
Nun jauh disana, di sebuah kota yang bernama kota P, nampak di dalam sebuah bunker terlihat Berlian tengah bersama bayinya.
Mereka hanya berdua, tak terlihat penampakan Alfredo disana.
Berlian mengitari sekitar ruangan yang tanpa jendela itu. Ruangan yang cukup besar itu, satu-satunya ruangan yang telah menaunginya selama ia berada disana.
‘Bagaimana caranya aku keluar dari sini ya? Aku tak dapat melakukan apapun, sepertinya ruangan ini di dalam tanah dan hanya ada satu pintu keluar saja. Kapan aku bisa terbebas dari tempat ini?. Aku harus segera keluar dari sini. Tuhan… tolonglah aku. Bebaskan lah aku dari tempat ini.’ Gumam Berlian.
Kemudian Berlian memeriksa pintu keluar, ia tengah mencari cara bagaimana cara membukanya. Namun ia tak dapat menemukan caranya. Tapi tiba-tiba saja ia mendengar derap langkah seseorang dari luar.
Bergegas ia kembali ke atas tempat tidurnya dan berpura-pura tidur memeluk putranya.
Terlihat Alfredo masuk ke dalam bunker tersebut dan melihat penampakan Berlian juga putranya tengah tertidur pulas, kemudian ia duduk di atas sofa memperhatikan Berlian dan putranya yang pura-pura terlelap di atas tempat tidur, dan Alfredo tidak tahu kalau Belrian tengah berpura-pura.
Lalu Berlian pura-pura terbangun.
“Dokter ada disini?.” Sapa Berlian seraya menjuruskan pandangannya ke arah sofa tempat Alfredo duduk disana.
“Ya. Nyonya sudah bangun?.”
“Ya dokter. Apa dokter akan mengambil gambar aku lagi?.”
“Ya nyonya. Sekarang saya akan mengambil video saja. Bisakah anda berganti pakaian?.”
“Baik dokter.”
Kemudian Berlian pergi mengambil beberapa gaun dan berlalu hendak mengganti pakaiannya ke kamar mandi.
Tak lama ia kembali dengan kostum yang ia ambil tadi.
“Saya sudah siap dokter.”
“Baiklah.” Kemudian Alfredo mulai mengambil video Berlian.
Setelah beberapa lama akhirnya Alfredo selesai mengambil video Berlian dan putranya. Lalu ia pun berlalu meninggalkan Berlian dan Berlian pun kembali berganti pakaian.
Seperti itulah kegiatan Berlian, hari-harinya hanya di habiskan dengan mematuk diri di dalam bunker bersama putranya. Sementara setiap Alfredo datang ke bunker tersebut tidak luput dari mengambil foto dan membuat video Berlian dengan koleksi kostumnya.
...........
Sementara itu di rumah sakit, nampak Krista telah mendapatkan perawatan intensif. Setelah beberapa hari disana, keadaan Krista lumayan membaik. Riksa dan kekasihnya selalu bergantian menunggui Krista di rumah sakit tersebut atas perintah Jodi. Sementara Jodi belum memberitahu Philipe suaminya Krista mengenai keberadaan Krista.
“Kasihan sekali ya nasib wanita ini, dia jatuh cinta pada orang yang salah.” Ujar Maurin yang tengah menunggui Krista bersama kekasihnya pada sebuah ruangan.
“Iya. Jahat sekali si Alfredo sampai melakukan hal sekejam ini. Padahal wanita ini adalah wanita yang dulu sangat ia cintai.” Balas Riksa.
“Aku kaget waktu dokter mengatakan kalau di dalam tubuhnya banyak zat kimia yang membahayakan dan itu sengaja di masukan ke dalam tubuh wanita ini. Gila memang dokter itu.” Ujar Maurin kesal.
“Iya dan anehnya zat kimia yang berada di dalam tubuhnya sama dengan jenis zat kimia yang ada di dalam tubuh Berlian. Aku jadi curiga jangan-jangan zat tersebut bersumber dari orang yang sama. Dan zat kimia itu tidak mudah di dapatkan. Hanya bisa di dapatkan melalui pasar gelap dark web.” Kata Riksa.
Dan tiba-tiba saja Riksa seperti mendapatkan petunjuk.
‘Apa mungkin Arash mendapat racun itu dari si Alfredo ya?. Kalau memang benar, berarti mereka berdua pemain di dark web. Aku yakin ini ada kaitannya.’ Bathin Riksa.
“Rin, kamu gak apa-apa kan nunggu Krista disini sendiri dulu. Aku ada urusan penting menemui Boss.” Kata Riksa yang akan menceritakan informasi yang telah ia dapat dari dokter yang menangani Krista di rumah sakit itu.
“Ya kak gak apa-apa. Kakak pergi aja.”
“Ya udah. Kamu hati-hati ya disini. Pantau terus perkembangan Krista ya?, kalau dia menunjukan perkembangan terbaru, cepat kabari aku.” Kata Riksa seraya pergi meninggalkan Maurin di ruangan tempat Krista di rawat.
Singkat cerita, Riksa memacu kendaraannya menuju markas. Setelah beberapa waktu akhirnya sampailah ia di markas dan langsung menuju ruangan Jodi.
“Ada apa Rik?.” Tanya Jodi yang melihat penampakan Riksa masuk kedalam ruangannya. Sementara ia tengah sibuk di depan laptopnya.
“Boss, kata dokter zat kimia yang terkandung di dalam tubuh Krista jenisnya sama dengan yang terkandung di dalam tubuh istri Boss.”
__ADS_1
“Yang bener Rik?.” Kata Jodi dengan wajah terkejutnya.
“Iya dokter bilang begitu, gue jadi curiga jangan-jangan si Arash mendapatkan racun itu dari si Alfredo ya Boss?.”
“Bisa jadi Rik. Ya udah ayo kita ke lab, kita coba cari tahu.”
Kemudian Jodi dan Riksa bergegas menuju lab komputer di markas tersebut.
Mereka langsung menemui jack yang tengah sibuk di dalam lab tersebut. Setelah Riksa mengatakan sesuatu pada Jack, akhirnya Jack bersiap masuk kedalam dark web.
“Cari nama orang yang menjual obat-obatan terlarang Jack.” Titah Jodi.
Kemudian Jack mulai mencari-cari. Dan tak menunggu waktu lama ia menemukan situs yang menjual racun paling mematikan di dunia, dan ternyata nama akun itu adalah Fred.
Sontak membuat Jodi dan Riksa yakin bahwa Alfredo lah yang menjual racun itu, dan disinyalir ia yang membuat racun itu kemudian di perjual belikan di situs dark web. Jika sudah seperti itu hasil prediksi mereka, dapat di pastikan bahwa Arash mendapatkan racun itu dari Alfredo.
“Pantas saja kondisi Krista dan istri gue mirip efeknya.” Ulas Jodi.
“Iya fix ini sih, biang keroknya si Alfredo.” Timpal Riksa.
Kemudian pada saat Jack melihat postingan terbaru dari akun yang bernama Fred itu, ia melihat penampakan Berlian kembali dan langsung memberitahukan kepada Jodi.
“Boss, dia up video terbaru istri Boss nih.” Seru Jack.
Bergegas Jodi dan Riksa melihat postingan itu. Mereka bertiga mengamati video yang berdurasi sepuluh menit itu. Dimana di dalamnya terlihat Berlian tengah memakai pakaian ala-ala putri kerajaan tengah memangku putranya.
Sampai video itu berakhir mereka mengamatinya, kemudian berulang-ulang mereka memutar kembali. Berharap mereka mendapatkan petunjuk dari sana.
Dan benar saja sepertinya Riksa menemukan sesuatu.
“Sebentar Jack! Tolong elo perlambat dan perhatikan tangan Istri Boss yang mengelus-elus putranya. Sepertinya ia tengah memberi kode dengan jarinya.” Ujar Riksa.
Mendengar apa yang Riksa katakan, Jodi mengamati pergerakan istrinya itu dengan serius. Dan benar saja sepertinya istrinya mengetuk-ngetukan jarinya sembari mengelus bayinya.
“Good Job baby.” Kata Jodi dengan wajah yang menyiratkan rasa haru dan bahagia, karena secara tidak langsung istrinya memberikan informasi keberadaannya.
Kemudian Jodi memerintahkan Riksa untuk menterjemahkan kode tersebut yang dia anggap sebagai bahasa isyarat untuk mereka.
Singkat waktu, Riksa sudah mendapatkan hasil dari isyarat ketukan jari Berlian itu.
‘SOS… Kami di dalam bunker, kota P. Rumah putih pinggir kota… papa jika kau lihat ini… datanglah jemput kami.’
Betapa bahagianya Jodi kala ia melihat hasil terjemahan yang Riksa berikan padanya. Rasa haru dan bahagia menyatu membuat matanya berkaca-kaca, ia tidak menyangka mendapatkan petunjuk yang benar-benar telah membuka jalan dalam pencarian istrinya itu.
“Tunggu papa sayang… papa akan datang. Good job!! I love U.” Gumam Jodi dengan menyeka air mata yang menetes pada sudut pipinya.
“Rik ayo kita berangkat! Sekarang juga.” Perintah Jodi.
Dan tanpa menunggu waktu barang sedetik pun, mereka langsung meluncur ke bandara membawa pasukannya.
Mereka bergegas pergi menuju Medan perang dengan melakukan penyamaran dan membawa peralatan tempur yang memang selalu mereka siapkan, sehingga jika dalam keadaan darurat seperti ini dapat dengan mudah langsung mereka bawa.
Di dalam perjalan Jodi menghubungi keluarga Berlian kalau ia akan ke kota P untuk menemukan istri dan putranya karena sudah mendapatkan petunjuk. Dan tentu saja kabar berita dari Jodi itu membuat seluruh keluarga bahagia dan memberikan semangat penuh pada Jodi juga do’a terbaik dari mereka.
............
Sementara itu di dalam ruangan rumah sakit, nampak Krista yang baru terjaga dari tidurnya mendapati Maurin yang tengah duduk di sampingnya.
Krista tersenyum pada Maurin dan Maurin membalas senyuman itu.
“Kakak sudah bangun? Ayo aku bantu kakak untuk bersandar.” Kata Maurin seraya meraih tubuh kaku itu untuk bersandar.
“Terima kasih.” Kata Krista yang suaranya belum begitu jelas karena lidahnya yang masih kaku.
“Sama-sama. Dari hari ke hari kondisi kakak semakin membaik. Mudah-mudahan kakak cepat pulih.”
__ADS_1
“Kemana Riksa?.”
“Dia sedang menemui Boss nya karena ada sesuatu yang penting yang harus mereka bicarakan.” Maurin menjawab pertanyaan Krista, meski pertanyaan itu keluar dari lidah yang kelu tapi Maurin masih dapat mengerti.
“Kekasihmu baik sekali telah menolongku. Sampaikan terima kasihku padanya.”
“Baik kak. Nanti akan aku sampaikan. Kakak tenang saja, Oya? Apa kakak butuh sesuatu?.”
“Iya. Sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu, untuk mengatakan pada kekasihmu. Agar dia dapat menghubungi suamiku untuk menemuiku disini.”
“Baiklah. Kakak ingin suami kakak menemui kakak disini?.” Tanya Maurin memastikan, dan terlihat Krista menganggukan kepalanya.
“Sebentar, aku akan telepon dia dulu ya kak?.” Sambung Maurin seraya berlalu menuju balkon dan mulai menghubungi Riksa.
“Hallo kak. Ini kak Krista ingin agar suaminya menemui dia di sini. Apa kakak bisa menghubunginya?.”
“Ya. Tunggu, aku mau bilang dulu ke Boss.” Suara Riksa di balik ponsel.
Kemudian setelah beberapa lama Maurin menunggu Riksa yang sepertinya tengah berbicara dengan Jodi, akhirnya Riksa mengatakan, “Katakan pada Krista, sekarang suaminya sedang di hubungi oleh Boss, mungkin sebentar lagi dia akan ke rumah sakit.”
“Baik kak, akan aku sampaikan pada kak Krista.”
“Oya Rin, aku sekarang dalam perjalanan ke suatu tempat bersama Boss untuk menjemput istrinya.”
“Apa?? Berlian sudah ketemu kak?.”
“Ya tadi kita sudah menemukan titik terang. Tapi kamu jangan katakan pada Krista dulu ya? Karena ini bukan urusan dia.”
“Iya baik kak. Kakak hati-hati ya?.”
“Iya Rin. Kamu juga hati-hati disitu ya? Jangan nakal.”
“Iya siap. Hehe….”
Kemudian mereka menutup sambungan ponselnya. Dan Maurin kembali duduk di samping Krista.
“Kak, suami kakak sudah di hubungi katanya sebentar lagi beliau akan datang menemui kakak disini.” Kata Maurin.
Krista begitu bahagia mendengar kabar itu hingga tak terasa air matanya menetes pada kedua pipinya.
“Terima kasih Maurin.”
“Sama-sama kak.”
“Aku berhutang budi pada kalian. Kalian telah menyelamatkan aku. Seandainya kalian tak ada, entah apa yang terjadi padaku. Mungkin sampai mati aku menghabiskan waktu di dalam panti jompo itu.”
“Ini sudah tugas mereka untuk menyelamatkan kakak, dan kami juga sangat berterima kasih sama kakak, mungkin jika kami tidak menemukan kakak, kami pun tak dapat petunjuk apa-apa. Setidaknya dapat menemukan kakak adalah titik terang dalam menemukan istri Boss kami.” Ulas Maurin.
“Ya. Aku benar-benar menyesal, kembali pada Alfredo. Mungkin seandainya aku tidak menemui dia kembali, masalah ini tidak akan pernah terjadi.”
“Kakak jangan bilang begitu. Semua ini sudah ada dalam rencana Tuhan.”
“Ya. Mungkin masalah ini terjadi agar aku dapat tersadar dari kekeliruanku.”
“Iya kak. Apa yang telah kita lewati itu adalah pelajaran untuk kita semua. Agar kita dapat lebih baik lagi kedepannya.” Kata Maurin.
Entah sudah berapa lama mereka berbincang. Sampai pada akhirnya mereka di kejutkan dengan kedatangan Philipe suami Krista.
Krista yang melihat penampakan Philipe di depan pintu, langsung menatap haru dengan sesal yang menyesakkan dadanya.
Begitu pun dengan Philipe yang mendapatkan pemandangan istrinya yang mengkhawatirkan di atas velbed rumah sakit, bergegas mendekat menghampiri dan memeluk istrinya itu.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Terima kasih reader tersayang yang tetap setia🥰
__ADS_1