
Jodi sedikit merasa lega, meski yang ditemukan bukan kekasih hatinya, tetapi menemukan Maurin minimal dapat memberi petunjuk awal dalam pencarian Berlian.
Untuk meminta keterangan pada Maurin tentunya Jodi memiliki cara sendiri mengingat dia adalah seorang pimpinan agen rahasia yang tentunya telah berpengalaman dan memiliki teknik-teknik tersendiri dalam menginterogasi orang.
Jodi mengisyaratkan pada salah seorang anggotanya untuk meminta dua botol air mineral, tentunya untuk Maurin dan dirinya.
Terlihat salah seorang anggotanya masuk kedalam hendak mengambil minuman yang Jodi minta tadi.
Selagi menunggu minuman yang di ambil anggotanya tersebut, Jodi membawa Maurin untuk duduk pada sofa di atas rooftop tersebut, sembari ia mengatur nafas untuk memulai pembicaraannya dengan Maurin. Ia pandangi Maurin, setelah Maurin terlihat sudah tenang, lalu….. “Dia adalah gadis kecilku yang kemudian menjadi kekasihku.” Kata Jodi membuka pembicaraan dirinya dengan Maurin.
“Tak pernah terbayangkan sedikit pun kalau aku akan menjadi kekasih seorang gadis yang sejak bayi aku urus bersama ayahnya. Terdengar ironis memang…. tapi itu lah kenyataannya, dan hebatnya lagi, kita saling mencintai dan berkomitmen untuk melangkah ke arah lebih serius lagi. Sedari ia kecil jika aku akan membawanya main ke mall aku selalu mengatakan bahwa kita tengah melakukan kencan dan ku panggil ia kekasih. Dan dari kata-kata itu mungkin malaikat catat menjadikan nya kenyataan, pantas saja pepatah bijak mengatakan hati-hati dengan lidahmu, kata-katamu adalah do’a. Ya itulah yang aku alami sekarang. Dan untungnya apa yang aku ucapkan itu adalah sesuatu yang indah.” Jelas Jodi dengan pandangan yang kosong.
Kemudian terlihat salah seorang memberikan minuman yang Jodi minta tadi, satu botol ia buka tutupnya kemudian ia berikan pada Maurin untuk meminumnya.
‘Pantas saja Berlian begitu mencintaimu… hal terkecil saja yang kau lakukan memberikan kesan yang baik.’ Bathin Maurin saat menerima air mineral dari Jodi yang telah Jodi bantu membuka tutup botolnya itu.’
“Makasih om.” Kata Maurin seraya meminum air mineral tersebut. Kemudian Maurin menceritakan bagaimana yang terjadi antara dirinya dengan Berlian sebelum ketiadaan Berlian.
Plashback on
Setelah Jodi keluar dari kamar Berlian, Maurin masuk mendekati Berlian dan membawanya duduk di ujung tempat tidur dan memeluknya dengan erat.
“Aku sangat mencintai papaku Maurin hiks… aku dan dia adalah pasangan kekasih yang tidak bisa di pisahkan oleh apapun hiks.” Tangis Berlian dalam pelukan Maurin, meskipun awalnya Maurin sedikit tersentak mendengar Berlian mencintai papanya dan mengaku sebagai pasangan kekasih. Namun setelah Berlian menceritakan lebih lanjut bahwa Jodi adalah teman ayahnya yang mengurusinya sejak kecil, akhirnya Maurin mengerti.
“Tapi Berli… hari ini kan hari pertunanganmu dengan Menara. Kalau kau memang mencintai papamu kenapa kau mau bertunangan dengan Menara?.” Tanya heran Maurin.
“Panjang ceritanya Maurin. Nanti kapan-kapan aku akan cerita padamu. Sekarang cepatlah kau ganti bajumu dengan gaun bridesmaid, bukankah sebentar lagi keluarga Menara akan segera datang?.” Kata Berlian pada Maurin yang saat itu sudah make up hanya saja belum memakai gaun kembaran bridesmaid.
Kemudian Maurin mengambil gaun itu yang memang gaun untuknya ada di kamar hotel Berlian. Pada saat Maurin tengah sibuk memakai pakaiannya, dengan mengendap-endap Berlian menggeledah tas milik Maurin untuk mengambil kunci mobil milik Maurin.
Dari pantulan cermin Maurin melihat pergerakan Berlian, lantas ia menoleh membalikan badannya sembari menaikkan resleting gaunnya.
“Berlian! Apa yang kau lakukan pada tasku?.”
“Aku pinjam mobilmu Maurin.”
“Apa maksudmu?.” Maurin mulai curiga kalau Berlian akan bertindak ceroboh.
“Maurin tolong aku sekali ini saja.”
“Apa pun akan aku lakukan Berlian, tapi apa maksud mu dengan semua ini hah!.” Kata Maurin yang melihat Berlian mengambil kunci mobilnya dan menyembunyikan tangan yang memegang kunci itu di belakang tubuhnya.
__ADS_1
“Aku punya banyak mobil, kau ambilah satu yang kau suka sebagai gantinya jika mobilmu tak kembali. Bila perlu ambil yang paling mahal.”
“Jangan melakukan hal bodoh Berlian. Bukan masalah mobilnya tapi apa sebenarnya yang akan kau lakukan hah!?.”
“Aku akan lari Maurin, aku tidak bisa bertunangan dengan Menara. Aku akan sangat tidak rela melihat hancurnya hati papaku saat aku berada di sana bersama Menara.”
“Kau jangan gila Berlian! Serahkan kunci itu padaku!.”
“Tidak Maurin, tolong aku sekali ini saja.”
“Iya tapi kau akan pergi kemana? Berlian kau jangan gila!.”
“Aku kacau Maurin… aku harus bertindak sebelum terlambat. Akan aku beri tahu nanti sesampainya aku di tempat tujuan.” Kata Berlian yang bergegas mengambil tas kecilnya yang berisi dompet dan ponselnya. Kemudian memeluk Maurin dan pergi meninggalkan Maurin di kamar itu.
Maurin hendak menghadang kepergian Berlian namun ia ingat resleting gaunnya belum naik seluruhnya. “Ah… sial.” Ucapnya sembari menaikan resletingnya dan saat ia mengejar, Berlian sudah hilang dari jangkauannya.
“Ya Tuhan… kau gila Berlian! Apa yang harus aku katakan pada papamu dan seluruh keluargamu?.” Kata Maurin seraya mencari jejak Berlian.
Setelah mencarinya ke setiap sisi dari hotel itu, Maurin merasa lelah, dengan perasaan yang kacau ia berjalan tak tentu arah hingga membawanya ke rooftop hotel tersebut dan terduduk layu dengan perasaan bimbang memikirkan apa yang harus ia katakan pada keluarga Berlian.
Hingga Jodi dan tim nya menemukan ia disana.
Mendengar penuturan Maurin Jodi langsung mengarahkan anggota yang ikut dengannya untuk mendatangi pihak keamanan manager hotel, ia ingin melihat seluruh rekaman CCTV di setiap sudut hotel tersebut, karena sedikit keterangan dari Maurin adalah jalan awal untuk mencari jejak Berlian.
.............
Sementara itu, Berlian mengambil langkah seribu untuk menuruni tangga hotel itu hingga lantai dasar menuju basement dimana mobil Maurin terparkir. Ia tidak menggunakan lif karena khawatir akan berpapasan dengan orang yang ia kenal.
Sebelum ia sampai di lantai dasar ia melihat ke salah satu ruangan dimana diatas pintunya bertuliskan khusus karyawan. Ia mencoba masuk kedalamnya, kebetulan pintunya tidak terkunci. Saat ia membukanya ruangan nampak sepi dan terlihat beberapa pakaian karyawan hotel. Ia mendapatkan ide kalau ia harus mengganti pakaiannya agar orang lain tak mengenalinya.
Kemudian ia memilah baju yang sesuai dengan ukuran tubuhnya dan mengganti gaunnya dengan seragam hotel tersebut. Tak lupa juga memakai topi yang tergeletak di atas sebuah meja dan memakai masker yang ia rogoh dari tasnya.
Kemudian ia keluar dari ruangan khusus karyawan itu dengan stelan karyawan hotel tersebut. Dengan memakai pakaian itu ia merasa aman dan dapat melangkah santai menuju basement hotel tersebut.
Setelah sampai basement, ia menekan remote kunci mobil Maurin dan terdengar dari jarak agak jauh letak suara kontak dari mobil Maurin. Bergegas ia lari kearah suara mobil Maurin dengan berlari dan akhirnya ia menemukan mobil Maurin, dengan cepat ia masuk kedalamnya dan memacu kendaraan itu meninggalkan basement hotel tersebut.
Lega yang ia rasakan kini karena telah terbebas dari sesuatu yang menyiksanya, namun ada sesuatu yang dirasa hilang. Dimana ia sekarang tengah sendiri dan benar-benar sendiri, hal ini adalah hal yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya karena selama hidupnya, Jodi selalu menemaninya kemana pun ia pergi.
Tak terasa mengalir air bening dari sudut matanya, “Papa… kini aku sendiri, sepertinya untuk beberapa waktu kedepan aku akan kehilangan banyak momen kebersamaan kita. Aku pasti akan merindukan pelukan hangatmu, kehilangan manisnya bibirmu, dan akan merindukan suaramu hiks… tapi ini adalah pilihanku, untuk sesaat aku ingin menenangkan diri dari hingar bingar ketakutan yang selama ini mengejarku, ya… ketakutan akan sulitnya memilikimu seutuhnya, ketakutan dunia yang seakan menolak kebersamaan kita. Aku tidak ingin membawamu susah dengan masalahku papa… biarlah rasa sakit ini aku bawa sendiri hiks.” Bathin Berlian sembari terus memacu kendaraannya hingga ia sampai di laut Ancol.
__ADS_1
Ia keluar dari dalam mobilnya, berjalan hingga sampai di tepi pantai dan duduk di atas pasir. Terlihat beberapa pasangan dan keluarga bahagia tengah menikmati wisatanya.
Sejurus mata memandang lautan tak bertepi. Ia mencurahkan segala kesedihannya di sana. Entah ia masih menggantungkan harapannya atau tidak? Yang jelas ia kini tengah menikmati kesedihan nya sendiri tanpa teman dan tanpa kekasih yang selalu menemani harinya.
Tumpah air matanya di sana. ‘Duhai lautan… apakah nasib cintaku separah ini hingga aku tak dapat memilih yang sesuai dengan keinginanku? Mengapa hidupku se sedih ini… ayah… ibu… lihatlah aku disini… mungkin jika kalian masih ada disisi ku hidupku tak separah ini… hatiku tak remuk seperti ini… kenapa saat itu tak kau bawa saja aku pergi bersama kalian agar sakit yang kurasakan ini mati bersama jiwa yang menghilang. Bukankah bersama kalian di alam sana lebih indah dari pada aku hidup di sini selalu dahaga akan cinta laksana patamorgana. Aku letih ayah… aku lemah ibu… aku rindu kalian.’ Bathin Berlian merintih pedih mencurahkan nasib cintanya.
Ia benamkan wajahnya pada kedua tangan yang ia lipat di atas lutut yang menekuk. Berharap di saat seperti ini sang cinta datang menghampirinya.
Kemudian sejenak ia memikirkan sesuatu lalu bangkit hendak meninggalkan tempat itu, karena telah di rasa puas menumpahkan segala asanya. Karena tiba-tiba saja ia rindu akan sosok ibu dan ayahnya, ia berencana akan pergi ke pemakaman elit yang berada di daerah Karawang tempat ayah dan ibunya bersemayam.
Namun sebelum ia pergi ia melihat sebuah botol yang terbawa air laut dan botol itu mendarat di kakinya, ia raih botol itu kemudian muncul dalam idenya untuk menjadikan botol itu media pengantar pesan.
Entah datang ide dari mana sehingga ia berpikiran demikian, kemudian ia duduk kembali dan merogoh buku catatan dari dalam tasnya lalu menulis sesuatu di dalamnya.
Setelah ia selesai menulis, ia gulungkan kertas seukuran 20x15 cm itu dan memasukannya ke dalam botol tersebut lalu menutupnya dengan kayu gabus yang memang ia temukan bersama botol itu sebagai tutupnya.
Setelah ia pandangi botol itu yang telah ia isi dengan secarik kertas yang ia masukan tadi, dengan kekuatan penuh ia melemparkan botol itu ke arah lautan.
“Berlayar lah ke tengah Samudera luas, hingga kau berlabuh pada tangan seseorang… dan di tangannya lah nasibku aku pertaruhkan.” Kata Berlian seraya meninggalkan lautan itu, setelah lama ia pandangi botol yang ia lempar terombang ambing dalam pelukan ombak.
Ia naik kedalam kuda besi temannya itu dan pada saat ia akan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja dua orang berbadan kekar menghadangnya. Yang satu dengan sigap membuka pintu pada sisi kemudi dimana Berlian duduk disana.
Secepat tangan pesulap kunci mobil itu telah berada di tangan orang tersebut. Sementara temannya yang satu lagi merogoh sesuatu dari saku celananya, terlihat ia merogoh seperti sebuah suntikan.
Pada saat Berlian tengah sibuk melakukan perlawanan pada orang yang merebut kunci mobilnya, dengan cepat orang di sebelahnya menyuntikan sesuatu pada leher mulus Berlian.
Sesaat Berlian terdiam dengan mata yang mulai berkunang-kunang ia menatap salah seorang yang ia tidak kenal itu sampai ia tak sadarkan diri.
Dengan cepat kedua orang itu membopong tubuh Berlian dan memasukannya ke dalam sebuah van warna hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Siapa mereka?!
Kawal terus ceritanya ya gais😍
Dan jangan lupa tinggalkan jejakmu 🥰
Terima kasih🤗
__ADS_1