
Betapa terkejutnya Jodi kala ia melihat dirinya dan tubuh putrinya yang polos tanpa sehelai benang pun.
Perlahan ia menjauh dari tubuh putrinya lantas bangkit dan berlalu mengambil pakaiannya kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya itu.
Sementara Berlian memandangi Jodi yang terlihat gugup hingga hilang tubuhnya di balik pintu kamar mandi.
Tak menunggu waktu lama Jodi keluar dari kamar mandi dengan stelan santainya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya di ketuk, setelah di buka ternyata Tomy nampak di balik pintu dengan membawa beberapa paper bag yang berisi pesanan Jodi yaitu pakaian Berlian dan makanan.
“Makasih Tom.”
“Siap Boss. Oya? Putri Boss sudah sadar?.”
“Udah tapi sepertinya masih lemas.”
“Ya sudah biarkan saja suruh istirahat Boss, nanti besok kita cari dokter untuk ngecek racun dalam tubuhnya.”
“Ok Tom, thanks ya?.”
“Siap Boss. Gue permisi dulu.”
Kemudian Jodi menutup pintu kamarnya kembali.
“Siapa papa?.”
“Tomy. Dia anggota tim papa sayang, tadi papa suruh dia bawakan beberapa stel pakaian buatmu dan makanan.”
“Oh baiklah. Mana makanan nya papa. Aku sudah lapar sekali.”
“Apa sebaiknya kau mandi dulu sayang?.”
“Baiklah.”
“Tunggu sebentar! Papa akan siapkan dulu air hangat buatmu.”
Kemudian Jodi menyimpan beberapa paper bag di atas meja dan berlalu menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk gadisnya. Tanpa ia sadari gadis itu sudah ada di belakangnya kemudian naik ke atas bathtub dan langsung membenamkan diri ke dalamnya padahal Jodi belum selesai mengisi air pada bathtub itu.
Sedikit gugup Jodi memasukan sabun ke dalam bathtub tersebut. Karena ia melihat penampakan benda kenyal pada dada gadis itu. Setelah melihat air dan busa sabun menutupi tubuh gadisnya itu, ia sedikit lega karena imannya terselamatkan.
Kemudian Berlian memberikan spons pada Jodi, tanda ia meminta di bantu untuk menggosok tubuhnya. Jodi mengambil spons itu. Perlahan ia berjongkok dan mulai menggosokkan spons itu pada punggung gadisnya.
Untung menghilangkan ketegangan ia berusaha mengajak gadis itu berbincang, “sekarang katakan padaku, kenapa kau kabur di acara pertunanganmu?.” Tanya Jodi.
“A-aku… aku berubah pikiran papa.”
“Kenapa kau tidak bilang dulu padaku Hm?.”
“Aku takut papa marah, bukannya sebelumnya aku bilang ingin menggagalkan pertunangan itu? Dan papa melarangku.”
“Dasar anak nakal!.” Kemudian Jodi meraih tangan gadis itu untuk menggosokan spons ke tangannya.
“Apa? Papa bilang aku nakal?.”
“Iya kau anak nakal. Bukankah anak yang tukang kabur itu anak nakal?.”
“Memangnya papa akan kuat melihat aku sama kak Menara di sandingkan di acara pertunangan itu?.”
Jodi terdiam dan tak mampu berkata-kata.
“Aku lari kan demi papa.”
“Benarkah?.” Jodi meraih tangan yang satunya lagi.
__ADS_1
“Tentu saja! Karena aku hanya ingin menikah dengan papa.”
“Hehe.. ya nanti kita menikah ya sayang.” Jodi berusaha membesarkan hati gadis itu. Kemudian,
“Papa…”
“Ya… kenapa?.”
“Aku ingin nikah muda.”
“Apa!!!!” Jodi terkejut mendengarnya.
“Bolehkan aku nikah muda denganmu?.” Kata gadis itu dan Jodi tak bisa menjawab.
“Sampai kapan aku harus menunggu?.” Gadis itu merengek.
“Sayang… kau kan masih kuliah.”
“Tapi kan kuliah bisa di lanjutkan setelah menikah papa.”
“Nanti kita bicarakan lagi, sekarang selesaikan dulu mandinya, papa ambil pakaianmu dulu.” Kata Jodi mengalihkan pembicaraan, seraya berlalu mengambil pakaian gadisnya yang Tomy belikan tadi. Tak lama ia kembali dan gadisnya telah keluar dari bathtub dengan tubuh berbalut handuk.
Kemudian Jodi memberikan pakaian pada gadis itu dan pergi meninggalkannya di kamar mandi.
Ia duduk di atas sofa dengan membawa pikiran yang menggelayutinya. Memikirkan keinginan gadisnya itu untuk menikah muda. Lama ia tertegun hingga tak sadar gadis itu telah berada di sampingnya.
“Papa.”
Suara panggilan itu mengejutkannya. “Kau sudah selesai sayang? Ayo kita makan.” Kemudian Jodi membuka paket makanan untuk gadis itu dan menyuapinya.
“Papa tidak makan?.”
“Nanti setelah kau makan sayang.”
“Ayo kita makan bareng, sini makananku, papa makanlah.” Ujar Berlian seraya mengambil makanannya dari tangan Jodi. Kemudian Jodi mengambil makanan miliknya diatas meja.
“Iya aku serius. Apa papa tidak sadar kalau usia papa sudah tua? Kalau menunggu sampai aku lulus kuliah, aku takut papa keburu mati.” Kata-kata gadis itu membuat Jodi terhenyak.
“Hei… teganya kau mengatai papa seperti itu hah!.”
“Memang kenyataannya papa sudah tua kan? Memangnya papa gak malu punya anak bayi diusia papa yang sudah aki-aki hah?!.”
“Tapi biar papa sudah tua papa masih ganteng kan?”
“Ganteng doang kalau gak punya istri buat apa?.”
“Hei kenapa kau menghina papa seperti itu?.”
“Makanya ayo kita menikah, biar hidup kita tenang, apa papa tidak merindukan kehadiran seorang anak dalam hidup papa? Aku akan memberikan papa banyak anak nanti.”
“Hehe… kamu bisa aja ngomong. Emangnya gak repot ngelahirin dan ngurus anak?.”
“Kan ada papa yang urus anak kita.”
“Apa?!!.”
“Iya papa sudah baik mengurusiku sejak aku kecil.”
“Lalu kalau papa mengurus anak kita, kamu kemana sayang?.”
“Aku kan kuliah. Jadi selagi aku kuliah papa yang urus anak kita.”
“Terus kalau papa kerja bagaimana anak kita?.”
__ADS_1
“Papa lupa? Sejak bayi ayah selalu membawaku ke kantornya. Dan setelah ayah meninggal, papa yang selalu membawaku kerja. Nanti giliran anak kita yang papa bawa ke kantor hehe.”
“Oya Sayang… kau tahu? papa sudah mengundurkan diri dari perusahaanmu, sekarang papa konsentrasi pada pekerjaan papa yang sesungguhnya.”
“Kenapa papa resign dari perusahaan?.” Tanya gadis itu dan Jodi terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena mungkin saja akan menjadi masalah baru jika gadis itu tahu kalau kekasihnya sangat tersinggung dengan apa yang telah di lakukan Menara dan Delima padanya.
“Tugas papa pada agen semakin sibuk hingga papa tak bisa membagi waktu sayang.” Jodi berusaha berbohong agar gadis itu tidak kecewa.
“Oh, bagus deh kalau begitu.”
“Kok bagus!.”
“Ya bagus, jadi papa bisa konsen urus anak kita nanti hehe.”
“Oya sayang. Nanti kita ke dokter ya?.”
“Untuk apa?.”
“Penjahat-penjahat itu banyak memasukan obat bius padamu sayang, papa khawatir di dalam tubuhmu ada racun akibat obat bius itu. Jadi tubuhmu harus dinetralisir dari racun itu.”
“Ya… sejak di pantai itu mereka menyuntikan sesuatu pada leherku papa… kemudian di klinik dokter itu pun mereka menyuntikan sesuatu lagi padaku. Apa obat itu sangat berbahaya papa?.” Tanya gadis itu dengan mimik khawatir. Dan Jodi tidak mungkin mengatakan pada gadis itu bahwa yang di suntikan itu adalah sejenis narkoba.
“Papa juga tidak tahu sayang, makanya kita harus cek ke dokter biar kita tahu, tapi kamu jangan khawatir selama kamu tidak merasakan apa-apa lagi berarti kamu tidak terdampak apa-apa sayang.” Jodi menenangkan gadis itu.
“Oya? Bagaimana kau bisa mengirim pesan pada papa sayang? Apa mereka tida tahu kau mengirim pesan itu?.” Sambung Jodi.
“Waktu aku mengirim pesan pada papa, aku sedang di tinggalkan sendiri di ruangan dokter itu. Dan aku mengambil kesempatan itu untuk menghubungi papa.”
“Bagus! Anak pintar.” Kata Jodi seraya mengusap pucuk kepala gadis itu. “Nanti kita pulang setelah kita tahu kalau kondisimu baik ya sayang?.”
Mendengar kata-kata Jodi gadis itu langsung terdiam.
“Kenapa?.” Tanya Jodi yang melihat perubahan pada air muka gadis itu.
“Aku tidak mau pulang.”
“Hei kenapa? Opa, oma dan ibu mu pasti sudah sangat rindu padamu.”
“Aku belum mau pulang papa.”
“Kenapa?.” Jodi sedikit heran.
“Aku takut mereka akan memisahkan kita lagi.”
“Kemari lah.” Kemudian Jodi meraih gadis itu dan memeluknya. “Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita, termasuk opa oma dan ibumu. Bukan kah kau ingin menikah denganku? Kalau kau ingin menikah denganku, bukankah aku harus minta ijin pada mereka untuk melamarmu?.”
“Aku takut mereka tidak setuju. Papa… bagaimana kalau kita kawin lari saja.” Entah mendapatkan ide dari mana tiba-tiba saja gadis itu mengatakan demikian.
“Apa?! Kawin lari? Oh sayang… itu hanya akan menjadikan masalah lebih rumit lagi. Opa mu pasti akan membenciku. Apa kau tidak kasihan padaku sayang?.”
Setelah lama berfikir, kemudian “Baiklah aku akan pulang, tapi bawa dulu aku kerumah orang tua papa.” Pinta gadis itu.
“Mau apa kau menemui mereka? Kau tahu sayang? Hubunganku dengan mereka kurang harmonis.”
“Ya sudah kalau begitu aku tidak mau pulang.” Gadis itu merajuk. Karena Jodi tidak ingin berdebat lebih lama akhirnya ia setuju.
“Baiklah… sebelum kau kembali ke rumahmu aku akan membawa kau menemui orang tuaku.” Kata Jodi dengan berat hati. Namun terlihat rona kebahagiaan dari gadis itu.
‘Hadeh… aku tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi singa itu kalau aku membawa dia pulang kerumah.’ Bathin Jodi.
Selama ini memang hubungan Jodi dengan orang tuanya, apa lagi dengan bapaknya kurang begitu dekat karena orang tua nya selalu menuntut agar ia cepat menikah setelah lama menduda, namun Jodi tak mengindahkan apa yang di inginkan orang tuanya itu, ia malah kabur dari rumahnya dan lebih memilih hidup mandiri. Bahkan ia jarang pulang ke rumahnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Jangan lupa vote Like & favorite nya ya sayang😍
Terima kasih 😘