
Kata-kata yang dokter ucapkan bagai cambuk yang memukul ulu hatinya. Ia tak dapat membayangkan bagaimana bisa, racun yang sangat berbahaya itu bersarang dalam tubuh istrinya.
Muncul dalam benaknya bahwa ini adalah sesuatu yang di sengaja oleh orang lain. Namun siapa yang tega melakukan ini semua?.
Dalam kesedihan Jodi terus berfikir. Selama hidupnya ia tak pernah memiliki musuh, meski pekerjaannya mengandung resiko berat namun ia bekerja di dalam bayangan sehingga tak seorang pun dapat mengenalnya.
Jodi yang kala itu tengah berada di ruang peristirahatannya bersama keluarga, tak henti-henti nya berpikir.
Sementara sang istri dan sang anak tengah berada di ruang isolasi yang berbeda. Sang istri masih koma diruangan isolasi, sementara bayinya sudah melewati masa kritisnya, hanya saja karena kelahirannya prematur jadi membutuhkan perawatan intensif.
Pagi itu, Jodi akan melihat sang anak, ia di perbolehkan melihat putrinya itu, tetapi tidak untuk masuk ke dalam ruang isolasinya, ia hanya di perbolehkan untuk melihat di luar ruangan yang berdinding kaca.
Singkat waktu, ia sudah berada di suatu ruangan, dimana bayi mungilnya berada. Ia pandangi wajah mungil dengan selang infus yang menempel pada kaki dan tangannya di dalam inkubator.
“Sayang… ini papa… kau yang sehat ya nak? Kita doakan mama… semoga mama cepat pulih kembali.” Bisiknya pada bayi mungil itu yang terhalang batas dinding kaca. Menetes air matanya kala ia terus memandangi putri mungilnya itu.
“Kau tahu sayang? Kehadiranmu adalah anugerah bagi kami, meski kau harus melewatinya dengan susah payah, tapi yakinlah kau akan tumbuh menjadi wanita yang kuat dan sehat. Berjanji lah kau akan baik-baik saja. Berjanji lah kau akan tumbuh bersama kami hingga dewasa… papa akan selalu menjaga dan melindungimu sayang.”
Ia terus pandangi malaikat kecil itu walau terkadang terlihat ia meneteskan air mata, sesekali ia pun tersenyum bahagia karena keajaiban akan kehadirannnya di dunia.
Setelah ia puas memandangi dan berbicara dalam dinding kaca itu. Akhirnya ia keluar dari ruangan itu dan di gantikan dengan anggota keluarga lain yang ingin melihat bayi mungil itu.
Sementara Jodi berlalu menuju ruang isolasi lain untuk melihat istrinya.
Setelah ia memakai APD lengkap, ia masuk keruang isolasi khusus tempat istrinya di rawat.
Terlihat olehnya wajah pucat istrinya terbaring dengan alat medis lengkap.
“Sayang lihatlah….Aku ada disini bersamamu, yang sabar ya sayang.. kau pasti mampu melewati segalanya. Apa pun akhirnya dirimu nanti, aku tidak akan perduli.. kau tetap wanita kesayanganku.. aku akan selalu ada di sisimu. Kau tahu sayang? Baru sehari saja kau tidak ada di sampingku, aku kacau sayang. Aku kehilangan banyak momen bersamamu. Cepatlah bangun, aku merindukan kebersamaan kita seperti hari kemarin.” Jodi mengajak bicara sang istri dengan senyuman namun terlihat tetesan air mata mengalir di pipinya.
“Aku tahu kau mendengarku… aku tahu kau hanya berpura-pura tidur kan? Heh sayang… aku baru saja melihat putri kita, dia lucu sekali, dia cantik sepertimu. Kau ingat? Dulu kita pernah bersepakat, jika anak kita perempuan, aku yang akan memberikan nama padanya, dan jika anak kita laki-laki, kau yang berhak memberinya nama, sekarang yang kau lahirkan adalah seorang putri, berarti aku yang akan memberinya nama. Baiklah, aku pernah mengatakan padamu, bahwa aku akan memberi nama putri pertama kita adalah Miriam Jodi, cukup indah bukan? Miriam/Mariam/Maria adalah nama yang sama, yang berarti perempuan suci yang baik hati.” Celoteh Jodi kembali di hadapan istrinya yang terbujur kaku.
__ADS_1
“Cepatlah bangun putri tidurku. Bukankah kita akan membesarkan putri kita sama-sama? Ya… kita akan Merawat Miriam bersama-sama.”
Tanpa ia sadari sang ayah dan sang ibu menyaksikan dirinya di belakangnya. Sungguh pemandangan yang mengharukan bagi mereka. Putra satu-satunya yang baru saja memiliki anak mendapat masalah yang cukup berat. Namun sebagai orang tua, tentunya mereka tahu bagaimana cara membesarkan hati putranya itu.
“Dia terlihat baik-baik saja. Terlihat di wajahnya senyuman hangat yang selalu ia berikan pada kami.” Kata sang ayah menahan haru sembari memegang pundak sang anak.
“Iya, dia terlihat cantik seperti biasanya, tak terlihat sedikitpun kalau dirinya merasakan sakit. Mama rasa, dia baik-baik saja. Hanya saja, dia perlu istirahat sebentar.” Kata sang ibu seraya memeluk pinggang putranya dan menyandarkan kepalanya pada dada putranya.
“Pa… ma… dia adalah wanita paling baik dan hangat. Kami saling mencintai. Dia berjanji padaku untuk memberiku banyak anak. Aku yakin dia akan melakukannya.” Kata Jodi seraya tersenyum pada kedua orang tuanya.
Tak berapa lama Irma dan Budi masuk dengan memakai APD Lengkah seperti mereka.
“Cucuku hiks… bertahanlah sayang.” Ucap lirih Irma.
“Dia adalah anak yang kuat, aku yakin dia mampu bertahan.” Kata Budi seraya memeluk istrinya.
Hanya Delima yang tidak ada, ia belum dapat melihat putri sambungnya itu, karena ia masih lemah di ruang perawatan.
..........
Riksa yang memerintahkan Jack untuk mencari tahu mengenai kejadian di food court itu masih mencari alat bukti, berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak kepolisian juga tim Jodi yang bekerja sendiri, menunjukan bahwa racun yang masuk ke dalam tubuh Berlian itu berasal dari minuman dari food court tersebut, karena hasil lab menunjukan kandungan zat kimia yang berada di dalamnya sama persis dengan hasil penelitian dokter yang menangani Berlian, namun bagaimana racun itu bisa sampai pada minuman itu? Belum mereka ketahui.
Pada saat kejadian itu, pihak kepolisian dengan pihak dari agen yang Jodi pimpin, sudah melakukan pemeriksaan pada seluruh pegawai di food court tersebut, namun siapa pelakunya? Belum juga dapat diketahui, karena rekaman CCTV yang berada pada food court tersebut tak menunjukan adanya kejanggalan. Bahkan Arash yang memasukan racun pada minuman itu pun tak terlihat dalam rekaman CCTV.
Namun walau demikian pihak kepolisian masih tetap bekerja keras mencari bukti-bukti lain, untuk mengungkap siapa pelakunya.
Entah mengapa Jodi seakan tak perduli akan apa yang tengah Riksa lakukan bersama tim nya. Yang ia lakukan hanya menunggu dan menunggu anak dan istrinya.
“Boss, kami terus melakukan pencarian siapa pelaku dari semua ini.” Kata Riksa pada Jodi yang tengah asik memandangi wajah putrinya dari balik kaca.
“Lakukan saja sesuai prosedur Rik. Elo tahu bagaimana caranya.” Balas Jodi tanpa memalingkan wajahnya dari putrinya tersebut.
__ADS_1
Riksa sangat mengerti akan kondisi Boss nya, karena itu ia tak banyak bicara, jika sudah seperti ini berarti Boss nya menyerahkan segala urusan kepadanya, karena ia tengah ingin konsentrasi pada istri dan putrinya.
...............
Sementara itu di tempat lain, nampak terlihat Arash tengah melakukan pertemuan dengan seseorang di apartemen miliknya.
“Beneran nih elo dapat memastikan bahwa hasil retas CCTV di mall itu bersih?.” Tanya Arash pada seseorang itu.
“Pastinya Boss, percaya deh sama gue pokonya semuanya aman. Jangan ragukan hacker nomor wahid di negara ini kayak gue Boss hehe.”
“Bagus kalau gitu. Tapi kalau terjadi sesuatu elo akan ikut gue seret juga ke penjara loh.”
“Jangankan di seret ke penjara Boss, di seret ke liang lahat juga gue berani haha.” Kelakar seseorang itu.
“Pegang omongan elo baik-baik ya! Nih bayarannya.” Arash menyerahkan amplop coklat berlogo bank pada seseorang itu.
Kemudian seseorang itu mengintip amplop yang sudah berada di tangannya lantas menciumnya dengan senyuman lebarnya.
“Haha… thank you Boss! Lain kali panggil gue aja kalau urusan retas meretas, gue siap bantu Boss lagi.”
“Ok.”
Kemudian mereka bersalaman dan seseorang itu meninggalkan apartemen Arash.
Sepeninggalan seseorang yang diketahui hacker yang sudah meretas CCTV di mall itu, Arash duduk di atas sofa dengan menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit.
“Maafkan aku perempuanku… sungguh tak ada niat dalam hatiku untuk meracunimu. Kenapa kau minum racun itu?! Yang aku inginkan suamimu yang mati, bukan dirimu. Kalau saja aku tahu kau yang akan meminumnya, tentunya aku tak akan memasukan racunnya pada saat itu. Bodoh!! Aku memang bodoh!!… oh Berlian, bagaimana keadaanmu setelah kejadian itu? Aku harap kau mampu bertahan. Sungguh aku tak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu dan bayimu. Aku harus tahu kabarmu. Aku harus mencari informasi tentangmu. Tunggu aku perempuanku… aku akan menyelamatkanmu dan menebus dosaku.” Bathin Arash dengan tangisan penyesalannya.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
Jangan lupa Like, rat 5, vote, favorite dan hadiahnya say😍
__ADS_1
Terima kasih.