Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Apa dia hamil?


__ADS_3

Putaran waktu bergulir memainkan kehidupan bagi seisi bumi yang menikmati susah senangnya drama kehidupan mereka. Siang dan malam pun membawa cahaya dan gelapnya iringi kisah anak manusia yang bernaung di bawahnya dengan membawa harapan terbaiknya bagi kehidupan.


Sebagaimana harapan sepasang insan yang alami rumitnya perjalanan cintanya menuju kemenangan yang menjadi harapannya.


Sudah beberapa hari Berlian menikmati udara sejuk di perkebunan yang membuatnya merasa mendapatkan kedamaian pada jiwanya. Tinggal bersama kekasih adalah kebahagiaannya hingga tak perduli gemerlap dari sisi yang lain.


Hanya sang kekasih dan hanya dia lah yang mampu meredam segala keingin yang lain, seolah tak inginkan apa pun selain bersama kekasihnya lah tempat terindah baginya.


Pagi itu ia begitu bersemangat menemani Eva merawat kebun sayuran di belakang rumahnya. Eva masih tak percaya kalau gadis yang menemaninya itu adalah wanita yang begitu mencintai putranya.


Sesekali ia pandangi wajah cantik gadis itu, sesekali pula ia melempar senyumannya dengan penuh kehangatan.


“Sayang…. Apa yang kau suka dari putraku itu, hem?.”


“Segala yang ada padanya oma. Putra oma adalah lelaki terbaik bagiku.”


“Apa kau benar-benar ingin menjadikannya suamimu?.”


“Tentu saja oma. Hanya dia yang bisa memimpin hidupku dan aku ingin mengabdi padanya. Aku akan memberikan banyak anak untuknya agar hidupnya tak kesepian.”


Mendengar penuturan gadis itu Eva merasa terharu.


“Oma tahu? Putra oma telah mengorbankan banyak waktu hanya demi mengurusiku dan demi membuatku bahagia. Kini giliranku yang akan membuat dia bahagia. Dan aku pasti akan mencintai kalian sama seperti aku mencintainya.”


“Terima kasih kau telah mencintai putraku dengan tulus nak.”


“Aku yang seharusnya berterima kasih pada oma, karena telah melahirkan jodohku hehe.”


Kemudian Berlian memeluk dan mencium wanita tua itu.


Dari arah kejauhan Jodi dan ayahnya melihat keakraban mereka berdua.


“Coba papa lihat! Betapa bahagianya mereka. Kedekatan itu yang selama ini dia butuhkan pa, dan dia tidak pernah mendapatkan itu, maka wajar jika hanya aku tempat ia mencurahkan segalanya. Apa papa tega memisahkan aku sama dia? Akan hancur hatinya dan aku tidak akan pernah rela.”


Ferry hanya terdiam berusaha menjadi orang tua yang bijak menanggapi apa yang putranya katakan dan mencoba mengerti apa yang terjadi pada mereka.


Kemudian Riksa mendekati ayah dan anak itu.


“Rik. Temenin bokap ngobrol, gue mau mandi dulu.” Kata Jodi seraya mengedipkan matanya pada Riksa lantas berlalu masuk menuju kamar mandi.


“Disini pemandangannya bagus ya pa? Kalau kebun yang di balik bukit itu milik siapa pa?.” Riksa membuka pembicaraannya dengan Ferry.


“Oh itu milik pengusaha dari Jakarta. Tuh kalau yang sebelah sana katanya mau di jual, kamu berminat?.” Kata Ferry menunjuk ke arah selatan.


“Belum kepikiran pa hehe… gak ngerti ngurus nya bagaimana.”


“Ya gak usah kamu yang ngurus, serahkan saja pada penggarap dan kamu hanya mengontrolnya sesekali saja.”


“Ya pa nanti deh dipikir-pikir dulu hehe.”


Kemudian hening sejenak diantara mereka, hanya desiran angin yang berhembus menyuarakan keberadaannya di sekitar mereka. Kemudian,


“Rik, saya masih tidak percaya dengan yang terjadi di antara mereka.” Kata Ferry menghela nafas.


“Awalnya saya juga seperti pak Ferry, terkejut dan merasa tidak percaya. Tapi setelah lama mengamati mereka, ya memang wajar sih pa, seseorang yang sama-sama lajang kemudian jatuh cinta, itu banyak kita temukan di penjuru bumi ini. Hanya saja memang usia yang begitu jauh yang menjadi pertanyaan bagi sekitar dan kedekatan mereka yang berawal dari hubungan keluarga. Itu yang membuat mereka menjadi asing.”


“Iya Rik. Saya syok mengetahui hubungan mereka. Tidak habis pikir kok bisa ya seperti itu?.”


“Bisa saja pak, dan menurut saya itu adalah wajar.”


“Tapi… apa benar ya? Opa dan oma nya gadis itu tahu hubungan mereka??.”

__ADS_1


“Sepertinya mereka tahu pak hanya saja gak enak saja mungkin kalau membahas masalah itu dengan Boss, jadi mereka saling diam tapi saling mengerti.”


“Saya bingung Rik. Bagaimana menyampaikan semua ini pada Budi.”


“Kalau menurut saya sih, sampaikan saja sebagaimana adanya pak, karena jika tak di bicarakan, tidak baik juga di biarkan berlarut-larut mengingat mereka sudah sangat dekat sekali. Apa lagi mereka sudah menjurus pada ikatan suci. Bukankah lebih baik mendukung mereka dari pada membiarkan mereka, dan yang terpenting untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.”


“Begitu ya Rik?.”


“Iya pak, lebih cepat lebih baik. Dari pada mereka nanti nekad, yang malu bapak juga kan?.”


“Iya juga sih. Oya kapan kalian kembali ke Jakarta?.”


“Belum tahu juga pak, Boss belum mengatakan apa pun pada saya.”


“Baiklah nanti kalau kalian pulang saya dan istri saya ikut. Saya harus membahas semua ini secepatnya dengan Budi dan istrinya.”


“Siap pak.”


*


Singkat cerita, ke esokan harinya mereka akan kembali ke Jakarta.


Riksa sudah melaporkan pada Jodi kalau ia telah berbicara dengan ayah Boss nya itu dan hasilnya adalah ayahnya memberi respon positif, tentu saja itu membuat Jodi senang tandanya bahwa ayahnya telah memberikan lampu hijau buat dirinya.


Terlihat mereka semua telah bersiap untuk melakukan perjalanan ke Jakarta. Ferry sengaja membawa kendaraannya di bantu supirnya.


“Loh, papa kenapa bawa mobil? Apa tidak sebaiknya bersama-sama di mobil saya?.” Kata Jodi.


“Biar gampang nanti kalau mau pulang Jod.”


“Lah kan ada Riksa, biar nanti Riksa yang antar papa dan mama kembali kesini.”


“Papa gak mau ngerepotin kamu Jod.”


“Mamamu yang pengen kita bawa mobil.” Kata Ferry.


“Ya sudah terserah deh.” Kata Jodi sedikit kecewa namun dia mengerti mungkin orang tua nya ingin bebes.


Singkat waktu dan cerita, mereka akhirnya sampai di rumah Berlian setelah menikmati perjalanan yang di iringi dengan debaran jantung karena apa yang akan terjadi nanti masih menjadi misteri dengan berbagai banyak macam pertanyaan di dalamnya.


Namun segala sesuatu mengandung resiko yang harus siap di hadapi, suka tidak suka, mau tidak mau, hal terburuk yang akan terjadi nanti, itulah ketetapan yang telah Tuhan garis kan.


Sepertinya, Ferry dan istrinya juga Jodi telah siap dengan hal terburuk yang akan mereka hadapi nanti. Berbeda dengan gadis itu. Keras kepala nya telah membentuk dirinya untuk selalu dapat meraih apa yang ia inginkan, jika tidak! Ia akan melakukan apa pun sesuai dengan kehendak hatinya.


Terlihat Budi dan istri Juga Delima menyambut hangat kedatangan mereka, yang memang sudah di beri tahu dari awal kalau mereka sekeluarga akan berkunjung sekalian mengantar Berlian.


Setelah mereka makan bersama kini tibalah saatnya mereka akan membahas sesuatu yang serius.


Pada ruang keluarga, Budi dan istri juga Delima duduk sejajar pada sofa panjang, sementara Ferry, Eva dan Jodi duduk pada sofa panjang yang berhadapan dengan mereka, sementara Berlian duduk pada sofa terpisah.


Semua terdiam, hening dan sepi. Tak ada yang memulai pembicaraan, entah takut salah kata atau bagaimana? yang jelas semua kaku dan membeku.


Saling lirik dan saling melempar senyum dalam ketegangan. Sementara Jodi dan Berlian keduanya tertunduk bagai tahanan yang tengah menunggu vonis sang hakim, namun ternyata keduanya saling berbicara melalui ponsel mereka.


“Sayang…. Kenapa mereka semua diam ya?.” Isi chat Jodi pada Berlian.


“Tidak tahu… semuanya gugup seperti baru bertemu saja, padahal tadi sewaktu makan mereka saling tertawa bersanda gurau.” Jawab Berlian.


“Bagaimana kalau kita tebak-tebakan.” Chat Jodi


“Tebak-tebakan bagaimana?.”

__ADS_1


“Apa yang akan terjadi diantara mereka? Aku menduga kalau mereka akan bertengkar hebat karena ulah kita. Bagaimana menurutmu?.”


“Kalau aku kira sih bertengkar mungkin saja, tapi sepertinya mereka akan menghukum kita berdua.”


“Ah kau jangan menakutiku sayang.”


“Bisa saja kan mereka akan menghukum kita?.”


“Ya bisa saja sih. Tapi seandainya mereka bertengkar, kau siap-siap ya?.”


“Siap-siap untuk apa papa?.”


“Kita lari berdua menghindari mereka, karena pasti aku yang akan di jadikan bulan-bulanan mereka, apa kau tidak kasihan pada calon suamimu ini?.”


“Tentu saja aku kasihan padamu, dan aku tidak akan rela kalau mereka melakukan sesuatu padamu.”


“Ehem!!!!.”


Suara berdehem keras dari Ferry mengaburkan konsentrasi Jodi dan Berlian, sesaat mereka terperanjat, lantas Jodi mengangkat sedikit kepalanya melihat ke arah ayahnya.


Dilihatnya tatapan pembunuh ayahnya mengarah padanya, sedikit membuat nyali Jodi ciut lantas ia menundukkan pandangannya kembali.


“Mh… begini?.”


“Mh.. begini?.”


Kata kompak itu keluar dari mulut Ferry dan Budi bersamaan.


“Kau dulu Bud..” Kata Ferry.


“Gak, kau saja dulu Fer!.” Kata Budi.


Kemudian mereka diam kembali. Namun karena Ferry merasa sudah tak tahan ingin meluapkan segalanya, akhirnya ia mulai membuka pembicaraan di antara mereka.


“Se-sebelumnya saya minta maaf kalau kedatangan kami mendadak. Sebenarnya ada hal yang sangat penting yang membuat kami datang kemari.” Kata Ferry dengan gemuruh di dadanya. Kemudian ia melanjutkan, “Ta-tapi saya bingung mau mulai dari mana mengatakannya. Yang jelas mungkin apa yang akan saya sampaikan akan mengejutkan, sama hal nya pada saat saya pertama mendengarnya. Saya sebenarnya sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Jadi saya serahkan segalanya pada keluarga kamu Bud, terserah kau mau lakukan apa pun pada anakku yang tidak tahu diri itu, kau bunuh pun saya rela.”


Sontak kata-kata itu membuat Jodi terperanjat memandangi ayahnya.


‘Dasar ayah durhaka, bisa-bisanya dia bilang begitu.. membiarkan anaknya terbunuh karena cinta. Bukannya membela malah mengata-ngatai yang gak jelas… awas kau papa… aku gak akan kembali pulang.’ Bathin Jodi kesal.


Sementara Budi dan istri juga Delima masih terdiam mendengarkan semua yang Ferry katakan.


“Saya tidak pernah mendidik anak saya menjadi seorang penghianat, saya merasa sudah mendidiknya dengan baik. Tapi mungkin pergaulan yang telah menghancurkan dirinya hingga dia mampu melakukan hal bodoh dan memalukan ini. Jadi sekali lagi saya serahkan segalanya pada keluarga ini. Silahkan saja saya tidak akan protes dengan apapun yang akan keluarga kalian lakukan padanya.” Jelas Ferry kembali.


‘Eh buset dah… kok ngomongnya jadi ngelantur gitu sih itu aki-aki. Ngomong yang bener apa?! Langsung aja deh to the point, kita datang mau ngelamar gitu ah… ribet banget sih, pake pidato segala huh!.’ Bathin Jodi kembali.


Namun tiba-tiba suara yang keluar dari mulut Berlian membuat semua yang hadir tercengang.


“Uoo…. Uo….. oek.” Berlian berlari ke kamar mandi dekat ruang keluarga. Dia memuntahkan semua isi perutnya.


Eva dan Irma juga Delima saling pandang bergantian dengan pikirannya masing-masing.


‘Apa dia hamil?????.’


“Oh…. Tidak!!!.” Ketiga nya berlari bersamaan memburu Berlian.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Apa yang terjadi??


Like, vote, favorite, hadiah dan komen dulu ya?🥰

__ADS_1


Makasih😘


__ADS_2