
Mentari menyinari seluruh permukaan bumi kala pagi menyapa setiap diri untuk kembali menyambut aktivitasnya setelah beristirahat dalam peraduan malam.
Pagi itu di pinggiran suatu kota, terlihat Berlian dan bayi mungilnya telah terjaga dari peraduannya. Bayi yang selalu tersenyum itu sudah rapi dengan pakaian wanginya diatas pangkuan sang ibu. Meski keduanya tak mengenal sinar matahari pagi, terlebih sang bayi yang sejak lahir tak kenal dengan sinarnya, namun keduanya selalu tersenyum menyambut setiap pagi yang mereka lalui.
Sepi iya, mereka rasakan karena mereka hanya berdua hidup di bawah tanah yang mengurungnya, namun ikatan Bathin dari keduanya tak memperdulikan sekitar yang seolah tak memberi restu menghirup kebebasan, namun walau pun demikian mereka selalu memberikan senyuman di setiap harinya.
“Sayang… suatu hari nanti mama akan mengenalkan kau pada sang surya dengan sinarnya yang menghangatkan. Maaf kan mama kau terlahir dengan segala keterbatasan, bahkan cahaya matahari pun menjadi sesuatu yang mahal bagimu. Mama sedih, kau tak dapat menghirup udara kebebasan dan tak pernah mendengar nyanyian alam yang menyenangkan. Namun kita harus tetap bersemangat menyambut hari, karena di depan, masih banyak kesempatan untuk kita. Kita doakan semoga papa lekas menjemput kita. Jika kita telah keluar dari tempat ini, mama akan membawamu tinggal di perkebunan yang sejuk dan damai, dimana disana tak akan ada orang jahat yang mampu memisahkan kita.” Ucap Berlian pada bayinya.
Melihat ibunya bercakap dengannya, sang anak memandangi dan sesekali tertawa. Bayi kecil yang mirip dengan wajah sang ayah itu selalu terlihat bahagia meski ia tengah berada dalam kurungan. Ia tak tahu akan kesedihan yang dirasakan oleh orang yang tengah berbicara dengannya. Yang ia tahu, berada pada dekapan sang ibu adalah hal yang membuatnya merasa aman.
Ditengah kebersamaan mereka tiba-tiba Alfredo memecah keakraban antara ibu muda dan bayi kecil itu.
“Nyonya mari ikut denganku. Bukankah putramu butuh sinar mentari pagi?.” Kata Alfredo.
“Ya dokter.” Balas Berlian seraya bangkit dari duduknya dengan bayi kecil di atas pangkuannya.
Berlian mengikuti langkah Alfredo menaiki anak tangga. Deru nafas yang memacu mengiringi langkah kakinya menyambut mentari pagi yang sudah berbulan-bulan ia rindukan.
Terlihat ia sudah keluar dari pintu bunker itu. Udara kesegaran menyeruak memeluk tubuhnya dan putranya. Angin pagi terasa hangat seakan menyambutnya dan mengiringi langkahnya.
Bola mata indahnya memandangi sekitar, mencoba berkenalan dengan penampakan baru yang ia lihat. Sampai pada pintu utama semilir angin menebas wajah pucat nya saat pintu itu terbuka. Menetes air mata di sudut pipinya, bagai rasa rindu pada sang kekasih ia memeluk pagi.
‘Selamat pagi mentari… aku kira aku tak akan pernah melihatmu kembali. Namun Tuhan masih memberi kesempatan padaku untuk masih dapat merasakan kehadiranmu… aku kira aku masih harus merindukanmu dalam kurun waktu yang masih panjang. Bersyukurlah putraku, hari ini aku dapat memperkenalkanmu pada cahaya yang kau rindukan.’ Bathin Berlian yang tak henti-hentinya mensyukuri paginya.
Ia duduk di atas kursi taman depan rumah putih itu. Alfredo berdiri di depan pintu dengan melipat kedua tangan di dadanya.
Wajah cantik yang nampak dalam pandangannya memanjakan matanya.
‘Cantik… benar-benar cantik… aku bahagia kau berada dekat denganku. Dibawah mentari pagi kau lebih sempurna. Pantas saja lelaki tua itu begitu menjunjung nafsu atas dirimu. Aku tak akan membiarkanmu kembali padanya. Aku yang pantas berada di sisimu. Mendampingimu dan memilikimu seutuhnya.’ Bathin Alfredo dalam lamunan kala tatapannya terus memandangi wajah Berlian.
Tanpa ia sadari sebuah mobil memantau keberadaan mereka.
Sepasang mata meremang menatap sang perempuan dari kejauhan.
‘Tuhan… terima kasih kau masih mengijinkanku melihat wajah cantik itu. Aku tak percaya dapat melihat belahan jiwaku kembali dan melihat putraku disana. Aku merindukan mereka Tuhan.’ Lirih Jodi dalam bathinnya kala sepasang matanya menatap sang istri yang tengah memangku putranya dari kejauhan.
Tak terbendung rasa rindu yang membuncah dalam hatinya, ingin rasanya ia mengaung memanggil sosok yang dirindukannya itu, hingga tak sadar ia hendak membawa dirinya kesana. Namun salah seorang tim menarik tangannya.
“Boss jangan lakukan sekarang!.”
“Sal, dia istri dan anak gue! Gue rindu sama mereka, gue harus membawa mereka sekarang. Gue gak terima lelaki psikopat itu memandanginya seperti itu.” Paksa Jodi.
“Sabar Boss. Coba Boss perhatikan! Jarak kita jauh untuk mencapai target. Saat Boss berlari ke arahnya, bajingan itu dapat dengan mudah mencegah karena jaraknya lebih dekat. Ingat! Istri dan putra Boss sekarang menjadi tawanannya. Mending pada saat dia melihat boss hanya mengamankan mereka dan memasukkannya kembali ke dalam bunker, bagaimana jika dia melakukan hal yang tidak pernah kita duga. Dia psikopat! Memproduksi racun mematikan. Bagaimana jika dia mengancam dengan racun itu pada istri dan anak Boss. Tolong perhatikan itu!.” Jelas Faisal.
Jodi terdiam, sepertinya ia mengerti dengan apa yang di katakan Faisal itu.
“Iya Boss! Kita sama-sama tahu. Itu manusia selicin ular, maka untuk melawannya pun kita harus lebih licin dari dia. Gue rasa, sabar sebentar dapat merubah keadaan, percayalah.” Sambung Riksa.
Dengan tangan mengepal yang menjadi tumpuan mulutnya, Jodi memandangi istri dan putranya yang tengah duduk di atas kursi kayu. Mata yang berkaca-kaca itu terus memandangi seakan enggan berpaling.
“Meskipun kita membawa senjata biologis untuk melumpuhkannya, tapi rasanya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggunakannya Boss, gue khawatir dia akan lebih jauh berlari dan semakin sulit menangkapnya. Sekarang buruan kita sudah ada di depan mata, kita tinggal menunggu dia lengah saja. Bukan kah untuk menangkap binatang liat kita harus mengendap tanpa suara? Cara seperti itu lah yang kita butuhkan untuk menangkap bajingan itu.” Ujar Riksa.
“Ya. Bukankah selama ini Boss selalu mengajarkan pada kita untuk selalu hati-hati dalam mencapai target? Sekaranglah waktunya Boss mengamalkan kata-kata Boss itu.” Sambung Faisal.
“Ya gue tahu itu. Gue hanya ngerasa sudah tidak sabar untuk membawa mereka pulang.” Ujar Jodi dengan tatapan yang terus menjurus kepada istri dan putranya.
“Kita akan membawanya pulang. Kita pasti akan dapat membawanya pulang dalam keadaan selamat Boss. Tapi tidak hari ini karena situasinya tidak mendukung. Kalau Boss tak percaya, silahkan Boss coba sendiri.” Timpal Riksa.
“Gue curiga dia akan selalu membawa senjatanya dalam suntikan, apalagi di saat posisi tawanannya ada dalam kondisi yang dapat memungkinkan ia kabur. Jarak kita dibandingkan dengan jaraknya tidak sebanding Boss. Itu yang harus kita pikirkan.” Jelas Faisal.
Sesaat hening diantara mereka. Tak terdengar lagi perdebatan hanya tatapan pada target yang sama mereka lakukan kini.
Sementara Berlian yang tengah memangku sang putra tiba-tiba saja merasakan getaran yang hebat pada jantungnya, seolah mengisyaratkan pada bathinnya bahwa sosok yang dirindukannya sangatlah dekat. Hatinya mengisyaratkannya untuk menjuruskan pandangannya pada arah timur laut, dimana sang cinta tengah memandanginya. Namun sudut matanya melihat ke arah utara dimana sang pengawas tengah mengamatinya.
__ADS_1
‘Papa… aku merasa kau begitu sangat dekat. Aku dapat merasakan kehadiranmu. Tapi dimanakah kau papa. Apa jiwamu tengah menyambangi keberadaanku di sini? Atau memang kau hadir dalam sembunyimu?. Papa… cepatlah datang dan bawa aku bersama putra kita pergi. Jika kau ada di dekatku, akan lebih baik kau membawaku pergi sekarang meski hari ini adalah hari terakhir kita. Karena mungkin saja hari esok bukan milik kita lagi.’ Bathin Berlian dalam tubuh yang mematung menunduk merasakan kehadiran sang cinta.
Namun suara panggilan Alfredo menggugah bisikan nalurinya. “Nyonya, sepertinya hari ini sudah cukup anda berada diluar. Masuklah.” Titah Alfredo.
Suara itu seakan menghipnotisnya, membawa diri Berlian bangkit dari atas kursi itu dan berlalu masuk kedalam rumah.
Jodi yang melihat penampakan itu, memaku tatapannya yang berkaca menyiratkan ketidak relaannya atas kepergian sang wanita dari pelupuk matanya.
‘Please jangan dulu beranjak pergi baby… aku masih ingin melihatmu.’ Gumam Jodi seraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Tubuh pujaan hatinya tenggelam di balik pintu yang membentengi pandangannya. Ia tertunduk kaku merasakan sakit yang menyesakkan dadanya. Kemudian,
“Jalan Rik.” Titahnya pada sang asisten. Dan kuda besi yang mereka tumpangi pun membawanya pergi dari tempat itu.
Mobil melaju dalam kecepatan sedang dan berhenti kira-kira pada jarak 200 meter dari rumah putih tersebut tepat pada posisi di belakang rumah itu.
Sang asisten dan anggota lain menunggu perintah dari sang Boss yang masih terdiam.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang Boss?.” Tanya Faisal.
“Tembakan beberapa penyadap pada setiap sisi dari rumah itu.” Perintah sang Boss.
“Siap Boss.” Jawab kompak dari dua orang tim yang kemudian turun dari dalam mobil dengan membawa alat kecil seperti senjata yang akan digunakan untuk menembakkan alat penyadap yang bentuknya sebesar baterai jam tangan.
Terlihat Jodi turun dari dalam kendaraan dan berjalan memasuki hutan tepat di belakang rumah target. Ia mengamati sekitar mencari posisi yang nyaman untuk mengamati rumah itu dari atas bukit.
Riksa mengikuti langkahnya dari belakang. Kemudian, “Sepertinya memantau si bangsat itu di titik ini cocok Boss.” Kata Riksa.
“Ya, dan gue rasa bunker itu terletak di belakang sini. Gue akan mencoba turun ke bawah mengitari belakang rumah itu, elo pantau dari atas sini ya Rik?.”
“Siap Boss!.” Jawab Riksa.
Kemudian Jodi turun dari tebing hutan menuju belakang rumah itu. Sesampainya di halaman belakang, ia kemudian memakai topinya dan maskernya agar wajahnya tak dikenali karena siapa tahu di belakang rumah itu terpasang kamera pengawas.
Ia mengitari halaman belakang rumah itu dengan mengendap-endap.
Ia tak menemukan apa pun pada permukaan tanah tersebut, kemudian beralih ke permukaan yang lainnya.
Setelah beberapa kali berpindah tempat akhirnya pada permukaan kali ini ia menemukan signal adanya ruangan kosong di bawah sana.
Entah apa yang ia lakukan dengan alat tersebut disana. Terlihat ia begitu fokus dengan alat itu.
Sementara itu, Berlian yang berada di dalam bunker tersebut, merasakan sesuatu dari atas langit-langit ruangannya.
Dengan cepat ia meletakan putranya di atas tempat tidur, dan beranjak mengitari ruangan dengan melihat ke atas langit-langit.
Ia sepertinya mendengar adanya suara samar-samar terdengar dari atas sana. Gelombang elektromagnetik yang Jodi kirimkan dari atas permukaan tanah sepertinya sampai pada Berlian yang berada di bawah sana.
Namun Berlian tidak tahu apa yang harus di lakukannya di bawah sana. Ia hanya dapat mengamatinya dengan menjuruskan pandangannya ke atas langit-langit bunker itu.
‘Ya Tuhan… suara apa itu? Apakah itu merupakan signal yang dikirim oleh seseorang dari atas sana?.’ Gumam Berlian.
Sesaat ia terdiam, kemudian mencari-cari sesuatu untuk membalas suara yang bersumber dari atas sana. Namun ia tak dapat menemukan sesuatu. Akhirnya ia menaiki anak tangga berharap ia dapat menyentuh langit-langit dari atas ujung tangga dengan menggunakan alat bantu mainan putranya, tapi sayang sungguh sayang kaki kanan Berlian terpeleset pada saat sudah sampai di ujung anak tangga paling atas.
Ia terjatuh dan terguling di atas tangga dan kepalanya membentur ujung tangga membuat ia hilang kesadaran.
Terlihat darah mengalir dari kepalanya sementara tubuhnya kaku tak sadarkan diri.
Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri di bawah sana hingga pada saat Alfredo hendak masuk ke dalam bunker itu, ia melihat penampakan Berlian yang sudah terkapar di lantai dengan kepala bersimbah darah.
“Nyonya… apa yang terjadi?.” Seru Alfredo seraya menuruni anak tangga meraih tubuh Berlian membawanya keluar dari bunker.
Alfredo meletakkan tubuh Berlian di atas tempat tidur kamarnya, kemudian terlihat ia menghubungi seseorang.
__ADS_1
Setelah ia menghubungi seseorang, lalu ia memberikan pertolongan pertama pada Berlian. Ia membersihkan darah yang mengalir dari kepalanya dan memeriksa tubuhnya.
Singkat waktu, datanglah seseorang yang ia hubungi tadi. Ternyata Alfredo menghubungi temannya yang bernama Andre.
“Andre cepat! tolong kamu periksa seseorang di dalam kamarku.” Kata Alfredo seraya menarik tubuh Andre masuk kedalam kamarnya.
“Kamu kan bisa memeriksanya sendiri Al, aku kita kamu menyuruhku kesini ada apa. Siapa wanita itu? Apa dia Krista pacarmu itu?.” Tanya Andre heran kala ia melihat penampakan Berlian yang terbujur kaku di atas tempat tidur.
“Jangan dulu banyak tanya Dre, periksa saja dulu dia.” Kekeuh Alfredo.
Kemudian tanpa bertanya lagi Andre langsung memeriksa Berlian. Selagi Andre memeriksa Berlian, Alfredo pergi keluar kamar menuju bunker untuk mengambil bayi Berlian.
Setelah Alfredo mengambil bayi Berlian dan memastikan pintu bunker itu tertutup aman, berharap Andre tak mengetahui kalau ia telah membuat bunker dirumah itu. Kemudian ia masuk kedalam kamarnya dengan memangku bayi Berlian.
Bersamaan dengan itu Andre pun telah selesai memeriksa Berlian.
“Yang kau gendong bayi nya?.” Tanya Andre pada Alfredo, terlihat Alfredo hanya menganggukan kepalanya, kemudian,
“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?.” Tanya Alfredo datar.
“Untuk saat ini dia baik-baik saja. Kita lihat saja setelah dia siuman nanti. Sekarang katakan padaku siapa mereka?” Tanya Andre penasaran.
Setelah lama berpikir Alfredo menjawab, “Dia wanitaku! Tapi bukan Krista.”
“Apa?! Lalu anak itu?.”
Jawaban Alfredo mengejutkan Andre karena ia tidak pernah tahu kalau Alfredo dekat dengan wanita lain selain wanitanya Krista yang pernah Andre dengar dari mulut Alfredo.
“Jika anak ini anaknya tentu anak ini juga anakku.”
Andre hanya menghela nafas mendengar jawaban Alfredo.
“Kau tidak pernah cerita padaku kau memiliki seornag wanita dan memiliki seorang bayi.”
“Sekarang kau sudah tahu. Ya sudah.”
“Ah kamu semakin aneh saja Mr.Anomali, selalu penuh misteri.”
Ditengah-tengah perbincangan mereka, terlihat ada pergerakan dari tubuh Berlian, sepertinya ia mulai siuman.
Alfredo mendekat dan berdiri di samping tubuh Berlian yang terlihat mulai membuka matanya perlahan.
“Aku dimana?.” Suara lemah Berlian.
“Tentu saja kau berada di rumah kita.” Jawab Alfredo.
“Siapa kalian?!.” Tanya Berlian.
Sontak Alfredo sedikit terkejut saat Berlian bertanya dan sepertinya ia tidak mengenali dirinya.
Namun Alfredo tak kehilangan akal, justru Berlian yang terlihat seperti tak mengenalinya ia gunakan untuk manfaatkan situasi itu.
“Aku suamimu, dan ini putra kita. Dia adalah dokter Andre yang memeriksamu, kau tadi terjatuh dan kepalamu terbentur ke lantai.” Kata Alfredo.
Berlian terlihat bingung, memandangi Alfredo dan Andre bergantian juga memandangi putranya.
“Lalu, siapa aku? Dan siapa namaku?.”
“Kau tentu saja istriku. Namamu Lolita. Mungkin karena kau tadi terjatuh jadi kepalamu masih pusing sehingga kau tak mengenali dirimu sendiri juga tak mengenali aku suamimu, sekarang kau Susuilah putramu ini, aku akan bicara dulu dengan dokter Andre di luar.” Balas Alfredo seraya menyerahkan bayi Berlian diatas pangkuannya dan mengajak Andre keluar meninggalkan kamar itu.
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih reader yang tetap setia nongkrongin cerita ini😍😍
__ADS_1
Tetap Like, vote dan favoritenya ya?!🥰
Terima kasih💖