Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Cemburu tak beralasan


__ADS_3

Malam mulai merambah kala itu. Senja yang telah terlewati dengan setumpuk aktivitas membuat Jodi sedikit lelah. Dan hari ini karena di kantor sedikit sibuk, ia bekerja sampai malam hari.


Sementara Berlian tetap setia menunggunya di ruangan pribadi di kantor tersebut. Untuk mengisi kejenuhan di ruang kerja Jodi ia membaca buku, dan jika ia bosan dengan buku-buku nya itu, ia membuka laman pencarian di internet melihat informasi terkini.


Jodi masuk keruang kerjanya setelah menyelesaikan meeting terakhirnya malam itu. Dilihatnya wanita yang ia sayangi tengah duduk santai pada sofa dengan ponsel di tangannya.


“Sayang… maaf membuatmu menunggu lama. Hari ini jadwal rapatnya padat.” Kata Jodi seraya membenamkan kepalanya pada dada Berlian.


“Gak apa-apa papa. Aku senang kok nunggu papa di sini dari pada menunggu papa di rumah.”


“Makasih sayang… kamu sudah mengerti kesibukan papa.”


“Ayo kita pulang papa. Makan malamnya di luar saja ya? Sekalian pulang.” Ajak Berlian.


“Baiklah. Tunggu Riksa bentar ya sayang?. Dia lagi bebenah dulu di ruangannya.”


“Iya papa.” Kata Berlian seraya mengangkat kepala lelaki itu dari dadanya, lalu kemudian ia membuka kan jas dan dasi nya. Kemudian, “Mending sekarang papa mandi dulu sana. Jadi nanti sampai rumah bisa langsung tidur.” Kata Berlian.


“Baiklah… oya sayang gak sekalian saja kamu bukain baju sama celana papa?.” Goda Jodi.


“Iy… papa me*um!.” Kata Berlian seraya mencubit perut Jodi.


“Aw… papa cuma becanda sayang… ya udah papa mandi dulu ya? Cup dulu dong sayang.” Kata Jodi seraya mengecup bibir ranum gadisnya kemudian berlalu menuju kamar pribadinya.


Setelah lima belas menit Jodi keluar dari kamar pribadinya dengan stelan celana pendek warna coklat dipadukan dengan t-shirt hitam. Lalu mendekat ke arah Berlian.


“Riksa belum kesini sayang?.” Tanya Jodi pada Berlian.


“Belum papa.”


“Lagi ngapain dulu sih dia.” Kata Jodi seraya mengambil ponselnya dari atas meja hendak menghubungi Riksa.


“Hallo Rik, lama banget ngapain dulu sih?.”


“Gue nunggu Boss telepon hehe.”


“Yaelah. Kenapa gak kesini langsung aja sih?.”


“Takut ganggu Boss hehe.”


“Ah ada-ada saja. Ya udah sini. Ayo kita balik.”


“Siap Boss.”


Kemudian Jodi menutup sambungan ponselnya. Lalu,


“Baju kotornya mana papa?.” Tanya Berlian


“Oh masih di dalam sayang.”


“Ya sudah. Aku ambil dulu.” Kata Berlian seraya masuk ke dalam ruangan pribadi Jodi. Namun belum sampai ia pada pintu ruangan tersebut, Jodi menghadang dengan menangkap pinggang gadis itu dan memeluknya dari belakang tubuh gadis itu.


“Lagi belajar jadi istri yang baik ya? Ngurusin suami hehe.” Bisik Jodi pada telinga sang gadis.


“Ngurusin papa gak usah belajar lagi. Aku udah tahu semuanya tentang papa dan semua yang ada di diri papa. Tinggal nunggu papa aja mau ngelamar nya kapan?!.” Jawab Berlian seraya membalikan badannya dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Jodi.


“Nanti setelah kau lulus kuliah S2nya ya sayang?.”


“Papa… aku ingin nikah muda.”


“Apa?!!.” Jodi sedikit terkejut. Namun tiba-tiba masuk Riksa keruangan itu dan melihat mereka yang tengah berpelukan. Dengan cepat Riksa membuang pandangannya.


“Aish…. Ah sengaja memang si Boss nyuruh gue masuk keruangannya buat nunjukin kayak begini nih hadeh.” Bathin Riksa.


Melihat Riksa masuk ke ruangan itu dengan cepat Berlian melepaskan pelukannya dan berlalu menuju kamar pribadi Jodi untuk mengambil pakaian kotor Jodi yang tadi di pakainya.


Sementara Riksa, setelah tahu Berlian tidak ada di antara mereka, ia kembali mengarahkan pandangannya pada Jodi, “Sorry Boss hehe… gue gak tahu kalau kalian lagi merapat hehe.”


Jodi tidak menjawab. Kemudian terlihat Berlian keluar dari kamar pribadi Jodi dengan paper bag di tangannya yang berisi pakaian kotor Jodi.


“Apa itu tuan putri?.” Tanya Riksa.

__ADS_1


“Baju kotor suami!.” Jawabnya pendek.


“Oh. Sini biar saya yang bawa.”


“Baiklah. Oya kak sekalian itu jas sama dasinya di sofa masukin ya?.”


“Siap.” Jawab Riksa seraya mengambil jas dan dasi itu kemudian memasukannya ke dalam paper bag tersebut.


“Yuk pulang.” Ajak Jodi seraya menggandeng Berlian berlalu dari ruangannya di susul oleh Riksa di belakangnya.


Singkat cerita, mereka sudah berada di dalam mobil mereka.


“Rik, kita berenti makan dulu ya?.” Kata Jodi.


“Siap Boss. Mau makan dimana?.” Tanya Riksa.


“Sayang… kau mau makan apa?.” Jodi menanyakan makan malamnya pada Berlian.


“Malam ini aku ingin makan sea food papa.”


“Baiklah. Kita makan sea food di restoran biasa ya sayang?.”


“Rik kita makan sea food di tempat biasa ya?.”


“Siap Boss.”


Setelah beberapa waktu sampailah mereka di tempat yang dituju.


Mereka memasuki restoran sea food itu dan mulai memesan apa yang mereka inginkan. Melihat apa yang di pesan Berlian, Jodi sedikit tersentak.


“Sayang kamu beneran pesan makanan sebanyak itu?.” Tanya Jodi heran karena Berlian memesan semua jenis sea food.


“Iya papa, aku mau semuanya? Memang gak boleh?.”


“Boleh saja sayang tapi yakin semuanya akan habis?.”


“Tentu saja papa aku sudah lama tidak makan disini jadi aku kangen sama semua masakannya.”


“Mungkin tuan putri lagi ngidam Boss.” Celetuk Riksa.


“Iya papa mungkin benar kata kak Riksa, aku lagi ngidam hehe.” Kata Berlian dengan senyum tanpa dosa nya.


“Hei sayang… jangan asal bicara. Bagaimana kau bisa ngidam? Aku belum melakukan apa pun padamu hah!.” Bisik Jodi di telinga Berlian.


“Hehe.. becanda papa.”


Setelah sekian lama mereka menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan datang juga.


Jodi heran melihat Berlian yang lahap memakan semua yang ia pesan. “Sayang… pelan-pelan makannya, gak usah buru-buru kita tidak sedang ditunggu apa pun.” Bisik Jodi.


“Ini enak banget papa… sudah lama sekali aku tidak makan semua ini.” Kata Berlian dengan mulut yang penuh makanan.


Begitu pun dengan Riksa yang heran melihat Berlian memakan semua makanan yang ia pesan, “Jangan-jangan beneran nih anak, makannya berdua sama jabang bayi, lahap banget kayak orang kesetanan hadeh.” Bathin Riksa.


Namun melihat Berlian begitu lahap makan membuat Jodi senang melihatnya.


“Sepertinya kalau ingin melihat kau lahap makan, papa tinggal bawa kau ketempat ini saja ya sayang?.” Kata Jodi.


“Tapi kalau tiap hari bisa-bisa berat badanku tak terkendali papa. Apa papa mau punya istri gemuk?.” Kata Berlian.


“Seperti apa pun kamu, papa tidak perduli sayang… yang penting kamu sehat.”


“Lelaki kan senangnya pada wanita yang langsing.”


“Eh siapa bilang sayang, kalau sudah cinta seperti apa pun pasangan kita, itu tak akan merubah perasaan sayang.”


“Emang begitu kak Riksa?.” Tanya Berlian pada Riksa ingin mendengar dari versi lelaki lain.


“Tapi menurut survey memang 99% lelaki sukanya sama perempuan yang langsing tuan putri.” Jelas Riksa.


“Tuh papa dengar apa kata kak Riksa.”

__ADS_1


“Ah elo Rik gak bisa di ajak kompromi. Kenapa gak iya in aja sih apa yang gue bilang.” Bisik Jodi pada Riksa. Dan Berlian melihat itu.


“Apa bisik-bisik ih.” Berlian menarik tangan Jodi.


“Gak ada sayang.” Kata Jodi namun tiba-tiba suara seorang perempuan mengejutkan mereka bertiga.


“Jodiiii… kau kah itu?.” Sapa seorang wanita yang mendekat ke arah Jodi.


Wanita cantik kira-kira berusia 40 tahun berperawakan sintal dengan dibalut pakaian minim membuat semua mata lelaki akan tergoda melihat penampilan wanita berambut pirang nan panjang itu.


“Oh… hey… Katherine kah?.” Balas Jodi.


“Iya benar! Kau ada disini Jodi? Apa kabarmu?.”


“Oh aku baik. Bagaimana denganmu?.”


“Aku juga baik-baik saja. Aku baru beberapa hari datang ke Indonesia.”


“Dalam rangka apa kau ke Indonesia?.”


“Ikut suami Jod, dia lagi ada projek disini dan dia mengajakku untuk tinggal disini selama dia menyelesaikan projeknya.”


“Wah bagus itu. Anakmu sudah berapa sekarang Katherine?.” Tanya Jodi.


“Anakku sudah dua Jod. Bagaimana denganmu?.”


Pada saat Jodi akan memperkenalkan Berlian, gadis itu sudah tak terlihat di tempatnya. Kemudian Jodi bertanya pada Riksa yang masih duduk di tempatnya, dan Riksa menjawab kalau Berlian dari tadi sudah pergi masuk mobil sejak Katherine datang.


“Oh.. aku masih proses Katherine hehe..”


“Begitu saja jawabanmu kalau ditanya masalah istri dan anak hehe… oya? Yang tadi anak perempuan itu siapa?.”


“Kau masih ingat Harvan? Tadi itu adalah putrinya.”


“Waw, ternyata itu putrinya Harvan?.”


“Iya Kath. Oya kath lain kali kita lanjut lagi ya ngobrolnya, sepertinya putrinya Harvan sudah ngantuk.”


“Baiklah. Lain kali kita sambung lagi ya.”


“Iya Kath maaf ya?.”


“Tidak apa-apa Jod.”


“Saya permisi dulu ya Kath.”


“Ya silahkan.”


Kemudian Jodi bergegas menuju ke mobil nya disusul Riksa di belakangnya.


Jodi masuk ke dalam mobilnya. Di dapatinya Berlian yang tengah duduk sembari mengotak ngatik ponselnya.


“Sayang… kenapa pergi begitu saja?.” Tanya Jodi pada Berlian.


“Takut ganggu orang yang lagi kangen-kangenan.” Jawab Berlian ketus. “Siapa Katherine?.” Tanya nya kemudian.


“Dia teman papa waktu di Amerika sayang.”


“Temen apa temen??.” Sindir Berlian.


“Beneran temen sayang malah temen ayahmu juga.”


“Oh.” Jawabnya datar.


Jodi sangat paham sekali kalau gadis itu sepertinya tengah cemburu pada wanita yang bernama Katherine tadi. Kemudian Jodi memeluk gadis itu.


“Katherine tinggal di Amerika karena suaminya orang sana, sudah beberapa hari dia ada di Indonesia karena suaminya ada projek di sini.” Jelas Jodi. Mendengar penjelasan Jodi barusan, Berlian terlihat sedikit tenang. Kemudian Jodi meletakkan kepala gadis itu untuk bersandar pada dadanya.


Tak lama terlihat Berlian memejamkan matanya. Riksa yang melihat dari kaca spion bergumam. “Cemburu tak beralasan ceritanya tuh, begitulah kalau punya cewek masih bocil, harus banyak sabar hehe.”


“Diem luh!.” Kata Jodi yang mendengar apa yang Riksa ucapkan tadi.

__ADS_1


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Terima kasih sudah meninggalkan jejaknya 😍😍🥰


__ADS_2