
“Kenapa muka elo Ra?.” Tanya Yosan yang kala itu masuk kedalam kamar Menara.
Menara memang menghubungi Yosan untuk datang ke rumah nya hari itu.
“Abis duel gue sama si Arash!.”
“WHAT!! Seriusan!? Gue pikir elo cuma becanda.”
“Gue gak pernah maen-maen kalau urusan beginian!.”
“Terus! Gimana?.”
“Ya gitu! Dia nantangin gue buat dapetin Berlian!.”
“Udah deh elo jangan ladenin dia, dia emang agak-agak sinting gitu orangnya semenjak jadi maenan tante-tante.”
“Gue gak bisa biarin dia milikin Berlian Yos. Elo tahu sendiri kan kalau dia tuh orientasinya duit? Gue curiga dia gak bener-bener sayang sama Berlian. Pastinya dia cuma ngincer warisannya doang.”
“Kan kita sama-sama tahu kalau si Berlian udah kawin sama papanya. Terus yang kalian ributin itu apa sebenarnya? Berarti kalian harus rebut Berlian dari papanya dong?.”
“Gak tahu juga sih. Ya bisa aja kan? si Arash pikirannya emang kesana?.”
“Udah deh ngapain juga elo ngurusin bini orang, mending yang pasti-pasti aja deh. Cewek yang masih lajang kan banyak, elo mau yang kayak gimana juga bisa.”
Mendengar apa yang Yosan katakan Menara terdiam.
“Ra, dosa loh ganggu bini orang. Mending yang aman aja Deh, si Arash mah biarin aja.”
“Iya iya ah cerewet.” Kata menara sembari memegang rahangnya dan meringis karena rasa perih pada luka di wajahnya.
...........
Sementara itu di markas besar. Nampak Jodi dan Berlian tengah menikmati makan siang yang berubah jadwalnya menjadi jam tiga sore, karena jadwal makan siangnya melar digantikan dengan jadwal bertempur di atas ranjang.😂
Terlihat Jodi dan Berlian makan dengan lahapnya hingga masing-masing menghabiskan dua porsi. Maklum saja karena energi mereka terkuras habis akibat goyang mujair.🤣 wkwkwkwk
“Sayang… pelan-pelan makannya.” Kata Jodi pada istrinya kerena melihat mulut istrinya penuh dengan makanan.
“Aku lapar banget papa.”
“Iya tapi pelan-pelan, nanti kesedak.”
Ditengah-tengah mereka menikmati makanannya masuklah Riksa ke dalam ruangan Jodi.
Melihat dua kotak sisa makanan di meja, Riksa merasa heran,
“Ini bekas makan siapa?.” Tunjuk Riksa pada dua kotak nasi tersebut.
“Tuh!.” Jodi menunjuk dengan wajahnya pada Berlian sembari melahap makanannya.
“Beneran ini bekas tuan putri? Banyak banget makannya kayak abis nyangkul aja hehe.”
“Abis goyang ngebor dia jadi laper.” Sahut Jodi.
“Oh pantesan kalau gitu. Pasti dalem banget ya ngebornya? Sampe kelaparan gitu? Hehe.” Celoteh Riksa.
“Papa aku hamil kali ya? makannya bareng sama Ade bayi di dalam.” Ucap polos Berlian.
“Mana bisa hamil sayang… orang adonannya aja baru masuk.” Balas Jodi.
“Iya tuan putri, gak bisa langsung jadi, butuh proses, emangnya bayi alien hehe.” Celoteh Riksa kembali.
Kemudian Jodi menanyakan maksud dan tujuan Riksa datang ke ruangannya, “Ada apa Rik?.”
“Ini mau nanyain kasus yang di negara A itu Boss, kapan kita mulai meeting nya?.”
“Kan ada dua kasus. Yang mau di bahas kasus yang mana dulu nih?.”
“Itu yang masalah korbannya anak-anak lelaki itu loh Boss.” Kata Riksa seraya mengedipkan matanya sebagai kode untuk tidak memperjelas karena ada Berlian disana.
“Oh yang itu. Udah besok aja deh sekarang udah sore bentar lagi kita balik.”
“Ok kalau gitu, gue bilang dulu sama tim.” Kata Riksa yang kemudian berlalu meninggalkan ruangan Jodi.
Setelah urusan mereka di markas selesai akhirnya mereka pun kembali ke kediaman mereka karena hari sudah mulai malam.
Sesampainya di rumah Opa dan oma Berlian mesem-mesem melihat keakraban cucunya dan suaminya.
“Udah ada yang baikan nih rupanya?.” Celoteh sang oma.
“Nah gitu dong kan rapi kelihatannya, gak ada yang nangis-nangis lagi. Gak ada yang ngamuk-ngamuk lagi hehe.”
“Oma ih..” Sepertinya Berlian tidak mau membahas sesuatu yang membuatnya malu, dengan cepat ia naik menuju kamarnya.
“Saya tinggal ke kamar dulu bu.” Kata Jodi seraya menyusul Berlian yang sudah duluan masuk kamar.
Sesampainya di kamar, Jodi mendapati istrinya tengah Berganti pakaian, Jodi mendekat ke arah istrinya sembari membuka dasinya, namun pada saat pandangannya mengarah pada kolong meja rias, ia melihat kalung yang pernah ia lempar saat peristiwa malam sweet seventeen itu.
Perlahan ia mengambilnya kemudian mengamati kalung itu, sebentar kemudian memberikannya pada istrinya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Berlian diam sejenak kala Jodi memberikan kalung itu dengan tampang dinginnya.
“Papa…” Sepertinya Berlian hendak menjelaskan sesuatu namun Jodi beringsut pergi menuju kamar mandi.
Melihat perubahan pada air muka suaminya setelah mendapati kalung itu, Berlian merasa tidak enak di buatnya dan berniat menunggu suaminya sampai selesai keluar dari kamar mandi. Ia ingin menjelaskan semuanya.
Namun setelah suaminya keluar dari kamar mandi, ia malah langsung berlalu ke luar kamar, Berlian Menyadari akan semua itu, ia berniat akan menjelaskannya pada saat mereka akan tidur.
Namun sampai larut malam, tak juga suaminya kembali ke kamar. Ia menduga suaminya tengah di ruang kerjanya, lalu ia berlalu menuju ruang kerja itu.
Sesampainya di ruang kerja, ia mendapati suaminya tengah duduk di kursi kerjanya dengan posisi favoritenya, yaitu meluruskan kakinya ke meja dengan menumpangkan kaki kanan pada kaki kirinya.
“Ada apa? Kenapa belum tidur?.” Tanya sang suami kala melihat kemunculan istrinya di balik pintu.
Kemudian Berlian mendekat, “ Papa aku mau bicara masalah ini.” Berlian menunjukan kalung itu.
__ADS_1
“Apa yang akan kau katakan?.” Tanya Jodi dengan tampang dinginnya, dan Berlian menyadari suaminya menjadi dingin di sebabkan karena kalung itu.
“Kalung ini hadiah ulang tahunku dari kak Arash malam itu papa.”
“Oh jadi dia yang kamu temui?.” Terlihat Berlian mengangguk, kemudian “Apa lagi yang dia lakukan padamu?.” Tanya Jodi menyelidik.
“Di apartemen itu kami hanya makan kemudian berbincang.” Ucap Berlian dengan mimik gugupnya karena khawatir akan kemarahan suaminya.
“Itu saja?!.” Tegas Jodi.
“Iya papa.”
“Yakin?.”
“Iya.”
“Kemarilah!.” Seru Jodi, kemudian Berlian mendekat.
Setelah istrinnya mendekat tepat di sampingnya, Jodi pandangi istrinya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki yang kala itu Berlian memakai gaun tidur minim.
“Apa dia menyentuhmu seperti ini?.” Jodi mengelus tangan Berlian.
“Tidak papa.”
“Apa dia menyentuhmu seperti ini?.” Jodi meletakan tangannya pada kaki bagian atas istrinya kemudian mengelus lembut membuat darah Berlian mendesir hingga ia harus menarik nafas.
“Mh.. tidak papa, dia tidak menyentuhku sama sekali.”
“Duduklah disini.” Titah Jodi seraya menurunkan kakinya dari atas meja, kemudian pengarahkan pandangannya agar Berlian duduk di atas pangkuannya, lalu Berlian duduk diatas pangkuannya.
“Kuharap kau benar-benar jujur padaku. Aku tidak suka di bohongi, kalau ternyata kau ketahuan berbohong, aku akan pergi meninggalkanmu. Kau faham?.” Bisik Jodi tepat di telinga istrinya yang kala itu duduk diatas pangkuannya, membelakangi dirinya.
Perlahan Jodi memeluk pinggangnya yang ramping itu, Kemudian, “Sekarang apa yang akan kau lakukan pada kalung itu?.” Bisik Jodi yang kala itu mengalihkan wajahnya pada ceruk leher Berlian.
“Aku tidak akan memakainya papa, Hm.. akan aku berikan pada papa dan terserah papa mau melakukan apa pada kalung itu.” Ucap Berlian.
“Berikan kalung itu padaku!.” Desis Jodi tepat di tengkuk istrinya. Sementara tangan kanannya mengambil kalung yang ada di tangan kanan istrinya itu.
Setelah kalung itu pindah ke tangannya kemudian ia membuka laci meja kerjanya lantas memasukan kalung itu kesana.
Kembali tangannya memeluk tubuh ramping itu kemudian ia topangan wajahnya pada pundak istrinya. Lalu, “Aku tak suka kau memakai barang pemberian lelaki lain, kau hanya boleh memakai apa yang ku berikan padamu. Kau faham?.” Bisiknya.
Terlihat Berlian mengangguk. Tak lama kemudian,
“Kau hanya milikku, tak akan ku biarkan lelaki mana pun menikmatimu, jika itu terjadi maka ia siap berperang dengan ku.” Bisik Jodi.
Kemudian Jodi mengecup pipi istrinya dan membawanya kedalam kamar mereka.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Jangan lupa Like, coment, vote & favoritenya say😍
Thank you😘😘
“Kenapa muka elo Ra?.” Tanya Yosan yang kala itu masuk kedalam kamar Menara.
Menara memang menghubungi Yosan untuk datang ke rumah nya hari itu.
“Abis duel gue sama si Arash!.”
“WHAT!! Seriusan!? Gue pikir elo cuma becanda.”
“Gue gak pernah maen-maen kalau urusan beginian!.”
“Terus! Gimana?.”
“Ya gitu! Dia nantangin gue buat dapetin Berlian!.”
“Udah deh elo jangan ladenin dia, dia emang agak-agak sinting gitu orangnya semenjak jadi maenan tante-tante.”
“Gue gak bisa biarin dia milikin Berlian Yos. Elo tahu sendiri kan kalau dia tuh orientasinya duit? Gue curiga dia gak bener-bener sayang sama Berlian. Pastinya dia cuma ngincer warisannya doang.”
“Kan kita sama-sama tahu kalau si Berlian udah kawin sama papanya. Terus yang kalian ributin itu apa sebenarnya? Berarti kalian harus rebut Berlian dari papanya dong?.”
“Gak tahu juga sih. Ya bisa aja kan? si Arash pikirannya emang kesana?.”
“Udah deh ngapain juga elo ngurusin bini orang, mending yang pasti-pasti aja deh. Cewek yang masih lajang kan banyak, elo mau yang kayak gimana juga bisa.”
Mendengar apa yang Yosan katakan Menara terdiam.
“Ra, dosa loh ganggu bini orang. Mending yang aman aja Deh, si Arash mah biarin aja.”
“Iya iya ah cerewet.” Kata menara sembari memegang rahangnya dan meringis karena rasa perih pada luka di wajahnya.
...........
Sementara itu di markas besar. Nampak Jodi dan Berlian tengah menikmati makan siang yang berubah jadwalnya menjadi jam tiga sore, karena jadwal makan siangnya melar digantikan dengan jadwal bertempur di atas ranjang.😂
Terlihat Jodi dan Berlian makan dengan lahapnya hingga masing-masing menghabiskan dua porsi. Maklum saja karena energi mereka terkuras habis akibat goyang mujair.🤣 wkwkwkwk
“Sayang… pelan-pelan makannya.” Kata Jodi pada istrinya kerena melihat mulut istrinya penuh dengan makanan.
“Aku lapar banget papa.”
“Iya tapi pelan-pelan, nanti kesedak.”
Ditengah-tengah mereka menikmati makanannya masuklah Riksa ke dalam ruangan Jodi.
Melihat dua kotak sisa makanan di meja, Riksa merasa heran,
“Ini bekas makan siapa?.” Tunjuk Riksa pada dua kotak nasi tersebut.
“Tuh!.” Jodi menunjuk dengan wajahnya pada Berlian sembari melahap makanannya.
__ADS_1
“Beneran ini bekas tuan putri? Banyak banget makannya kayak abis nyangkul aja hehe.”
“Abis goyang ngebor dia jadi laper.” Sahut Jodi.
“Oh pantesan kalau gitu. Pasti dalem banget ya ngebornya? Sampe kelaparan gitu? Hehe.” Celoteh Riksa.
“Papa aku hamil kali ya? makannya bareng sama Ade bayi di dalam.” Ucap polos Berlian.
“Mana bisa hamil sayang… orang adonannya aja baru masuk.” Balas Jodi.
“Iya tuan putri, gak bisa langsung jadi, butuh proses, emangnya bayi alien hehe.” Celoteh Riksa kembali.
Kemudian Jodi menanyakan maksud dan tujuan Riksa datang ke ruangannya, “Ada apa Rik?.”
“Ini mau nanyain kasus yang di negara A itu Boss, kapan kita mulai meeting nya?.”
“Kan ada dua kasus. Yang mau di bahas kasus yang mana dulu nih?.”
“Itu yang masalah korbannya anak-anak lelaki itu loh Boss.” Kata Riksa seraya mengedipkan matanya sebagai kode untuk tidak memperjelas karena ada Berlian disana.
“Oh yang itu. Udah besok aja deh sekarang udah sore bentar lagi kita balik.”
“Ok kalau gitu, gue bilang dulu sama tim.” Kata Riksa yang kemudian berlalu meninggalkan ruangan Jodi.
Setelah urusan mereka di markas selesai akhirnya mereka pun kembali ke kediaman mereka karena hari sudah mulai malam.
Sesampainya di rumah Opa dan oma Berlian mesem-mesem melihat keakraban cucunya dan suaminya.
“Udah ada yang baikan nih rupanya?.” Celoteh sang oma.
“Nah gitu dong kan rapi kelihatannya, gak ada yang nangis-nangis lagi. Gak ada yang ngamuk-ngamuk lagi hehe.”
“Oma ih..” Sepertinya Berlian tidak mau membahas sesuatu yang membuatnya malu, dengan cepat ia naik menuju kamarnya.
“Saya tinggal ke kamar dulu bu.” Kata Jodi seraya menyusul Berlian yang sudah duluan masuk kamar.
Sesampainya di kamar, Jodi mendapati istrinya tengah Berganti pakaian, Jodi mendekat ke arah istrinya sembari membuka dasinya, namun pada saat pandangannya mengarah pada kolong meja rias, ia melihat kalung yang pernah ia lempar saat peristiwa malam sweet seventeen itu.
Perlahan ia mengambilnya kemudian mengamati kalung itu, sebentar kemudian memberikannya pada istrinya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Berlian diam sejenak kala Jodi memberikan kalung itu dengan tampang dinginnya.
“Papa…” Sepertinya Berlian hendak menjelaskan sesuatu namun Jodi beringsut pergi menuju kamar mandi.
Melihat perubahan pada air muka suaminya setelah mendapati kalung itu, Berlian merasa tidak enak di buatnya dan berniat menunggu suaminya sampai selesai keluar dari kamar mandi. Ia ingin menjelaskan semuanya.
Namun setelah suaminya keluar dari kamar mandi, ia malah langsung berlalu ke luar kamar, Berlian Menyadari akan semua itu, ia berniat akan menjelaskannya pada saat mereka akan tidur.
Namun sampai larut malam, tak juga suaminya kembali ke kamar. Ia menduga suaminya tengah di ruang kerjanya, lalu ia berlalu menuju ruang kerja itu.
Sesampainya di ruang kerja, ia mendapati suaminya tengah duduk di kursi kerjanya dengan posisi favoritenya, yaitu meluruskan kakinya ke meja dengan menumpangkan kaki kanan pada kaki kirinya.
“Ada apa? Kenapa belum tidur?.” Tanya sang suami kala melihat kemunculan istrinya di balik pintu.
Kemudian Berlian mendekat, “ Papa aku mau bicara masalah ini.” Berlian menunjukan kalung itu.
“Apa yang akan kau katakan?.” Tanya Jodi dengan tampang dinginnya, dan Berlian menyadari suaminya menjadi dingin di sebabkan karena kalung itu.
“Kalung ini hadiah ulang tahunku dari kak Arash malam itu papa.”
“Oh jadi dia yang kamu temui?.” Terlihat Berlian mengangguk, kemudian “Apa lagi yang dia lakukan padamu?.” Tanya Jodi menyelidik.
“Di apartemen itu kami hanya makan kemudian berbincang.” Ucap Berlian dengan mimik gugupnya karena khawatir akan kemarahan suaminya.
“Itu saja?!.” Tegas Jodi.
“Iya papa.”
“Yakin?.”
“Iya.”
“Kemarilah!.” Seru Jodi, kemudian Berlian mendekat.
Setelah istrinnya mendekat tepat di sampingnya, Jodi pandangi istrinya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki yang kala itu Berlian memakai gaun tidur minim.
“Apa dia menyentuhmu seperti ini?.” Jodi mengelus tangan Berlian.
“Tidak papa.”
“Apa dia menyentuhmu seperti ini?.” Jodi meletakan tangannya pada kaki bagian atas istrinya kemudian mengelus lembut membuat darah Berlian mendesir hingga ia harus menarik nafas.
“Mh.. tidak papa, dia tidak menyentuhku sama sekali.”
“Duduklah disini.” Titah Jodi seraya menurunkan kakinya dari atas meja, kemudian pengarahkan pandangannya agar Berlian duduk di atas pangkuannya, lalu Berlian duduk diatas pangkuannya.
“Kuharap kau benar-benar jujur padaku. Aku tidak suka di bohongi, kalau ternyata kau ketahuan berbohong, aku akan pergi meninggalkanmu. Kau faham?.” Bisik Jodi tepat di telinga istrinya yang kala itu duduk diatas pangkuannya, membelakangi dirinya.
Perlahan Jodi memeluk pinggangnya yang ramping itu, Kemudian, “Sekarang apa yang akan kau lakukan pada kalung itu?.” Bisik Jodi yang kala itu mengalihkan wajahnya pada ceruk leher Berlian.
“Aku tidak akan memakainya papa, Hm.. akan aku berikan pada papa dan terserah papa mau melakukan apa pada kalung itu.” Ucap Berlian.
“Berikan kalung itu padaku!.” Desis Jodi tepat di tengkuk istrinya. Sementara tangan kanannya mengambil kalung yang ada di tangan kanan istrinya itu.
Setelah kalung itu pindah ke tangannya kemudian ia membuka laci meja kerjanya lantas memasukan kalung itu kesana.
Kembali tangannya memeluk tubuh ramping itu kemudian ia topangan wajahnya pada pundak istrinya. Lalu, “Aku tak suka kau memakai barang pemberian lelaki lain, kau hanya boleh memakai apa yang ku berikan padamu. Kau faham?.” Bisiknya.
Terlihat Berlian mengangguk. Tak lama kemudian,
“Kau hanya milikku, tak akan ku biarkan lelaki mana pun menikmatimu, jika itu terjadi maka ia siap berperang dengan ku.” Bisik Jodi.
Kemudian Jodi mengecup pipi istrinya dan membawanya kedalam kamar mereka.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
Jangan lupa Like, coment, vote & favoritenya say😍
Thank you😘😘