
Mau tidak mau! Suka tidak suka! Alfredo harus mengalah pada Krista demi sesuatu yang ia tengah rencanakan.
Ia harus mengalah kalau Krista meminta untuk tinggal bersamanya kembali. Ia harus mengikuti keinginan Krista kalau wanita itu ingin diakui sebagai tunangannya padahal pertunangan diantara mereka tidak pernah terjadi, dan ia harus rela menuruti apa pun yang semua Krista inginkan.
Sepertinya ia benar-benar harus memikirkan cara bagaimana menyingkirkan wanita yang dulu pernah ia cintai itu. Perasaan tertariknya pada Berlian telah merubah perasaan cintanya pada Krista menjadi rasa benci.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Alfredo sehingga ia sampai bisa berpikir demikian, yang ada dalam pikirannya kini adalah bagaimana ia dapat terus bersama pasien istimewanya itu. Hingga muncullah pikiran jahatnya bahwa ia harus membawa Berlian pergi.
Cara itu lah yang tengah ia pikirkan saat ini. Di dalam kamar apartemennya, setelah ia melakukan hubungan intim dengan Krista dan Krista tengah terlelap tidur dalam pelukannya. Ia pandangi langit-langit kamanya, ia terus berpikir dan berpikir, mencari cara bagaimana ia bisa membawa pergi Berlian sejauh mungkin.
‘Lama-lama aku semakin dibuat muak oleh kelakuanmu Jodi. Sama muaknya pada wanita ja*ang ini. Kau tahu? Aku harus menyelamatkan Berlian dari hidupmu. Kau tua bangka tidak tahu diri. Kau tidak pantas menjadi suaminya. Kau telah menghancurkan masa depan gadis lugu itu. Jika kau terus berada di sampingnya. Kau hanya akan menjadikan dia budak nafsumu saja. Kau telah memikatnya dengan begitu manis hingga dia begitu jatuh cinta padamu. Aku tidak akan pernah membiarkan ini terjadi berlarut-larut Jodi.’ Bathin Alfredo.
Jiwa Alfredo terus saja bergemuruh dalam buaian lamunannya hingga pikiran buruk yang merasukinya membawanya ke alam mimpi.
Sementara itu ditempat lain, Jodi dan Riksa yang tengah berada di ruang kerja rumahnya, mereka di sibukan dengan pekerjaannya.
“Benarkan gue bilang kasus anak hilang itu? Memang ada kaitannya dengan konspirasi yang pernah gue bilang itu?.” Ujar Jodi.
“Iya Boss, pantas saja terkesan alot nanganin kasus ini meskipun kita udah menangkap mafianya dan menyerahkan kepada pihak yang berwajib di negara X itu, ternyata memang banyak petinggi yang terlibat di dalamnya.” Balas Riksa.
“Biarin aja itu urusan mereka, yang penting urusan dengan kita sudah selesai. Tugas kita cuma menemukan mafianya aja kan?.”
“Gue yakin tuh mafia, bulan depan juga udah bisa bernafas lega.” Ujar Riksa.
“Susah memang memutus mata rantainya kalau pejabatnya sudah ikut main di dalamnya. Meskipun kalau gue bilang sih ini adalah kejahatan tingkat tinggi dan kejahatan paling sadis karena telah membunuh generasi penerus.”
“Untung saja kejadiannya bukan di negara kita ya Boss.”
“Awalnya sih yang gue khawatirkan akan berimbas ke kita, cuma sepertinya kalau di lihat dari bagaimana mafia itu mencari target, sepertinya mereka mengarah pada negara-negara maju. Ya mudah-Mudahan gak sampai ke negara kita lah.”
“Oya Boss. Mengenai si Alfredo itu bagaimana kelanjutannya? Sepertinya risih juga tunangannya ngintil terus ya?.” Riksa mengganti topik pembicaraannya.
“Ah biarin aja Rik. Lagi pula sekarang dia gak setiap hari kan ke sini? Bagus juga ceweknya ikutin dia terus biar dia gak bisa berkutik seperti siang tadi.”
“Tapi kita perlu waspada juga sih Boss, kita kan gak tau bagaimana sepak terjangnya nanti.”
“Iya sih. Makanya kalau dia datang kita awasin aja terus.”
Hingga larut malam mereka terus berbincang di ruang kerjanya. Sementara Berlian yang tengah asik berbincang bersama Maurin di kamarnya, terlihat matanya sepertinya sudah lima watt.
“Maurin, aku ngantuk, aku mau tidur duluan ya?.”
“Ya sudah kau istirahat saja. Aku akan tidur di kamar Miriam ya? Sekalian jagain dia, gantian sama oma.”
“Iya Rin, terserah kamu mau tidur dimana aja. Tidur di kamar kak Riksa juga boleh haha.”
“Ish… ogah, nanti aku gak kuat nahan godaan haha.”
“Eh Rin memang kamu gak ada niat nikah muda gitu seperti aku?.”
“Gak ah aku masih belum berani Berli.”
“Belum berani gimana? Nikah itu enak tahu hihi.”
“Ya kamu enak semuanya udah ada gak perlu capek-capek, kalau aku kan harus mikirin kedepannya bagaimana Berli.”
“Kamu juga gak perlu capek-capek Rin kan ada kak Riksa yang ngurusin semuanya.”
“Iya sih cuma aku belum kepikiran aja Berli, aku belum mau terikat, aku masih ingin bebas hehe… udah ah tidur sana, aku mau ke kamar Miriam dulu ya.” Kata Maurin seraya pergi meninggalkan Berlian yang sudah mulai memejamkan matanya.
Malam semakin larut membawa setiap insan untuk memeluk mimpi dalam peraduannya.
__ADS_1
..............
Keesokan harinya, mereka sudah berkumpul di ruang makan. Kali ini Berlian sudah dapat memangku Miriam dan menyuapinya makan.
“Aku bahagia sekali akhirnya aku dapat memeluk putriku, menyuapinya dengan tanganku sendiri.” Kata Berlian dengan senyum bahagianya.
Terlihat Jodi mencium pucuk kepala istrinya seraya berkata, “Apa lagi aku sayang… aku lebih bahagia dapat melihat senyumanmu kembali.”
“Papa.. bukan kah papa pernah bilang kalau aku sembuh papa akan memberikan kejutan padaku?.”
“Ya… papa akan memberikan kejutan padamu.”
“Lalu, mana kejutannya?.”
“Nanti minggu depan kejutannya akan papa berikan padamu, pada saat putri kita ulang tahun yang ke satu tahun hehe.”
“Eh beneran ya? Miriam udah mau satu tahun aja gak kerasa.” Ujar Maurin.
“Iya Maurin. Kau tahu? Memiliki anak itu merupakan kebahagiaan paling di impikan oleh setiap pasangan. Terlebih bagi seorang wanita, seorang wanita akan merasa lebih sempurna kala ia sudah mampu melahirkan anak. Kenapa aku ingin menikah muda? Itu adalah salah satu pilihanku ingin merasakan kesempurnaan itu. Dan rasanya benar saja, sangat menakjubkan.” Kata Berlian.
“Ya sayang… namun setiap hati berbeda akan pilihannya, pilihanmu tentu berbeda dengan temanmu itu. Jika kamu sudah berfikir jauh… beda dengan Maurin yang belum kepikiran sampai kearah sana, meskipun usianya lebih tua beberapa tahun diatasmu. Kenapa? Karena setiap diri memiliki sesuatu yang menjadi prioritas sebagai tujuan hidupnya.” Ujar Jodi.
“Ya benar, kenapa aku belum ingin menikah? Karena aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu kemudian aku ingin berkarier. Itulah prioritasku Berli.”
“Ya dan tidak ada yang salah dengan pilihan kalian meski berbeda, karena takdir setiap orang tidaklah sama, yang terpenting adalah bagaimana kalian menjalani hidup kalian dengan baik.” Kata Irma.
“Betul kata oma. Dalam menjalani hidup kalian harus siap mempertanggungjawabkan atas pilihan kalian. Mungkin kau lebih muda cucuku, tapi kau dituntut harus lebih dewasa karena kini kau telah menjadi seorang ibu. Belajarlah dari oma dan ibu mertuamu, bagaimana menjadi ibu yang baik, karena berumah tangga itu susah-susah gampang. Akan selalu ada masalah di setiap perjalanannya, itu semua tiada lain untuk mendewasakanmu.” Jelas Budi sang opa.
Mereka sangat menikmati waktu sarapan mereka sembari berbincang.
Sementara itu di tempat lain, disebuah apartemen nampak Alfredo tengah menikmati pula sarapannya bersama Krista.
“Cepatlah kau urus perceraianmu jika memang kamu ingin hidup bersamaku.” Kata Alfredo sembari menyuapkan makanan pada mulutnya.
Terlihat Alfredo mengambil sesuatu dalam saku celananya. Sebuah obat kini berada dalam genggamannya, entah obat apa yang tengah ia pegang.
Kemudian Krisna meletakan dua gelas air minum yang ia ambil tadi diatas meja.
“Tolong ambilkan jas dokterku di kamar, aku lupa.” Titah Alfredo pada Krista, lantas Krista pun beranjak pergi kedalam kamar.
Disaat Krista masuk kedalam kamar, Alfredo memasukan obat itu pada minuman Krista, dan obat itu langsung larut di dalam minuman itu.
Tak lama Krista kembali membawa jas dokter milik Alfredo dan memakaikannya.
“Terima kasih.”
“Ya. Aku tidak akan pernah lupa kebiasaanku Alfredo. Dan saat ini sampai seterusnya aku yang akan selalu memakaikan jas itu padamu. Terima kasih kau telah memberikan kesempatan padaku. Aku tahu mungkin tidak akan sama seperti dulu. Tapi aku percaya, waktu akan membawa kita kembali seperti dulu.” Kata Krista seraya meminum minuman dalam gelasnya yang sudah Alfredo beri obat tadi.
“Aku memberimu kesempatan karena aku masih mencintaimu Krista. Seandainya aku sudah tak mencintaimu tentunya aku lebih memilih gadis lain daripada menerimamu kembali.”
‘Cih… aku benci mengatakan itu padamu. Tapi aku harus berpura-pura agar ia tak curiga padaku. Aku sudah muak padamu Krista. Dan lihat saja! Apa yang akan terjadi padamu. Kau harus menerima ganjaran atas penghianatanmu yang dulu kau lakukan padaku!.’ Bathin Alfredo.
“Ya, aku pastikan! Tak akan pernah ada yang dapat menggantikanku di hatimu Alfredo.” Balas Krista seraya melingkarkan tangannya pada tubuh atletis itu.
“Baiklah. Aku berangkat dulu ke rumah sakit ya?.” Kata Alfredo melepaskan pelukan Krista kemudian ia mencium kening wanita itu.
“Hati-hati Al. Jika kau ingin ditemani makan siang, hubungi aku ya?.”
Alfredo hanya membalas dengan anggukan kemudian ia pergi meninggalkan unit apartemennya.
Ia memacu kendaraannya dalam kecepatan sedang, hingga sampailah ia di sebuah rumah sakit tempatnya bekerja.
__ADS_1
Sesampainya ia di dalam ruangannya. Kemudian ia duduk pada kursi kerjanya.
Terlihat ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Bagaimana kebutuhan dokter ahli saraf disana Dre?.”
“Sepertinya disini sudah ada yang ngisi Al, sudah ada tiga dokter ahli saraf di rumah sakit ini. Kenapa memangnya disana? Kamu sudah tidak betah?.” Suara di balik ponsel.
“Gak sih, aku cuma ingin cari suasana baru aja.”
“Eh kalau begitu, kenapa kamu gak buka praktek saja di tempat ini sembari menunggu kekosongan di rumah sakit ini Al.”
Sejenak Alfredo terdiam, setelah ia berpikir, akhirnya, “Boleh juga ide kamu itu Dre. Nanti deh aku survey ke tempatmu ya?.”
“Ok. Saya tunggu ya? Kabari dulu kalau kamu mau datang kesini. Takutnya saya lagi gak ada di tempat.”
“Ya. Makasih Dre.” Kemudian Alfredo menutup sambungan ponselnya.
Dari apa yang mereka bicarakan sepertinya Alfredo tengah merencanakan untuk pindah ke suatu tempat. Tempat yang jauh dari ibukota namun masih terbilang kota besar kedua di negara kita ini.
Ia menghubungi teman se-profesinya yang di tugaskan di tempat itu. Dokter Andre namanya. Ia adalah dokter penyakit dalam di kota tersebut. Dulu mereka adalah teman kuliah satu jurusan, yaitu jurusan kedokteran. Sampai akhirnya mereka masing-masing memilih pekerjaan di rumah sakit yang berbeda.
Setelah menghubungi temannya, Alfredo membuka laptopnya dan melihat-lihat beberapa rumah sakit di kota terbesar kedua tersebut. Sebut saja kota P.
Ia memikirkan ide dari temannya itu. Meskipun ia belum ada kesempatan bekerja di salah satu rumah sakit incarannya yang kebetulan temannya bekerja disana. Setidaknya ia dapat membuka praktik di tempat tersebut.
Entah apa tujuannya ia ingin pindah ke kota P tersebut. Yang jelas rencana besar telah ia persiapkan untuk memulai kehidupan barunya disana.
Sampai akhirnya ia berencana akan mendatangi kota tersebut dalam waktu dekat, namun keberadaan Krista menjadi penghalang baginya.
Kini ia tengah berfikir bagaimana caranya agar Krista tidak tahu kalau ia akan pergi ke kota P tersebut.
Tapi ia merasa kesulitan mencari cara itu, akhirnya ia akan mengajak Krista ke kota P tersebut, dan setelahnya akan ia pikirkan kembali sesampainya disana.
Kemudian ia menghubungi Krista,
“Hallo.” Suara Krista di balik ponsel.
“Ya Hallo, barusan teman lama aku telepon, ia bekerja di kota P, dia mengundangku untuk datang ke kota P. Apa kau mau ikut?.”
“Tentu saja aku ikut Al. Kemana pun kau pergi aku harus selalu ada di sisimu.”
‘Cih… sudah kuduga kau pasti akan ikut. Sekalipun aku tidak mengajakmu, kau pasti akan mengejarku. Silahkan saja kau sekarang bersenang-senang dengan kemenanganmu Krista. Suatu saat nanti kau akan merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan.’ Bathin Alfredo.
“Baiklah. Lusa kita berangkat. Kau siap-siap saja.”
“Ok Al.” Jawab Krista dengan nada suara yang terdengar begitu bahagia.
Setelah Alfredo menghubungi Krista, terlihat ia membuka Galery ponselnya. Terlihat di dalamnya foto-foto Berlian yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi.
‘Kau perempuan muda yang selalu membuatku tak dapat berhenti berpikir tentangmu Berlian. Aku tak peduli kau milik siapa dan pendamping siapa. Aku hanya ingin selalu di dekatmu. Aku begitu menyukaimu. Kau tahu? Aku sedang merencanakan kehidupan kita di masa depan Berlian. Aku akan membawamu jauh dari orang-orang yang telah membuatmu bagai hidup terpenjara. Aku akan membuatmu terbebas dari sana Berlian. Jodi bersama orang-orang terdekatnya tidak pantas berada di sisimu. Sedikit pun dia tak bisa memberikan kehidupan yang baik untukmu Berlian. Akulah yang pantas untukmu.’ Gumam Alfredo yang terus memandangi wajah Berlian dalam galery ponselnya.
Hingga panggilan seorang perawat membuyarkan kehaluannya.
“Maaf dok, saya ketuk pintu beberapa kali, dokter tak menjawab, saya hanya mau memberitahukan, kalau pasien anda sudah menunggu di ruang pemeriksaan.” Kata perawat tersebut yang terpaksa membuka pintu ruangan Alfredo.
“Oh iya sus tidak apa-apa… segera saya kesana.”
“Baiklah.” Jawab perawat tersebut seraya menutup pintu ruangan Alfredo.
Kemudian Alfredo beranjak dari ruangannya menuju ruang pemeriksaan.
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Terima kasih untuk readers yang selalu setia mengawal cerita ini🥰