Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Kedatangan Krista


__ADS_3

Di sebuah pemakaman Nampak Krista bersimpuh di depan dua kuburan yang berdampingan.


“Pa… ma… benar kata kalian bahwa Alfredo lah lelaki yang baik untukku. Maafkan aku tak mengindahkan kata-kata kalian. Aku malah memilih orang lain saat itu. Aku tahu kalian kecewa. Dan kini aku merasakan kekecewaan itu karena Alfredo sekarang menolakku. Kini aku sendiri pa… ma. Aku tak bisa melanjutkan hidupku dengan lelaki pilihanku, karena dia tak sungguh-sungguh menginginkan aku, bahkan dia tak ingin memiliki anak dariku. Lalu untuk apa aku menikah dengannya jika dia tak ingin memiliki anak, bukankah tujuan dari pernikahan itu adalah memiliki anak?… Aku tak bisa sendiri seperti ini, aku harus kembali pada Alfredo. Doakan aku pa.. ma.. semoga Alfredo dapat kembali padaku. Kini aku sadar, dialah lelaki yang pantas untukku. Karena itu aku akan memperjuangkan dia kembali sampai titik darah penghabisan.” Tangis Krista pecah dihadapan kuburan ayah dan ibunya.


Setelah ia puas mencurahkan segala kesedihannya, kemudian ia pergi meninggalkan pemakaman itu.


Krista memacu kendaraannya dengan membawa luka di hatinya, luka karena pernikahannya yang tidak sesuai dengan harapannya dan luka karena penolakan dari kekasihnya.


Setelah beberapa waktu akhirnya sampailah ia di sebuah rumah sakit tempat Alfredo bertugas.


Krista memasuki rumah sakit itu dan langsung menemui Direktur rumah sakit tersebut.


Direktur rumah sakit mengatakan bahwa Alfredo untuk sementara ditugaskan merawat pasien istimewa rumah sakit tersebut.


Setelah berbincang cukup lama, dan mendapatkan alamat pasien yang tengah Alfredo tangani, akhirnya Krista meninggalkan rumah sakit tersebut, tanpa menunggu hari esok, Krista berniat langsung Mendatangi kediaman pasien Alfredo.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Krista sampai disebuah rumah mewah, rumah siapa lagi kalau bukan kediaman Berlian.


Setelah di persilahkan masuk, duduklah ia pada ruang tamu rumah tersebut, tak menunggu waktu lama, Jodi dan Riksa menemui tamu yang datang kerumah mereka.


‘Ada apa lagi nih… datang lagi tamu tak di kenal, udah ke cium aja bau-bau masalah baru ini mah.’ Bathin Riksa kala menuruni tangga sembari memperhatikan wanita yang tengah duduk di kursi tamu.


‘Siapa ya? Perasaan aku baru lihat orang ini?.’ Jodi membathin kala sudah berada di hadapan tamunya itu.


Lalu Jodi dan Riksa duduk setelah bersalaman dengan tamu nya.


“Ada yang bisa saya bantu nona?.” Jodi langsung membuka pembicaraan dengan tamunya.


“Maaf kalau kedatangan saya mengganggu anda tuan.”


“Tidak, kebetulan hari ini kami sedang libur.”


“Oh syukurlah kalau begitu.” Kata Krista, kemudian,


“Maaf, maksud saya datang kemari, saya ingin menanyakan suatu hal. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Krista Adistya, saya adalah tunangan dari Alfredo salah seorang dokter ahli saraf. Dan saya dengar dari direktur rumah sakit tempat ia bekerja, sudah beberapa bulan dia ditugaskan mengawal pengobatan dari rumah pasien istimewanya.”


“Ya memang betul nona, dokter Alfredo tengah merawat istri saya yang mengalami paralisis. Dan kebetulan hari ini dokter Alfredo tidak datang karena katanya dia sedang sakit dan harus di rawat intensif. Apa anda tidak mengetahui itu?.” Ujar Jodi.


“Oya? Dia bilang kalau dia sakit? Kemarin saya masih sempat bertemu dia, dan dia baik-baik saja.”


Terlihat Jodi dan Riksa saling berpandangan, kemudian,


“Saya tidak tahu persis dia sakit apa, hanya saja tadi pagi dia menghubungi kami, katanya dalam beberapa waktu dia tidak akan bisa datang merawat istri saya, dia akan menghubungi kami kembali jika kondisinya sudah memungkinkan.” Jelas Jodi.


“Sebenarnya hubungan kami sedang mengalami masalah, karena itu saya datang kemari.”


“Anda mengalami hubungan yang bermasah, kenapa harus mendatangi kami, saya kira kami tidak ada hubungannya dengan masalah yang kalian hadapi, hubungan kami dengan tunangan anda adalah sebatas dokter dan pasien.”


“Ya tuan, Tapi menurut saya ini ada hubungannya. Karena tidak biasanya Alfredo bersikap kasar dan menolak saya, tapi akhir-akhir ini dia berubah dan saya yakin ini ada hubungannya dengan apa yang dia lakukan dalam pekerjaannya.”


“Maksud anda? Maaf kami tidak mengerti.” Timpal Jodi mengernyitkan dahinya.


“Kalau di ijinkan saya ingin bertemu dengan istri anda!.” Pinta Krista.


“Untuk apa nona bertemu dengan istri saya?.”


“Saya hanya ingin menanyakan pada istri anda, mungkin saja tunangan saya pernah mengatakan sesuatu tentang seseorang padanya.”


“Saya kira ini tidak ada hubungannya dengan istri saya nona. Istri saya sedang sakit dan tidak bisa di bebani dengan masalah orang lain. Jadi jika nona ingin mengatakan segalanya, katakanlah pada saya, saya suaminya yang akan mewakili.”


“Tunangan saya sangat mencintai saya, dia selalu memaafkan kesalahan saya, tapi kali ini dia mencampakkan saya, saya curiga dia telah mendapatkan seorang pengganti saya dihatinya.” Ujar Krista dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Saya kira itu tidak ada hubungannya dengan istri saya nona, dan saya kira anda percuma menanyakan hal itu pada istri saya karena tentu saja istri saya tidak akan tahu menahu masalah pribadi dokternya. Tunangan anda kerja dengan profesional disini, jadi dia tidak mungkin membawa urusan pribadinya kesini.” Tegas Jodi.


“Ya saya tahu itu tuan, saya hanya merasa heran saja dengan perubahan sikapnya, mungkin saja istri anda tahu penyebabnya.”


“Saya rasa istri saya tidak tahu urusan pribadi dokternya, kalau anda penasaran biar nanti saya yang menanyakan padanya, dan maaf saya tidak mengijinkan siapa pun bertemu dengan nya karena istri saya belum pulih benar.”


“Baiklah kalau begitu. Maaf atas kelancangan saya. Saya hanya menduga saja.”


“Kenapa anda tidak tanyakan langsung saja pada tunangan anda mengenai perubahan sikapnya?. Kenapa harus tanya pada orang lain?.”


“Dia mengusir saya pada saat saya terakhir ke apartemennya, jadi saya kesulitan berkomunikasi dengan nya, apakah tuan mau membantu saya?.”


“Maksud anda?.” Jodi semakin di buat bingung oleh Krista.


“Seandainya dia datang kemari, mau kah anda memberitahu saya?.”


Sejenak Jodi terdiam dan saling berpandangan dengan Riksa, kemudian Riksa memberi kode dengan mimiknya, mengisyaratkan kata “Ya”.


“Baiklah nona, nanti saya akan beri tahu anda seandainya dia datang kesini dan sudah dapat merawat istri saya kembali.”

__ADS_1


“Terima kasih tuan. Sekali lagi saya mohon maaf atas kelancangan saya. Ini nomor saya, anda bisa menghubungi saya di nomor ini. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu tuan.” Kata Krista yang menyalami Jodi dan Riksa, setelah ia memberikan kartu namanya. Kemudian ia pun pergi meninggalkan rumah itu.


Sepeninggalan Krista, Jodi dan Riksa sama-sama terdiam seperti memikirkan sesuatu.


“Ngapain wanita itu datang kesini bawa-bawa masalah pribadinya, nambah-nambah masalah saja.” Gumam Jodi, dan Riksa mendengar itu.


“Dia kan bilang tadi, sepertinya itu cewek susah menghubungi si Alfredo jadi dia datang ketempat dimana si Alfredo itu bekerja. Boss kan denger tadi dia sempat datang ke rumah sakit tempat si Alfredo bekerja, dan direktur nya mengatakan kalau si Alfredo kerja di sini.”


“Kenapa juga itu si Alfredo punya masalah bukannya diselesaikan, malah jadi melebar kemana-mana.”


“Ah udahlah Boss, gak perlu di pikirkan, itu kan masalah mereka. Maklum aja mungkin itu cewek lagi galau.” Kata Riksa.


“Terus elo lihat tadi mimik cewek itu? Bagaimana menurut analisa elo?.”


“Kalau gue lihat sih ya itu tadi, dia lagi galau karena perubahan sikap si Alfredo. Dia penasaran mencari sebabnya, makanya sampai kesini juga.”


“Ah aneh-aneh aja itu orang.” Kata Jodi seraya beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju ruang kerjanya di susul Riksa dibelakangnya.


Sementara itu di dalam kamar, nampak Berlian dan Maurin tengah berbincang.


“Eh Berli, apa kau tidak bosan di rumah terus?.”


“Bosan sih tapi mau gimana lagi, aku gak bisa apa-apa mau kemana-mana juga.”


“Kamu gak kangen nge mall gitu? Kita ke mall yuk hehe.” Ajak Maurin.


Terlihat Berlian terdiam, lalu “Pengen sih tapi kondisiku seperti ini bagaimana Rin?.”


“Kan ada aku, ada pacarku dan papamu yang bisa gantian dorong kursi roda kamu hehe… yuk kita jalan-jalan, biar kamu gak bosen di rumah terus.”


“Kalau papaku tidak mengijinkan bagaimana?.”


“Pasti lah ngijinin, percaya deh sama aku.”


“Ya sudah, ayo kamu panggil papaku dan kak Riksa kesini.”


“Ok. Aku WA dulu pacarku ya?.” Kata Maurin yang langsung mengirimkan chat nya pada Riksa.


Tak lama Jodi dan Riksa masuk kedalam kamar Berlian.


“Ada apa sayang?.” Tanya Jodi pada Berlian.


“Mau ke mall? Ngapain?.”


“Ya mau jalan-jalan. Aku ingin beli sesuatu.”


“Ya sudah… terus Miriam bagaimana?.”


“Ajak aja papa, masa dia di rumah sama oma.”


“Ok. Sekarang kamu siap-siap ya, papa mau ngasih tahu oma dulu.”


Kemudian Jodi berlalu menuju kamar putrinya, sementara Riksa pergi ke garasi menyiapkan mobil untuk mereka.


Selang beberapa waktu, akhirnya mereka semua sudah siap untuk pergi ke mall, dan kendaraan mereka pun berlalu membawa mereka ketempat tujuan.


Sesampainya di mall, mereka berjalan-jalan ke toko-toko dan membeli segala sesuatu yang mereka butuhkan.


Jodi memangku putrinya sementara Berlian yang duduk di kursi roda di bawa oleh Maurin berdampingan dengan Riksa juga oma nya Berlian.


Setelah mereka puas berkeliling akhirnya mereka masuk ke sebuah food court untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan.


Maurin dan Irma berjalan lebih dulu membawa Berlian, sementara Jodi yang memangku Miriam berjalan di belakang mereka bersama Riksa.


Tiba-tiba saja pandangan Riksa menangkap dua sosok wanita dari kejauhan.


“Eh Boss, bukannya mereka perawat asistennya si Alfredo?.” Kata Riksa pada Jodi seraya menunjuk dua orang wanita itu.


“Oh iya. Katanya mereka lagi di tempat bencana, kok ada di sini?.” Ujar Jodi heran.


“Iya ya, eh Boss, bagaimana kalau kita tanya mereka yuk?.”


“Ok.” Kata Jodi seraya masuk ke food court menyerahkan Miriam pada Irma.


“Bu nitip dulu Miriam sebentar ya? Saya sama Riksa mau ke sebelah sana dulu sebentar.”


“Papa mau kemana?.” Tanya Berlian.


“Sayang papa mau ada urusan dulu sebentar sama Riksa ya? Kamu tunggu dulu disini, pesan aja makanannya, papa gak akan lama kok.” Balas Jodi.


“Baiklah.”

__ADS_1


“Kak mau kemana sih?.” Tanya Maurin pada Riksa.


“Ada sesuatu dulu Rin. Nanti aku cerita sama kamu di rumah.”


“Ya sudah.”


Bergegas Jodi dan Riksa, mengejar Aneta dan Julia. Hampir saja mereka kehilangan jejak, namun pada saat Jodi melihat pada salah satu toko aksesories, Jodi melihat dua orang perawat itu disana.


Bergegas Jodi dan Riksa masuk kedalam toko itu. Melihat Jodi dan Riksa menghampiri mereka, keduanya terkejut.


“Maaf, bisa kita bicara sebentar?.” Kata Riksa pada mereka. Dan mereka berdua mengangguk.


Kemudian Jodi dan Riksa membawa mereka keluar dari toko itu.


“Oya? Kata dokter Alfredo kalian sedang di perbantukan ke tempat bencana, tapi kok kalian ada disini?.” Tanya Riksa, sementara Jodi terus memperhatikan mereka.


Terlihat Aneta dan Julia sedikit gugup.


“Katakan saja! Kalian harus jujur pada kami.” Kata tegas Jodi.


“Mh… maaf tuan, Ki-kita… sebenarnya tidak di tugaskan ke tempat bencana, ta-tapi atas perintah dokter Alfredo kita berdua tidak diminta lagi mendampingi beliau jadi asistennya untuk merawat istri anda.” Jawab gugur Aneta.


“I-iya tuan… kata dokter tugas kami merawat nyonya, sudah selesai.” Balas Julia.


Mendengar penjelasan mereka Jodi dan Riksa saling melempar pandangan.


“Loh, istri saya kan belum pulih benar, saya kan minta pada rumah sakit, kalian merawat istri saya sampai pulih.”


“Ma-maaf tuan… kami tidak tahu alasannya, kami hanya mengikuti perintah dokter.” Jawab Aneta dengan wajah yang tegang.


“I-iya tuan jika tuan ingin tahu alasan jelasnya, tuan tanyakan langsung saja pada dokter kami.” Balas Julia.


“Ok. Baiklah. Maaf ya udah ganggu kalian.” Kata Riksa seraya pergi bersama Jodi meninggalkan mereka.


“Tuh kan? Ternyata mereka gak pergi ke tempat bencana loh Boss?.”


“Nanti deh kita bahas di rumah. Sekarang ayo kita makan.” Kata Jodi seraya pergi meninggalkan tempat itu.


Tak berapa lama mereka sudah kembali berkumpul bersama di food court.


Maurin curiga kekasih dan Boss nya sudah menemui orang, namun ia tak mau merusak suasana, ia akan menanyakan nanti pada saat mereka berdua.


Sementara Berlian dan oma nya tak merasa curiga apa-apa.


“Sudah selesai urusannya papa?.” Tanya Berlian.


“Sudah sayang. Ayo di makan.” Kata Jodi seraya kembali memangku Miriam dan menyuapi Berlian.


Mereka menikmati kebersamaannya dan setelah selesai mereka kembali ke rumah mereka.


Karena lelah, di dalam mobil Miriam tertidur diatas pangkuan Jodi, lalu Jodi memberikan Miriam kepada Irma untuk di bawa ke kamarnya, sementara ia memangku Berlian menuju kamar mereka.


Tinggalah Riksa dan Maurin di lantai bawah. Maurin sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu pada Riksa.


Mereka duduk pada mini bar disana.


“Sebenarnya tadi kakak sama Boss kemana?.” Tanya Maurin menyelidik.


“Tadi aku melihat si Aneta sama si Julia.”


“Perawat asisten dokter itu?.”


“Iya. Setelah kita tanyai mereka, ternyata mereka tidak pergi ke tempat bencana tapi mereka memang di larang datang ke rumah ini lagi sama si Alfredo.”


“Loh kok gitu? Kenapa katanya?.”


“Kita lagi nyari tahu Rin, terus tadi juga ada wanita yang datang kesini, katanya dia tunangannya Alfredo.”


“Mau ngapain tunangannya dokter itu datang kesini?.”


“Mungkin dia pikir si Alfredo hari ini datang kesini, katanya mereka lagi ada masalah dalam hubungannya. Aku curiga si dokter mulai menyukai Istri Boss, Rin.”


Mendengar apa yang dikatakan Riksa, Maurin terkejut.


Bersambung


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gais😍


Makasih🥰

__ADS_1


__ADS_2