
Begitu cepat hari berlalu hingga sampailah kini saat pertemuan Jodi dengan tuan Dae Jung. Dimana mereka akan bertemu di Hotel A pada pukul 20.00 WIB. Untuk membahas kerjasama mereka.
Berlian sudah terlihat sehat malam itu, Jodi mengajak Berlian untuk ikut dalam pertemuan itu karena ia merasa tidak tega kalau harus meninggalkan Berlian di rumah sendiri, walau banyak asisten dan pelayan di rumah, tapi tetap saja Jodi tak ingin membiarkan Berlian sendiri tanpa dirinya, karena biasanya setiap malam minggu Jodi selalu mengajak Berlian untuk jalan-jalan atau hanya sekedar nonton bioskop, jadi sekalian saja malam itu Jodi membawa Berlian pada acara pertemuan dengan tuan Dae Jung.
“Papa… sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Berlian.
“Papa ada pertemuan dengan seorang pengusaha sayang.”
“Oh.. tapi selesai itu kita ke tempat biasa ya papa?.”
“Iya dong.. pasti. Ayo sayang kita berangkat sekarang.”
Akhirnya mereka berdua naik ke dalam kuda besi mereka yang sudah terparkir dimana Riksa sudah menunggu di belakang kemudinya.
Setelah mereka semua berada di dalamnya, mobil pun melaju meninggalkan kediaman mereka.
Singkat cerita sampailah mereka di hotel A tempat pertemuan mereka itu.
Nampak tuan Dae Jung telah menunggu dengan dua orang asistennya di salah satu restoran di hotel tersebut.
Jodi dan Berlian juga Riksa mendekat ke arah tuan Dae Jung yang telah menunggu mereka.
“Maaf tuan telah membuat anda menunggu lama.” Kata Jodi sembari menyalami tuan Dae Jung.
“Oh, tidak apa-apa tuan Jo, kami juga baru sampai kok.”
“Baiklah… oya tuan Jung maaf saya membawa putri saya.”
“Oh tidak apa-apa tuan Jo. Tidak jadi masalah.”
“Terima kasih tuan Jung.” Lantas Jodi di duduk di atas kursi tepat berseberangan dengan tuan Dae Jung sementara Berlian duduk di sampingnya.
Mereka memulai pembicaraannya mengenai kerja sama antara perusahaan mereka. Terlihat dari keduanya menikmati perbincangan mereka dan sepertinya kerjasama yang akan mereka jalin mendapat respon positif dari keduanya.
Mereka membicarakan bisnis mereka dengan menikmati minuman dan makanan ringan yang telah mereka pesan sebelumnya. Sementara Berlian sibuk dengan ponselnya di samping Jodi dengan menikmati salad yang ia pesan.
Tiba-tiba dari kejauhan nampak seorang pemuda tampan menghampiri mereka. Semakin dekat pemuda itu berjalan kearah mereka, semakin jelas siapa pemuda itu.
Ya dialah Menara, pada saat Menara semakin dekat dan melihat penampakan Berlian ada di antara mereka, Menara sedikit terkejut,
‘Sedang apa nih bocah disini.’ Bathin Menara.
Begitu pun dengan Jodi, ia pun sedikit terkejut karena wajah Menara sudah tak asing lagi baginya. Jodi mengenal Menara pada saat ia mencari informasi tiga pemuda yang mengganggu putri nya itu.
‘Ngapain nih anak bengal ada di sini?.” Bathin Jodi.
“Eh Menara! Ada apa nak kamu menemui papa disini?.” Ternyata Menara adalah putra dari tuan Dae Jung.
Mendengar kata Menara, sontak Berlian mengangkat wajahnya melihat pada sosok yang baru saja datang.
“Kau!.”
“Kamu.”
Kata Berlian dan Menara bersamaan.
“Kalian saling mengenal?.” Kata tuan Dae Jung merasa tidak percaya.
“Ya.. dia adik tingkat aku pap.” Jawab Menara malas. Kemudian, “Oya, papa meninggalkan ini di rumah, lain kali asisten papa itu harus lebih teliti lagi, mama menyuruhku mengantarkan ponsel papa yang ketinggalan di rumah dan paper bag ini.” Menara menyerahkan ponsel ayahnya dan menyimpan paper bag yang ia bawa di atas meja.
__ADS_1
“Oh.. jadi kalian kuliah di tempat yang sama… bagus deh kalau begitu.” Kata tuan Dae Jung, kemudian “Ya harap di maklum saja Menara, dia kan masih baru, lain kali dia pasti akan lebih teliti lagi.”
“Oya tuan Jo, kenalkan ini putra saya satu-satunya yang akan menjadi pewaris di keluarga kami.” Dae Jung memperkenalkan putranya pada Jodi, kemudian mereka bersalaman. Sementara Berlian tidak perduli, ia tetap fokus pada ponselnya.
“Ya sudah pap aku kembali ya.” Kata Menara hendak pergi meninggalkan mereka.
“Kamu tidak mau bergabung dulu bersama kita Ra?.” Kata sang ayah.
“Aku sudah ada janji bersama teman pap.”
“Ya sudah kalau begitu pergilah… jangan pulang terlalu malam ya Ra?.”
“Iya pap, aku permisi dulu.” Kemudian Menara pergi meninggalkan tempat itu menuju basement hotel tersebut.
Setelah sampai di basement ia melangkah menuju mobil sport warna kuning miliknya, nampak di dalamnya duduk seorang wanita cantik, ya siapa lagi kalau bukan Narita kekasihnya.
“Sudah?.”
“Ya.. ayo kita cabut.” Kata Menara sembari membawa mobilnya meninggalkan basement hotel tersebut.
“Kok kamu kelihatan bete balik dari sana sayang?.”
“Gak apa-apa! Aku cuma sedikit kesal saja pada papaku.”
“Kenapa?.” Tanya Narita sembari mengusap pucuk kepala Menara yang tengah fokus menyetir.
“Dia masih saja menganggap aku anak kecil gak boleh pulang malam dan lain-lain.” Ucap kesal Menara.
“Hehe.. namanya juga orang tua sayang, sebagaimana pun anaknya sudah dewasa, tetap saja bagi mereka kamu masih bayi kecilnya.”
“Ya tapi kan aku sudah dewasa sayang. Aku gak suka masih di atur-atur mereka.”
“Ya sudah ayo.. kita ketempat biasa.”
“Yuk.” Dan mereka pun menikmati perjalanannya menuju tempat biasa yang selalu mereka datangi untuk menghabiskan setiap malam minggu mereka.
Sementara itu di dalam restoran hotel A, terlihat Jodi dan tuan Dae Jung mengakhiri pertemuannya, dan keputusan akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama dalam pengembangan perusahaan mereka berdua.
Setelah mereka bersalaman, akhirnya mereka pun berlalu meninggalkan restoran tersebut menuju mobil mereka masing-masing.
“Papa, kita jadi nonton bioskop kan?.”
“Tentu saja sayang… Rik, ketempat biasa ya?.”
“Siap Boss.”
Kemudian Riksa membawa mereka ke tempat yang biasa mereka datangi setiap malam minggu.
Singkat cerita mereka pun sampai di salah satu bioskop mewah di Jakarta, Riksa memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari Boss nya.
Dan ternyata Menara dan Narita pun berada di tempat yang sama. Menara duduk di kursi tepat di belakang tempat duduk Berlian dan Jodi yang hanya terhalangi satu baris deretan kursi saja, sehingga sudah dapat di pastikan Menara dapat melihat Berlian dan Jodi, sementara Berlian tidak mengetahui kalau Menara bersama kekasihnya ada pada bioskop yang sama.
Menara terus memperhatikan Berlian yang duduk berdampingan dengan Jodi, sampai film di putar pun Menara terus memperhatikannya sehingga membuat ia tidak fokus pada tontonannya.
Menara melihat Berlian menyandarkan kepalanya pada bahu Jodi, dan kadang terlihat Berlian menatap mesra Jodi yang berada di sampingnya.
Melihat penampakan itu Menara menangkap sesuatu yang lain.
‘Katanya lelaki itu papanya, tapi kok gue ngelihat ada sesuatu yang lain ya?’ Bathin Menara, ‘Bahasa tubuh mereka seperti pasangan kekasih saja.’ Bathin menara kembali.
__ADS_1
“Sayang kenapa? Kok kamu terlihat melamun?.”
“Gak apa-apa sayang.” Menara mengelak dan kembali fokus pada film nya.
Sementara Berlian tetap menikmati tontonannya sembari terus memeluk tangan kiri Jodi dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekar itu, terlihat sesekali Jodi mencium pucuk kepala gadis itu dan membuat Menara semakin di buat bingung melihat penampakan itu.
Sampai pada akhirnya mereka pun selesai menikmati malam minggunya di bioskop tersebut.
“Sayang, sekarang kita pulang ya?.”
“Iya papa.”
Sementara Menara dan kekasihnya yang berjalan di belakang mereka saat mengentri keluar dari pintu bioskop tetap memperhatikan mereka.
Riksa yang sudah menunggu tidak jauh dari pintu keluar bergegas menghampiri mereka.
“Kita langsung pulang Boss?.”
“Iya Rik kita langsung pulang saja.”
Kemudian mereka bertiga pun berlalu meninggalkan tempat itu menuju kuda besi mereka yang terparkir di luar, sementara Menara dan kekasihnya berlalu ke arah yang berlawanan karena tempat parkir kendaraan mereka agak jauh dari tempat itu.
Sesampainya di rumah Berlian masuk kedalam kamarnya.
“Papa.. makasih udah nemenin aku nonton.”
“Iya sayang… sekarang kamu istirahat ya?.”
“Iya papa.” Kemudian Berlian mencium pipi Jodi. Dan Jodi pun mencium pucuk kepala putrinya itu lalu pergi menuju kamarnya.
Sepeninggalan Jodi, Berlian di dalam kamarnya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah membersihkan diri ia naik ke atas tempat tidurnya untuk beristirahat.
Karena yang ia tonton tadi adalah sebuah film drama romantis, sehingga membekas dalam ingatannya hingga terbawa ia ke alam mimpi.
Di dalam mimpinya itu ia tengah melangsungkan pernikahan seperti yang tadi ia lihat dalam tontonannya, Tentunya yang menjadi pasangan prianya adalah si papa Jodi.
Betapa bahagianya ia karena dapat menikah dengan seorang lelaki yang ia dambakan selama ini, meski rasa cintanya hanya ia rasakan sendiri, namun sudah cukup mewakilkan bahwa semua itu sangat membuatnya bahagia. Apalagi perlakuan Jodi selama itu begitu hangat dan nyaman ia rasakan. Sehingga ia merasa tak ada penolakan dari papanya itu.
Aneh nya Jodi pun memimpikan hal yang sama, di dalam mimpinya ia melangsungkan pernikahan dengan Berlian, hingga membuat nya terjaga dari mimpinya itu.
“Aaarggh… apa-apaan ini! Kenapa mimpinya seperti itu? Aneh-aneh saja!.” Bathin Jodi sedikit kesal.
Kemudian ingatannya membawa ia pada sosok Menara yang ia temui pada saat pertemuan tadi bersama tuan Dae Jung.
“Oh… ternyata anak nakal itu putranya tuan Dae Jung.. awas saja kalau kau berani mengusik putriku. Ku adukan kau pada papamu!.” Gumam Jodi.
Lalu ia kembali mencoba memejamkan matanya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
*
__ADS_1