Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Meminta Restu


__ADS_3

Eva melirik suaminya, terlihat suaminya memasang wajah kusut.


“Papa kenapa? Pasti bertengkar lagi dengan putramu itu kan?.”


“Dia selalu saja membawa masalah.”


“Apa dia mengatakan sesuatu tentang hubungannya dengan gadis itu?.” Tanya Eva.


“Ya. Apa gadis itu juga mengatakan padamu hubungan mereka?.” Tanya balik Ferry.


“Iya pa. Aku benar-benar syok. Aku tidak mengerti kenapa semua ini harus terjadi.”


“Aku juga tidak mengerti. Apa yang harus aku katakan pada Budi?! Ah anak itu cari gara-gara terus! Membuat aku pusing saja. Bagaimana mungkin dia bisa menaruh hati pada gadis itu?!.”


“Gadis itu menangis memohon padaku agar kita merestui hubungan mereka pa, dan kau tahu? Gadis itu ingin menikah dengan putra kita.”


“Ya putramu juga berkata begitu padaku. Macam-macam saja kelakuan anakmu itu. Pusing kepalaku ini ma… tolong kau ambilkan obat untukku!.” Pinta Ferry pada istrinya. Kemudian istrinya mengambil obat untuk suaminya itu.


“Ini minumlah pa.”


Kemudian mereka melihat dari kejauhan nampak Jodi tengah menyusuri kebun teh dengan membawa Berlian di punggungnya.


“Mereka terlihat begitu sangat bahagia pa, coba kau lihat? Betapa mesranya mereka. Apa benar mereka Berjodoh ya?.” Kata Eva yang terus memandangi putranya.


Ferry pun melihat kearah anaknya itu. Terbersit dalam hatinya rasa haru karena dapat melihat putranya itu bahagia dengan membawa seorang wanita. Namun sayang sungguh sayang kenapa harus gadis kecilnya, begitu pikir Ferry.


Bukan karena ia tak suka dengan Berlian, tentu saja dia sangat menyayangi gadis itu karena waktu Berlian kecil, Jodi sesekali membawanya pada mereka sehingga mereka pun menyayangi Berlian seperti cucunya sendiri.


Tetapi untuk urusan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih, apalagi sampai mereka memutuskan untuk menikah, rasanya membuat Ferry tidak habis pikir. Terlebih selama ini Ferry selalu menitipkan putranya pada Budi kakeknya Berlian. Sementara yang Ferry tahu Budi mempercayakan Berlian pada Jodi untuk mendidiknya dengan baik. Namun kenyataannya sekarang malah di luar dugaan.


Ferry begitu khawatir akan respon Budi mengenai hubungan mereka. Syukur-syukur kalau Budi dan istrinya menyetujui, bagaimana seandainya tidak? Pasti akan membuat hubungan Ferry dengan Budi menjadi tidak baik.


“Aku belum bisa berfikir ma… sepertinya semakin memikirkan mereka semakin kepalaku pusing. Aku mau istirahat dulu sebentar. Sepertinya kedatangan anak itu membuatku jadi stress.” Kata Ferry seraya berlalu masuk ke kamarnya.


Sementara Eva, masih memandangi putranya yang membawa Berlian di punggungnya. Terpancar rona kebahagiaan dari wajahnya dengan mengukir senyum pada raut mukanya kala ia terus memandangi mereka.


Sementara itu Jodi yang membawa Berlian begitu menikmati suasana perkebunan dengan udara yang sejuk.


“Papa aku senang tempat ini, udaranya segar dan sejuk. Apa papa suka?.”


“Tentu saja papa suka sayang… nanti kita akan sering berkunjung kesini.”


“Ya. Aku setuju, pasti menyenangkan seandainya setiap weekend kita disini papa.”


“Ya nanti kita usahakan agar setiap weekend kita kesini.”


“Papa lihat!.” Berlian menunjuk sesuatu, “itu tempat apa papa?.” Tanya Berlian.


“Papa juga tidak tahu… ayo kita kesana.”


Kemudian Jodi membawa Berlian ke sebuah bangunan kayu sederhana dengan kepulan asap di ujung perkebunan, semakin mereka mendekat semakin jelas bahwa itu adalah tempat orang menjual sesuatu.


“Oh ternyata itu warung sayang, ayo kita kesana.” Kata Jodi seraya menurunkan Berlian dari gendongannya. Berlian pun berlari-lari kecil kearah warung itu di ikuti Jodi di belakangnya.


“Papa.. ada sate! Aku mau papa.”


“Ya sudah… kita makan sate ya sayang.”


Kemudian mereka berdua duduk pada Kursi yang memanjang di tempat itu.


Setelah Jodi memesan pada ibu yang melayani mereka, Jodi merogoh ponsel dari saku celananya. Ia hendak menghubungi Riksa untuk makan bersama mereka.


“Hallo Rik! Dimana luh?.”


“Di kebun teh Boss, ada apa?.”


“Kita lagi makan sate kelinci di warung ujung, elo mau gak?.”


“Ok gue kesitu.”

__ADS_1


Setelah menghubungi Riksa, Jodi meminta pada ibu pelayan warung untuk menambah porsi sate nya. Selagi menunggu sate itu matang, mereka berbincang.


“Oya? Tadi kau bicara apa saja dengan ibuku?.”


“Aku meminta pada oma untuk merestui kita, dan sepertinya oma setuju.”


“Baguslah. Ibuku memang baik, dia pasti akan selalu mengijinkan apa yang aku mau.”


“Lalu, apa yang papa tadi bicarakan dengan opa?.”


“Ya sama. Aku juga meminta restu pada papaku, dan….” Jodi tidak melanjutkan kata-katanya, ia terdiam dengan menundukkan kepalanya.


“Apa, opa tidak memberi restu?.” Terlihat wajah Berlian berubah sedih, melihat perubahan pada wajah gadisnya, Jodi tak ingin melihat gadisnya kecewa. Kemudian,


“Sayang…. Papaku pasti setuju, hanya saja ia perlu membicarakan terlebih dahulu dengan opa dan oma mu.”


“Ya sudah. Suruh saja opa bicara pada opa ku. Telepon kan bisa?.”


“Tapi untuk membicarakan masalah kita, tidak cukup hanya melalui telepon saja sayang. Mereka harus bicara langsung.”


“Pasti masalah kita membuat mereka sulit ya papa?.” Kata Berlian tertunduk.


“Kemarilah.” Jodi meraih Berlian lantas memeluknya, kemudian, “Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan, semua pasti ada solusinya, hanya saja tergantung bagaimana kita cara menyelesaikannya. Kita sama-sama tahu masalah kita sedikit rumit, jadi bagaimana cara menyelesaikannya pun pasti tidak mudah. Tapi dengan kekuatan cinta kita, Insha Allah semuanya dapat kita atasi. Yakin saja, Allah akan memberikan kemudahan pada masalah yang kita hadapi sekarang. Bukankah kita akan sama-sama berjuang merebut hati mereka? Agar mereka menerima kita?, sekarang kita sudah setengah jalan sayang, jadi kau jangan berkecil hati. Aku akan terus berusaha, bagaimana pun caranya, kita harus mendapatkan restu mereka. Aku bisa saja membawamu lari, tapi itu bukan cara yang baik. Lari dari mereka, sama saja kita mengundang celaka bagi diri kita. Tapi jika kita melangkah dengan restu dan ridho mereka, Insha Allah kita akan selamat sayang. Aku ingin membawamu mengarungi biduk rumah tangga dengan cara yang baik, karena aku ingin menyelamatkanmu, bukan ingin merusak dan menjatuhkanmu. Mari kita sama-sama menerima dan ridho akan proses yang sulit ini. Kau tahu sayang? Untuk menuju tempat yang indah jalannya sulit dan penuh cobaan. Sebagaimana kau ingin masuk surga Tuhan, pintu surganya banyak, tetapi begitu sulit untuk masuk ke dalam salah satu pintunya itu, untuk masuk kedalamnya kau harus di bersihkan terlebih dahulu agar layak. Begitu pun dengan tujuan kita sayang…. Kita akan dikatakan layak seandainya kita mampu melewati cobaan ini.”


Mereka berdua terdiam, menikmati rasa meski begitu menyesakkan dada. Jalan setiap diri berbeda sebagaimana berbedanya rupa mereka. Berterima kasih lah pada Tuhan, Ia menjadikan perbedaan itu semata agar kita menjadi orang yang berfikir.


Terlihat Riksa mendekat ke arah mereka. Seiring kedatangan Riksa, ibu penjual sate pun menghidangkan pesanan mereka.


“Wah pas bener nih… pas gue datang…. Pas satenya mateng hehe.” Kata Riksa seraya duduk di samping Jodi dan langsung menikmati sate tersebut.


Di saat mereka tengah menikmati satenya, tiba-tiba ponsel Jodi berbunyi tanda panggilan masuk, di lihatnya sang ibu menghubunginya.


“Ya ma.”


“Kalian dimana?.”


“Kita lagi makan sate kelinci di warung ujung, mama mau? Nanti aku bawakan.”


“Ya ma.”


“Bagaimana Berlian?.”


“Dia tidak apa-apa ma.”


“Oh syukurlah. Mama khawatir soalnya tadi waktu ngobrol sama mama, dia nangis. Mama jadi kepikiran.”


“Mama tenang saja. Dia baik-baik saja kok. Nih anaknya lagi lahap makan sate kelinci hehe.”


“Ok. Baiklah.”


Kemudian Sambungan ponsel mereka terputus.


“Oma bilang apa papa?.”


“Dia mengkhawatirkanmu. Menyuruhku membawamu cepat kembali.”


Kemudian Jodi meminta pada ibu penjual sate untuk membuatkan kembali satenya yang akan mereka bawa pulang untuk sang ibu.


Pada saat Jodi melirik ke arah Riksa yang tengah anteng menikmati satenya, muncul ide dalam pikirannya.


“Rik.”


“Ya Boss. Ada apa?.”


“Kalau ada kesempatan, elo ajak ngobrol bokap gue ya?.”


“Ngobrol apaan?.”


“Ceritain semuanya masalah gue dan kasih bumbu dikit biar dia….” Belum sempat Jodi melanjutkan kata-katanya, sepertinya Riksa sudah mengerti arah pembicaraan Jodi, yang meminta tolong padanya untuk mempengaruhi ayahnya agar mau memberikan restu akan hubungannya dengan Berlian.

__ADS_1


“Ok gue ngerti. Beres pokoknya. Boss gak usah khawatir.”


“Ok. Thanks ya Rik.”


Singkat cerita, mereka kembali ke rumah orang tua Jodi. Eva menyiapkan kamar untuk mereka menginap. Rumah itu cukup luas dan memiliki banyak kamar, jadi Eva menyiapkan kamar masing-masing untuk mereka.


Mereka memasuki kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Terlihat Jodi yang sudah membersihkan diri keluar dari kamarnya dan mendapatkan ibu nya di dapur tengah memasak sesuatu.


Perlahan Jodi mendekat ke arah ibunya dan memeluk ibunya dari belakang serta mencium pipinya.


“Mama… makasih.”


“Mama hanya ingin kamu bahagia. Jika memang ini kebahagiaanmu mama merestui kalian.”


“Mama memang the best Muach. Oya nanti mama jangan protes ya? Kalau sebelum tidur Berlian harus aku temani dulu.”


“Iya mama mengerti. Dia masih seperti itu ya?.”


“Iya ma dia akan tidur kalau aku sudah menemaninya.”


“Itu karena kamu membiasakan dia begitu dari kecil jadi dia ketergantungan sama kamu.”


“Tapi kan nanti nya juga dia jadi istriku. Jadi tidak ada masalah kan?.”


Kemudian Eva membalikan badannya dan membelai putranya serta memandanginya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


“Eh… kok mama sedih. Kenapa?.”


“Tidak apa-apa. Mama hanya merasakan kebahagiaan… akhirnya kau menemukan seseorang yang akan mendampingimu.”


“Kita saling mencintai ma. Meski usiaku jauh diatasnya tapi dia tidak menjadikan itu masalah. Begitu pun denganku. Meski usianya belum 17 tahun tapi dia dewasa ma. Dan aku yakin dia akan menjadi menantu yang baik buat mama.”


“Ehem.”


Tiba-tiba saja Ferrry yang datang dengan berdehem menggugah kehangatan ibu dan anak itu.


Sontak membuat Jodi sedikit kaget dan melepaskan pelukan pada ibunya lantas duduk pada kursi makan di depan ayah.


“Bagaimana sakit kepalanya pa?.” Tanya Eva.


“Papa sakit ya ma?.” Jodi berusaha mengakrabkan diri dihadapan ayahnya setelah ketegangan tadi.


“Ya sakit karenamu!.” Ujar sang ayah seraya menyeruput minuman yang baru saja Eva berikan padanya.


Jodi terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tundukan pandangannya. Tanpa ia tahu ayahnya memperhatikan dirinya.


“Kapan dia akan pulang ke rumahnya?.” Tanya Ferry datar.


“Sampai dia minta untuk aku antar pulang. Dia tidak mau pulang.”


“Heh! Sihir apa sih yang sudah kamu gunakan hingga membuat dia begitu mencintaimu?.”


“Ah papa ini bicara ngawur saja. Ya tentunya karena aku mewarisi kegantengan papa. Itu yang membuat dia jatuh cinta padaku.”


“Ingat ya! Kau orang yang pertama harus bertanggung jawab kalau seandainya opanya marah padaku!.”


“Iya. Papa tenang saja. Aku akan pasang badan. Jadi bagaimana? Papa merestui kami?.” Jodi berharap bahwa ayahnya akan menyatakan bahwa ia merestui hubungan mereka.


“Restuku tergantung bagaimana nanti opa nya dia menanggapi ini semua!.” Ucap tegas Ferry.


“Ah terserah papa deh… ribet amat cuma ngasih restu doang susahnya minta ampun!.” Gerutu Jodi seraya meninggalkan tempat itu menuju kamar Berlian.


Sementara Eva hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan kelakuan anak dan suaminya yang sama-sama keras kepala itu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Jangan lupa tinggalkan jejaknya sayang🥰

__ADS_1


Terima kasih😍😍


__ADS_2