Aku Hanya Inginkan Om

Aku Hanya Inginkan Om
Mr. Anomali


__ADS_3

“Bagaimana? Setelah kita berkeliling kota sudah ada kah tempat yang membuat kamu jatuh cinta Al.” Tanya Andre.


“Tentu saja ada. Rumah yang berada di pinggir kota itu telah membuat aku jatuh cinta Dre.” Jawab Alfredo.


“Ya rumah itu cocok dengan karaktermu yang tertutup hehe. Jadi bagaimana? Kamu mau beli rumah itu?.”


“Tentu saja Dre. Tolong kamu urus ya? Nanti uangnya aku transfer.”


“Kamu gak mau tawar menawar dulu dengan pemiliknya?.”


“Itu urusan kamu Dre. Kamu aja yang melakukan transaksinya.”


“Ok kalau begitu.”


“Oya? Satu lagi. Aku minta kamu besok mengadakan acara dengan tema syukuran atas kesuksesan kamu jadi dokter teladan.”


“What!! Buat apa? Itu kan udah aku lakukan beberapa bulan yang lalu.”


“Aku biayai semuanya. Cari aja tamu bayaran.”


“Gila! Gak bisa dadakan gini kali Al.”


“Bisa. Aku minta tolong sama kamu Dre. Bisa kan kamu main drama sehari saja? Aku datang kesini bersama Krista. Dia cewekku dulu yang sempat hianatin aku. Sekarang dia minta kembali sama aku dan aku pura-pura menerima dia. Dia tidak tahu tujuanku datang kesini untuk mencari tempat. Aku beralasan sama dia kalau aku datang kesini di undang sama kamu.”


“Ah gila bener. Kenapa kamu gak kasih tahu aku dulu sebelumnya Al. Mungkin kalau kamu kasih tahu dulu, aku bisa menyiapkan jauh-jauh hari. Kalau dadakan gini mana bisa Al.”


“Dari sekarang sampai besok kamu bisa persiapkan segalanya, kamu bikin malam hari aja acaranya.”


“Gak bisa Al, bener-bener gak bisa! Malam besok aku ada janji mau bawa istriku ke tempat saudaraku. Begini saja. Kamu bilang saja sama cewek kamu itu, kalau acaranya di undur.”


“Beneran kamu gak bisa Dre?.”


“Bener-bener gak bisa Al. Sorry… aku gak bisa kalau dadakan gini. Lagi pula aku ada janji sama istriku, gak mungkin juga aku ngebatalin, bisa-bisa aku di pecat jadi suami oleh istriku.”


“Ya sudah kalau begitu. Berarti aku cari alasan lain aja.”


“Terus sekarang dia ada dimana?.”


“Aku tinggalin di kamar hotel?.”


“Gak sekalian kamu ajak?.”


“Kalau dia tahu aku beli tempat disini, bisa-bisa dia ngejar aku kesini nanti. Aku nyari tempat disini kan buat melarikan diri.”


“Ah bener-bener ya kamu. Terus, ngapain juga sekarang kamu ajak dia kesini?.”


“Dia ngintil aku terus Dre, malahan sekarang dia tinggal di apartemen aku. Aku bener-bener gak bisa bersembunyi dari dia.”


“Ah parah…. Aku pusing dengan semua yang terjadi sama kamu Al.”


“Ya begitulah. Semua berawal dari kesalahanku yang selalu memaafkan dia. Sekarang gilirannya aku mau ninggalin dia, susah akhirnya.”


“Terus rencana kedepannya bagaimana?.”


“Karena semua berawal dari aku, jadi aku juga yang harus mengakhirinya. Aku akan membuat dia berhenti mengikuti aku.”


“Caranya?.”


“Caranya dengan ilmuku lah.”


“Maksudnya?.”


“Hehe… kamu tahu kok bagaimana caraku untuk menghentikan sesuatu.”


“Hey friend! Jangan bilang kalau kamu mau menonaktifkan semua sinyal saraf di tubuhnya ya?!.”


“Hehe… kalau kamu tahu! Sudah jangan bilang siapa-siapa ya? Haha.”


“Ah gila! Temanku bener-bener sudah jadi dokter psikopat nih rupanya!.”


“Hehe.. keadaan telah memaksaku untuk menjadi seperti ini Dre!.”


“Parah! Kamu bener-bener parah! Jangan main-main deh Al. Apa gak ada cara lain lagi gitu buat melunakkan hati itu cewek?.”


“Gak ada Dre. Dia wanita yang keras kepala makanya untuk melunakkannya harus dengan cara yang halus, senyap hingga tak terdengar.”


“Ngeri aku sama kamu Al. Sumpah! Takut aku jadinya.”


“Kamu gak usah takut sama aku Dre, aku bukan orang yang senang menggunting dalam lipatan, tapi aku adalah orang yang senang akan sesuatu yang menantang.”


“Dasar mr.Anomali!! Eh jadi intinya kamu akan membunuh mantanmu itu gitu?.”

__ADS_1


“Hehe… ya gak lah Dre. Aku bukan seorang pembunuh. Aku hanya akan membuat dia diam saja.”


“Itu lebih parah kali Al! Gak usah deh kamu bikin kayak gitu. Kenapa gak bunuh aja sekalian dari pada menyiksa hidup orang, biar dosanya sekalian Al.”


“Semua dari kita punya dosa Dre jadi kita gak perlu merasa suci.”


“Ya tapi gak begitu juga kali Al, kasian itu cewek.”


“Dia cewek yang susah untuk dikasihani Dre. Dia cewek yang berbahaya. Apalagi jika dia tahu kalau sekarang ini aku lagi menyukai seseorang.”


“Oh jadi masalahnya karena ada cewek lain gitu?.”


“Iya Dre aku lagi suka sama seseorang, dia adalah pasienku, wanita muda yang penuh karisma, meski usianya masih muda tapi dia begitu terlihat dewasa, apalagi dalam kondisi sedang hamil.”


“Apa!!! Kamu menyukai wanita hamil? Berarti dia memiliki suami dong?.”


“Iya, dia memiliki suami yang usianya puluhan tahun lebih tua Dre. Aku harus membebaskan dia dari suaminya. Suaminya sering menyiksa dia Dre.”


“Ah benar-benar kau Mr.Anomali. Aneh kamu Al, giliran jatuh cinta, pada wanita hamil. Punya suami pula?! Ya Tuhan… tolonglah temanku ini, rusak sudah jiwanya kini.”


“Haha.. aku senang kau Memanggilku Mr.Anomali, setidaknya kamu masih menganggapku orang yang normal dengan kelakuan yang aneh. Itu tidak termasuk kegilaan kan? Haha.”


“Bukan! Tapi tetap saja itu adalah sesuatu yang aneh dan tidak wajar tapi masih dikategorikan kebiasaan yang tidak biasa. Bukan kegilaan tetapi penyimpangan atau keanehan sebagai kekeliruan yang dijadikan kewajaran.”


“Haha… tapi sebenarnya yang membuat aku tertarik padanya adalah bukan karena dia wanita hamil juga sih, tapi lebih pada kepatuhannya pada sosok yang ia cintai. Dia begitu mencintai suaminya. Coba kamu bayangkan jika dia menjadi wanitaku, tentunya dia akan lebih sempurna dalam mematuhiku.”


“Ah pusing aku mendengar ocehanmu Al. Bisa gila aku lama-lama berada di dekatmu. Sana ah kamu balik ke hotel! Pokoknya aku akan urus pembelian hunian kamu, kalau udah deal nanti aku kasih tahu kamu.”


“Haha… ya sudah, aku balik ke hotel dulu ya?.”


Kemudian Alfredo meninggalkan Andre yang duduk dibelakang kemudinya memperhatikan kepergian Alfredo dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


‘Ya Tuhan… aku pikir dia sudah berubah… ternyata masih sama saja seperti jaman kuliah dulu. Dasar manusia aneh.’ Bathin Andre.


Sementara itu Alfredo yang sudah sampai di lobby hotel meminta kunci kamarnya pada petugas resepsionis, setelah mendapatkan kuncinya, ia berlalu menuju kamar hotelnya.


Sesampainya ia di kamar hotel, ia masih melihat Krista yang tertidur pulas.


Kemudian ia mengambil suntikan pada tasnya lalu memasukan obat dan menyuntikannya pada lengan Krista.


Entah obat apa yang ia masukan kedalam tubuh wanita itu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Othor juga gak tahu karena bukan ahli medis🤣🤣


................


Kembali pada Berlian dan keluarga.


Saat ini mereka semua tengah melakukan perjalanan menuju perkebunan puncak. Orang tua Jodi sudah mempersiapkan segalanya di rumah dan kini tengah menunggu kedatangan mereka.


“Ma… duduklah, jangan mondar mandir seperti setrikaan saja, papa pusing melihat mama gugup seperti itu. Kayak orang lagi latihan gerak jalan saja.” Ujar Ferry pada istrinya yang tengah bimbang menunggu kedatangan anak dan menantunya beserta rombongan.


“Mama jadi gugup pa.”


“Kenapa mama jadi gugup? Menantu kita yang akan mendapatkan surpise kok malah mama yang jadi gugup gitu.”


“Mama takut menantu kita pingsan pa.”


“Ah mana mungkin dia pingsan yang ada dia malah akan senang kali ma.”


“Bisa saja kan saking terkejutnya dia malah pingsan, duh mana lagi hamil dia pa.”


“Ah mama terlalu baper, udah relaks aja ma.” Kata Ferry yang tanpa sadar ia pun ikut-ikutan mondar mandir, yang sesekali duduk di sofa kemudian beranjak berdiri melihat ke arah jendela menyingkapkan gorden lalu duduk kembali.


“Papa sendiri kenapa mondar mandir? Sebentar-sebentar buka gorden kemudian duduk lagi terus buka gorden lagi.” Protes Eva.


“Ya karena mama dari tadi mondar mandir terus jadi papa latah.”


“Eh.. eh… lihat mah itu cahaya lampu mobil terlihat dari kejauhan, mungkin itu mobil mereka.” Seru Ferry yang tengah melihat dari sisi jendela.


“Oh iya, mungkin itu mereka pa.” Balas Eva yang juga ikut mengintip pada Jendela.


Setelah cahaya lampu itu semakin dekat, semakin terlihat jelas mobil mendekat ke arah rumah mereka.


“Ah bukan ma, itu mobil pak Ridwan buat angkut sayuran nanti subuh.”


“Yah, dikira mereka.”


“Eh tapi lihat tuh ada mobil yang datang lagi. Pasti itu mereka ma.”


“Ya pa sepertinya itu mobil mereka.”

__ADS_1


Dan benar saja, kali ini yang Ferry dan Eva lihat adalah mobil keluarga milik menantunya yang lumayan besar sehingga cukup menampung semua keluarganya.


Ferry dan Eva, bergegas menyambut mereka, terlihat yang mengendalikan kendaraan adalah Riksa dan yang duduk di sebelahnya adalah Maurin kekasihnya.


Sementara Jodi beserta istri juga rombongan duduk di belakang. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ferry dan Eva.


Kemudian mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


“Papa mana kejutannya?.” Berlian yang tidak sabar langsung saja menagih janji pada suaminya.


“Ya ampun sayang… baru aja datang udah nanyain Surprisenya. Istirahat dulu sebentar apa?.” Kata Delima.


“Gak bisa! Aku sudah gak sabar ibu.”


“Ya Tuhan… Berli kamu itu mau punya dua anak loh, masih saja kayak anak kecil.” Selang Irma.


“Ya sudah kalau kamu udah gak sabar, papa mau tunjukin Surprisenya sekarang, tapi kamu tutup mata dulu ya?.”


“Okay.” Ucap riang Berlian.


Kemudian Jodi meminta syal pada ibunya untuk menutup mata Berlian.


Setelah mata Berlian di tutup dengan syal oleh suaminya, kemudian Jodi memangku tubuh Berlian dan membawanya keluar dari rumah itu.


“Ma… pa… udah siapkan semuanya disana?.” Jodi memberikan isyarat pada orang tuanya.


“Udah Jod.” Jawab mereka kompak.


“Kita mau kemana papa?.” Tanya Berlian dalam pangkuan suaminya.


“Tunggu saja! Papa akan memberikan apa yang kamu mau sekarang.”


“Baiklah.”


Jodi terus berjalan memangku Berlian menyusuri perkebunan teh, tidak begitu jauh dari rumah orang tuanya hanya saja letaknya mengarah ke belakang rumah orang tuanya.


Setelah beberapa waktu akhirnya Jodi yang memangku tubuh Berlian sampai di tempat tujuan.


Jodi meletakan tubuh Berlian pada kursi roda yang sudah ada disana. Kemudian, ia membuka syal yang menutupi netra Berlian.


“Bukalah matamu perlahan sayang.” Bisik Jodi.


Perlahan Berlian membuka matanya. Pada saat matanya terbuka. Betapa terkejutnya ia kala melihat sekitar.


Pandangannya tertuju pada sebuah villa mewah di hadapannya. Villa dengan bahan konstruksi dari kayu, batu dan bambu menambah kesan alami yang terletak di tengah perkebunan teh dan sayuran. Villa yang pernah ia impi-impikan dan diam-diam Jodi mewujudkan keinginan istrinya itu.


Seakan tak percaya, sesaat wajahnya terkesima melihat villa impiannya mewujud di depan mata.


“Hiks… papa… apa maksudnya dengan semua ini?.” Ucapnya dengan mata yang meremang.


“Kau ingat? Kau pernah mengatakan ingin memiliki villa di perkebunan ini. Nah sekarang impianmu sudah terwujud.”


“Apakah aku bermimpi?.” Ucap Berlian dengan rasa haru dan bahagian bercampur menjadi satu.


“Tentu saja tidak sayang.. aku hadiahkan ini untukmu. Semoga kau senang karena impianmu kini telah terwujud.”


“Hiks… makasih papa.” Kata Berlian seraya memeluk suaminya dengan tetesan air mata di pipinya.


“Jangan nangis dong… tersenyumlah! Ayo kita masuk ke dalam, mereka sudah menunggu kita untuk merayakan hari jadi Putri kita.” Kata Jodi seraya membawa tubuh istrinya diatas kursi roda menuju kedalam villa tersebut.


Terlihat di dalam villa sudah lengkap keluarganya dengan senyuman menyambut kedatangannya.


Nampak ruangan yang cukup besar yang terletak di lantai dasar telah di hiasi dengan ornamen yang sederhana dengan beberapa meja yang telah di isi dengan berbagai hidangan di atasnya.


“Kenapa banyak hidangan papa? Kita kan cuma keluarga saja.” Tanya Berlian heran kala melihat banyak makanan diatas meja.


“Papa mengundang pekerja kebun dan anak-anak yatim yang berada di sekitar perkebunan sayang.”


“Benar kah?.”


“Iya sayang, tuh lihat mereka semua sedang menuju kesini.” Tunjuk Jodi pada halaman dengan sekumpulan orang dewasa dan anak-anak yang berjalan menuju villa.


“Papa… terima kasih.” Ucap haru Berlian seraya memeluk dan mencium suaminya kembali.


Akhirnya mereka menikmati kebersamaan mereka di villa itu dengan pekerja perkebunan dan anak-anak yatim disana.


Tawa bahagia menghiasi senyuman dari setiap wajah mereka yang hadir di villa tersebut.


Terlihat keakraban diantara mereka, mereka berbaur sama rata tanpa membedakan mana si tuan dan mana si kaum papa.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kesayangan😍🥰


Terima kasih😘


__ADS_2