujuan mereka.


Hingga sampailah ia melewati rumah dengan cat berwarna putih.


Dari kejauhan mereka mengamati, namun setelah sekian lama mereka berada di sekitar rumah tersebut, sepertinya rumah itu bukan tujuan mereka, karena mereka melihat rumah itu di huni oleh sepasang suami istri yang sudah lanjut usia.


Akhirnya mereka pun meninggalkan tempat itu melanjutkan perjalanan mereka. Semakin jauh kendaraan mereka memecah jalanan yang tidak begitu ramai dengan arus kendaraan. Hingga sampailah mereka di sebuah tempat dengan penampakan sejauh mata memandang hamparan tanah luas, dan terlihat di sebelah ujung sebuah rumah bercat warna putih dengan latar belakang hutan.


“Berhenti Sal, sepertinya gue curiga dengan rumah itu.” Kata Riksa pada salah seorang anggotanya yang bernama Faisal yang mengemudikan kuda besi yang membawa mereka.


“Iya ya bang. Rumah itu terlihat sepi dan jauh dari tetangga. Bisa saja kan si Alfredo menyewa rumah itu biar dia aman, secara jauh dari tetangga jadi dia bebas melakukan apapun.”


“Ya sudah kita pantau saja rumah itu. Tapi sepertinya kalau kendaraan kita berenti disini, akan terlihat dari dalam dan terkesan mencurigakan. Jalan terus lagi aja Sal, nanti kita balik lagi.” Seru Riksa.


Kemudian Faisal yang memacu kendaraan yang membawa mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan laju kendaraan melambat.


Kira-kira dalam jarak 200 meter dari rumah itu mereka berhenti dan mengitari sekitar.


“Sepertinya lebih bagus kalau kita memantau di sekitaran hutan belakang rumah itu deh Sal.” Ide Riksa.


“Betul juga Bang, terus bagaimana? Apa kita akan melakukannya sekarang?.”


“Hehe iya juga ya?! Terus sekarang gimana bang?.”


“Kita balik dulu aja ke hotel, laporan sama Boss kalau kita menemukan rumah yang mencurigakan, soalnya gak ada lagi rumah yang persis seperti yang di katakan istri Boss dalam video itu selain rumah ini.” Jelas Riksa.


Akhirnya mereka pun balik arah hendak kembali ke jalan semula. Namun pada saat mereka melintasi rumah itu, Riksa menyaksikan ada mobil yang masuk ke pekarangan rumah tersebut.


“Pelan-pelan Sal.” Titah Riksa.


Riksa melihat seseorang memarkirkan mobil di garasi rumah tersebut. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat bahwa yang keluar dari dalam mobil tersebut adalah Alfredo.


“Yess!! Bener dia noh orang nya. Berarti istri Boss ada di dalam rumah itu Sal.” Kata Riksa yang terus mengamati dalam mobil yang berjalan lambat itu.


Alfredo keluar dari dalam mobilnya dengan membawa beberapa paper bag, sepertinya ia baru saja pulang belanja dari pusat kota.


Alfredo tidak curiga kalau mobil yang melintas tadi adalah Tim Jodi. Jadi ia tidak memperhatikan dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


“Kena luh bangsat! Disini rupanya elo menyembunyikan bini Boss gue. Mampus luh bentar lagi.” Geram Riksa sembari terus memandangi rumah itu. Dan tak lupa ia pun mengambil gambar rumah itu dengan camera canggihnya yang dapat mengambil gambar secara sempurna meskipun jarak mereka jauh dari rumah itu, dan gambar diambil dalam keadaan mobil yang melaju meninggalkan tempat tersebut.


Kemudian Riksa langsung memindai hasil jepretan kameranya kedalam ponselnya dan langsung mengirimkan pada Boss nya yang tengah berada di hotel.


Di dalam kamar hotel, Jodi yang baru saja selesai mandi, melihat ponselnya yang berada di atas meja nakas menyala.


Pada saat ia membuka chat masuk dari Riksa, ia melihat pemandangan yang mengejutkannya.


Ia melihat sebuah foto yang menggambarkan sosok lelaki tengah masuk kedalam rumah, dan ia dapat melihat jelas bahwa orang yang berada di dalam foto itu adalah Alfredo.


Dengan cepat ia langsung menghubungi Riksa.


“Hallo Rik! Elo udah menemukan tempat si Alfredo?.”


“Seperti yang Boss lihat. Di rumah itulah ia tinggal, dan istri Boss pasti di sekap di dalam bunker rumah itu.”

__ADS_1


“Ok. Good job. Terus sekarang kalian lagi dimana?.”


“Kita lagi di jalan Boss menuju Hotel.”


“Ya sudah gue tunggu. Yang penting kita sudah dapat tempat dia sembunyi. Langkah selanjutnya yang akan kita lakukan, kita harus bicarakan dulu karena kita gak boleh gegabah menghadapi psikopat itu. Khawatir bini dan anak gue di apa-apan sama dia nanti.”


“Siap Boss.”


Dan mereka pun menutup sambungan ponselnya.


Setelah menghubungi Riksa dan mendapatkan informasi yang cukup melegakan. Jodi tersenyum bahagia.


‘Sayang… papa sudah menemukan dimana kau berada. Sebentar lagi kita akan bersama. Tunggu aku.’ Gumam Jodi.


Dengan menghela nafas panjang Jodi meyakinkan hatinya kalau ia akan segera membawa sang istri dan putranya kembali ke pangkuannya.


Sementara itu pada kediaman Alfredo, terlihat lelaki itu masuk kedalam bunker tempat Berlian dan putranya berada. Ia membawa paper bag yang berisi bahan makanan kebutuhan Berlian dan putranya di dalam sana.


Alfredo melangkah menuruni anak tangga kemudian menyimpan paper bag itu di atas meja.


Berlian yang tengah menyusui putranya melihat Alfredo masuk kedalam tempatnya.


“Putramu semakin besar.” Kata Alfredo setelah menyimpan paper bag dan menjuruskan pandangannya pada Berlian.


“Ya dia tumbuh dengan baik. Hanya saja aku khawatir dia kenapa-napa karena kurang terpapar sinar matahari.” Balas Berlian.


Mendengar apa yang Berlian katakan, Alfredo mendekat seraya memandangi bayi kecil itu.


Ia mengamati bayi itu, dan memang benar Alfredo yang seorang dokter dapat melihat bayi itu sedikit terlihat kuning.


Setelah lama berfikir, akhirnya Alfredo memutuskan. “Baiklah, sekarang setiap pagi kau boleh menjemur putramu di halaman.” Kata Alfredo.


“Terima masih dokter.” Jawab Berlian dengan wajah datarnya namun hatinya merasa senang karena ia dapat keluar dari dalam bunker itu walau hanya untuk menjemur putranya.


Dalam fikiran Berlian, setidaknya jika ia di perbolehkan keluar, sedikit banyak ia dapat melihat kondisi rumah itu dan mencari jalan untuk dapat keluar dari sana.


“Kenapa kau biasa saja menanggapinya? Kau tidak senang?.” Tanya Alfredo heran karena melihat mimik Berlian yang biasa saja tanpa reaksi.


“Tentu saja aku senang dokter, karena semua itu demi kesehatan putraku.”


“Hanya saja aku perlu mengingatkan kamu nyonya. Jika nyonya berniat melarikan diri. Aku pastikan akan ada yang bernasib seperti ini.” Tegas Alfredo seraya memperlihatkan Video Krista yang terkapar tak dapat melakukan apa pun.


‘Bukankah itu tunangannya yang bernama Krista itu? Kenapa dia jadi seperti itu? Apa yang telah dia lakukan pada tunangannya sendiri? Sehingga terlihat tak berdaya.’ Bathin Berlian yang kemudian nyalinya sedikit menciut setelah melihat video penampakan Krista.


“Dia wanita yang sangat aku cintai, tapi karena ia terus melakukan kesalahan yang sama, akhirnya aku membuat dia membeku agar tidak terus bertingkah. Dan jika nyonya tidak patuh padaku….” Belum sempat Alfredo melanjutkan kata-katanya, Berlian langsung menyela.


“Dokter akan membuat aku seperti tunangan dokter itu?.”


“Hehe… aku tidak akan melakukan itu padamu nyonya, karena kau adalah asset ku. Tapi aku akan melakukannya mungkin pada putra anda atau orang-orang yang anda sayangi.”


Mendengar penuturan Alfredo, sontak membuat Berlian terkejut dan ia mulai khawatir akan apa yang Alfredo katakan itu. Namun ia berusaha menutupi rasa takut dan terkejutnya.


“Hehe… aku pastikan, aku tidak akan lari kemana-mana dokter. Bagaimana aku bisa lari sementara aku tidak kenal dengan tempat ini.” Kata Berlian yang sekuat tenaga mengendalikan dirinya agar tak terlihat bahwa dirinya begitu takut dengan ancaman Alfredo.


“Bagus jika nyonya berfikir demikian. Dan perlu nyonya ingat! Saya tidak pernah main-main dengan apa yang saya katakan!.”


“Baiklah. Dokter bisa buktikan nanti. Saya tidak akan lari kemana-mana.”


“Ok. Kita buktikan nyonya.” Kata Alfredo seraya berlalu meninggalkan Berlian.


Sementara Berlian menghela nafas dengan perasaan yang cemas. Ia tak ingin menunjukan reaksi apapun karena ia tahu disetiap sudut terpasang kamera pengawas yang dapat memantau gerak geriknya.


Akhirnya Berlian berfikir kembali akan rencananya untuk melarikan diri dari tepat itu.


‘Oh Tuhan… lindungilah aku dan orang-orang yang aku sayangi. Jika pun aku tak dapat lolos dari tempat ini, kuharap keluargaku disana mendapat perlindunganMu. Hanya Engkau yang dapat membebaskanku dan menyelamatkanku dari sini.’ Bathin Berlian dengan tetesan air matanya.


Kemudian terlihat ia merebahkan dirinya di samping putranya.


“Sayang… kalau seandainya kita tak dapat keluar dari tempat ini, aku harap kita akan selalu bersama meski tanpa ayah dan kakakmu juga keluarga yang lain. Nasib telah membawa kita ketempat ini sayang… tapi kita jangan putus asa, akan selalu ada jalan keluar, jadi bersabarlah. Apapun yang akan terjadi pada kita nanti. Mama akan selalu ada di sisimu.” Bisik Berlian pada sang putra seraya mengecup wajah bayi mungil itu.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹

__ADS_1


Tetap Like, vote, favorite dan rate 5 nya ya gais🥰


Terima kasih😍


__ADS_2