
Pagi itu langit ibukota terlihat mendung. Namun tak menyurutkan semangat orang-orang yang begitu mencintai perkerjaannya dalam memulai aktivitas paginya.
Terlihat Jodi dan Berlian memasuki kuda besinya untuk berangkat melakukan aktivitasnya, Jodi akan berangkat ke kantornya sementara Berlian akan pergi ke kampusnya pada mobil yang sama, tentunya di kendalikan oleh Riksa asisten mereka.
Di dalam perjalanan, Jodi terlihat gelisah, ia merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya. Ia seperti merasakan sesuatu akan terjadi pada dirinya.
Memang benar, Jodi belum mengetahui rencana Delima dan pak Budi yang akan mengunjungi mereka untuk merundingkan masa depan Berlian, karena pak Budi Juga Delima sampai detik itu, belum memberitahu Jodi. Namun sepertinya firasat sudah Jodi rasakan sedari awal.
Begitu pun hal yang sama di rasakan oleh Berlian kala itu, Berlian pun merasakan jantungnya berdebar-debar namun tidak tahu penyebabnya apa.
“Papa… kenapa ya? Sedari pagi jantungku berdebar-debar, seperti akan terjadi sesuatu saja.” Kata Berlian pada Jodi yang berada di sampingnya.
Jodi sedikit terdiam mendengar penuturan gadis itu, karena ia pun mengalami hal yang sama, namun kemudian, “Mungin itu hanya perasaanmu saja sayang.” Balas Jodi untuk menenangkan gadis itu.
“Tidak papa… aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.”
“Jangan terlalu di pikirkan sayang, anggap saja jika memang akan terjadi sesuatu, semoga hal baik yang membuatmu bahagia yang akan terjadi nanti.” Kembali Jodi membesarkan hati Berlian sembari memeluk gadis itu.
Namun sekalipun Jodi mengatakan hal demikian, ia pun semakin merasakan sesuatu memang akan terjadi pada mereka.
‘Semoga bukan hal yang buruk jika memang ini adalah sebuah firasat.’ Bathin Jodi.
Dan tak terasa mobil yang mereka tumpangi pun telah sampai di halaman kampus, setelah Berlian pamit, ia langsung berlari kecil menuju gedung kampus, sementara mobil yang membawa Jodi kembali melaju meninggalkan kampus tersebut.
Berlian yang terlihat akan memasuki ruangan kelasnya bersama Maurin. Melihat Arash dari kejauhan menuju ke arah mereka. Setelah mereka dekat,
“Tumben kak sendiri, kemana kedua teman kakak?.” Tanya Berlian pada Arash.
“Sepertinya hari ini Menara dan Yosan tidak akan masuk kuliah.” Jawab Arash
“Loh kenapa?.” Tanya Berlian.
“Semalam kami pesta sampai pagi, sepertinya mereka masih tidur hehe… Oya Berlian, bisa kita bicara berdua sebentar?.” Pinta Arash.
Mendengar Arash mengatakan itu sontak Berlian dan Maurin saling berpandangan,
“Tenang saja! Aku bukan Menara yang selalu bikin kamu kesel hehe.” Sambung Arash.
“Mau bicara apa ya kak?.” Tanya Berlian sedikit penasaran.
“Yang jelas sesuatu yang penting buat kamu.” Kata Arash. Kemudian karena penasaran akhirnya Berlian mengisyaratkan dengan tatapannya pada Maurin untuk masuk kelas terlebih dulu.
Setelah Maurin masuk ke dalam kelas, Berlian dan Arash berjalan menjauh dari pintu kelas dan berbicara di sudut tangga.
“Ada apa ya kak?.” Tanya Berlian.
“Benar orang tua kalian menjodohkan kalian?.”
__ADS_1
“Maksud kakak?.”
“Katanya ibu kamu sama ibunya Menara temenan dan akan menjodohkan kalian. Menara bilang kemarin begitu sama aku.”
“Oh masalah itu. Kalau orang tuaku sih belum bilang apa-apa padaku, justru aku tahu dari kak Menara pada saat kami di undang makan malam ke rumahnya.”
“Iya memang benar, mama nya Menara selalu berusaha menjodohkan Menara dengan putri temannya dan itu selalu di tolak oleh Menara.”
“Ya. Kak Menara juga mengatakan seperti itu padaku. Lalu maksud kakak apa membahas masalah itu sama aku?.”
“Hehe… gak ada maksud lain sih, cuma ingin nanya aja. Memang kamu akan menerima kalau misalkan kalian di jodohkan?.” Tanya Arash penasaran.
“Entahlah kak… yang jelas diantara kami tidak ada perasaan apa-apa. Buat apa menjalani perjodohan kalau sama-sama tidak saling menyukai. Iya kan?.”
“Iya betul Berlian. Kalau aku boleh kasih saran sih. Kalau memang kamu gak suka, mending tolak aja. Karena percuma jika di jalanin juga ujung-ujungnya mungkin saja malah akan jadi masalah.”
“Iya sih kak. Dan kalau pun itu terjadi aku pasti mikir-mikir dulu kak.”
“Baguslah kalau gitu. Oya kalau kamu butuh temen curhat, kamu cerita aja sama aku ya?.” Kata Arash.
“Iya kak, makasih.”
“Ya sudah masuk kelas sana, tuh lihat itu dosen yang akan masuk ke ruangan kamu kan?.” Tunjuk Arash pada seorang dosen wanita yang berjalan menuju ruang kelas Berlian.
“Oh iya kak… aku tinggal dulu ya.” Berlian sedikit berlari memasuki ruang kelasnya. Sementara Arash memandanginya dengan senyum licik di sudut bibirnya.
Kemudian Arash melangkah pasti menuju ruang kelasnya.
...........
Sementara itu Jodi yang sudah sampai di kantornya mulai melakukan aktivitasnya bersama Riksa di dalam ruangannya. Namun di tengah-tengah perbincangan meraka, terdengar suara ponselnya berbunyi. Di lihatnya layar ponsel itu, ternyata yang memanggil adalah pak Budi yang tiada lain adalah kakek dari Berlian, dengan cepat Jodi menerima panggilan ponsel itu.
“Hallo pak?.” Sapa Jodi.
“Hallo Jod, apa kabar?.”
“Kabar baik pak, gimana kabar bapak dan ibu?.”
“Alhamdulillah kami sehat Jodi. Oya Jod maksud saya menelepon kamu adalah ingin memberitahukan sesuatu, bahwa kami nanti akan berkunjung ke rumah bersama oma nya Berlian, kami rindu sama cucu sudah lama tidak bertemu hehe… Selain itu ada hal penting yang akan kita bicarakan bersama keluarga inti.”
Duuuug… dada Jodi berdegup kala mendengar ucapan terakhir pak Budi seakan memberikan sinyal bahwa perasaannya yang aneh, ia rasakan semakin dekat mengungkap misterinya.
“Baik pak… kapan bapak akan berkunjung ke rumah?.” Tanya Jodi.
“Mungkin nanti malam saya akan berkunjung ke sana Jodi.”
“Baik pak kami tunggu.” Jawab Jodi dengan konsentrasi yang terpecah belah.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Sudah dulu ya Jod sampai bertemu nanti malam.”
“Iya pak.”
Tut… suara panggilan ponsel terputus. Setelah menerima panggilan tersebut, Jodi terdiam di atas kursi kerjanya dengan menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. Melihat hal tersebut membuat Riksa bertanya-tanya.
“Ada apa Boss?.”
“Barusan opa nya Berlian telepon. Mereka akan mengunjungi kami nanti malam dan akan membicarakan sesuatu yang penting.”
“Lalu?.” Tanya Riksa yang merasa bahwa itu adalah hal biasa tetapi terlihat membuat Boss nya itu seperti menghadapi sedikit masalah.
“Elo tahu Rik. Dari pagi perasaan gue gak enak, begitupun dengan apa yang di rasakan Berlian. Elo juga denger sendiri kan tadi di mobil?. Dan gue rasa perasaan gue yang gak enak ada hubungannya dengan kedatangan kakeknya Berlian Rik. Gue ngerasa akan ada sesuatu hal, hanya saja gue belum jelas apa itu?.” Kata Jodi sembari membuang pandangan kosongnya pada luar jendela.
“Apa pun yang akan Boss dan gadis Boss alami nanti, gue hanya bisa mendoakan semoga tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Hadapi dengan tenang Boss.”
“Gue sih bisa ngatasi itu Rik. Cuman bagaimana dengan gadis gue itu? Takutnya apa yang akan mereka sampaikan membuat gadis gue kecewa.”
“Mudah-Mudahan saja apa yang akan di bicarakan di rapat keluarga nanti adalah hal lain yang tidak ada hubungannya dengan gadis anda Boss.”
“Ya mudah-Mudahan saja Rik.” Jawab Jodi menghela nafas panjang kemudian berjalan menuju jendela dan menjuruskan pandangannya keluar jendela. Memandangi pemandangan langit ibukota, seolah menggantungkan harapan disana, bahwa apa yang di rasakannya dapat sejenak terhapuskan.
Sementara Riksa yang menyaksikan Boss nya itu tidak ingin ikut campur lebih jauh dan lebih ingin memberikan kesempatan pada Boss nya untuk menikmati sendirinya, kemudian Riksa meninggalkan Boss nya itu yang tengah asik termenung.
..........
Di tempat lain, nampak Menara masuk ke dalam rumahnya setelah memarkirkan kendaraannya pada garasi rumahnya.
Ia menanyakan keberadaan ibunya pada salah satu pelayan di rumahnya itu, dan pelayan itu mengatakan bahwa ibunya belum pulang dari Bandung.
Menara merasa sedikit lega, karena kepulangannya tidak di ketahui oleh ibunya. Jika saja ibu nya ada tentunya sudah memarahinya karena dari semalam ia tidak ada di rumah dan baru pulang pagi hari.
Bergegas Menara Masuk kedalam kamarnya dan membuka seluruh pakaiannya hendak membersihkan diri. Pada saat ia melihat penampakan tubuhnya yang polos di cermin, betapa terkejutnya saat ia melihat banyak tanda merah pada dadanya.
“Aaaaaarrrgggh… sial! Dasar tante-tante gila! Sembarangan saja bikin tanda.” Geram Menara, lantas ia membenamkan diri pada bathtub setelah ia mengisi penuh dengan air hangat.
Ia pejamkan matanya mencoba melupakan apa yang telah terjadi bersama tante Citra semalam dan berharap kejadian itu hanya mimpi belaka baginya.
“Sial! Semuanya gara-gara bujuk rayu si Arash hingga aku terjerumus dalam permainan tante-tante gila itu!.” Geram Menara kembali.
Setelah hampir satu jam ia meluapkan segala emosinya dengan mencoba meredam dengan berendam, akhirnya ia beranjak dari kamar mandinya dan segera memakai pakaiannya.
Ia keluar dari kamarnya menuju ruang makan dan meminta dibuatkan makanan pada pelayan dapur di rumahnya.
Setelah pelayan itu membuat makanan untuknya, ia mencoba menikmatinya dengan rasa malas karena ia merasakan badannya yang sedikit lelah sisa pertempuran semalam dengan tante Citra.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
Terima kasih yang sudah Like, vote, koment dan favorite nya🙏🏻🥰😍